Breaking News
light_mode

Maluku Integrated Port Dalam Perspektif Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
  • visibility 673
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Amrullah Usemahu, S.Pi, M.Si

(Wasekjend 3 DPP Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia)

Tajukmaluku.com-Maluku dikenal sebagai salah satu lumbung sumber daya kelautan dan perikanan terbesar di Indonesia. Secara geografis, wilayah ini berada di jantung kawasan timur Nusantara yang dikelilingi oleh laut luas yang mencapai 92,4 % dengan karakteristik ekosistem yang sangat kaya. Potensi tersebut tidak hanya menjadi keunggulan komparatif, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam mendorong pembangunan ekonomi berbasis kelautan. Hampir 30 % potensi perikanan nasional berada pada sekitar wilayah perairan Provinsi Maluku.

Secara umum Maluku berada dalam 3 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) potensial yakni WPP 714, WPP 715, dan WPP 718. Kawasan ini memiliki stok ikan yang melimpah, baik pelagis besar, pelagis kecil, ikan karang,udang, cumi-cumi maupun ikan demersal. Tingkat produktivitas perairan Maluku yang tinggi menjadikannya salah satu daerah penyangga utama kebutuhan ikan nasional bahkan ekspor. Tidak hanya perikanan tangkap, sektor budidaya juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

Perairan pesisir Maluku sangat cocok untuk budidaya komoditas bernilai tinggi seperti rumput laut, kerapu, lobster, dan mutiara. Luasnya wilayah pesisir yang belum dimanfaatkan secara optimal menjadi peluang besar untuk mendorong investasi dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Selain itu, posisi strategis Maluku sebagai wilayah kepulauan menjadikannya sangat potensial dalam pengembangan sistem logistik perikanan terpadu. Dengan dukungan infrastruktur seperti pelabuhan perikanan, cold storage, dan industri pengolahan, Maluku dapat menjadi pusat distribusi ikan untuk kawasan timur Indonesia.

Hal ini sejalan dengan konsep penguatan industrialisasi/Hilirisasi perikanan yang mampu meningkatkan nilai tambah produk dan memperkuat daya saing di pasar global. Namun demikian, pengelolaan potensi ini harus dilakukan secara bijak dan berkelanjutan. Tantangan seperti keterbatasan infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, serta pengawasan terhadap praktik penangkapan ilegal dan alih muat ikan ditengah laut yang masih perlu menjadi perhatian.

Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, daerah, sektor swasta dan masyarakat sangat diperlukan agar potensi yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan demi kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat serta untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi maritim Indonesia di masa depan.

Potensi Sumber Daya Ikan di 3 WPP sebagai Penunjang Maluku Integrated Port (MIP)

Sebagai wilayah kepulauan strategis, Maluku berada di kawasan tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) utama yang memiliki kekayaan sumber daya ikan melimpah. Keberadaan tiga WPP ini menjadi fondasi penting dalam mendukung pengembangan Maluku Integrated Port (MIP) sebagai pusat logistik dan industri perikanan terpadu.

Tiga WPP yang berperan besar dalam menopang sektor perikanan Maluku adalah WPP 714 (Laut Banda dan sekitarnya) dengan total potensi 1.033.979 ton/tahun. WPP 715 (Laut Seram dan sekitarnya) total potensi 715.293 ton/tahun dan WPP 718 (Laut Arafura dan sekitarnya) total potensi 2.637.564 ton/tahun dengan total keseluruhan potensi di 3 WPP tersebut adalah 4.386.836 ton.

Ketiga wilayah ini dikenal sebagai kawasan dengan produktivitas perikanan tinggi di Indonesia sesuai dengan karakteristik masing-masing. WPP 714 ini memiliki karakteristik laut dalam dengan keanekaragaman hayati tinggi. Komoditas unggulannya adalah Tuna, Cakalang, Tongkol (TCT) serta Ikan pelagis besar lainnya WPP ini merupakan jalur migrasi tuna dunia dan kualitas ikan untuk ekspor (sashimi grade) perannya dalam MIP dapat menjadi pemasok utama bahan baku industri pengolahan tuna dan ekspor premium.

Kemudian WPP 715 memiliki kombinasi perairan dalam dan pesisir yang produktif yang berhubungan langsung dengan WPP 714 sebagai alur ruaya Tuna dengan komoditas unggulan Ikan pelagis kecil (layang, kembung, selar), Cakalang dan tuna skala menengah serta Ikan demersal yang cocok untuk perikanan tangkap rakyat dan menopang kebutuhan konsumsi domestik serta industri. Perannya untuk MIP sebagai penyuplai volume besar untuk industri pengolahan massal (cold storage, pengalengan, dan frozen fish). Sedangkan WPP yang dikenal sebagai salah satu fishing ground terkaya di dunia 718.

Komoditas unggulannya Udang (shrimp), Ikan demersal (kakap, kerapu) dan Cumi-cumi yang keunggulan potensi biomassanya sangat besar dan komoditas bernilai ekonomi tinggi (ekspor), Peran untuk MIP Menjadi basis pengembangan industri hilir seperti pengolahan udang dan produk seafood bernilai tinggi.

Sinergi 3 WPP dalam Mendukung MIP

Jika diintegrasikan dengan baik, ketiga WPP ini akan menciptakan sistem rantai pasok yang kuat. Dari WPP 714 dapat menghasilkan produk premium ekspor (tuna), WPP 715 memberikan kontribusi volume besar untuk industri domestik serta WPP 718 sebagai golden fishing ground menghasilkan komoditas bernilai tinggi (udang dan demersal). Sinergi ini memungkinkan MIP berfungsi sebagai pusat konsolidasi hasil perikanan tangkap yang menyesuaikan kebijakan penangkapan ikan terukur (PIT) selain itu sebagai Hub distribusi logistik ikan nasional dan internasional serta sebagai pusat kawasan industri perikanan terpadu yang akan memberikan dampak positif terhadap Pembangunan Kelautan dan Perikanan di Maluku.

Pemanfaatan optimal tiga WPP akan memberikan dampak signifikan dalam peningkatan pendapatan nelayan, mengurangi praktik illegal fishing melalui pengelolaan terpusat, mendorong industrialisasi perikanan berbasis daerah serta menguatkan posisi Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional. Potensi sumber daya ikan di WPP 714, 715, dan 718 walaupun akses perairannya lintas daerah namun merupakan nilai tawar strategis bagi Maluku.

Dengan dukungan Maluku Integrated Port, potensi tersebut tidak hanya berhenti pada produksi, tetapi dapat ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan. Integrasi antara sumber daya alam dan infrastruktur modern akan menjadi kunci menjadikan Maluku sebagai pusat industri kelautan dan perikanan di kawasan timur Indonesia. Namun, besarnya potensi tersebut harus segera diimbangi dengan sistem logistik dan infrastruktur yang memadai. Dalam konteks inilah gagasan Maluku Integrated Port (MIP) menjadi sangat relevan sebagai solusi transformasi sektor kelautan dan perikanan.

Konsep dan Peran Strategis MIP dalam Transformasi lintas Sektor

Maluku Integrated Port merupakan konsep pengembangan pelabuhan terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai titik bongkar muat, tetapi juga sebagai secara khusus sebagai pusat aktivitas ekonomi berbasis kelautan dan perikanan.

MIP dirancang untuk mengintegrasikan berbagai fungsi, mulai dari pelabuhan perikanan, cold storage, industri pengolahan hasil laut, hingga sistem distribusi dan ekspor secara umum (apalagi ketika blok masela telah operasional).

Dengan pendekatan ini, pelabuhan tidak lagi sekadar menjadi tempat transit, melainkan menjadi pusat nilai tambah (value added center) bagi komoditas perikanan dan produk unggulan Maluku lainnya.

Permasalahan klasik sektor Perikanan Maluku selama ini menghadapi sejumlah tantangan utama diantaranya distribusi logistik yang tidak efisien dan biaya tinggi, keterbatasan fasilitas penyimpanan (cold storage), minimnya industri hilir pengolahan, ketergantungan pada daerah lain untuk ekspor Akibatnya, banyak hasil tangkapan nelayan dijual dalam bentuk mentah dengan harga rendah, sementara nilai tambah dinikmati oleh daerah lain.

Pembangunan Maluku Integrated Port dapat menjadi game changer melalui beberapa peran strategis penguatan rantai pasok (Supply Chain). MIP memungkinkan integrasi dari hulu ke hilir mulai dari penangkapan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi. Hal ini akan mengurangi losses dan meningkatkan kualitas produk.

Diantaranya pertama Peningkatan nilai tambah Dengan adanya industri pengolahan di kawasan pelabuhan, hasil laut tidak lagi dijual mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tinggi seperti fillet, frozen food, dan produk ekspor lainnya.

Kedua Efisiensi Logistik dimana Lokasi pelabuhan terpadu yang strategis akan memangkas biaya transportasi dan waktu distribusi, terutama untuk menjangkau pasar nasional maupun internasional. Ketiga Penguatan Ekonomi Lokal, MIP akan membuka lapangan kerja baru, mendorong tumbuhnya UMKM perikanan, serta meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir dan keempat Memperkuat Konektivitas Lokal, Regional Nasional dan Global. Sebagai wilayah kepulauan, Maluku sangat bergantung pada konektivitas laut lintas pulau.

MIP dapat menjadi simpul utama dalam jaringan logistik nasional, bahkan berpotensi menjadi hub ekspor produk perikanan ke kawasan Asia, Australia dan Pasifik. Dalam konteks ini, MIP sejalan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia, di mana penguatan infrastruktur laut menjadi prioritas pembangunan nasional.

Maluku Integrated Port bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan strategi besar dalam mentransformasi sektor kelautan dan perikanan di Maluku. Dengan pendekatan terintegrasi, MIP mampu menjawab berbagai persoalan klasik sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Jika dikelola dengan baik, Maluku tidak hanya menjadi daerah penghasil ikan, tetapi juga pusat industri perikanan yang berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun global.

Lokasi MIP dari Kacamata sistem logistik Perikanan

Pernyataan bahwa Maluku Integrated Port (MIP) bisa dibangun di mana saja memang tidak keliru karena secara geografis hampir seluruh wilayah Maluku memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar. Dan kita pastinya berharap agar tumbuh daerah ekonomi baru pada daerah lainnya di Maluku selain di Pulau Ambon.

Namun, dalam perspektif perencanaan pembangunan, penentuan lokasi bukan hanya soal potensi sumber daya atau perimbangan kewilayahan melainkan tentang efisiensi, konektivitas, dan kesiapan ekosistem.

Di sinilah аrgumen mengapa Pulau Ambon sering menjadi pilihan strategis. Apalagi dari sisi pembiayaan ini bukan murni dari APBN ataupun APBD melainkan investasi dari Bank Dunia atau pihak lainnya. Sehingga pastinya dibutuhkan perencanaan dengan baik dengan melihat berbagai aspek ekonomi, sosial dan ekologi juga masukan dari ekosistem penunjang yang akan melakukan operasional di MIP (Pelaku Usaha dll). Sehingga diharapkan kedepan MIP bisa berjalan dengan baik dan tidak mangkrak.

Secara sepintas kalau dilihat pulau Ambon sebagai simpul konektivitas utama, Kota Ambon merupakan pusat transportasi laut dan udara di Maluku. Pelabuhan dan bandara di Ambon telah melayani konektivitas antar pulau, antar provinsi, hingga nasional. Artinya Distribusi hasil perikanan serta barang lainnya akan lebih cepat dan efisien, Biaya logistik lebih rendah dibanding wilayah yang masih terbatas aksesnya, Mudah terhubung ke pasar ekspor Jika MIP ditempatkan di lokasi yang sangat potensial ikan tetapi minim akses, maka biaya distribusi justru akan tinggi.

Selain itu dari sisi Infrastruktur yang relatif lebih siap seperti ketersediaan listrik yang lebih stabil, Akses jalan dan transportasi darat dan laut lebih baik, Fasilitas pelabuhan yang sudah berkembang serta Kedekatan dengan pusat pemerintahan dan layanan. MIP membutuhkan ekosistem industri (cold storage, pengolahan, logistik), bukan hanya dermaga. Infrastruktur dasar ini menjadi faktor penentu keberhasilan.

Kemudian Efek Aglomerasi Ekonomi sebagai ibu kota provinsi Maluku memiliki konsentrasi SDM terampil, Pelaku usaha, Lembaga pendidikan dan pelatihan serta Instansi pemerintahDaerah lainnya di Kabupaten/Kota Maluku lainnya sebenarnya tidak perlu kwatir karena lokasi utama MIP di Pulau Ambon itu hanya sebagai HUB dan kita bisa menggunakan strategi Hub and spoke (Pusat dan Penyangga). Penting dipahami bahwa MIP tidak harus berdiri sendiri sebagai satu titik besar. Karena bahan baku itu semua berasal dari daerah penyangga yang ada dan harus jadi perhatian utama dalam pengembangan. Karena tanpa daerah-daerah tersebut pastinya di pusat MIP atau HUBnya akan kekurangan bahan baku yang akan diolah dan didistribusikan maupun di Ekspor.

Model ideal yang bisa dilakukan adalah Pulau Ambon sebagai HUB utama (pusat distribusi dan industri) dan Wilayah lain sebagai spoke (sentra produksi ikan) seperti di Waisarisa, Masohi, Bula, Namlea, Tual, Dobo, Wetar dan sentra perikanan lainnya pada WPP 714, 715, dan 718 sekitar provinsi Maluku ini bisa saja dikonekan dengan sentra utama nelayan pada Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang fasilitas utama dan penunjangnya telah dan akan dibangun pemerintah via Kementerian Kelautan Dan Perikanan.

Dengan pendekatan ini Nelayan tetap beroperasi di daerah potensial, Hasil tangkapan dikonsolidasikan pada sentra sebagai spoke (penyangga) dan dibawa ke pulau Ambon (MIP) sebagai bagian dari hilirisasi sektor perikanan yang dapat menciptakan Nilai tambah di satu pusat kawasan yang lebih efisien.

Pertimbangan lainnya adalah Pertimbangan Ekonomi dan Investasi yang mana Investor cenderung memilih lokasi yang minim risiko, Infrastruktur tersedia serta Akses pasar yang jelas. Dalam hal ini, Pulau Ambon lebih feasible secara bisnis dibanding wilayah lainnya yang membutuhkan biaya pembangunan awal sangat besar.

Strategi terbaik bukan memilih daerah yang satu dan mengabaikan daerah yang lain, tetapi mengintegrasikan seluruh potensi Maluku dengan pulau Ambon sebagai penggerak utama Dengan begitu, pembangunan tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan merata.

Saat ini yang terpenting adalah MIP harus segera direalisasikan, Pengalaman gagalnya implementasi LIN dan Ambon New Port (ANP) menjadi catatan berharga yang perlu dievaluasi kita semua karena sebelumnya kita terlalu banyak berpolemik secara internal sehingga apa yang kita perjuangkan bersama menjadi tidak fokus yang akhirnya tidak tercapai. Melalui MIP saatnya berjuang bersama-sama….. TOMA.*(01-F)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Buah Sukun, Tanaman Tropis  Maluku jadi ‘Future Food’ Dunia 2026

    Buah Sukun, Tanaman Tropis Maluku jadi ‘Future Food’ Dunia 2026

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Tanaman tropis dari Provinsi Maluku, Buah Sukun dinilai mampu menjadi solusi untuk pangan masa depan dunia, ditengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap krisis pangan dan perubahan iklim. Pasalnya, Sukun memiliki kandungan karbohidrat tinggi, bebas gluten, serta kaya serat dan mineral seperti vitamin C dan magnesium. Teksturnya yang padat dan rasanya yang netral membuat buah ini fleksibel […]

  • Peringati Tahun Baru Islam 1448 H, Menteri Nusron: Jadi Momentum Hijrah Menuju Perbaikan

    Peringati Tahun Baru Islam 1448 H, Menteri Nusron: Jadi Momentum Hijrah Menuju Perbaikan

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Semarang,Tajukmaluku.com-Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menyampaikan tausiyah dalam Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 H dan Penyerahan Sertipikat Tanah Wakaf yang berlangsung di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kantor Gubernur Jawa Tengah, Selasa (16/06/2026). Dalam kegiatan tersebut, Menteri Nusron mengajak masyarakat menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum refleksi dan […]

  • Seruan Aksi Konsorsium LSM Maluku, Desak Kapolda Periksa Haji Komar Diduga jadi Aktor Kepemilikan Sianida

    Seruan Aksi Konsorsium LSM Maluku, Desak Kapolda Periksa Haji Komar Diduga jadi Aktor Kepemilikan Sianida

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Konsorsium LSM Maluku kembali menggelar aksi unjuk rasa terkait dugaan peredaran sianida ilegal di Maluku, Rabu (22/4/2026). Dalam aksi ketiga ini, mereka mendesak DPRD Maluku, khususnya Komisi I, segera memanggil Kapolda Maluku untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Ketua Konsorsium, Alwi Rumadan, menegaskan aksi yang dilakukan merupakan bentuk tekanan agar penanganan kasus tidak berhenti pada satu […]

  • Hentikan Budaya Puja-Puji Tidak Penting, Gubernur Maluku Tekankan Meritokrasi dan Profesionalisme ASN

    Hentikan Budaya Puja-Puji Tidak Penting, Gubernur Maluku Tekankan Meritokrasi dan Profesionalisme ASN

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com– Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menegaskan komitmen untuk membangun tata kelola pemerintahan berbasis meritokrasi, menghapus budaya like and dislike, dan menuntut profesionalisme ASN dalam melayani masyarakat. Arahan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan ribuan ASN dan Non-ASN se-Provinsi Maluku di Auditorium Universitas Pattimura Ambon. Rabu, (05/03/2025). Dalam sambutannya, Gubernur menekankan lima poin utama sebagai pedoman utama […]

  • PLN UIW MMU Edukasi Masyarakat Kenali Manfaat Penggunaan Kendaraan Listrik

    PLN UIW MMU Edukasi Masyarakat Kenali Manfaat Penggunaan Kendaraan Listrik

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) terus menghadirkan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai kampanye digital yang informatif, komunikatif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan kreatif dan visual yang ringan, PLN mengajak masyarakat untuk lebih mengenal manfaat penggunaan kendaraan listrik, khususnya motor listrik, sebagai solusi mobilitas modern yang efisien, […]

  • Hari Ke-7 Layani Nataru, Transaksi SPKLU PLN Cetak Rekor Tertinggi, Naik Lebih 400 Persen!

    Hari Ke-7 Layani Nataru, Transaksi SPKLU PLN Cetak Rekor Tertinggi, Naik Lebih 400 Persen!

    • calendar_month Jumat, 27 Des 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) mencatat peningkatan transaksi pengisian daya kendaraan listrik (_Electric Vehicle_/EV) lebih dari 400 persen pada hari ke-7 siaga Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Dalam rangkaian peninjauan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang dimulai dari Tangerang, Bandung, Batang, dan Sragen, Direktur Utama PLN Darmawan […]

expand_less