Breaking News
light_mode

Refleksi 65 Tahun PMII: Kaderisasi atau Penindasan Intelektual?

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 18 Apr 2025
  • visibility 505
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Lana AI

Tanggal 17 April 2025, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) resmi memasuki usia 65 tahun. Usia yang tidak lagi muda, cukup untuk disebut “dewasa” dalam istilah organisasi. Namun kedewasaan tidak semata ditentukan oleh angka, sebagaimana tidak semua uban adalah tanda kebijaksanaan—bisa jadi hanya penanda stres karena terlalu banyak rapat pleno yang tak berkesudahan.

Sebagai organisasi kaderisasi, PMII seharusnya tampil seperti dapur ideologis—tempat membakar semangat dan mendidihkannya menjadi pemahaman yang matang. Namun belakangan, yang terjadi justru seperti dapur tak berasap: ramai, panas, tapi nihil masakan. Banyak wacana dilempar, sedikit yang matang. Banyak jenjang, minim jenama pemikiran.

Mari kita ajukan pertanyaan sederhana tapi mengganggu: kaderisasi PMII hari ini, lebih mirip proses pembebasan atau pelatihan kepatuhan?

Dalam banyak kasus, kaderisasi lebih sering dikemas bak paket wisata: ada destinasi (pelatihan), itinerary (jadwal padat), foto dokumentasi, dan tentu saja… sertifikat. Tapi, adakah hasilnya benar-benar merasuk ke laku kader? Atau hanya menjadi portofolio untuk seleksi Duta Kampus atau berkas beasiswa?

Paulo Freire, bapak pendidikan kritis, pernah berkata: “Jika pendidikan bukan untuk membebaskan, maka ia adalah alat penindasan.” Maka jika kaderisasi PMII tidak lagi membebaskan kader dari kebodohan struktural, nalar sempit, dan kultus jabatan, apakah itu bukan bentuk baru dari penindasan intelektual?

Kita sering menyebut kader sebagai agen perubahan, tapi perubahan seperti apa yang dimaksud? Jika perubahan hanya berarti naik jenjang dari kader biasa ke pengurus, dari peserta ke panitia, maka kita sedang membuat anak tangga menuju stagnasi, bukan transformasi.

Kita tidak kekurangan slogan. PMII punya banyak. Tapi terlalu sering kita menumpuk jargon, tanpa sempat menguji mana yang benar-benar dijalani. Seperti kata Nietzsche, “Slogan adalah tempat persembunyian terakhir bagi mereka yang takut berpikir.”

Lihatlah, banyak forum kaderisasi berubah menjadi kontes berbicara paling berapi-api. Sayang, isinya kadang hanya daur ulang diktat tahun 90-an yang tak pernah di-upgrade. Kader sibuk menghapal “postmodernisme” tanpa tahu apa beda Jean-François Lyotard dan Jean Paul Gaultier.

Di sisi lain, kaderisasi makin menjauh dari realitas zaman. Isu seperti kecerdasan buatan, climate change, kapitalisme digital, bahkan disinformasi berbasis agama nyaris tak tersentuh. Padahal kita sedang hidup dalam dunia di mana influencer skincare bisa lebih dipercaya ketimbang akademisi. Tapi entah mengapa, PMII seperti keasyikan dengan nostalgia masa lalu dan sibuk berswafoto di antara baliho dan twibbon harlah.

Struktur organisasi pun tak lepas dari kritik. PMII kadang seperti piramida terbalik: semakin ke atas, semakin tipis gagasan; semakin ke bawah, semakin berat beban. Kader lapangan jadi objek eksperimental, sementara elite organisasi sibuk menjaga harmoni WhatsApp Group alumni.

Padahal Sayyidina Ali sudah bilang: “Kebenaran tidak diukur dari orang, tapi orang diukur dari kebenaran.” Tapi hari ini, terlalu banyak keputusan ditentukan bukan karena ide baik, tapi karena siapa yang menyampaikan. Kader cemerlang bisa tersingkir oleh kader yang rajin ikut forum dan jago memanggil “sahabat” sambil cium tangan bolak-balik.

Harlah ke-65 ini semestinya jadi ruang muhasabah, bukan sekadar momentum ganti foto profil dengan bingkai biru. Kita perlu refleksi mendalam: apakah PMII masih menjadi kendaraan intelektual dan spiritual, atau hanya sekadar “unit kegiatan mahasiswa” versi religius?

Relevansi PMII akan terus menurun jika ia tidak segera berbenah. Kita butuh kaderisasi yang menyentuh akar persoalan umat: kemiskinan struktural, krisis moral politik, hingga pembodohan berbasis agama. Kita butuh diskusi yang tidak sekadar mengutip Gus Dur, tapi mencoba berpikir seberani Gus Dur: melawan arus, menertawakan otoritas, dan tak takut disebut nyeleneh.

Karena seperti yang dikatakan Gus Dur sendiri, “Yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan.” Tapi PMII hari ini kadang terlalu sibuk mengatur posisi politik sampai lupa menyapa masyarakat kecil yang bergulat dengan persoalan dasar—harga kebutuhan pokok, akses pendidikan, dan ketimpangan sosial yang makin lebar.

Kaderisasi seharusnya tidak hanya mendidik cara berpikir, tapi juga keberanian bertindak. Ia harus melahirkan mereka yang bisa turun tangan, bukan sekadar tunjuk tangan saat musyawarah. Jika tidak, kita hanya akan mencetak “mantan pengurus” yang pandai bicara sejarah organisasi tapi gagap saat diminta menyusun strategi sosial.

PMII tidak boleh terjebak pada glorifikasi masa lalu. Sebab sejarah yang terlalu dipuja justru bisa membunuh daya kritis. Kita bukan generasi pewaris museum, tapi pelanjut perjuangan. Perubahan tidak datang karena kita merayakan usia, tapi karena kita menghidupi cita.

Akhirnya, izinkan saya mengutip Gramsci: “Pesimisme intelek, optimisme kehendak.” PMII boleh saja dihadapkan pada tantangan berat, tapi selama masih ada kader yang berani bertanya, berani berpikir, dan berani berbeda—maka harapan selalu ada.

Selamat ulang tahun, PMII. Kami tidak memberi selamat untuk panjangnya usia, tapi kami menunggu kabar tentang kedalaman makna.

Karena hari ini, bangsa tidak butuh organisasi yang ramai seminar tapi sepi keberpihakan. Bangsa butuh PMII yang tidak hanya mampu membaca zaman, tapi juga menuliskannya kembali dengan tinta perjuangan.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN UIW MMU Dukung Banda Heritage Festival 2025, Majukan Pariwisata dan Budaya Maluku

    PLN UIW MMU Dukung Banda Heritage Festival 2025, Majukan Pariwisata dan Budaya Maluku

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Banda,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Banda Heritage Festival 2025, sebuah perhelatan budaya nasional yang memperkenalkan sejarah rempah dan kekayaan budaya Banda kepada masyarakat luas. Sebagai bentuk dukungan konkret, PLN UP3 Ambon melalui ULP Banda menyiagakan personel teknis, material cadangan, serta mengerahkan UPS 100 […]

  • PLN Sukses Kawal Kelistrikan JKPI Ternate, Pasokan Andal Dukung Rangkaian Kegiatan Kota Pusaka

    PLN Sukses Kawal Kelistrikan JKPI Ternate, Pasokan Andal Dukung Rangkaian Kegiatan Kota Pusaka

    • calendar_month Senin, 31 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) UIW Maluku dan Maluku Utara sukses mengawal keandalan pasokan listrik selama rangkaian kegiatan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Kota Ternate, Maluku Utara. Dukungan kelistrikan diberikan pada sejumlah lokasi strategis melalui penguatan suplai utama dan sistem cadangan guna mendukung kelancaran seluruh agenda. General Manager PT PLN (Persero) UIW Maluku dan Maluku Utara, […]

  • PLN UIW MMU dan Pemkab Halmahera Utara Siap Kolaborasi Majukan Sistem Kelistrikan dan Industri Daerah

    PLN UIW MMU dan Pemkab Halmahera Utara Siap Kolaborasi Majukan Sistem Kelistrikan dan Industri Daerah

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tobelo,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melakukan kunjungan audiensi ke Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, Selasa (19/8/2025). Pertemuan yang berlangsung di kantor Bupati Kabupaten Halmahera Utara itu dilakukan sebagai bagian dari komitmen memperkuat sinergi dan kolaborasi strategis antara PLN dan pemerintah daerah dalam meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di wilayah Tobelo […]

  • Polda Maluku Gerebek Avtur Ilegal

    Polda Maluku Gerebek Avtur Ilegal

    • calendar_month Jumat, 27 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Direktorat Kepolisian Daerah (Polda) Maluku berhasil menggagalkan aksi pengoplosan dan penyaluran bahan bakar minyak (BBM) jenis avtur sebanyak 15 ton ke sebuah kapal cumi di kawasan tambatan perahu Galala, Ambon, Jumat malam, (27/06/2025). Penggerebekan dilakukan sekitar pukul 21.35 WIT setelah polisi menerima informasi aktivitas mencurigakan di lokasi tersebut. Berdasarkan pantauan di lapangan, satu unit mobil […]

  • PLN UIW Maluku dan Maluku Utara Perkuat Kesiapan Kelistrikan Jelang Idul Adha 1447 H

    PLN UIW Maluku dan Maluku Utara Perkuat Kesiapan Kelistrikan Jelang Idul Adha 1447 H

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Maluku dan Maluku Utara terus memperkuat kesiapan operasional kelistrikan guna mendukung kenyamanan masyarakat selama momentum hari besar keagamaan. General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara, Noer Soeratmoko, menyampaikan bahwa PLN telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk menjaga keandalan pasokan listrik […]

  • PLN Dorong Ekonomi Kreatif Maluku Utara Lewat Sinergi BUMN dan GEKRAFS

    PLN Dorong Ekonomi Kreatif Maluku Utara Lewat Sinergi BUMN dan GEKRAFS

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) menegaskan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Maluku Utara melalui kolaborasi strategis bersama BUMN dan Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) dalam talkshow “Gema Karya dari Timur: Sinergi Kreatif untuk Maluku Utara Berdaya Saing” yang digelar di Ternate. General Manager PLN UIW Maluku […]

expand_less