Usung HMI Resilience, Nur Latuconsina Bawa Agenda Pembaruan ke Bursa Ketum PB HMI
- account_circle Admin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 31
- print Cetak

M. Nur Latuconsina, bakal Calon Ketua Umum PB HMI.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com-M. Nur Latuconsina menyatakan diri sebagai bakal calon Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2026-2028. Kader HMI Cabang Ambon itu membawa gagasan “HMI Resilience” sebagai tawaran pembaruan organisasi menuju Kongres HMI XXXIII di Bandar Lampung.
Pernyataan tersebut disampaikan Nur Latuconsina dalam Silaturahmi dan Deklarasi Bakal Calon Ketua Umum PB HMI yang berlangsung di Baileo Cafe, Ambon. Selasa (15/9/2026).
Pria yang kerap disapa Reno ini merupakan kader HMI Cabang Ambon. Saat ini ia menjabat Ketua Bidang Ketenagakerjaan PB HMI periode 2024-2026.
Dalam sambutannya, Reno menyebut HMI Resilience bukan sekadar jargon politik elektoral internal. Ia menempatkannya sebagai cetak biru pembaruan organisasi yang bertumpu pada tiga pilar, yakni intelektual, perjuangan, dan integritas.
“HMI Resilience bukan sekadar jargon retorika politik elektoral internal, melainkan cetak biru strategis pembaruan organisasi,” demikian salah satu poin deklarasi Reno.
Tiga Pilar HMI Resilience
Pilar pertama adalah intelektual.
Reno menawarkan reformasi kurikulum perkaderan formal agar HMI mampu mempertemukan khazanah pemikiran Islam klasik dengan ilmu pengetahuan modern. Ia juga mendorong HMI kembali menjadi pusat keunggulan intelektual yang aktif memproduksi dan mempublikasikan gagasan strategis di ruang publik akademik.
Pilar kedua adalah perjuangan.
Orientasi HMI, menurut gagasan yang dibawa Reno, harus kembali diarahkan pada persoalan konkret masyarakat. Bentuknya antara lain advokasi kebijakan berbasis bukti, pemberdayaan ekonomi kerakyatan, pendidikan masyarakat marjinal, mitigasi krisis iklim, dan penguatan jaringan solidaritas dengan masyarakat sipil.
Pilar ketiga adalah integritas kelembagaan.
Fokus ini diarahkan pada pembenahan tata kelola organisasi yang bersih, akuntabel, dan transparan di seluruh tingkatan struktur HMI. Langkah praktisnya meliputi penerapan standar meritokrasi yang objektif dalam penjenjangan kepemimpinan, transparansi pengelolaan administrasi serta keuangan organisasi, dan penegakan disiplin aturan secara tegas untuk menjaga kredibilitas kelembagaan.
Tiga agenda tersebut memperlihatkan bahwa pencalonan Latuconsina tidak hanya dibangun dengan narasi pergantian kepemimpinan. Ia mencoba memasukkan isu kapasitas intelektual, relevansi perjuangan, dan tata kelola organisasi sebagai bagian dari agenda kongres.
Ia juga mengatakan deklarasi di Ambon merupakan pernyataan sikap terbuka kepada publik internal HMI, senior, alumni, kader, dan cabang-cabang HMI.
“Momentum hari ini, deklarasi ini sebagai bentuk daripada pernyataan sikap saya kepada publik, para senior dan adik-adik maupun cabang-cabang di bawah bahwa saya siap bertarung untuk menjadi Ketua Umum PB HMI,” kata Reno.
Namun, ia menyadari statusnya saat ini masih sebagai bakal calon. Proses pencalonan masih menunggu tahapan organisasi, termasuk pembentukan Steering Committee Kongres dan mekanisme administrasi serta rekomendasi yang akan menjadi persyaratan pencalonan.
“Ketika administrasi sudah keluar, baik berapa rekomendasinya akan dipenuhi. Ketika saya terpenuhi dengan rekomendasi, apa administrasi itu, maka penetapan saya sebagai calon ketua umum,” ujarnya.
Ia mengatakan tahapan berikutnya akan dijalankan melalui konsolidasi bersama tim yang sedang dibentuk.
Bagi Reno, pencalonan tersebut juga menjadi ruang bagi HMI Cabang Ambon untuk mengambil bagian dalam dinamika kepemimpinan organisasi di tingkat nasional.
“Ini sebagai ajang yang paling penting untuk saya dan paling penting juga untuk teman-teman HMI Cabang Ambon, kepengurusan hari ini, untuk bisa berkontribusi baik secara pikiran, secara gagasan maupun berkontribusi lain,” katanya.
Deklarasi tersebut secara eksplisit menyebut asal cabang Reno adalah HMI Cabang Ambon, Badko HMI Maluku. Ia menyatakan diri sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI periode 2026-2028 dengan mengusung HMI Resilience.
Kongres HMI XXXIII di kota bandar lampung nanti akan menjadi arena berikutnya bagi para kandidat untuk menguji dukungan politik organisasi sekaligus menawarkan arah kepemimpinan HMI.
Bagi HMI Cabang Ambon, langkah Reno membawa kontestasi organisasi ke level nasional. Bagi Reno sendiri, deklarasi ini baru tahap awal. Tantangan berikutnya adalah mengubah gagasan HMI Resilience menjadi dukungan organisasi, memenuhi persyaratan pencalonan, dan mempertanggungjawabkan gagasan tersebut di hadapan peserta Kongres HMI XXXIII.
Deklarasi itu juga turut dihadiri sejumlah alumni dan kader HMI, di antaranya Koordinator Presidium KAHMI Kota Ambon Rully Pattimahu, Koordinator Presidium KAHMI Wilayah Maluku Rovik Akbar Afifudin, Presidium KAHMI Wilayah Maluku Aziz Hentihu, Sekretaris KAHMI Kota Ambon Safien Solissa, Ketua HMI Cabang Ambon Sahrul Solissa, Sekretaris HMI Cabang Ambon Haidin Litilolly, serta Ketua KNPI Maluku Arman Kalean.*(01-F)
- Penulis: Admin






Saat ini belum ada komentar