Breaking News
light_mode

Refleksi 65 Tahun PMII: Kaderisasi atau Penindasan Intelektual?

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 18 Apr 2025
  • visibility 362
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Lana AI

Tanggal 17 April 2025, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) resmi memasuki usia 65 tahun. Usia yang tidak lagi muda, cukup untuk disebut “dewasa” dalam istilah organisasi. Namun kedewasaan tidak semata ditentukan oleh angka, sebagaimana tidak semua uban adalah tanda kebijaksanaan—bisa jadi hanya penanda stres karena terlalu banyak rapat pleno yang tak berkesudahan.

Sebagai organisasi kaderisasi, PMII seharusnya tampil seperti dapur ideologis—tempat membakar semangat dan mendidihkannya menjadi pemahaman yang matang. Namun belakangan, yang terjadi justru seperti dapur tak berasap: ramai, panas, tapi nihil masakan. Banyak wacana dilempar, sedikit yang matang. Banyak jenjang, minim jenama pemikiran.

Mari kita ajukan pertanyaan sederhana tapi mengganggu: kaderisasi PMII hari ini, lebih mirip proses pembebasan atau pelatihan kepatuhan?

Dalam banyak kasus, kaderisasi lebih sering dikemas bak paket wisata: ada destinasi (pelatihan), itinerary (jadwal padat), foto dokumentasi, dan tentu saja… sertifikat. Tapi, adakah hasilnya benar-benar merasuk ke laku kader? Atau hanya menjadi portofolio untuk seleksi Duta Kampus atau berkas beasiswa?

Paulo Freire, bapak pendidikan kritis, pernah berkata: “Jika pendidikan bukan untuk membebaskan, maka ia adalah alat penindasan.” Maka jika kaderisasi PMII tidak lagi membebaskan kader dari kebodohan struktural, nalar sempit, dan kultus jabatan, apakah itu bukan bentuk baru dari penindasan intelektual?

Kita sering menyebut kader sebagai agen perubahan, tapi perubahan seperti apa yang dimaksud? Jika perubahan hanya berarti naik jenjang dari kader biasa ke pengurus, dari peserta ke panitia, maka kita sedang membuat anak tangga menuju stagnasi, bukan transformasi.

Kita tidak kekurangan slogan. PMII punya banyak. Tapi terlalu sering kita menumpuk jargon, tanpa sempat menguji mana yang benar-benar dijalani. Seperti kata Nietzsche, “Slogan adalah tempat persembunyian terakhir bagi mereka yang takut berpikir.”

Lihatlah, banyak forum kaderisasi berubah menjadi kontes berbicara paling berapi-api. Sayang, isinya kadang hanya daur ulang diktat tahun 90-an yang tak pernah di-upgrade. Kader sibuk menghapal “postmodernisme” tanpa tahu apa beda Jean-François Lyotard dan Jean Paul Gaultier.

Di sisi lain, kaderisasi makin menjauh dari realitas zaman. Isu seperti kecerdasan buatan, climate change, kapitalisme digital, bahkan disinformasi berbasis agama nyaris tak tersentuh. Padahal kita sedang hidup dalam dunia di mana influencer skincare bisa lebih dipercaya ketimbang akademisi. Tapi entah mengapa, PMII seperti keasyikan dengan nostalgia masa lalu dan sibuk berswafoto di antara baliho dan twibbon harlah.

Struktur organisasi pun tak lepas dari kritik. PMII kadang seperti piramida terbalik: semakin ke atas, semakin tipis gagasan; semakin ke bawah, semakin berat beban. Kader lapangan jadi objek eksperimental, sementara elite organisasi sibuk menjaga harmoni WhatsApp Group alumni.

Padahal Sayyidina Ali sudah bilang: “Kebenaran tidak diukur dari orang, tapi orang diukur dari kebenaran.” Tapi hari ini, terlalu banyak keputusan ditentukan bukan karena ide baik, tapi karena siapa yang menyampaikan. Kader cemerlang bisa tersingkir oleh kader yang rajin ikut forum dan jago memanggil “sahabat” sambil cium tangan bolak-balik.

Harlah ke-65 ini semestinya jadi ruang muhasabah, bukan sekadar momentum ganti foto profil dengan bingkai biru. Kita perlu refleksi mendalam: apakah PMII masih menjadi kendaraan intelektual dan spiritual, atau hanya sekadar “unit kegiatan mahasiswa” versi religius?

Relevansi PMII akan terus menurun jika ia tidak segera berbenah. Kita butuh kaderisasi yang menyentuh akar persoalan umat: kemiskinan struktural, krisis moral politik, hingga pembodohan berbasis agama. Kita butuh diskusi yang tidak sekadar mengutip Gus Dur, tapi mencoba berpikir seberani Gus Dur: melawan arus, menertawakan otoritas, dan tak takut disebut nyeleneh.

Karena seperti yang dikatakan Gus Dur sendiri, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Tapi PMII hari ini kadang terlalu sibuk mengatur posisi politik sampai lupa menyapa masyarakat kecil yang bergulat dengan persoalan dasar—harga kebutuhan pokok, akses pendidikan, dan ketimpangan sosial yang makin lebar.

Kaderisasi seharusnya tidak hanya mendidik cara berpikir, tapi juga keberanian bertindak. Ia harus melahirkan mereka yang bisa turun tangan, bukan sekadar tunjuk tangan saat musyawarah. Jika tidak, kita hanya akan mencetak “mantan pengurus” yang pandai bicara sejarah organisasi tapi gagap saat diminta menyusun strategi sosial.

PMII tidak boleh terjebak pada glorifikasi masa lalu. Sebab sejarah yang terlalu dipuja justru bisa membunuh daya kritis. Kita bukan generasi pewaris museum, tapi pelanjut perjuangan. Perubahan tidak datang karena kita merayakan usia, tapi karena kita menghidupi cita.

Akhirnya, izinkan saya mengutip Gramsci: “Pesimisme intelek, optimisme kehendak.” PMII boleh saja dihadapkan pada tantangan berat, tapi selama masih ada kader yang berani bertanya, berani berpikir, dan berani berbeda—maka harapan selalu ada.

Selamat ulang tahun, PMII. Kami tidak memberi selamat untuk panjangnya usia, tapi kami menunggu kabar tentang kedalaman makna.

Karena hari ini, bangsa tidak butuh organisasi yang ramai seminar tapi sepi keberpihakan. Bangsa butuh PMII yang tidak hanya mampu membaca zaman, tapi juga menuliskannya kembali dengan tinta perjuangan.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD Maluku Gelar Paripurna LKPJ 2024

    DPRD Maluku Gelar Paripurna LKPJ 2024

    • calendar_month Senin, 14 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku gelar Rapat Paripurna Masa Persidangan Kedua Tahun Sidang 2024/2025 tentang Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2024. Rapat paripurna yang dipimpin Ketua DPRD Maluku, Benhur Watubun itu berlangsung di Ruang Paripurna Lantai 2 Baileo Rakyat Karang Panjang Ambon. Paripurna dihadiri 33 Anggota DPRD Maluku, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa […]

  • Jelang Ramadan, Ridwan Nurdin Minta Pemprov Segera Cek Ketersediaan Stok dan Stabilitas Harga Pangan

    Jelang Ramadan, Ridwan Nurdin Minta Pemprov Segera Cek Ketersediaan Stok dan Stabilitas Harga Pangan

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota DPRD Provinsi Maluku, Ridwan Nurdin meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku untuk segera mengecek ketersediaan stok dan menjaga stabilitas harga pangan. Hal itu disampaikan mengingat kurang lebih 11 hari lagi, umat muslim akan menghadapi bulan Ramadan 1447 Hijriah. “Saya meminta agar pemerintah segera mengecek ketersediaan stok dan menjaga stabilitas harga pangan,” kata Nurdin kepada TajukMaluku.com, […]

  • Ekspor 15 Ton Ikan Ke Vietnam, Walikota Tual Dukung  Maluku Integrated Port

    Ekspor 15 Ton Ikan Ke Vietnam, Walikota Tual Dukung Maluku Integrated Port

    • calendar_month Minggu, 4 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tual,Tajukmaluku.com-Sebanyak 15 ton ikan segar asal Kota Tual siap diekspor pekan depan ke Vietnam langsung dari Tual. Ikan yang akan diekspor terdiri dari jenis Ikan Kerapu, Ikan Angola, Ikan Tuna, Ikan Kakap, semuanya merupakan hasil tangkapan nelayan Tual dengan nilai jual sebesar Rp3,3 miliar (kurs 16.850). Untuk mendukung kelancaran proses ekspor perdana tahun 2025 ke […]

  • Putri Anggota DPRD Maluku Raih Medali Emas Taekwondo di Poltek Cup Makassar 2025

    Putri Anggota DPRD Maluku Raih Medali Emas Taekwondo di Poltek Cup Makassar 2025

    • calendar_month Jumat, 24 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Makassar,Tajukmaluku.com-Dua atlet muda asal Maluku, Kohati Syaqilah Letsoin dan Jody Lopulisa, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih medali emas pada ajang Poltek Cup Makassar 2025, kategori pemula cabang olahraga taekwondo. Salah satu peraih emas, Kohati Syaqilah Letsoin, merupakan putri dari Suleman Letsoin, anggota DPRD Provinsi Maluku dari Partai Hanura. Capaian ini menambah daftar panjang prestasi […]

  • KPU SBB Resmi Tutup Pendaftaran, SBB Lima Pasangan

    KPU SBB Resmi Tutup Pendaftaran, SBB Lima Pasangan

    • calendar_month Jumat, 30 Agt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Piru, Tajukmaluku.com– Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) melalui ketua, Abuani Kasilaya mengumumkan penutupan pendaftaran Calon Bupati Wakil Bupati. Kasilaya dalam pers rilis yang diterima media ini, Jumaat (30/08) menyebutkan penutupan tepat puku Pukul 23.59 WIT  tangga 29 Agustus 2024. Dia menjelaskan, KPU telah Membuka Pendaftaran Selama 3 Hari. Pembukaan Pendaftaran di lakukan […]

  • BEM Daerah Maluku Tolak Pemangkasan Anggaran Pendidikan: “Ini Ancaman  Masa Depan Generasi di Wilayah 3T”

    BEM Daerah Maluku Tolak Pemangkasan Anggaran Pendidikan: “Ini Ancaman Masa Depan Generasi di Wilayah 3T”

    • calendar_month Sabtu, 15 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pemangkasan anggaran pendidikan yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto mendapat protes dari berbagai kalangan, pemotongan anggaran senilai Rp14,3 triliun dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) pada 2025 itu dinilai sebagai ancaman serius bagi masa depan pendidikan Indonesia. Oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEM NUS) Daerah Maluku melihat hal tersebut sangat bertentangan dengan […]

expand_less