Breaking News
light_mode

Nasionalisme itu bernama Addin Jauharudin

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
  • visibility 138
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Masyuri Maswatu

(Wasekjend GP Ansor)

Tajukmaluku.com-Nasionalisme hari ini tidak cukup dipahami sebagai kecintaan terhadap tanah air yang diwujudkan melalui simbol, upacara, dan slogan kebangsaan. Nasionalisme harus diuji kembali melalui pertanyaan yang lebih konkret seperti sejauh mana seseorang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan ikut memastikan Indonesia memiliki masa depan yang lebih baik.

Di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik yang semakin cepat, nasionalisme membutuhkan bentuk baru yang tidak hanya berbicara tentang persatuan, tetapi juga tentang kemandirian ekonomi, penguatan generasi muda, kaderisasi, dan keberpihakan kepada rakyat. Dalam konteks itulah organisasi kepemudaan mempunyai tanggung jawab yang besar.

Gerakan Pemuda Ansor tidak cukup hanya menjadi organisasi dengan jaringan kader yang luas, tetapi harus mampu menjadi kekuatan sosial yang melahirkan manusia produktif, mandiri, kritis, dan memiliki orientasi kebangsaan. Karena itu, kepemimpinan dalam Ansor harus dibaca bukan sekadar melalui jabatan, tetapi melalui gagasan dan arah gerakan yang ditawarkan kepada generasi muda.

Nama Addin Jauharudin menarik ditempatkan dalam perdebatan tersebut. Ia tidak hanya penting sebagai seorang figur dalam kepemimpinan Ansor, tetapi juga sebagai representasi dari upaya membaca kembali nasionalisme melalui kerja organisasi, kaderisasi, ekonomi, dan masa depan anak muda. Dari sinilah nasionalisme perlu dibicarakan kembali bukan sebagai slogan, melainkan sebagai kerja-kerja yang harus dibuktikan.

Nasionalisme yang Harus Turun ke Tanah

Nasionalisme kehilangan maknanya ketika hanya berhenti di atas panggung. Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mengatakan cinta tanah air, tetapi membutuhkan generasi yang mampu bekerja untuk tanah air. Cinta kepada Indonesia harus mempunyai bentuk seperti membangun ekonomi rakyat, membuka kesempatan bagi anak muda, menjaga persatuan, memperkuat pendidikan, dan menghadirkan keberpihakan kepada masyarakat.

Karena itu, nasionalisme harus turun dari wilayah simbolik menuju wilayah kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak muda menciptakan lapangan pekerjaan, ketika seorang kader membangun usaha, ketika masyarakat memperoleh akses ekonomi, dan ketika organisasi berani memperjuangkan kepentingan rakyat, pada saat itulah nasionalisme menemukan bentuk yang sebenarnya. Di sinilah kepemimpinan Addin Jauharudin menjadi relevan untuk dibaca. Pertaruhannya bukan sekadar seberapa besar organisasi dapat dikonsolidasikan, tetapi sejauh mana energi kader dapat diubah menjadi kekuatan produktif bagi masyarakat dan bangsa.

Addin Jauharudin dan Politik Gagasan

Seorang pemimpin tidak cukup dinilai dari posisi yang ditempatinya. Pemimpin harus dinilai dari gagasan yang dibawanya dan perubahan yang mampu ditinggalkannya. Dalam organisasi sebesar Ansor, kepemimpinan tidak boleh hanya bertugas menjaga rutinitas organisasi. Ia harus mampu membaca perubahan zaman dan memberikan jawaban terhadap persoalan generasi muda.

Addin Jauharudin menarik karena kepemimpinannya dapat ditempatkan dalam perdebatan mengenai bagaimana organisasi kepemudaan harus bergerak dari pola lama menuju pola yang lebih produktif.

Organisasi tidak boleh hanya menjadi tempat kader berkumpul, tetapi harus menjadi ruang untuk menciptakan manusia yang mempunyai kemampuan ekonomi, kapasitas intelektual, keterampilan profesional, dan keberanian sosial. Politik gagasan dalam pengertian ini bukan semata-mata politik kekuasaan. Ia adalah kemampuan untuk menentukan arah. Ketika organisasi mampu menentukan arah perjuangannya, maka organisasi tidak hanya menjadi besar secara struktural, tetapi juga mempunyai makna historis.

Kaderisasi dari Loyalitas Menuju Kapasitas

Organisasi kepemudaan sering kali mengukur keberhasilannya melalui jumlah anggota dan kegiatan. Padahal, ukuran yang lebih penting adalah kualitas manusia yang dilahirkannya. Kaderisasi yang baik bukan hanya melahirkan kader yang loyal kepada organisasi, tetapi manusia yang memiliki kemampuan untuk menjawab persoalan masyarakat.

Kader hari ini harus mampu membaca teknologi, ekonomi, politik, kebudayaan, dan perubahan sosial. Ia harus memiliki keberanian untuk berpikir dan kemampuan untuk bekerja. Ia tidak boleh hanya menjadi pengikut keputusan organisasi, tetapi harus mampu menjadi pencipta gagasan.

Dalam hal ini, kepemimpinan Addin Jauharudin menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Ansor membutuhkan kader yang bukan hanya kuat secara organisasi, tetapi juga kuat secara kapasitas. Kader harus mampu hadir sebagai intelektual, pengusaha, profesional, pemimpin masyarakat, sekaligus penjaga nilai kebangsaan. Sebab masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya organisasi yang kita miliki, tetapi oleh kualitas manusia yang mampu kita lahirkan.

Agama, Kebangsaan, dan Indonesia

Nasionalisme Indonesia tidak lahir dengan menghapus agama dari ruang kehidupan masyarakat. Sebaliknya, agama telah menjadi bagian penting dari sejarah sosial bangsa. Karena itu, memperhadapkan Islam dan nasionalisme merupakan cara berpikir yang tidak produktif. Dalam konteks ke-Ansor-an, agama dan kebangsaan justru dapat menjadi dua kekuatan yang saling menguatkan. Keagamaan memberikan dasar moral, sementara nasionalisme menyediakan ruang pengabdian kepada masyarakat yang lebih luas.

Di sinilah pentingnya membangun generasi yang memahami bahwa menjadi Muslim dan menjadi Indonesia bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama selama agama menjadi sumber moral dan kebangsaan menjadi ruang perjuangan untuk keadilan sosial. Dengan cara pandang tersebut, nasionalisme bukan sekadar loyalitas kepada negara, tetapi tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh rakyatnya.

Dekat dengan Kekuasaan, Tetap Kritis kepada Kekuasaan

Organisasi kepemudaan tidak boleh kehilangan daya kritisnya ketika berhadapan dengan kekuasaan. Menjadi mitra pemerintah bukan berarti menjadi subordinat pemerintah. Mendukung program negara bukan berarti membenarkan semua kebijakan negara. Justru organisasi masyarakat sipil harus mampu mengambil posisi yang dewasa yaitu bekerja sama ketika kepentingan rakyat diperjuangkan dan bersuara ketika kepentingan rakyat diabaikan.

Nasionalisme tidak identik dengan kepatuhan buta. Nasionalisme justru membutuhkan keberanian untuk mengingatkan negara ketika negara menyimpang dari cita-cita keadilan sosial. Kritik yang konstruktif bukan pengkhianatan terhadap bangsa. Kritik adalah bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

Karena itu, Ansor harus mampu menjaga keseimbangan antara kemitraan dan independensi. Dan kepemimpinan Addin Jauharudin akan selalu menarik untuk diuji dalam ruang tersebut: sejauh mana kedekatan dengan pusat kekuasaan dapat diubah menjadi akses perjuangan bagi masyarakat tanpa menghilangkan keberanian kritis organisasi.

Nasionalisme dan Masa Depan Anak Muda

Pada akhirnya, seluruh pembicaraan mengenai nasionalisme akan kehilangan makna jika tidak berbicara tentang masa depan anak muda. Indonesia adalah negara dengan jumlah generasi muda yang besar. Mereka bukan sekadar penerus, tetapi pelaku utama masa depan.

Karena itu, organisasi kepemudaan harus memberikan ruang yang lebih besar bagi anak muda untuk mengambil keputusan, membangun usaha, mengembangkan pengetahuan, memasuki teknologi, dan menciptakan inovasi. Mereka harus diberi kesempatan untuk menjadi subjek.

Di sinilah organisasi seperti Ansor mempunyai pekerjaan sejarah. Besarnya jaringan harus diubah menjadi kekuatan ekonomi. Besarnya jumlah kader harus diubah menjadi kekuatan pengetahuan. Besarnya pengaruh sosial harus diubah menjadi keberpihakan kepada masyarakat. Jika hal tersebut mampu dilakukan, maka nasionalisme tidak lagi menjadi narasi abstrak. Ia akan hadir dalam kehidupan nyata.

Nasionalisme Itu Bernama Addin Jauharudin

Pada akhirnya,“Nasionalisme itu bernama Addin Jauharudin” bukanlah kalimat yang dimaksudkan untuk mengkultuskan seorang individu. Judul ini harus dibaca sebagai sebuah metafora tentang bagaimana nasionalisme dapat menemukan bentuk baru melalui kepemimpinan, kaderisasi, ekonomi, agama, dan gerakan sosial.

Nasionalisme tidak cukup hanya mengatakan Indonesia adalah milik kita. Nasionalisme harus membuat rakyat benar-benar merasa memiliki Indonesia. Ia harus hadir dalam kesempatan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Ia harus membuat anak muda percaya bahwa masa depan mereka dapat dibangun di negeri sendiri.

Karena itu, tantangan Addin Jauharudin bukan sekadar memimpin sebuah organisasi. Tantangannya jauh lebih besar: bagaimana membuat organisasi kepemudaan menjadi kekuatan yang mampu melahirkan manusia Indonesia yang mandiri, produktif, kritis, religius, dan nasionalis. Sebab Indonesia tidak kekurangan orang yang mampu berbicara tentang nasionalisme. Indonesia membutuhkan manusia yang mampu bekerja atas nama nasionalisme. Jika nasionalisme adalah keberanian membangun, maka ia harus memiliki wajah. Jika nasionalisme adalah keberpihakan kepada rakyat, maka ia harus memiliki kerja. Jika nasionalisme adalah masa depan, maka ia harus memiliki generasi. Dan jika semua itu hendak dibaca melalui sebuah nama, maka kita sampai pada satu kalimat yang menjadi tesis utama tulisan ini: Nasionalisme itu bernama Addin Jauharudin.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • YBM PLN UP3 Sofifi Salur Bantuan Peralatan Sekolah Dukung Pendidikan Anak Kurang Mampu di Tidore Kepulauan

    YBM PLN UP3 Sofifi Salur Bantuan Peralatan Sekolah Dukung Pendidikan Anak Kurang Mampu di Tidore Kepulauan

    • calendar_month Kamis, 31 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Sofifi,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Sofifi kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan dan kesejahteraan masyarakat. Kali ini, YBM PLN UP3 Sofifi menyalurkan bantuan pendidikan berupa tas sekolah lengkap dengan berbagai perlengkapan belajar kepada 30 siswa dari keluarga kurang […]

  • PLN Jaga Keandalan Listrik untuk Dukung Operasional AFT Pattimura dan Konektivitas Antar Pulau

    PLN Jaga Keandalan Listrik untuk Dukung Operasional AFT Pattimura dan Konektivitas Antar Pulau

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Baguala terus memperkuat dukungannya terhadap sektor-sektor strategis yang berperan penting dalam menjaga konektivitas wilayah kepulauan. Salah satunya melalui penguatan koordinasi dan kolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Pattimura guna memastikan keandalan pasokan listrik yang mendukung kelancaran distribusi avtur bagi transportasi udara di Maluku. General Manager […]

  • SP PLN Apresiasi Sikap Presiden RI Prabowo Tolak Skema Power Wheeling

    SP PLN Apresiasi Sikap Presiden RI Prabowo Tolak Skema Power Wheeling

    • calendar_month Minggu, 2 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-SP PT PLN (Persero) mengapresiasi sikap Presiden RI Prabowo Subianto yang dikabarkan menolak penerapan skema power wheeling sebagaimana disampaikan Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2025 di Hotel WesLn, Jakarta, Rabu (26/2) “Kita memberikan apresiasi yang seLnggi-Lngginya kepada Presiden RI Prabowo Subianto atas penolakan skema […]

  • Soal Skandal Gedung Terarium Namalatu: Pemuda ICMI Maluku Desak Copot Jais Ely, Affandi Hassanusi dan Faisal Hukom

    Soal Skandal Gedung Terarium Namalatu: Pemuda ICMI Maluku Desak Copot Jais Ely, Affandi Hassanusi dan Faisal Hukom

    • calendar_month Jumat, 12 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Proyek Gedung Terarium di kawasan wisata Namalatu, Latuhalat, Ambon, kembali jadi sorotan. Proyek yang sudah menelan dana miliaran rupiah itu kini menyeret nama Kepala Dinas Pariwisata Maluku, Achmad Jais Ely. Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (Pemuda ICMI) Maluku menuding proyek yang sudah diguyur APBD tahun 2022 dan 2024 itu sarat masalah, namun […]

  • Pekerjaan Air Bersih Gunung Nona Rampung, Dinas PUPR Maluku Siapkan Solusi Atasi Kendala Distribusi Air

    Pekerjaan Air Bersih Gunung Nona Rampung, Dinas PUPR Maluku Siapkan Solusi Atasi Kendala Distribusi Air

    • calendar_month Minggu, 8 Des 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pekerjaan proyek Penyediaan Air Bersih di kawasan Gunung Nona, Kota Ambon, yang dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Maluku, telah selesai sesuai dengan kontrak kerja tahun anggaran 2024. Proyek ini mencakup pemasangan jaringan perpipaan air bersih sepanjang 1.600 meter dan instalasi lima titik kran umum, yang semuanya telah terpasang melintasi permukiman […]

  • DPD IMM Maluku Tegaskan Asrama Haji Telah Rampung, Diaudit, dan Digunakan

    DPD IMM Maluku Tegaskan Asrama Haji Telah Rampung, Diaudit, dan Digunakan

    • calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Maluku menegaskan pembangunan Asrama Haji Provinsi Maluku telah selesai dilaksanakan, telah melalui proses audit oleh instansi berwenang, dan hingga kini digunakan sebagai fasilitas pelayanan bagi calon jemaah haji. Penegasan itu disampaikan Ketua Bidang Hikmah, Politik, dan Kebijakan Publik DPD IMM Maluku, M. Jumat Boy, menyikapi polemik yang […]

expand_less