Breaking News
light_mode

Hari Juang Polri, Sebuah Perjuangan Moral

  • account_circle Admin
  • calendar_month 7 jam yang lalu
  • visibility 35
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Komisaris Jenderal Polisi Dr. Marthinus Hukom, S.I.K., M.Si

Tajukmaluku.com– 21 Agustus 1945, empat hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sebuah peristiwa besar terjadi: Proklamasi Polisi Indonesia oleh Tokubetsu Keisatsu Tai, Kepolisian Istimewa bentukan Jepang di Hindia Belanda.

Ini adalah catatan sejarah dan critical point yang hampir terlupakan, namun memiliki arti penting di awal perjuangan berat mempertahankan eksistensi bangsa yang baru seumur kecambah.

Sejarah ditulis bukan sekedar untuk diperingati, dihafal dan dituturkan dari generasi ke generasi. Dari sudut pandang filosofis, Hegel mengajarkan bahwa, sejarah bukan sekedar ungkapan fakta tapi sebagai sebuah dialektika di mana yang satu menegasikan yang lain. Sejarah juga instrumen reflektif atas semangat jiwa manusia (weltgeist) yang terus bergerak mengisi ruang dan waktu untuk mencari sebuah tatanan yang ideal. Dari refleksi ini kita dapat memahami totalitas realitas yang menawarkan nilai nilai moral apa yang terwariskan yang dapat digunakan sebagai penuntun setiap tindakan.

Oleh karena itu kita harus memaknai sejarah perjuangan Polri dalam terang sinar filosifisnya untuk menuntun setiap Insan berbaju coklat ini menuju sebuah institusi moral yang lebih profesional dan dicintai pemiliknya.

Momentum Peringatan Hari Juang Polri bukan sekedar ritual peringatan hari yang bersejarah itu dalam sebuah kekosongan makna. Sejarah mencatat bahwa, Polisi Istimewa adalah satu-satunya instrumen penjajah Jepang bersenjata yang tidak dilucuti pasca kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II.

Bagi orang awam, ini sebuah keanehan. Penjajah yang kalah membiarkan polisi pribumi memegang senjata? bukankah itu sangat berbahaya?

Tapi bagi yang mengerti peran kepolisian, justru ini adalah kondisi ideal bagi sebuah tatanan sipil yang damai paska perang. Seperti apa yang disampaikan oleh Carl Von Clausewitz dalam buku On War “Perang adalah perselisihan politik di mana senjata militer adalah instrumen koersif untuk menundukkan entitas politik lawan. Sebaliknya, senjata di tangan polisi adalah instrumen moral, yang dalam keadaan sangat terpaksa (darurat) digunakan untuk menundukkan siapa saja yang tidak tunduk pada hukum, tanpa pandang bulu.”

Jepang kala itu sangat menyadari posisi moral polisi. Maka ketika semua pasukan bersenjata dilucuti, justru Polisi Istimewa tetap dibiarkan memegang senjata untuk menjaga ketertiban.

Namun di balik posisi moral itu, sebuah kesadaran lain menyeruak dari batin Polisi bentukan Jepang itu. Bagi Polisi Istimewa, pemerintah penjajah Jepang selain pemegang otoritas politik, dia juga pemegang otoritas moral yang olehnya hukum sebagai instrumen ketertiban sipil diproduksi.

Kekalahan Jepang bukan saja membuat Jepang kehilangan otoritas politik atas Indonesia, dia juga kehilangan otoritas moralnya. Terjadi kekosongan moral di luar tapi menggerakan suara hati (Gewissen) dari dalam untuk membangun sebuah kesadaran kolektif.

Kekosongan otoritas moral dan panggilan suara hati inilah yang menjadi point of return para pemimpin polisi saat itu untuk tunduk kepada otoritas moral yang baru: Pemerintah Indonesia. Otoritas yang secara otentik bukan saja lahir di batin insan kepolisian saat itu, tapi juga lahir dari kesadaran semua manusia yang lahir, bertumbuh, dan akan mati di seluruh hamparan tanah Hindia Belanda.

Tindakan heroik yang dilakukan Inspektur Polisi Moehammad Jasin dan diikuti oleh kepolisian daerah lainnya adalah sebuah ikrar moral bahwa polisi bukan tunduk pada otoritas politik, tapi tunduk pada otoritas moral yang fungsinya berlaku umum di seluruh dunia untuk menjaga tatanan sipil yang tertib.

Polisi bangkit melawan dengan semua instrumen kekerasan di tangannya, bukan untuk menjaga entitas politik yang terancam, tapi menjaga tatanan moral otentik yang baru seumur jagung itu.

Kala itu Polisi Istimewa bangkit dari sebuah kesadaran lama yang telah terkubur oleh perubahan tatanan moral untuk menatap tatanan moral baru, tanpa mengubah sedikit pun status moral substantifnya. Polisi Istimewa hadir bukan untuk kepentingan politik siapa pun. Dia mengada karena panggilan suara hati setiap orang yang membutuhkan kenyamanan dan keamanan tanpa melihat perbedaan apapun.

Waktu dan ruang datang dan pergi dipenuhi dengan semangat dan jiwa manusia yang terus berdialekitka. Yang datang kemudian menegasikan yang terdahulu, Sebuah fenomena hidup yang tidak bisa kita tolak karena itu konsekuensi dari kehidupan manusia. Tanpa disadari, dialektika itu merombak prinsip prinsip moral yang telah ada bukan saja pada moralitas instrmen dan struktural tapi juga subsatntifnya. Wajah penjaga moral pun berevolusi mengikuti kehendak yang berdialektika.


Batas-batas moral dan politik begitu tipis bukan karena politik menegasikan moral, tapi keduanya muncul dalam penampang wajah yang sama. Wajah Polri hari ini tidak terlepas dari pengaruh dialektika yang terjadi. Situasi ini merubah penampilan dan mengancam stadar etis semua tindakan institusi penjaga moral itu.

Seorang penjaga moral bisa menampilkan dua wajah yang saling kontradiktif, pertama yang sangat humanis dan lainya penuh dengan misteri. Yang pertama mewujudkan harapan dan cita-cita perjuangan yang lainnya menggerusnya.


Walaupun realitas adalah sebuah dealektika yg menegasikan satu terhadap lainya, bagi semua pemegang prinsip moralitas, belajar dan pahamilah sabda Imanuel Kant sang guru moral, bahwa “sampai kapan pun moralitas dan politik tidak boleh berjalan beriringan”. Karena kalau dibolehkan, maka mata pedang sewaktu waktu akan mengganti peran anak timbangan. Pedang tidak boleh menjadi alat pemaksa untuk menciptakan keadilan tapi nurani sang penjaga moral yang layak menciptakannya.

Oleh karena itu yang harus jadi titik pijak kita bahwa dialektika boleh menghancurkan bangunan struktural tapi jangan pernah membiarkan dia merusak tatanan moral subatantifnya. Polri boleh berubah secara struktural tapi tidak boleh merubah moral substantifnya. Polri sampai kapanpun harus tetap menjadi penjaga moral tidak boleh berjalan dengan dua penampang wajah yang sewaktu waktu bisa berubah demi melayani sebuah kepentingan.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bahas KUA-PPAS 2026, Komisi I DPRD Maluku Soroti Efisiensi Anggaran dan Penurunan Pagu OPD

    Bahas KUA-PPAS 2026, Komisi I DPRD Maluku Soroti Efisiensi Anggaran dan Penurunan Pagu OPD

    • calendar_month Rabu, 19 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi I DPRD Provinsi Maluku menyoroti kebijakan efisiensi anggaran dan penurunan pagu anggaran pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Sorotan itu berlangsung dalam rapat bersama OPD mitra terkait pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) Tahun Anggaran 2026. Rapat berlangsung di ruang Paripurna DPRD Maluku, Rabu (19/11/2025), dan dipimpin Ketua Komisi I, Solichin […]

  • SKAK Maluku Desak Kajati Maluku dan Kajari Ambon Tindak Tegas Direktur Poltek Ambon

    SKAK Maluku Desak Kajati Maluku dan Kajari Ambon Tindak Tegas Direktur Poltek Ambon

    • calendar_month Selasa, 11 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Simpul Komunitas Anti Korupsi (SKAK) Maluku kembali menyorot lambannya penanganan kasus dugaan korupsi yang melibatkan Direktur Politeknik Negeri (Poltek) Ambon, Dady Mairuhu. SKAK Maluku menilai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Maluku, Agoes Soenanto Prasetyo, dan Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ambon, Adhryansah, tidak memiliki “taring” dalam menindaklanjuti laporan kasus tersebut. Bahkan, SKAK Maluku mengancam akan menggeruduk kantor […]

  • KNPI Buru Desak Tindak Tegas Tambang Ilegal Gunung Botak

    KNPI Buru Desak Tindak Tegas Tambang Ilegal Gunung Botak

    • calendar_month Sabtu, 1 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Bendahara Umum DPD II KNPI Kabupaten Buru, Abdullah Umar, menegaskan bahwa wilayah pertambangan Gunung Botak seharusnya dikelola sepenuhnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, bukan menjadi ajang eksploitasi segelintir pihak. Menurutnya, kurangnya perhatian dari pemerintah daerah menunjukkan kelemahan dalam menangani persoalan tambang emas di Gunung Botak yang hingga kini masih berstatus ilegal. “Aktivitas di wilayah pertambangan […]

  • PLN Pastikan Pengelolaan BBM Operasional Sesuai GCG, Tegaskan Tidak Terlibat Dugaan Transaksi Minyak di Kobisadar

    PLN Pastikan Pengelolaan BBM Operasional Sesuai GCG, Tegaskan Tidak Terlibat Dugaan Transaksi Minyak di Kobisadar

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Maluku dan Maluku Utara membantah tegas pemberitaan yang mengaitkan perusahaan dengan dugaan transaksi atau pemindahan minyak di Kobisadar yang melibatkan Kapal Landeng dan kapal Asia Pesona. Melalui Manager Komunikasi dan TJSL, M. Syaiful Ali, PLN menegaskan bahwa informasi adanya keterlibatan perusahaan dalam dugaan tersebut di salah satu media […]

  • Langkah Nyata Dukung Asta Cita, Walikota Tual Launching Pemeriksaan Kesehatan Gratis

    Langkah Nyata Dukung Asta Cita, Walikota Tual Launching Pemeriksaan Kesehatan Gratis

    • calendar_month Kamis, 24 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Sebagai bagian dari implementasi delapan misi Asta Cita Presiden Prabowo-Gibran yang menitikberatkan pada pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul dan berdaya saing global, bertempat di Puskesmas Kun, Pemerintah Kota Tual dibawah pimpinan Walikotta Hi. Akhmad Yani Renuat dan Wakil Walikota, Hi. Amir Rumra resmi luncurkan program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG). Kamis (24/04/2025). Dalam sambutannya. Walikota […]

  • Ika Fachri Alkatiri Dorong PKK SBT Jadi Poros Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga

    Ika Fachri Alkatiri Dorong PKK SBT Jadi Poros Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dalam rangka meningkatkan pemberdayaan perempuan dan keluarga di Provinsi Maluku, Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Provinsi Maluku menetapkan sejumlah program prioritas pada Rapat Kerja Daerah (Rakerda) X yang digelar di Ambon, Kamis (11/12/2025) lalu. Fokus program tersebut diarahkan pada penguatan peran perempuan dan keluarga sebagai fondasi pembangunan sosial di daerah. Ketua TP-PKK Kabupaten Seram […]

expand_less