Breaking News
light_mode

Harlah 92 Tahun: Digitalisasi Pembangunan Sosial, Kiprah Kebangkitan Ekonomi Kader

  • account_circle Admin
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 10
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Masyhuri Maswatu

(Wasekjend Pimpinan Pusat GP Ansor)

Tajukmaluku.com-Indonesia, sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara, memiliki potensi besar dalam mengembangkan ekonomi digital. Dengan meningkatnya penetrasi internet, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mulai mengakses layanan digital dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari belanja online hingga layanan keuangan digital.

Berdasarkan laporan Bank Indonesia (2022), ekonomi digital diprediksi dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dalam beberapa tahun ke depan. Namun, ada berbagai kendala yang perlu diperhatikan, termasuk keterbatasan infrastruktur digital di wilayah terpencil, kesenjangan digital, serta regulasi yang masih perlu disempurnakan agar dapat mendorong inovasi dan investasi.

Dalam konteks global, ekonomi digital bukan hanya tentang perdagangan elektronik atau layanan berbasis internet, tetapi juga mencakup transformasi seluruh ekosistem bisnis yang memanfaatkan teknologi digital. Fenomena ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat daya saingnya di tingkat internasional, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan berupa kebutuhan investasi besar dalam infrastruktur digital dan pengembangan sumber daya manusia yang kompeten di bidang teknologi.

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan mendasar dalam hampir seluruh aspek kehidupan sosial. Internet, media sosial, kecerdasan buatan, dan sistem informasi kini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas manusia.

Dalam konteks pembangunan sosial, digitalisasi menghadirkan peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan, memperluas akses informasi, dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Namun, perubahan ini juga memunculkan tantangan baru yang harus dianalisis secara kritis dari perspektif sosiologi.

Tanggal 24 April 2026 menjadi tanggal bersejarah bagi jutaan pemuda Nahdlatul Ulama di seluruh Nusantara. Gerakan Pemuda (GP) Ansor genap berusia 92 tahun. Sembilan dekade lebih. Perjalanan panjang organisasi kepemudaan ini bukan sekadar hitungan waktu. Ini merupakan catatan panjang tentang pengabdian, perjuangan, dan keteguhan dalam menjaga dua cinta: Agama dan Negara.

Di bawah kepemimpinan Ketua Umum H. Addin Jauharuddin, peringatan Harlah ke-92 ini mengusung semangat baru dengan tema “Energi Perjuangan”. Fokusnya utamanya yakni membangun kemandirian kader, ketahanan pangan nasional, dan penguasaan teknologi digital. Sebuah transisi yang luar biasa dari organisasi yang lahir dari semangat perjuangan bersenjata menuju organisasi yang tangguh secara ekonomi dan intelektual.

Napak tilas yang Tak Boleh Dilupakan

Kelahiran GP Ansor pada 24 April 1934 silam di Banyuwangi bukanlah kebetulan. Organisasi ini lahir dari rahim NU yang besar, melalui proses panjang yang dimulai sejak berdirinya Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) pada tahun 1924. Nama “Ansor” sendiri memiliki makna yang sangat dalam. Disarankan langsung oleh pendiri NU, KH. Abdul Wahab Chasbullah. Nama ini diambil dari gelar mulia Ansharul Haq atau Ansharullah yaitu para pembela agama. Sama seperti penduduk Madinah yang setia membantu Nabi Muhammad SAW, maka pemuda NU pun berikrar menjadi pembela kebenaran, pembela ulama, dan pembela tanah air.

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia.

GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalm setiap pergantian kepemimpinan nasional

Digitalisasi sebagai Pendorong Perubahan Sosial

Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi telah menjadi kekuatan utama yang mendorong perubahan sosial di Indonesia. Perkembangan teknologi informasi seperti internet, media sosial, dan berbagai platform digital telah mengubah pola interaksi manusia secara signifikan. Interaksi sosial kini tidak lagi bergantung pada kedekatan fisik, melainkan pada keterhubungan digital yang melintasi batas geografis. Akibatnya, masyarakat mengalami pergeseran nilai, pola komunikasi, dan cara pandang terhadap kehidupan sosial yang lebih modern dan terbuka terhadap inovasi.

Selain itu, hasil kajian juga memperlihatkan bahwa digitalisasi memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan sosial yang berkelanjutan. Melalui teknologi digital, akses terhadap pendidikan, layanan publik, dan informasi ekonomi menjadi lebih merata. Munculnya sistem pembelajaran daring, transaksi digital, dan layanan e-government menunjukkan bahwa digitalisasi berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Dari perspektif sosiologi pembangunan, hal ini merupakan wujud nyata dari perubahan struktural yang memperluas kesempatan sosial bagi berbagai lapisan masyarakat. digitalisasi juga memperkuat partisipasi sosial dan politik Masyarakat dan kader ansor. Media sosial dan ruang digital memberikan wadah bagi warga untuk menyampaikan aspirasi, melakukan kritik terhadap kebijakan, serta membangun solidaritas sosial dalam isu-isu kemanusiaan.

Fenomena partisipasi daring ini menandakan adanya pergeseran dari masyarakat pasif menuju masyarakat aktif yang terlibat dalam proses pembangunan. Namun, meningkatnya partisipasi ini juga diiringi oleh tantangan baru, seperti penyebaran hoaks dan polarisasi opini publik yang memerlukan literasi digital yang kuat. hasil analisis juga menunjukkan bahwa digitalisasi membawa dampak sosial yang kompleks. Ketimpangan digital masih menjadi persoalan serius, terutama bagi kelompok masyarakat dengan keterbatasan akses dan kemampuan teknologi.

Oleh karena itu, pembangunan sosial di era digital harus diimbangi dengan kebijakan inklusif yang memperhatikan kesetaraan akses, literasi digital, dan etika bermedia. Dengan pendekatan sosiologis yang berkeadilan, digitalisasi dapat menjadi fondasi kuat bagi terciptanya masyarakat yang adaptif, produktif, dan berdaya di tengah arus transformasi global.

Digitalisasi dan Pemberdayaan Sosial Ekonomi

Digitalisasi telah memberikan dampak positif yang signifikan terhadap pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat. Kehadiran teknologi digital menciptakan peluang baru bagi individu untuk mengembangkan usaha, mengakses informasi pasar, dan memperluas jaringan kerja. Platform seperti e-commerce, media sosial, serta layanan digital memungkinkan masyarakat untuk memasarkan produk, menawarkan jasa, dan membangun merek secara mandiri tanpa harus bergantung pada lembaga formal. Kondisi ini menandai pergeseran paradigma ekonomi dari sistem konvensional menuju ekonomi digital yang lebih terbuka dan partisipatif.

Selain membuka lapangan pekerjaan baru, digitalisasi juga melahirkan ekonomi kreatif berbasis inovasi dan pengetahuan. Munculnya profesi baru seperti konten kreator, influencer, desainer digital, serta pekerja lepas (freelancer) berbasis platform online memperlihatkan perubahan dalam struktur kerja modern. Model kerja yang fleksibel ini memberi peluang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan sesuai dengan keterampilan dan kreativitasnya.

Dari perspektif sosiologi pembangunan, fenomena ini mencerminkan bentuk pembangunan partisipatif yang memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas ekonomi secara mandiri dan berkelanjutan. Namun demikian, pemberdayaan digital juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tidak semua kelompok masyarakat memiliki kemampuan dan akses yang sama dalam memanfaatkan teknologi digital untuk kegiatan ekonomi. Kelompok dengan tingkat pendidikan rendah atau yang berada di wilayah pedesaan masih menghadapi hambatan berupa keterbatasan literasi digital dan infrastruktur teknologi.

Akibatnya, digitalisasi yang seharusnya menjadi sarana pemerataan kesejahteraan justru berpotensi menciptakan kesenjangan baru antara mereka yang mampu beradaptasi dan mereka yang tertinggal secara digital. Dalam konteks pembangunan sosial, digitalisasi perlu dipahami bukan hanya sebagai inovasi teknologi, tetapi sebagai instrumen pemberdayaan manusia. Keberhasilan digitalisasi terletak pada sejauh mana teknologi mampu meningkatkan kualitas hidup, memperkuat partisipasi sosial, dan menciptakan kesempatan ekonomi yang merata.

Oleh karena itu, intervensi kebijakan pemerintah dalam bentuk pelatihan literasi digital, dukungan terhadap UMKM berbasis digital, dan pemerataan akses internet menjadi hal yang sangat penting. Upaya ini akan memastikan bahwa digitalisasi benar-benar menjadi motor penggerak bagi pembangunan yang inklusif.

Perspektif Sosiologi terhadap Arah Pembangunan di Era Digital

Digitalisasi merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan arah pembangunan sosial di era modern. Transformasi digital telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat mulai dari ekonomi, pendidikan, politik, hingga budaya. Namun, perkembangan ini tidak dapat dipahami hanya dari sisi teknologi semata.

Dalam perspektif sosiologi pembangunan, digitalisasi adalah bagian dari perubahan sosial yang kompleks, di mana kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesadaran sosial dan kebijakan yang berpihak pada keadilan. Tanpa itu, digitalisasi berpotensi memperkuat ketimpangan sosial dan memperlemah solidaritas antarwarga ini yang menjadi titik perjuangan kader ansor untuk mendukung kerja- kerja pemerintah demi mewujudkan berbangsa adil dan Makmur, Dari sisi sosial, digitalisasi membawa peluang untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembangunan.

Melalui teknologi informasi, masyarakat dapat berkontribusi dalam penyusunan kebijakan, menyuarakan aspirasi, dan mengawasi jalannya pemerintahan. Partisipasi digital ini membuka ruang demokratisasi baru dalam pembangunan sosial. Namun, hal ini hanya akan efektif apabila seluruh lapisan masyarakat memiliki akses dan kemampuan yang setara dalam menggunakan teknologi.

Dalam konteks ini, pemerataan literasi digital menjadi elemen penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan partisipatif, Pembangunan di era digital juga menuntut perubahan paradigma dalam kebijakan sosial. Pemerintah dan lembaga pembangunan perlu melihat teknologi sebagai instrumen sosial, bukan semata infrastruktur ekonomi. Upaya digitalisasi harus dibarengi dengan penguatan kapasitas masyarakat agar mampu beradaptasi dengan perubahan sosial yang cepat.

Hal ini meliputi pendidikan berbasis digital, pemberdayaan ekonomi kreatif, serta perlindungan terhadap dampak negatif teknologi seperti penyebaran hoaks, disinformasi, dan ketimpangan akses. Pendekatan sosiologis ini memastikan bahwa pembangunan tidak kehilangan arah kemanusiaannya.

Akhirnya, arah pembangunan di era digital harus berlandaskan prinsip inklusivitas, solidaritas, dan kesejahteraan bersama. Digitalisasi seharusnya menjadi sarana untuk memperkuat hubungan sosial, memperluas akses terhadap sumber daya, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pembangunan yang berorientasi pada manusia — bukan hanya pada teknologi akan menciptakan keseimbangan antara kemajuan material dan nilai-nilai sosial.

Dengan demikian, digitalisasi dapat menjadi kekuatan transformasi yang tidak hanya mempercepat modernisasi, tetapi juga memperkokoh fondasi keadilan sosial dan kemanusiaan dalam pembangunan nasional. Maka dari itu tulisan ini melihat diskursus agar pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat berkolaborasi memperluas literasi digital, pemerataan akses teknologi, serta menjaga nilai sosial-budaya. Upaya ini penting agar digitalisasi benar-benar mendorong pembangunan sosial yang adil, inklusif, dan berkelanjutan di Indonesia. Dirgahayu Pemuda Ansor.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Stok Bantuan Bencana Habis, DPRD Desak Pemprov Maluku Terbitkan SK  Tanggap Darurat

    Stok Bantuan Bencana Habis, DPRD Desak Pemprov Maluku Terbitkan SK Tanggap Darurat

    • calendar_month Rabu, 16 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi III DPRD Provinsi Maluku bakal memanggil Pemerintah Provinsi Maluku melalui Bappeda dan BPKAD untuk menggelar rapat bersama terkait penanganan darurat bencana. Langkah ini diambil menyusul informasi bahwa stok bantuan bencana pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah habis, sementara bencana terus melanda sejumlah wilayah akibat cuaca ekstrem. Ketua Komisi III DPRD Maluku, Jafet Jemmy […]

  • DPRD Maluku Nilai Pemprov Belum Serius Tangani Masalah Gunung Botak

    DPRD Maluku Nilai Pemprov Belum Serius Tangani Masalah Gunung Botak

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tajukmaluku.com-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku menilai Pemerintah Provinsi (Pemprov) belum menunjukkan keseriusan penuh dalam menangani persoalan pertambangan rakyat di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Buru. Penilaian ini mengemuka menyusul masih adanya berbagai persoalan mendasar dalam tata kelola tambang rakyat yang hingga kini belum terselesaikan secara menyeluruh. Untuk itu, Anggota Komisi II DPRD Maluku, H. […]

  • Jelang Nataru, PLN UP3 Sofifi Sukseskan Pasang Baru Daya 197 kVA untuk Laboratorium Balai POM Maluku Utara

    Jelang Nataru, PLN UP3 Sofifi Sukseskan Pasang Baru Daya 197 kVA untuk Laboratorium Balai POM Maluku Utara

    • calendar_month Rabu, 27 Nov 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) berkomitmen menghadirkan kebutuhan energi listrik bagi pelanggan, baik di sektor pemerintahan maupun swasta. Melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Sofifi, PLN UIW MMU berhasil melakukan pasang baru daya listrik sebesar 197 kilo Volt Ampere (kVA) untuk Laboratorium Balai Pengawas Obat dan Makanan (POM) […]

  • Temui Menteri PU Pekan Depan, Komisi III Bahas Pencopotan Kepala BPJN Maluku

    Temui Menteri PU Pekan Depan, Komisi III Bahas Pencopotan Kepala BPJN Maluku

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi III DPRD Provinsi Maluku agendakan pekan depan tancap gas temui Menteri Pekerja Umum (PU) di Jakarta bahas rotasi dan pencopotan Yana Astuti sebagai Kepala Balai Pelaksana Jalan dan Jembatan (BPJN) Maluku. Ketua Komisi III Alhidayat Wajo kepada wartawan menegaskan, agenda pertemuan bersama Menteri PU untuk memastikan dua agenda penting, pertama soal sikap Yana Astuti […]

  • HMI Komperta Unpati Gelar Isra Mi’raj 2025: Meneladani Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW

    HMI Komperta Unpati Gelar Isra Mi’raj 2025: Meneladani Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW

    • calendar_month Rabu, 29 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Pertanian Universitas Pattimura (Unpati) menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1446 H/2025 M dengan penuh khidmat. Mengusung tema “Perjalanan Spiritual: Meneladani Perjalanan Nabi Muhammad SAW.” Acara ini berlangsung di Mushollah Poka, Pemda III, Rabu (29/1/2025). Hadir sebagai narasumber utama, Makbul Ali Keliwouw menyampaikan tausiyah yang sarat makna dan inspirasi. […]

  • Pastikan Kebutuhan Listrik Terpenuhi, PLN Siap Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis.

    Pastikan Kebutuhan Listrik Terpenuhi, PLN Siap Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis.

    • calendar_month Sabtu, 25 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero), sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), mendukung program strategis Presiden Republik Indonesia dengan menyediakan pasokan listrik andal untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). PLN pastikan keandalan suplai listrik di 238 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di 31 provinsi, dengan total kebutuhan daya lebih dari 4 Megavolt Ampere (MVA). […]

expand_less