Breaking News
light_mode

Peta Jalan ANSOR Menuju Muktamar: Konsep Nahdlatut Tujjar dan Masa Depan Kemandirian Ekonomi NU

  • account_circle Admin
  • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
  • visibility 97
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Masyuri Maswatu

(Wasekjend GP Ansor)

TAJUKMALUKU.COM- Muktamar Ansor tidak boleh dipandang semata sebagai agenda pergantian kepemimpinan organisasi. Muktamar harus menjadi momentum untuk membaca perubahan zaman, mengevaluasi perjalanan gerakan, menyusun kembali orientasi perjuangan, dan menentukan posisi Ansor dalam arsitektur besar Nahdlatul Ulama. Sebab Ansor tidak berdiri sebagai organisasi yang terpisah dari ekosistem NU. Ansor merupakan bagian penting dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, sehingga arah pembaruan Ansor juga harus memiliki hubungan yang kuat dengan agenda kelembagaan, sosial, keagamaan, ekonomi, dan kebangsaan NU.

Karena itu, pembicaraan mengenai Peta Jalan Ansor Menuju Muktamar dengan konsep Nahdlatut Tujjar harus ditempatkan dalam konteks yang lebih besar, yaitu bagaimana membangun kekuatan ekonomi warga NU melalui organisasi yang memiliki jaringan luas dan basis sosial yang kuat.

Ansor tidak cukup hanya berbicara tentang bagaimana kader menjadi kuat secara organisasi, tetapi harus mulai memikirkan bagaimana kader menjadi kuat secara ekonomi dan bagaimana kekuatan ekonomi kader tersebut dapat menjadi bagian dari kekuatan ekonomi NU secara kelembagaan.

NU memiliki modal sosial yang sangat besar. Warga NU tersebar di berbagai lapisan masyarakat dan berbagai sektor kehidupan. Mereka berada di desa, kota, pesantren, kampus, pasar, birokrasi, dunia usaha, sektor pertanian, perikanan, perdagangan, pendidikan, jasa, industri kreatif, hingga teknologi. Namun besarnya jumlah warga belum otomatis menjadi kekuatan ekonomi apabila tidak ada sistem yang menghubungkan potensi tersebut. Banyak warga NU memiliki usaha sendiri, tetapi berjalan secara individual. Banyak memiliki produk, tetapi kesulitan mendapatkan pasar. Banyak memiliki kemampuan, tetapi tidak memiliki akses modal. Banyak memiliki sumber daya, tetapi tidak memiliki jaringan distribusi yang kuat.

Di sinilah gagasan Nahdlatut Tujjar menjadi penting. Nahdlatut Tujjar harus dibaca sebagai gagasan tentang kebangkitan ekonomi warga dan pembangunan kemandirian melalui jaringan sosial yang terorganisasi. Konsep tersebut tidak boleh dipersempit hanya menjadi ajakan untuk berdagang. Lebih jauh, Nahdlatut Tujjar harus menjadi paradigma untuk membangun saudagar, produsen, pengusaha, profesional, koperasi, jaringan perdagangan, lembaga ekonomi, dan ekosistem usaha yang memiliki orientasi sosial.

Ansor memandang gagasan tersebut sangat strategis karena Ansor merupakan salah satu ruang utama kaderisasi generasi muda NU. Apabila kader muda NU hanya dipersiapkan untuk menjadi aktivis organisasi, sementara dimensi ekonomi tidak mendapatkan perhatian yang cukup, maka akan muncul ketimpangan dalam proses kaderisasi. Kader harus memiliki kemampuan kepemimpinan, intelektualitas, pengabdian sosial, sekaligus kemandirian ekonomi.

Kemandirian ekonomi bukan berarti menjadikan organisasi sebagai lembaga bisnis semata. Kemandirian ekonomi justru harus ditempatkan sebagai fondasi agar kader dan organisasi memiliki kemampuan lebih besar dalam menjalankan pengabdian sosial. Kader yang mandiri secara ekonomi memiliki ruang yang lebih luas untuk berkontribusi kepada masyarakat. Organisasi yang memiliki ekosistem ekonomi yang sehat juga tidak mudah bergantung kepada sumber daya eksternal.

Karena itu, Ansor harus mulai memikirkan hubungan antara kaderisasi, ekonomi, dan kelembagaan NU. Jangan sampai ekonomi warga NU berjalan sendiri tanpa hubungan dengan kekuatan kelembagaan NU. Sebaliknya, kelembagaan NU juga tidak boleh hanya memiliki struktur yang besar tanpa mampu mengorganisasi potensi ekonomi warganya. Pekerjaan besar ke depan adalah membangun jembatan antara kekuatan struktural NU dan kekuatan produktif warga NU. Ansor sebagai organisasi kader memiliki posisi strategis untuk menjadi salah satu jembatan tersebut.

Muktamar  harus mampu melahirkan agenda yang menjawab persoalan tersebut. Muktamar harus menghasilkan desain besar bagaimana kader Ansor dapat menjadi bagian dari kebangkitan ekonomi NU. Dengan demikian, Muktamar bukan hanya berbicara mengenai masa depan Ansor, tetapi juga berbicara mengenai masa depan generasi muda NU.

Ansor dalam Arsitektur Kelembagaan NU

Ansor harus memahami dirinya sebagai bagian dari arsitektur besar Nahdlatul Ulama. Hubungan Ansor dengan NU tidak semestinya hanya dibicarakan dalam konteks struktural atau administratif. Hubungan tersebut harus dilihat sebagai hubungan antara organisasi kader dengan rumah besar yang menaunginya.

NU memiliki struktur, lembaga, badan, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, koperasi, lembaga sosial, jaringan pendidikan, serta basis warga yang luas. Sementara Ansor memiliki jaringan kader muda yang tersebar di berbagai wilayah Potensi tersebut harus dipertemukan. Ansor tidak perlu berjalan sendiri ketika membangun agenda ekonomi. Sebaliknya, Ansor harus mampu menghubungkan program Nahdlatut Tujjar dengan agenda ekonomi NU secara lebih luas.

Jika NU memiliki lembaga ekonomi, maka kader Ansor harus dapat menjadi bagian dari penguatan lembaga tersebut. Jika NU memiliki jaringan pendidikan dan pesantren, maka jaringan tersebut dapat menjadi ruang inkubasi kewirausahaan. Jika warga NU memiliki produk unggulan, jaringan kelembagaan NU dapat menjadi ruang promosi dan distribusi,Dengan demikian, Ansor dapat berperan sebagai motor regenerasi ekonomi NU.

Nahdlatut Tujjar sebagai Agenda Regenerasi Ekonomi NU

Persoalan ekonomi NU tidak hanya persoalan lembaga. Ia juga merupakan persoalan regenerasi. Generasi muda NU harus dipersiapkan menjadi pelaku ekonomi. Jangan sampai regenerasi NU hanya berlangsung pada wilayah kepemimpinan organisasi, tetapi tidak berlangsung pada wilayah ekonomi. Regenerasi ekonomi berarti melahirkan generasi baru saudagar NU yang mampu menguasai teknologi, memahami pasar, mengelola usaha, membangun jaringan, menciptakan lapangan pekerjaan, dan mengembangkan ekonomi Masyarakat Ansor memiliki posisi strategis untuk menjalankan agenda tersebut.

Kaderisasi Ansor harus mulai memasukkan agenda kewirausahaan dan produktivitas ekonomi sebagai bagian dari pembentukan kader. Seorang kader tidak cukup hanya mampu memimpin rapat atau mengelola organisasi. Ia harus mampu membaca perubahan ekonomi dan menciptakan solusi. Kader yang menjadi nelayan harus mampu mengembangkan usaha pengolahan hasil laut. Kader yang menjadi petani harus mampu mengembangkan rantai nilai pertanian. Kader yang bergerak dalam perdagangan harus mampu membangun jaringan distribusi. Kader yang memiliki keahlian digital harus mampu membantu pelaku usaha kecil masuk ke pasar digital. Dengan cara tersebut, kaderisasi Ansor dapat menjadi pintu masuk regenerasi ekonomi NU.

Dari Jaringan Sosial NU Menjadi Jaringan Ekonomi

NU memiliki kekuatan jaringan sosial yang sangat besar. Persoalannya adalah bagaimana jaringan sosial tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi kepada warga. Jaringan pengajian, pesantren, madrasah, masjid, organisasi kepemudaan, komunitas, dan lembaga sosial sebenarnya dapat menjadi bagian dari ekosistem ekonomi apabila dikelola dengan tepat Ansor dapat menjadi penghubung antara jaringan tersebut dengan kebutuhan ekonomi masyarakat Produk warga NU harus memiliki tempat untuk dipasarkan. Pelaku usaha NU harus memiliki jaringan untuk berkembang.

Kader yang memiliki kemampuan profesional harus dapat dihubungkan dengan pelaku usaha yang membutuhkan keahlian,Inilah gagasan  besar yang harus dikembangkan dari Nahdlatut Tujjar. Jaringan sosial tidak boleh berhenti sebagai jaringan silaturahmi. Ia harus dapat berkembang menjadi jaringan produktivitas.

Kelembagaan NU dan Kemandirian Ekonomi

Kemandirian ekonomi NU harus dibangun dengan memperkuat kelembagaan, bukan dengan membebankan seluruh agenda ekonomi kepada individu kader, Kelembagaan ekonomi NU perlu dipikirkan secara serius. Badan usaha, koperasi, lembaga keuangan, unit perdagangan, jaringan distribusi, pusat pelatihan, dan berbagai bentuk kelembagaan ekonomi harus memiliki hubungan yang jelas dengan kebutuhan warga, Ansor dapat menjadi salah satu sumber kader ekonomi bagi kelembagaan tersebut.

Kader muda yang memiliki kemampuan manajemen, teknologi, keuangan, pemasaran, dan kewirausahaan dapat dipersiapkan untuk mengisi ruang-ruang strategis dalam pengembangan ekonomi NU. Dengan demikian, hubungan NU dan Ansor tidak hanya berlangsung dalam bentuk pembinaan organisasi, tetapi juga berlangsung dalam bentuk regenerasi sumber daya manusia ekonomi.

Kritik terhadap Fragmentasi Gerakan Ekonomi

Salah satu persoalan yang harus dihadapi adalah fragmentasi. Banyak program ekonomi berjalan sendiri-sendiri. Banyak lembaga memiliki kegiatan ekonomi masing-masing. Banyak kader memiliki usaha sendiri. Banyak komunitas memiliki produk sendiri Tetapi tidak semuanya terhubung. Akibatnya, kekuatan yang seharusnya besar menjadi kecil karena berjalan dalam ruang yang terpisah Nahdlatut Tujjar harus menjadi agenda integrasi. Ansor harus mendorong terbentuknya jaringan yang menghubungkan pelaku ekonomi warga NU dengan kelembagaan NU. Setiap usaha tidak harus dimiliki oleh organisasi. Yang lebih penting adalah bagaimana organisasi menciptakan ekosistem yang membuat usaha warga dapat berkembang, Ini merupakan perbedaan penting antara organisasi yang menjadi pelaku bisnis dengan organisasi yang membangun ekosistem ekonomi.

Membangun Saudagar Muda NU

Agenda utama Nahdlatut Tujjar harus diarahkan pada lahirnya saudagar muda NU. Saudagar muda NU harus memiliki karakter yang berbeda dari sekadar pengusaha yang mengejar keuntungan. Ia harus memiliki orientasi sosial dan tanggung jawab kebangsaan, Ia harus mampu menciptakan lapangan kerja, mengembangkan masyarakat, memperkuat produk lokal, dan membangun hubungan ekonomi yang adil. Kader Ansor harus menjadi salah satu sumber utama lahirnya generasi tersebut.

Pendidikan kewirausahaan harus dipadukan dengan pendidikan kepemimpinan. Pengetahuan ekonomi harus dipadukan dengan nilai keagamaan dan tanggung jawab sosial.

Dengan demikian, Nahdlatut Tujjar menjadi gerakan membangun manusia, bukan sekadar gerakan membangun perusahaan.

Muktamar sebagai Momentum Konsolidasi Ekonomi NU

Muktamar Ansor harus membawa agenda ekonomi tersebut ke dalam pembicaraan yang lebih serius. Muktamar tidak cukup hanya membahas struktur kepengurusan Ansor. Muktamar harus membicarakan bagaimana Ansor dapat berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi warga NU.

Karena itu, diperlukan agenda konsolidasi dengan kelembagaan NU. Ansor harus mampu menyampaikan gagasan bahwa penguatan ekonomi kader merupakan bagian dari penguatan NU.

Kader Ansor adalah generasi penerus NU. Jika kadernya kuat secara ekonomi, maka NU juga akan memiliki basis generasi yang lebih mandiri. Dengan demikian, Muktamar Ansor dapat menjadi ruang untuk menyusun kontrak baru antara kader, Ansor, dan NU.

Kontrak Nahdlatut Tujjar

Muktamar perlu menghasilkan sebuah kontrak Nahdlatut Tujjar yang jelas. Kontrak tersebut harus memuat komitmen untuk membangun database ekonomi kader, memperkuat koperasi, membangun inkubator usaha, memperluas jaringan pasar, memperkuat produk lokal, membangun sistem digital ekonomi, serta memperkuat hubungan antara pelaku usaha kader dengan kelembagaan ekonomi NU. Berapa jumlah usaha yang dibina. Berapa jumlah lapangan pekerjaan yang tercipta. Berapa banyak produk lokal yang berhasil masuk pasar nasional. Berapa koperasi yang benar-benar aktif. Berapa banyak kader yang berhasil menjadi pengusaha. Berapa banyak desa yang memiliki program ekonomi produktif. Tanpa ukuran tersebut, Nahdlatut Tujjar akan mudah berubah menjadi slogan.

Menggeser Orientasi dari Jabatan ke Karya

Peta jalan Nahdlatut Tujjar juga harus menjadi kritik terhadap budaya organisasi yang terlalu berorientasi pada jabatan. Ansor dan NU membutuhkan kader yang tidak hanya ingin menjadi pengurus, tetapi ingin menjadi pembuat perubahan. Kader yang menciptakan lapangan pekerjaan harus mendapatkan ruang yang sama dengan kader yang aktif dalam struktur. Kader yang membangun koperasi harus dianggap sebagai bagian dari perjuangan organisasi. Kader yang membangun ekonomi masyarakat harus dilihat sebagai bentuk pengabdian Organisasi harus mulai menghargai karya Jabatan akan berganti, tetapi karya akan tinggal dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, masa depan Ansor tidak boleh diukur hanya dari berapa banyak kader yang duduk dalam struktur, tetapi dari berapa banyak kader yang mampu menghasilkan manfaat.

Ansor sebagai Laboratorium Ekonomi Generasi Muda NU

Ansor dapat menjadi laboratorium ekonomi bagi generasi muda NU Organisasi dapat menjadi ruang eksperimen bagi kader untuk membangun usaha, mengembangkan teknologi, menguji model koperasi, membangun jaringan pasar, dan menciptakan inovasi Jika eksperimen berhasil, model tersebut dapat diperluas melalui jaringan NU pembuatan Dengan cara tersebut, Ansor memiliki fungsi strategis dalam pembaruan NU.

Ansor bukan hanya organisasi kepemudaan, tetapi menjadi ruang untuk menyiapkan generasi masa depan NU.

Peta Jalan Ansor Menuju Muktamar dengan konsep Nahdlatut Tujjar harus dibaca sebagai gagasan tentang masa depan Ansor sekaligus masa depan generasi muda NU Ansor tidak boleh hanya bertanya siapa yang akan memimpin organisasi. Ansor harus bertanya generasi seperti apa yang hendak dilahirkan, jika yang dilahirkan hanya kader yang kuat dalam struktur tetapi lemah secara ekonomi, maka perjuangan organisasi akan selalu berhadapan dengan persoalan ketergantungan.

Sebaliknya, jika Ansor mampu melahirkan kader yang memiliki pengetahuan, kepemimpinan, jaringan sosial, kemampuan ekonomi, dan kemandirian, maka Ansor akan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat.

Karena itu, Nahdlatut Tujjar harus menjadi agenda serius menuju Muktamar. Nahdlatut Tujjar harus menjadi jalan membangun saudagar muda NU Harus menjadi jalan membangun ekonomi warga, harus menjadi jalan memperkuat kelembagaan NU, dan menjadi jalan menghubungkan kader dengan pasar, serta menjadi jalan membangun koperasi dan usaha produktif juga harus menjadi jalan menuju kemandirian. Muktamar ini tidak boleh hanya menghasilkan kepengurusan baru.

Muktamar harus menghasilkan arah baru arah baru itu adalah menjadikan kemandirian ekonomi sebagai bagian dari kaderisasi, menjadikan produktivitas sebagai ukuran keberhasilan kader, menjadikan jaringan sosial sebagai jaringan ekonomi, dan menjadikan Ansor sebagai salah satu motor regenerasi ekonomi NU.

Pada akhirnya, pertanyaan paling penting menuju Muktamar bukan hanya siapa yang mendapatkan amanah memimpin Ansor, tetapi apakah kepemimpinan tersebut mampu meninggalkan warisan yang lebih besar daripada jabatan. Warisan itu adalah kader yang mandiri, warisan itu adalah saudagar muda NU, warisan itu adalah ekonomi warga yang tumbuh di situlah makna sesungguhnya dari Peta Jalan Ansor Menuju Muktamar dengan konsep Nahdlatut Tujjar.* 

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sudah Melunasi Pembelian Tanah? Segera Lakukan Balik Nama Sertipikat untuk Jamin Kepastian Hukum

    Sudah Melunasi Pembelian Tanah? Segera Lakukan Balik Nama Sertipikat untuk Jamin Kepastian Hukum

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Namrole,Tajukmaluku.com-Masyarakat yang telah membeli tanah atau rumah diimbau untuk segera melakukan proses Peralihan Hak Jual Beli atau balik nama sertipikat di Kantor Pertanahan. Langkah tersebut penting untuk memastikan kepemilikan tanah diakui secara hukum serta menghindari potensi sengketa di kemudian hari. Kantor Pertanahan Kabupaten Buru Selatan mengingatkan bahwa pelunasan harga tanah maupun kepemilikan kuitansi pembayaran tidak […]

  • Dinyatakan Tak Bersalah, Majelis Hakim PN Ambon Vonis Bebas Mantan Kadis Perkim Kota Tual, Fahry Rahayaan

    Dinyatakan Tak Bersalah, Majelis Hakim PN Ambon Vonis Bebas Mantan Kadis Perkim Kota Tual, Fahry Rahayaan

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Ambon menjatuhkan vonis bebas terhadap mantan Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman (Perkim) Kota Tual periode 2017-2021, Fahry Rahayaan. Fahry yang juga sempat menjabat sebagai Pj. Sekda Kota Tual itu dinyatakan tidak bersalah dalam perkara dugaan korupsi proyek Bantuan Stimulan Peningkatan Kualitas Rumah Swadaya (BSPS) […]

  • Terang Berkah Ramadan, PLN UIW MMU Gelar Pasar Murah; Hasil Penjualan untuk Tambah Daya Listrik Fasilitas Umum

    Terang Berkah Ramadan, PLN UIW MMU Gelar Pasar Murah; Hasil Penjualan untuk Tambah Daya Listrik Fasilitas Umum

    • calendar_month Jumat, 14 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara menghadirkan Pasar Murah Ramadan 1446 H melalui program Terang Berkah Ramadan pada Jumat (14/3/2025) Pasar murah ini digelar di pelataran kantor PLN UP3 Ternate yang beralamat di Jalan Ahmad Yani, Kota Baru, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara. General Manager PLN UIW MMU, Awat Tuhuloula menyampaikan, […]

  • DPRD Maluku Tunggu Hasil Audit BRI: Desak Segera Diumumkan

    DPRD Maluku Tunggu Hasil Audit BRI: Desak Segera Diumumkan

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-DPRD Maluku mendesak Bank Rakyat Indonesia (BRI) segera mengumumkan hasil audit internal terkait dugaan fraud pada Program Kredit Cepat (Kece) di Unit Pasahari yang hingga kini belum diterima secara resmi oleh lembaga legislatif. Ketua Komisi III DPRD Maluku, Alhidayat Wajo, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil audit dari tim BRI wilayah Makassar. Meski demikian, ia memastikan […]

  • Respons Kasus Bullying di SRT I Malteng, Kadinsos Affandi Hasanussi Minta Sekolah Proaktif dan Rangkul Keluarga Korban

    Respons Kasus Bullying di SRT I Malteng, Kadinsos Affandi Hasanussi Minta Sekolah Proaktif dan Rangkul Keluarga Korban

    • calendar_month Sabtu, 10 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dinas Sosial Provinsi Maluku memberikan perhatian serius terhadap kasus perundungan (bullying) dan kekerasan yang terjadi di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Maluku Tengah (Malteng). Kepala Dinas Sosial Maluku, Affandy Hasanussi, menegaskan agar pihak sekolah tidak mengabaikan keluarga korban dan segera mengambil langkah mediasi secara terbuka. Insiden kekerasan yang terjadi pada Senin (5/10/2026) tersebut bermula dari […]

  • PLN UIW MMU Sukses Jaga Pasokan Listrik Saat Perayaan Idul Adha 2026

    PLN UIW MMU Sukses Jaga Pasokan Listrik Saat Perayaan Idul Adha 2026

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) memastikan kesiapan pasokan listrik guna mendukung kelancaran pelaksanaan Salat Idul Adha 1447 Hijriah di seluruh wilayah Maluku dan Maluku Utara. Kesiapan tersebut dilakukan melalui pengamanan sistem kelistrikan, pembentukan posko siaga, serta penempatan personel dan peralatan pendukung di titik-titik prioritas pelaksanaan ibadah. General Manager […]

expand_less