Studi Banding BEM Merauke dan BEM Nus Maluku Bahas Pemerataan Pembangunan di Kawasan Timur
- account_circle Admin
- calendar_month Jumat, 24 Okt 2025
- visibility 419
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com-Upaya memperkuat jejaring dan pertukaran gagasan antar kampus di kawasan timur Indonesia diwujudkan lewat kegiatan Studi Banding dan Dialog Mahasiswa Kawasan Timur Indonesia antara Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Musamus Merauke, Papua, dan BEM Nusantara Daerah Maluku. Acara berlangsung di Universitas Pattimura Ambon pada 22–24 Oktober 2025.
Pertemuan dua lembaga mahasiswa ini menjadi ruang konsolidasi dan refleksi atas berbagai persoalan strategis yang dihadapi kawasan timur Indonesia. Bukan sekadar ajang silaturahmi, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat peran mahasiswa sebagai kekuatan kritis dalam isu-isu lokal dan nasional.
Koordinator Daerah BEM Nusantara Maluku, Adam R. Rahantan, menegaskan bahwa mahasiswa tidak boleh terjebak dalam rutinitas akademik semata.
“Peran mahasiswa tidak boleh terbatas pada ruang kampus. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu melahirkan gagasan dan rekomendasi strategis yang relevan dengan situasi kebangsaan dan kedaerahan saat ini,” ujar Rahantan.
Ia menyoroti ketimpangan pembangunan antara wilayah barat dan timur Indonesia yang masih jauh dari kata adil.
“Kami menilai ketimpangan pembangunan antara wilayah barat dan timur Indonesia masih sangat terasa. Pemerataan infrastruktur, akses pendidikan, dan kesejahteraan sosial belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat kawasan timur Indonesia,” tegasnya.
Rahantan menekankan, studi banding ini bukan kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat arah gerak mahasiswa timur.
“Studi banding ini bukan hanya seremonial, tapi wadah berbagi gagasan dan merumuskan arah gerak mahasiswa kawasan timur menghadapi isu-isu besar bangsa. Kita ingin memastikan mahasiswa tetap berada di garis depan perjuangan rakyat,” katanya.
Presiden Mahasiswa Universitas Musamus Merauke, Yoram Oagay, memandang kegiatan ini sebagai langkah awal membangun solidaritas dan sinergi antar mahasiswa lintas provinsi di kawasan timur.
“Ini langkah awal membangun solidaritas dan sinergi antar mahasiswa lintas provinsi. Gerakan bersama penting untuk menghadapi ketimpangan pembangunan, keterbatasan akses pendidikan, serta persoalan lingkungan yang masih terjadi di banyak daerah,” ujarnya.
Forum ini juga menegaskan kembali peran mahasiswa sebagai agen moral dan sosial bangsa—bukan hanya pengkritik, tetapi juga penggerak solusi dan kolaborasi nyata di masyarakat.
“Mahasiswa harus menjadi penghubung antara gagasan dan tindakan. Dari forum ini kami ingin lahirkan rumusan gerakan bersama yang akan dibawa ke tingkat nasional,” ungkap salah satu perwakilan peserta.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata antara kedua delegasi, sebagai simbol komitmen menjaga persatuan dan semangat kolaborasi mahasiswa Indonesia Timur.*(01-F)
- Penulis: Admin



Saat ini belum ada komentar