Breaking News
light_mode

Dekolonisasi Penyelesaian Konflik Tanah di Maluku

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
  • visibility 80
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dhani Pelupessy

(Akademisi UIN Ambon)

Tajukmaluku.com-Belakangan ini, urusan tanah dan batas wilayah sering jadi pemicu konflik di Maluku. Sepintas, masalah ini bisa gampang diselesaikan lewat jalur struktural (baca: pemerintah). Tapi pertanyaannya adalah apakah masyarakat mau menyerahkan urusan itu sepenuhnya ke pemerintah?

Jawabannya tidak sesederhana “mau” atau “tidak mau”. Ada hal yang lebih dalam untuk dipahami yakni masalah batas wilayah di Maluku itu sangat rumit, dan mustahil selesai dalam sekejap.

Kenapa rumit? Karena kalau bicara soal batas wilayah, sebenarnya kita sedang bicara soal “ruang hidup”. Bagi masyarakat Maluku, ruang hidup bukan sekadar tempat yang dikelilingi pagar atau garis batas. Ini bukan seperti kotak yang di dalamnya ada orang-orang yang tinggal di dalamnya.

Ruang hidup di Maluku lebih mirip jaring laba-laba, semua wilayah saling terhubung satu sama lain. Itulah kenapa kita sering dengar cerita bahwa tanah satu kampung ternyata sampai ke kampung sebelah, atau sebaliknya. Konektivitas ini biasanya berasal dari cerita turun-temurun atau ada peristiwa tertentu di masa lalu yang membuat masyarakat merasa terikat dengan tempat itu.

Karena hubungan masyarakat dengan tanahnya begitu cair dan rumit, akan jadi masalah besar kalau penyelesaiannya diserahkan begitu saja ke pemerintah (baca: struktural). Sebab, pemerintah seringkali punya pemahaman sendiri soal apa itu “batas wilayah” atau “ruang hidup”, dan pemahaman itu belum tentu sama dengan yang dipahami masyarakat setempat.

Karena itu, saya melihat argumen bahwa “masalah tanah di Maluku harus diselesaikan lewat jalur pemerintah” perlu dilihat dengan agak skeptis. Alasannya, pertama, selama kebijakan pemerintah belum sejalan dengan cara pandang masyarakat, masalah tanah ini mustahil selesai lewat jalur formal.

Kedua, selama masyarakat masih diposisikan sebagai “objek” kebijakan — bukan sebagai pihak yang ikut menentukan — masalah ini juga sulit diselesaikan dengan cepat. Paling-paling, masalahnya cuma diredam sementara, padahal di baliknya sedang menumpuk potensi konflik yang bisa meledak jauh lebih besar di kemudian hari.

Disitulah pentingnya membahas soal ruang hidup dan batas wilayah ini dari sudut pandang dekolonial. Artinya, kita perlu melepaskan cara pandang lama yang diwariskan dari masa penjajahan. Kenapa harus pakai cara pandang dekolonial?

Pertama, penentuan wilayah di Maluku sejak dulu sudah dipengaruhi kebijakan penjajah. Kedua, batas wilayah di Maluku juga sudah dipengaruhi oleh persaingan dua kesultanan besar di Maluku Utara pada masa lalu. Ketiga, wilayah di Maluku juga terus dibentuk ulang oleh kebijakan pemerintah pusat maupun daerah.

Dari semua pengaruh itu, intinya adalah selama ini masyarakat Maluku belum benar-benar diberi ruang untuk menyuarakan sendiri kegelisahan mereka soal hubungannya dengan tanah dan wilayahnya. Karena itu, sekarang saatnya mengembalikan suara itu kepada masyarakat sendiri. Biarkan mereka menentukan siapa diri mereka, apa itu ruang hidup mereka, dan bagaimana semua itu dimaknai.

Itulah inti dari proses dekolonisasi yang sesungguhnya, bukan langsung menyerahkan semua urusan ke pemerintah, tapi membiarkan penyelesaiannya berangkat dari suara masyarakat sendiri. Dalam proses ini, semangat “orang basudara” (persaudaraan) perlu diaplikasikan secara sungguh-sungguh.

Meskipun begitu, hal itu bukan berarti pemerintah lalu lepas tangan dan membebankan semuanya ke masyarakat. Pemerintah tetap harus terlibat aktif, tetapi dengan syarat ialah cara pandang pemerintah juga harus berpijak pada semangat dekolonial itu tadi. Pertanyaannya sekarang adalah apakah pemerintah mampu menerapkan cara pandang dekolonial itu dalam kebijakan-kebijakannya? Di sinilah letak persoalan yang sebenarnya perlu dibedah lebih jauh.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hadirkan Listrik Andal, PLN Dukung Suksesi MTQ XXXI Maluku

    Hadirkan Listrik Andal, PLN Dukung Suksesi MTQ XXXI Maluku

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara melalui PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ambon memastikan keandalan pasokan listrik selama pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Maluku Tahun 2026 yang berlangsung pada 22–28 Juni 2026 di Kota Ambon. Kegiatan yang mempertemukan kafilah, tokoh agama, pemerintah daerah, dan masyarakat dari seluruh […]

  • PLN UIW MMU dan Pemkab Halmahera Utara Siap Kolaborasi Majukan Sistem Kelistrikan dan Industri Daerah

    PLN UIW MMU dan Pemkab Halmahera Utara Siap Kolaborasi Majukan Sistem Kelistrikan dan Industri Daerah

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tobelo,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melakukan kunjungan audiensi ke Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, Selasa (19/8/2025). Pertemuan yang berlangsung di kantor Bupati Kabupaten Halmahera Utara itu dilakukan sebagai bagian dari komitmen memperkuat sinergi dan kolaborasi strategis antara PLN dan pemerintah daerah dalam meningkatkan keandalan sistem kelistrikan di wilayah Tobelo […]

  • Hidayat Wajo Beri Materi di Kaderisasi GMNI Ambon, Ini yang Disampaikan

    Hidayat Wajo Beri Materi di Kaderisasi GMNI Ambon, Ini yang Disampaikan

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Alhidayat Wajo yang juga merupakan mantan Ketua Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kabupaten Buru, menjadi narasumber utama dalam kegiatan Kaderisasi Tingkat Dasar (KTD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Ambon. Materi yang disampaikan secara mendalam menitikberatkan pada muatan lokal dan dinamika geopolitik, serta berbagai pengalaman kerja yang telah ia […]

  • Gubernur Hendrik Lewerissa Temui Menteri Agama: Bahasa Moderasi Beragama dan Perkuat Kerjasama

    Gubernur Hendrik Lewerissa Temui Menteri Agama: Bahasa Moderasi Beragama dan Perkuat Kerjasama

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, melakukan pertemuan dengan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar. Pertemuan tersebut berlangsung di kawasan kantor Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (13/03/2026). Setelah tiba di Bandara Internasional Soekarno–Hatta, Lewerissa langsung menuju Masjid Istiqlal untuk melaksanakan agenda silaturahmi dan koordinasi dengan Menteri Agama. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama […]

  • Bantu Warga Hadapi Karhutla di Saleman, Maswatu Apresiasi Kinerja TNI AL IX Ambon

    Bantu Warga Hadapi Karhutla di Saleman, Maswatu Apresiasi Kinerja TNI AL IX Ambon

    • calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Hampir satu bulan, masyarakat di Desa Saleman, Kecamatan Seram Utara Barat, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku berjuang untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Dengan peralatan seadanya, masyarakat saling bantu untuk mencegah api meluas. Namun, keterbatasan yang dimiliki warga, membuat api yang bergerak cepat membakar hutan dan perkebunan masyarakat itu menyisahkan keprihatinan atas lambatnya sikap […]

  • PLN UIW MMU Gandeng Pemprov Malut Bangun Negeri Lewat Program Light Up the Dream

    PLN UIW MMU Gandeng Pemprov Malut Bangun Negeri Lewat Program Light Up the Dream

    • calendar_month Rabu, 20 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) terus menunjukkan peran nyata dalam membangun negeri melalui program sosial bertajuk Light Up the Dream (LUTD). Pada Agustus 2025 ini, Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) kembali merealisasikan bantuan sambungan listrik gratis kepada warga kurang mampu. Program ini merupakan wujud nyata kepedulian pegawai PLN yang secara sukarela menyisihkan rezekinya […]

expand_less