Breaking News
light_mode

Nasionalisme itu bernama Addin Jauharudin

  • account_circle Admin
  • calendar_month 13 jam yang lalu
  • visibility 16
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Masyuri Maswatu

(Wasekjend GP Ansor)

Tajukmaluku.com-Nasionalisme hari ini tidak cukup dipahami sebagai kecintaan terhadap tanah air yang diwujudkan melalui simbol, upacara, dan slogan kebangsaan. Nasionalisme harus diuji kembali melalui pertanyaan yang lebih konkret seperti sejauh mana seseorang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan ikut memastikan Indonesia memiliki masa depan yang lebih baik.

Di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik yang semakin cepat, nasionalisme membutuhkan bentuk baru yang tidak hanya berbicara tentang persatuan, tetapi juga tentang kemandirian ekonomi, penguatan generasi muda, kaderisasi, dan keberpihakan kepada rakyat. Dalam konteks itulah organisasi kepemudaan mempunyai tanggung jawab yang besar.

Gerakan Pemuda Ansor tidak cukup hanya menjadi organisasi dengan jaringan kader yang luas, tetapi harus mampu menjadi kekuatan sosial yang melahirkan manusia produktif, mandiri, kritis, dan memiliki orientasi kebangsaan. Karena itu, kepemimpinan dalam Ansor harus dibaca bukan sekadar melalui jabatan, tetapi melalui gagasan dan arah gerakan yang ditawarkan kepada generasi muda.

Nama Addin Jauharudin menarik ditempatkan dalam perdebatan tersebut. Ia tidak hanya penting sebagai seorang figur dalam kepemimpinan Ansor, tetapi juga sebagai representasi dari upaya membaca kembali nasionalisme melalui kerja organisasi, kaderisasi, ekonomi, dan masa depan anak muda. Dari sinilah nasionalisme perlu dibicarakan kembali bukan sebagai slogan, melainkan sebagai kerja-kerja yang harus dibuktikan.

Nasionalisme yang Harus Turun ke Tanah

Nasionalisme kehilangan maknanya ketika hanya berhenti di atas panggung. Indonesia tidak membutuhkan generasi yang hanya pandai mengatakan cinta tanah air, tetapi membutuhkan generasi yang mampu bekerja untuk tanah air. Cinta kepada Indonesia harus mempunyai bentuk seperti membangun ekonomi rakyat, membuka kesempatan bagi anak muda, menjaga persatuan, memperkuat pendidikan, dan menghadirkan keberpihakan kepada masyarakat.

Karena itu, nasionalisme harus turun dari wilayah simbolik menuju wilayah kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak muda menciptakan lapangan pekerjaan, ketika seorang kader membangun usaha, ketika masyarakat memperoleh akses ekonomi, dan ketika organisasi berani memperjuangkan kepentingan rakyat, pada saat itulah nasionalisme menemukan bentuk yang sebenarnya. Di sinilah kepemimpinan Addin Jauharudin menjadi relevan untuk dibaca. Pertaruhannya bukan sekadar seberapa besar organisasi dapat dikonsolidasikan, tetapi sejauh mana energi kader dapat diubah menjadi kekuatan produktif bagi masyarakat dan bangsa.

Addin Jauharudin dan Politik Gagasan

Seorang pemimpin tidak cukup dinilai dari posisi yang ditempatinya. Pemimpin harus dinilai dari gagasan yang dibawanya dan perubahan yang mampu ditinggalkannya. Dalam organisasi sebesar Ansor, kepemimpinan tidak boleh hanya bertugas menjaga rutinitas organisasi. Ia harus mampu membaca perubahan zaman dan memberikan jawaban terhadap persoalan generasi muda.

Addin Jauharudin menarik karena kepemimpinannya dapat ditempatkan dalam perdebatan mengenai bagaimana organisasi kepemudaan harus bergerak dari pola lama menuju pola yang lebih produktif.

Organisasi tidak boleh hanya menjadi tempat kader berkumpul, tetapi harus menjadi ruang untuk menciptakan manusia yang mempunyai kemampuan ekonomi, kapasitas intelektual, keterampilan profesional, dan keberanian sosial. Politik gagasan dalam pengertian ini bukan semata-mata politik kekuasaan. Ia adalah kemampuan untuk menentukan arah. Ketika organisasi mampu menentukan arah perjuangannya, maka organisasi tidak hanya menjadi besar secara struktural, tetapi juga mempunyai makna historis.

Kaderisasi dari Loyalitas Menuju Kapasitas

Organisasi kepemudaan sering kali mengukur keberhasilannya melalui jumlah anggota dan kegiatan. Padahal, ukuran yang lebih penting adalah kualitas manusia yang dilahirkannya. Kaderisasi yang baik bukan hanya melahirkan kader yang loyal kepada organisasi, tetapi manusia yang memiliki kemampuan untuk menjawab persoalan masyarakat.

Kader hari ini harus mampu membaca teknologi, ekonomi, politik, kebudayaan, dan perubahan sosial. Ia harus memiliki keberanian untuk berpikir dan kemampuan untuk bekerja. Ia tidak boleh hanya menjadi pengikut keputusan organisasi, tetapi harus mampu menjadi pencipta gagasan.

Dalam hal ini, kepemimpinan Addin Jauharudin menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Ansor membutuhkan kader yang bukan hanya kuat secara organisasi, tetapi juga kuat secara kapasitas. Kader harus mampu hadir sebagai intelektual, pengusaha, profesional, pemimpin masyarakat, sekaligus penjaga nilai kebangsaan. Sebab masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya organisasi yang kita miliki, tetapi oleh kualitas manusia yang mampu kita lahirkan.

Agama, Kebangsaan, dan Indonesia

Nasionalisme Indonesia tidak lahir dengan menghapus agama dari ruang kehidupan masyarakat. Sebaliknya, agama telah menjadi bagian penting dari sejarah sosial bangsa. Karena itu, memperhadapkan Islam dan nasionalisme merupakan cara berpikir yang tidak produktif. Dalam konteks ke-Ansor-an, agama dan kebangsaan justru dapat menjadi dua kekuatan yang saling menguatkan. Keagamaan memberikan dasar moral, sementara nasionalisme menyediakan ruang pengabdian kepada masyarakat yang lebih luas.

Di sinilah pentingnya membangun generasi yang memahami bahwa menjadi Muslim dan menjadi Indonesia bukan dua pilihan yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama selama agama menjadi sumber moral dan kebangsaan menjadi ruang perjuangan untuk keadilan sosial. Dengan cara pandang tersebut, nasionalisme bukan sekadar loyalitas kepada negara, tetapi tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh rakyatnya.

Dekat dengan Kekuasaan, Tetap Kritis kepada Kekuasaan

Organisasi kepemudaan tidak boleh kehilangan daya kritisnya ketika berhadapan dengan kekuasaan. Menjadi mitra pemerintah bukan berarti menjadi subordinat pemerintah. Mendukung program negara bukan berarti membenarkan semua kebijakan negara. Justru organisasi masyarakat sipil harus mampu mengambil posisi yang dewasa yaitu bekerja sama ketika kepentingan rakyat diperjuangkan dan bersuara ketika kepentingan rakyat diabaikan.

Nasionalisme tidak identik dengan kepatuhan buta. Nasionalisme justru membutuhkan keberanian untuk mengingatkan negara ketika negara menyimpang dari cita-cita keadilan sosial. Kritik yang konstruktif bukan pengkhianatan terhadap bangsa. Kritik adalah bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

Karena itu, Ansor harus mampu menjaga keseimbangan antara kemitraan dan independensi. Dan kepemimpinan Addin Jauharudin akan selalu menarik untuk diuji dalam ruang tersebut: sejauh mana kedekatan dengan pusat kekuasaan dapat diubah menjadi akses perjuangan bagi masyarakat tanpa menghilangkan keberanian kritis organisasi.

Nasionalisme dan Masa Depan Anak Muda

Pada akhirnya, seluruh pembicaraan mengenai nasionalisme akan kehilangan makna jika tidak berbicara tentang masa depan anak muda. Indonesia adalah negara dengan jumlah generasi muda yang besar. Mereka bukan sekadar penerus, tetapi pelaku utama masa depan.

Karena itu, organisasi kepemudaan harus memberikan ruang yang lebih besar bagi anak muda untuk mengambil keputusan, membangun usaha, mengembangkan pengetahuan, memasuki teknologi, dan menciptakan inovasi. Mereka harus diberi kesempatan untuk menjadi subjek.

Di sinilah organisasi seperti Ansor mempunyai pekerjaan sejarah. Besarnya jaringan harus diubah menjadi kekuatan ekonomi. Besarnya jumlah kader harus diubah menjadi kekuatan pengetahuan. Besarnya pengaruh sosial harus diubah menjadi keberpihakan kepada masyarakat. Jika hal tersebut mampu dilakukan, maka nasionalisme tidak lagi menjadi narasi abstrak. Ia akan hadir dalam kehidupan nyata.

Nasionalisme Itu Bernama Addin Jauharudin

Pada akhirnya,“Nasionalisme itu bernama Addin Jauharudin” bukanlah kalimat yang dimaksudkan untuk mengkultuskan seorang individu. Judul ini harus dibaca sebagai sebuah metafora tentang bagaimana nasionalisme dapat menemukan bentuk baru melalui kepemimpinan, kaderisasi, ekonomi, agama, dan gerakan sosial.

Nasionalisme tidak cukup hanya mengatakan Indonesia adalah milik kita. Nasionalisme harus membuat rakyat benar-benar merasa memiliki Indonesia. Ia harus hadir dalam kesempatan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, kebudayaan, dan kehidupan sosial. Ia harus membuat anak muda percaya bahwa masa depan mereka dapat dibangun di negeri sendiri.

Karena itu, tantangan Addin Jauharudin bukan sekadar memimpin sebuah organisasi. Tantangannya jauh lebih besar: bagaimana membuat organisasi kepemudaan menjadi kekuatan yang mampu melahirkan manusia Indonesia yang mandiri, produktif, kritis, religius, dan nasionalis. Sebab Indonesia tidak kekurangan orang yang mampu berbicara tentang nasionalisme. Indonesia membutuhkan manusia yang mampu bekerja atas nama nasionalisme. Jika nasionalisme adalah keberanian membangun, maka ia harus memiliki wajah. Jika nasionalisme adalah keberpihakan kepada rakyat, maka ia harus memiliki kerja. Jika nasionalisme adalah masa depan, maka ia harus memiliki generasi. Dan jika semua itu hendak dibaca melalui sebuah nama, maka kita sampai pada satu kalimat yang menjadi tesis utama tulisan ini: Nasionalisme itu bernama Addin Jauharudin.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aksi “Menuju Indonesia Bangkrut”, Senator Maluku: MBG Belum Siap jadi Program Unggulan

    Aksi “Menuju Indonesia Bangkrut”, Senator Maluku: MBG Belum Siap jadi Program Unggulan

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota Komite I DPD RI, Bisri As Shiddiq Latuconsina, menanggapi aksi unjuk rasa “Menuju Indonesia Bangkrut” yang digelar BEM Universitas Indonesia (UI) bersama mahasiswa dari berbagai kampus dan elemen masyarakat di Jakarta Pusat, Jumat, 12 Juni 2026. Senator yang akrab disapa Boy Latuconsina itu meminta Presiden Prabowo Subianto menerima dan menindaklanjuti aspirasi mahasiswa. Menurutnya, salah […]

  • DPRD Maluku Beri Catatan Keras di Penutupan Rapat Paripurna Penetapan Perda

    DPRD Maluku Beri Catatan Keras di Penutupan Rapat Paripurna Penetapan Perda

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-DPRD Provinsi Maluku menutup rangkaian Rapat Paripurna penetapan peraturan daerah dengan sejumlah catatan keras dan rekomendasi strategis kepada Pemerintah Daerah, khususnya terkait implementasi Peraturan Daerah tentang Perubahan atas Perda Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Dalam pernyataan penutup rapat paripurna, Ketua DPRD Provinsi Maluku, Benhur George Watubun, menegaskan bahwa penetapan Perda harus […]

  • Desentralisasi Tergerus, Senator Bisri Ingatkan Ancaman bagi NKRI

    Desentralisasi Tergerus, Senator Bisri Ingatkan Ancaman bagi NKRI

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Bisri As Shiddiq Latuconsina, menilai semangat desentralisasi yang lahir dari Reformasi kian melemah dalam satu dekade terakhir. Pelemahan itu, kata dia, bukan sekadar persoalan teknis pemerintahan, melainkan berpotensi membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Saya mohon maaf tidak menjustifikasi siapapun juga, tapi dalam 10 tahun terakhir ini […]

  • Catat Kinerja Operasional, PLN Klaim Durasi dan Frekuensi Gangguan Listrik Menurun sepanjang 2024

    Catat Kinerja Operasional, PLN Klaim Durasi dan Frekuensi Gangguan Listrik Menurun sepanjang 2024

    • calendar_month Sabtu, 21 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) mencatat capaian signifikan dalam meningkatkan keandalan pasokan listrik sepanjang tahun 2024. Melalui transformasi digital dan pemeliharaan yang intensif, PLN berhasil menurunkan rata-rata frekuensi gangguan kelistrikan (_System Average Interruption Frequency Index_ / SAIFI) sebesar 24,32% atau menjadi 3,23 kali per pelanggan per tahun pada 2024. Tidak hanya itu, perseroan juga sukses menurunkan rata-rata […]

  • Dukung Gerakan Si Lisa DLH Kota Ternate, PLN UPK Maluku Sumbang Compost Bag

    Dukung Gerakan Si Lisa DLH Kota Ternate, PLN UPK Maluku Sumbang Compost Bag

    • calendar_month Sabtu, 28 Sep 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon, Tajukmaluku.com– PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) menyumbangkan sebanyak 50 buah Compost Bag berukuran 80 liter kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate. Sumbangan itu diberikan PLN UPK Maluku sebagai dukungan penuh terhadap proyek perubahan (proper) Strategi Pengelolaan Sampah “Gerakan Si Lisa” yang […]

  • Pilkada: Menegakkan Hukum dan Keamanan demi Stabilitas dan Keadilan Masyarakat

    Pilkada: Menegakkan Hukum dan Keamanan demi Stabilitas dan Keadilan Masyarakat

    • calendar_month Selasa, 8 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: M. Nur Latuconsina [Wasekjend Bidang PB HMI]  Dalam setiap penyelenggaraan pemilihan umum, pemilihan kepala daerah membawa tantangan yang sangat besar yang ditujukan bukan hanya bagi calon kepala daerah tersebut, namun pada setiap elemen masyarakat. Pilkada seharusnya dimaknai sebagai saat yang tepat untuk mengejawantahkan semua proses-proses politik yang ada, bahkan untuk mendorong tegaknya hukum dan ketertiban […]

expand_less