Breaking News
light_mode

Iqbal Tamher, Anak Negeri di Titik Nol Indo-Pasifik

  • account_circle Tajuk Maluku.com
  • calendar_month Sabtu, 21 Jun 2025
  • visibility 491
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan Redaksi Tajukmaluku.com

“Tak ada yang lebih tahu luka Maluku selain putra daerahnya. Hanya anak negeri yang tahu cara menjahit luka kampungnya sendiri.”

Kalimat itu menjelma lirih kala para putra daerah dipercaya menduduki jabatan strategis di provinsi yang dikepung banyak luka: geografis, fiskal, dan politik.

Iqbal Tamher, putra Maluku Tenggara ini mengemban amanah sebagai Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional ((BPJN) Maluku. Baru pertama kali seorang putra daerah memegang amanah ini. Tak mudah memang, belum genap satu tahun menjabat Kepala BPJN Maluku, ia harus terseok oleh kebijakan efisiensi anggaran dari pusat.

Satu demi satu rencana besar mesti ditunda. Beberapa yang telah masuk tahap perencanaan, bahkan terancam stagnan. Bukan karena ketiadaan roadmap, melainkan soal realitas: uang negara sedang dipangkas untuk membayar utang. Maluku, seperti biasa, tak jadi prioritas.

Di luar kantor, bisik-bisik mulai terdengar. Tudingan bahwa BPJN stagnan. Bahwa Iqbal Tamher tak cukup progresif dan tak layak untuk jabatan strategis ini. Beberapa bahkan menyerang identitasnya sebagai “orang Maluku” yang dianggap tak lebih dari simbolisasi lokal tanpa produktivitas yang berarti.

Narasi-narasi tendensius itu seperti menabrak tembok sunyi. Iqbal lebih memilih menggelar peta dan membuka data. Menyusun prioritas. Memetakan kembali kerentanan wilayah. Menganalisis jalur logistik vital di Pulau Seram, menelusuri rute lama yang rusak di Buru, dan menimbang ulang konektivitas antara Maluku Tengah dan Tenggara.

Narasi sinis yang dibangun di beberapa media terhadap Iqbal hingga suara mikrofon dari para demonstran yang berulang kali bergema di jalan Putuhena seolah menafikan medan kerja yang sedang dihadapi. Mereka lupa bahwa Maluku bukan Pulau Jawa. Jalan di sini dibangun bukan di atas dataran subur, melainkan di lereng rawan longsor, di atas lahan gambut, dan di antara aliran sungai liar yang belum sepenuhnya dipetakan. Biaya satu kilometer jalan di Maluku bisa setara dengan membangun tiga kilometer jalan di Pulau Sumatera. Tapi laporan BPK dan anggaran tetap memakai angka seragam nasional.

Sosok Iqbal mengingatkan pada jejak yang pernah ditinggalkan Muhamat Marasabessy, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku periode 2012–2016.

Sebagai teknokrat lokal, Marasabessy menulis sejarah infrastruktur air di Maluku dengan tinta keberanian dan strategi. Bendungan Way Apu, yang kini menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN), adalah hasil lobi Marasabessy ke pemerintah pusat. Proyek itu menembus pusat setelah dua tahun proposalnya ditolak dengan alasan beban fiskal. Ambon Waterfront City, kawasan reklamasi dan perlindungan pantai yang hari ini dihuni RS Leimena dan Mapolda Maluku, bermula dari fondasi teknis yang ia siapkan dalam skema berjenjang sejak 2013. Program Ambon Flood Control, dimulai dari pembangunan cek dam di Petra dan Rinjani, telah menghapus kenangan buruk banjir tahunan di Batu Merah.

Apa yang dijalani Iqbal hari ini sebagai “jalan sunyi seorang anak negeri.” yang tak hanya bekerja sebagai insinyur, tapi juga sebagai duta untuk memohonkan keadilan anggaran dari Jakarta.

Posisi Strategis dan Visi Pertahanan

Iqbal sadar bahwa menjual narasi pembangunan infrastruktur di Maluku hanya dari kacamata ekonomi tidak cukup. Ia lalu menyusun pendekatan geopolitik. Bahwa harus melihat Maluku sebagai wilayah pertahanan nasional di jantung Indo-Pasifik. Dalam dokumen Grand Design Pertahanan Negara 2020–2024, Kementerian Pertahanan menetapkan Maluku sebagai salah satu poros logistik strategis Indonesia bagian timur. Pulau-pulaunya menjadi titik sandar alami yang menopang arus pelayaran global dari Laut Banda hingga Pasifik Barat.

Narasi tersebut sejalan dengan Asta Cita Prabowo Subianto, presiden terpilih yang menempatkan infrastruktur pertahanan sebagai fondasi pembangunan nasional. Tentu saja pendekatan ini jadi jalan tengah untuk mengangkat derajat pembangunan Maluku ke arena nasional.

Namun semua itu tetap tak menyingkirkan problem paling klasik: UANG. Tahun 2024 hingga triwulan pertama 2025, BPJN Maluku hanya menerima realisasi anggaran sebesar 62 persen dari kebutuhan ideal. Efisiensi pusat berdampak pada skema pemeliharaan dan pelebaran jalan nasional di Seram Utara dan Maluku Tenggara Barat. Program jembatan gantung di pulau-pulau kecil juga tertunda.

Belum lagi tantangan teknis:

Lebih dari 60 persen jalur jalan nasional di Maluku dibangun di atas tanah labil dan batuan muda vulkanik yang mudah longsor.

43 sungai besar aktif di wilayah Maluku belum memiliki sistem pengendalian banjir terpadu.

Cuaca ekstrem dan topografi pegunungan mempersulit mobilisasi alat berat dan material.

Dalam sebuah laporan internal yang berhasil diperoleh redaksi, terdapat 19 titik rawan longsor di jalan nasional Seram yang hingga kini belum tersentuh perbaikan akibat keterbatasan anggaran tahun berjalan.

Saat sebagian publik Maluku menagih hasil instan dari kerja pembangunan, Iqbal Tamher tahu bahwa ia sedang berjalan di medan yang tak semua orang mau tempuh. Jalan yang penuh jebakan politis, keterbatasan fiskal, dan ekspektasi publik yang membuncah. Ia tetap memilih menyusun jalan satu demi satu. Karena baginya, menjadi anak negeri bukan soal nostalgia. Tapi soal tanggung jawab.

Dalam perenungan bisa jadi hati kecilnya berkata:

“Beta seng bisa bikin semua jalan mulus. Tapi beta bisa mulai, dari jalan yang bisa bikin orang kampung seng susah pulang.” *(01-F)

  • Penulis: Tajuk Maluku.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dugaan Penyimpangan Belanja Makanan dan Minuman, KAAKI Bakal Lapor Sekwan Kota Ambon

    Dugaan Penyimpangan Belanja Makanan dan Minuman, KAAKI Bakal Lapor Sekwan Kota Ambon

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Koalisi Anti Korupsi Indonesia (KAAKI) Maluku berencana melaporkan Sekretaris Dewan (Sekwan) Kota Ambon, Apries B. Gaspersz ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan Ditreskrimsus Polda Maluku. Laporan ini terkait dengan realisasi anggaran belanja makanan dan minuman untuk rapat serta jamuan tamu di Sekretariat DPRD Kota Ambon yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan terjadi berulang […]

  • Kementerian ATR/BPN dan Kejaksaan Agung Perkuat Pengamanan Aset untuk Pulihkan Hak Korban dan Kerugian Negara

    Kementerian ATR/BPN dan Kejaksaan Agung Perkuat Pengamanan Aset untuk Pulihkan Hak Korban dan Kerugian Negara

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Pengamanan aset pertanahan yang menjadi objek sengketa maupun perkara hukum adalah hal krusial dalam langkah pemulihan hak korban dan pengembalian kerugian negara. Untuk memperkuat upaya tersebut, Direktorat Jenderal (Ditjen) Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan (PSKP) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menjalin kerja sama dengan Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan Agung Republik Indonesia […]

  • BEM Nus Maluku: Mis Komunikasi, Ternyata Anggaran DAK 2023 Sudah Diawasi Kejati Maluku

    BEM Nus Maluku: Mis Komunikasi, Ternyata Anggaran DAK 2023 Sudah Diawasi Kejati Maluku

    • calendar_month Sabtu, 25 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Badan Eksekutif Mahasiswa Daerah (BEM) Nus Maluku menarik kembali tuduhan korupsi terkait penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2023 di Dinas Pendidikan Provinsi Maluku. Dalam pernyataan resmi ke media ini, Adam Rahantan, Ketua BEM Nus Maluku menyatakan bahwa tuduhan yang disampaikan pihaknya beberapa waktu lalu merupakan “miskomunikasi”. Sebelumnya, BEM Nus Maluku sempat menuding adanya dugaan […]

  • Cek Informasi Tanah Sebelum Membeli, Manfaatkan Fitur Berbagi Akses di Aplikasi Sentuh Tanahku

    Cek Informasi Tanah Sebelum Membeli, Manfaatkan Fitur Berbagi Akses di Aplikasi Sentuh Tanahku

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Masyarakat yang berencana membeli tanah kini dapat memperoleh informasi mengenai bidang tanah yang akan ditransaksikan secara lebih mudah dan aman melalui fitur berbagi akses sertipikat pada aplikasi Sentuh Tanahku. Fitur yang disediakan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) ini memberikan kemudahan, khususnya bagi pemilik tanah yang telah bersertipikat. Melalui fitur tersebut, penjual tidak […]

  • Hartini Bongkar Skandal Suap Sianida Diduga Libatkan Petinggi Polda Maluku

    Hartini Bongkar Skandal Suap Sianida Diduga Libatkan Petinggi Polda Maluku

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Salah satu mantan Kapolsek KPYS Ambon diduga terima suap untuk membebaskan 300 karton Sianida yang baru tiba di pelabuhan untuk dikirim ke Gunung Botak. Selain itu ada beberapa pejabat Polda Maluku juga terindikasi menikmati uang haram tersebut. Kejadian suap menyuap ini berlangsung sekitar awal tahun 2025. Uang itu diterima oleh sejumlah oknum polisi yang merupakan […]

  • Dari Benang Menjadi Harapan, PLN UIW MMU Dorong Ikat Amboina Naik Kelas

    Dari Benang Menjadi Harapan, PLN UIW MMU Dorong Ikat Amboina Naik Kelas

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Helai demi helai benang di tangan para penenun Ikat Amboina bukan hanya dirangkai menjadi kain, tetapi juga menjadi harapan untuk menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat penghidupan. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) mendampingi UMKM tersebut untuk meningkatkan kapasitas produksi, keterampilan, hingga […]

expand_less