Breaking News
light_mode

Melihat H.O.S. Tjokroaminoto Dari Sahabat A.M Sangadji

  • account_circle Admin
  • calendar_month 37 menit yang lalu
  • visibility 6
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tajukmaluku.com-Melalui narasi yang dihidupkan kembali oleh Muhammad Kamil Mony, pandangan Abdoel Moethalib Sangadji ( Jago Toea) terhadap HOS Tjokroaminoto mencerminkan aliansi ideologis yang kuat antara tokoh Jawa dan pejuang asal Maluku dalam Sarekat Islam.

Sangadji melihat Tjokroaminoto bukan sekadar pemimpin, melainkan mentor, sahabat karib, serta “Guru Bangsa” yang menyatukan pergerakan nasional tanpa sekat kesukuan.

Kedekatan ini turut membentuk corak perjuangan Sangadji yang mengombinasikan aksi politik dengan pendidikan rakyat. Perspektif ini menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun atas dasar persatuan dan rajutan pemikiran lintas wilayah.

Dalam lanskap sejarah pergerakan nasional Indonesia, relasi antar-tokoh sering kali hanya dilihat dari kacamata politik formal yang kaku. Namun, jika kita menyelami lebih dalam melalui kacamata pengamat dan pemikir kontemporer seperti Muhammad Kamil Mony, kita akan menemukan sebuah dimensi kemanusiaan yang sangat kaya, sublim, dan bernas di balik kokohnya fondasi Sarekat Islam (SI).

Salah satu faset paling menarik yang sering diulas adalah bagaimana Abdoel Moethalib (A.M.) Sangadji singa podium asal Maluku yang dijuluki “Jago Toea” melihat, memaknai, dan menempatkan sosok Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto dalam hidup dan perjuangannya.

Melalui narasi yang dibangun oleh Muhammad Kamil Mony, hubungan antara Tjokroaminoto dan A.M. Sangadji bukanlah sekadar relasi antara ketua umum dan pengurus di dalam partai.

Hubungan ini adalah kristalisasi dari persahabatan ideologis, ikatan kultural yang melampaui batas geografis, serta pertautan jiwa antara dua singa pergerakan yang saling mengagumi dan melengkapi.

Dalam pandangan Muhammad Kamil Mony, salah satu poin krusial yang ditangkap oleh A.M. Sangadji dari sosok Tjokroaminoto adalah kemampuannya menjadi magnet persatuan.

Pada awal abad ke-20, hambatan terbesar dari pergerakan di Hindia Belanda adalah sifatnya yang masih kedaerahan (provinsialistik). Sebagai seorang putra Maluku (dari Negeri Rohomoni, Pulau Haruku) yang merantau ke Jawa, Sangadji tentu merasakan betul bagaimana sekat-sekat etnisitas kerap membatasi ruang gerak perjuangan.

Namun, di mata Sangadji, Tjokroaminoto adalah figur yang berhasil mendobrak tembok pembatas tersebut. Melalui Sarekat Islam, Tjokroaminoto mampu mengubah sentimen keagamaan dan kebangsaan menjadi bahan bakar nasionalisme yang inklusif.

Kamil Mony menggarisbawahi bahwa Sangadji melihat Tjokroaminoto bukan sebagai “pemimpin orang Jawa”, melainkan sebagai pemimpin bangsa yang melintasi batas-batas pulau. Kehadiran Sangadji di lingkaran utama Tjokroaminoto (bahkan kemudian dipercaya menjadi salah satu petinggi CSI/Centraal Sarekat Islam) kemudian terpilih secara demokratis sebagai Presiden Partai PSII tahun 1930 menggantikan Tjokrominoto sahabat saudara separtai yang kerap disapa dengan sebutan “Broer” adalah bukti nyata betapa Tjokroaminoto menghargai dan merangkul potensi intelektual dan militansi dari wilayah Timur Nusantara.

Bagi Sangadji, Tjokroaminoto adalah simbol bahwa Indonesia masa depan adalah milik bersama, dari ujung barat hingga ujung timur.

A.M. Sangadji dikenal dalam sejarah sebagai orator ulung yang mampu membakar semangat ribuan massa dengan suaranya yang menggelegar dan pilihan katanya yang tajam. Namun, di balik keandalannya di atas podium, Sangadji menaruh hormat yang luar biasa pada kemampuan retorika Tjokroaminoto.

Muhammad Kamil Mony menggambarkan bahwa dalam refleksi sejarahnya, Sangadji memandang Tjokroaminoto sebagai guru sejati dalam seni komunikasi politik rakyat. Tjokroaminoto bukan sekadar berpidato untuk pamer intelektualitas; ia berpidato untuk menyuntikkan kesadaran hukum, harga diri, dan keberanian kepada rakyat jelata yang selama berabad-abad ditundukkan oleh kolonialisme.

Sangadji menyerap “gaya satria” Tjokroamino cara Tjokroaminoto menatap mata massa, mempermainkan intonasi, dan menyederhanakan konsep-konsep politik yang rumit agar dipahami oleh kaum buruh dan petani. Bagi Sangadji, Tjokroaminoto adalah “Raja Tanpa Mahkota” yang kekuasaannya tidak bersumber dari dekrit kolonial, melainkan dari cinta dan kepatuhan sukarela rakyat yang mendengarkan suaranya.

Perjuangan di era SI bukanlah jalan bertabur bunga, melainkan jalan sunyi yang penuh dengan ancaman penjara, pengasingan, dan kesulitan finansial. Di sinilah letak keindahan hubungan mereka yang disorot oleh Kamil Mony: kesetiaan di masa-masa sulit.

Ketika Sarekat Islam mulai digoyang oleh infiltrasi ideologi kiri (Semaun dan kawan-kawan yang kelak membentuk SI Merah/PKI), Tjokroaminoto menghadapi tekanan batin dan politik yang luar biasa hebat. Di saat banyak pihak mulai meragukan arah kebijakan Tjokroaminoto, A.M. Sangadji berdiri pasang badan sebagai benteng pertahanan ideologis di sisi sahabatnya.

Sangadji melihat keteguhan Tjokroaminoto untuk tetap menjaga asas Islam dan Kebangsaan sebagai prinsip yang tidak bisa ditawar. Kedekatan mereka bukan sekadar urusan rapat-rapat formal di kantor SI, melainkan obrolan mendalam di ruang tamu rumah Tjokroaminoto di Peneleh, Surabaya—tempat di mana ide-ide besar diperdebatkan dan nasib bangsa ini dirumuskan bersama para pemuda seperti Sukarno.

Hal lain yang sangat dikagumi Sangadji dari Tjokroaminoto dan kerap ditekankan oleh Muhammad Kamil Mony dalam ulasannya adalah visi Tjokroaminoto mengenai pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui jalur pendidikan mandiri. Konsep Zelfbestuur (pemerintahan sendiri) yang didengungkan Tjokroaminoto tidak akan bermakna tanpa rakyat yang terdidik.

Terinspirasi oleh gerakan kedaulatan berpikir yang diajarkan Tjokroaminoto, A.M. Sangadji di kemudian hari mendirikan institusi pendidikan seperti Balai Pendidikan di Maluku dan Kalimantan dan berbagai tempat lainnya. Sangadji mempraktikkan langsung apa yang ia lihat dari sang sahabat: bahwa melawan kolonialisme tidak cukup hanya dengan otot dan demonstrasi, tetapi harus dengan mencetak kader-kader bangsa yang memiliki kedalaman ilmu dan keteguhan iman.

Kamil Mony mengkritik kecenderungan penulisan sejarah nasional yang kerap terjebak dalam pusaran sentralisme geografis. Menuntut gelar Pahlawan Nasional untuk A.M. Sangadji bukanlah bentuk memohon belas kasihan atau sekadar formalitas birokrasi, melainkan sebuah restrukturisasi keadilan

Negara harus mengakui secara jujur bahwa denyut nadi kemerdekaan Indonesia dibidani oleh pertautan keringat dan darah tokoh antarpulau di mana seorang putra Maluku berdiri kokoh di ring satu kepemimpinan Sarekat Islam di tanah Jawa. •

Menolak atau menunda pengakuan terhadap Jago Toea berarti mengaburkan peran vital masyarakat Indonesia Timur dalam merajut tenun kebangsaan purba. Kamil Mony menegaskan bahwa tanpa keteguhan Sangadji menjaga benteng ideologi Islam Nasionalis bersama Tjokroaminoto, peta politik pergerakan pra-kemerdekaan akan pincang. Pengakuan negara adalah cara melunasi “utang budi” sejarah kepada kepeloporan Maluku.

Narasi ini digulirkan bukan untuk romantisasi masa lalu, melainkan sebagai kompas moral bagi masa depan. Keadilan sejarah yang diperjuangkan bertujuan agar generasi baru Maluku dan Indonesia secara luas tidak kehilangan akar keteladanan. Bahwa dari pulau sekecil Haruku, pernah lahir seorang pemikir besar yang mampu menjadi jangkar bagi gerakan massa terbesar di Nusantara pada masanya.

Melalui penegasan Kamil Mony, kita disadarkan bahwa merawat ingatan atas relasi Tjokroaminoto dan A.M. Sangadji bukan sekadar membaca arsip lama. Ini adalah sebuah upaya penting untuk mengembalikan hak sejarah yang dirampas oleh waktu dan kelalaian struktural, demi utuhnya martabat sebuah bangsa yang besar.*(01-F)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Garda NKRI Ambon Desak Kejati dan Polda Periksa Sekda SBB Soal Dugaan SPPD Fiktif Rp16,34 Miliar

    Garda NKRI Ambon Desak Kejati dan Polda Periksa Sekda SBB Soal Dugaan SPPD Fiktif Rp16,34 Miliar

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ketua Garda NKRI Kota Ambon, Mujahidin Buano, secara tegas mendesak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku dan Ditreskrimsus Polda Maluku untuk segera memeriksa dan menetapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Leverne Alvin Tuasuun, sebagai tersangka. Desakan ini mencuat menyusul adanya dugaan kuat penyelewengan anggaran dalam bentuk Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) fiktif dan belanja […]

  • Resmi Bersertipikat, Kantah Buru Selatan Serahkan SHM Munjiyah di Desa Labuang

    Resmi Bersertipikat, Kantah Buru Selatan Serahkan SHM Munjiyah di Desa Labuang

    • calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Namrole,Tajukmaluku.com-Kantor Pertanahan Kabupaten Buru Selatan menyerahkan Sertipikat Hak Milik (SHM) kepada Munjiyah, warga Desa Labuang, Kecamatan Namrole, Rabu (16/9/2026). Penyerahan sertipikat dilakukan melalui loket pelayanan Kantah Buru Selatan sebagai bagian dari penyelesaian proses administrasi pendaftaran tanah yang diajukan pemohon. Sertipikat tersebut diserahkan langsung oleh petugas loket Kantah Buru Selatan, Rahmat Mudzakir Sultan. Sebelumnya, proses penerbitan […]

  • Izin Tambang: Bahlil Tanda Tangan, Alam Tanda Tamat

    Izin Tambang: Bahlil Tanda Tangan, Alam Tanda Tamat

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Tajukmaluku.com-Narasi legalitas perizinan tambang seringkali tampil sebagai tameng moral, seolah proses panjang birokrasi dan setumpuk dokumen adalah jaminan mutlak bahwa tambang beroperasi secara etis dan bertanggung jawab. Sayangnya, realitas di lapangan lebih mirip dagelan: di balik setiap tanda tangan dan izin, ada kemungkinan transaksi dan kompromi. Satu budaya yang meneguhkan klientalisme bisnis dan koncoisme-kompromi kuasa. […]

  • Target Penyelesaian Tahun 2027, Kepala BPJN Maluku Pantau Perkembangan 2 Proyek Strategis di SBT

    Target Penyelesaian Tahun 2027, Kepala BPJN Maluku Pantau Perkembangan 2 Proyek Strategis di SBT

    • calendar_month Rabu, 19 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Provinsi Maluku, Yana Astuti turun lapangan pantau perkembangan pembangunan dua proyek strategis di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Dua pekerjaan ini merupakan bagian dari program pembangunan infrastruktur jalan nasional yang dibiayai melalui pendanaan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), dengan target penyelesaian keseluruhan program pada tahun 2027. Dua pekerjaan tersebut […]

  • Hari Listrik Nasional ke-79, Dirut PLN Tegaskan Komitmen sebagai Fondasi Pembangunan Nasional

    Hari Listrik Nasional ke-79, Dirut PLN Tegaskan Komitmen sebagai Fondasi Pembangunan Nasional

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com– Tepat 27 Oktober diperingati sebagai Hari Listrik Nasional (HLN) ke-79. Selama 79 tahun juga PT PLN (Persero) telah menerangi masyarakat seantero Indonesia. Dengan mengusung tema “Energi Baru untuk Indonesia Maju”, perseroan berharap dapat terus berinovasi dalam menyediakan energi bersih secara berkelanjutan demi kemajuan Indonesia. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam upacara peringatan HLN ke-79 […]

  • Riset Jala Ina sebut Terumbu Karang Negeri Liang Malteng dalam Kondisi Terancam

    Riset Jala Ina sebut Terumbu Karang Negeri Liang Malteng dalam Kondisi Terancam

    • calendar_month Sabtu, 17 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Malteng,Tajukmaluku.com-Hasil riset yang dilakukan oleh Jala Ina pada Februari 2025 lalu menunjukkan kondisi terumbu karang di perairan Negeri Liang, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku berada dalam situasi yang sangat mengkhawatirkan. Penelitian yang dilakukan di tiga stasiun pengamatan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) ini mengungkap bahwa rata-rata tutupan karang hidup di bawah 5%, dengan rincian […]

expand_less