Breaking News
light_mode

Iqbal Tamher, Anak Negeri di Titik Nol Indo-Pasifik

  • account_circle Tajuk Maluku.com
  • calendar_month Sabtu, 21 Jun 2025
  • visibility 397
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan Redaksi Tajukmaluku.com

“Tak ada yang lebih tahu luka Maluku selain putra daerahnya. Hanya anak negeri yang tahu cara menjahit luka kampungnya sendiri.”

Kalimat itu menjelma lirih kala para putra daerah dipercaya menduduki jabatan strategis di provinsi yang dikepung banyak luka: geografis, fiskal, dan politik.

Iqbal Tamher, putra Maluku Tenggara ini mengemban amanah sebagai Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional ((BPJN) Maluku. Baru pertama kali seorang putra daerah memegang amanah ini. Tak mudah memang, belum genap satu tahun menjabat Kepala BPJN Maluku, ia harus terseok oleh kebijakan efisiensi anggaran dari pusat.

Satu demi satu rencana besar mesti ditunda. Beberapa yang telah masuk tahap perencanaan, bahkan terancam stagnan. Bukan karena ketiadaan roadmap, melainkan soal realitas: uang negara sedang dipangkas untuk membayar utang. Maluku, seperti biasa, tak jadi prioritas.

Di luar kantor, bisik-bisik mulai terdengar. Tudingan bahwa BPJN stagnan. Bahwa Iqbal Tamher tak cukup progresif dan tak layak untuk jabatan strategis ini. Beberapa bahkan menyerang identitasnya sebagai “orang Maluku” yang dianggap tak lebih dari simbolisasi lokal tanpa produktivitas yang berarti.

Narasi-narasi tendensius itu seperti menabrak tembok sunyi. Iqbal lebih memilih menggelar peta dan membuka data. Menyusun prioritas. Memetakan kembali kerentanan wilayah. Menganalisis jalur logistik vital di Pulau Seram, menelusuri rute lama yang rusak di Buru, dan menimbang ulang konektivitas antara Maluku Tengah dan Tenggara.

Narasi sinis yang dibangun di beberapa media terhadap Iqbal hingga suara mikrofon dari para demonstran yang berulang kali bergema di jalan Putuhena seolah menafikan medan kerja yang sedang dihadapi. Mereka lupa bahwa Maluku bukan Pulau Jawa. Jalan di sini dibangun bukan di atas dataran subur, melainkan di lereng rawan longsor, di atas lahan gambut, dan di antara aliran sungai liar yang belum sepenuhnya dipetakan. Biaya satu kilometer jalan di Maluku bisa setara dengan membangun tiga kilometer jalan di Pulau Sumatera. Tapi laporan BPK dan anggaran tetap memakai angka seragam nasional.

Sosok Iqbal mengingatkan pada jejak yang pernah ditinggalkan Muhamat Marasabessy, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku periode 2012–2016.

Sebagai teknokrat lokal, Marasabessy menulis sejarah infrastruktur air di Maluku dengan tinta keberanian dan strategi. Bendungan Way Apu, yang kini menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN), adalah hasil lobi Marasabessy ke pemerintah pusat. Proyek itu menembus pusat setelah dua tahun proposalnya ditolak dengan alasan beban fiskal. Ambon Waterfront City, kawasan reklamasi dan perlindungan pantai yang hari ini dihuni RS Leimena dan Mapolda Maluku, bermula dari fondasi teknis yang ia siapkan dalam skema berjenjang sejak 2013. Program Ambon Flood Control, dimulai dari pembangunan cek dam di Petra dan Rinjani, telah menghapus kenangan buruk banjir tahunan di Batu Merah.

Apa yang dijalani Iqbal hari ini sebagai “jalan sunyi seorang anak negeri.” yang tak hanya bekerja sebagai insinyur, tapi juga sebagai duta untuk memohonkan keadilan anggaran dari Jakarta.

Posisi Strategis dan Visi Pertahanan

Iqbal sadar bahwa menjual narasi pembangunan infrastruktur di Maluku hanya dari kacamata ekonomi tidak cukup. Ia lalu menyusun pendekatan geopolitik. Bahwa harus melihat Maluku sebagai wilayah pertahanan nasional di jantung Indo-Pasifik. Dalam dokumen Grand Design Pertahanan Negara 2020–2024, Kementerian Pertahanan menetapkan Maluku sebagai salah satu poros logistik strategis Indonesia bagian timur. Pulau-pulaunya menjadi titik sandar alami yang menopang arus pelayaran global dari Laut Banda hingga Pasifik Barat.

Narasi tersebut sejalan dengan Asta Cita Prabowo Subianto, presiden terpilih yang menempatkan infrastruktur pertahanan sebagai fondasi pembangunan nasional. Tentu saja pendekatan ini jadi jalan tengah untuk mengangkat derajat pembangunan Maluku ke arena nasional.

Namun semua itu tetap tak menyingkirkan problem paling klasik: UANG. Tahun 2024 hingga triwulan pertama 2025, BPJN Maluku hanya menerima realisasi anggaran sebesar 62 persen dari kebutuhan ideal. Efisiensi pusat berdampak pada skema pemeliharaan dan pelebaran jalan nasional di Seram Utara dan Maluku Tenggara Barat. Program jembatan gantung di pulau-pulau kecil juga tertunda.

Belum lagi tantangan teknis:

Lebih dari 60 persen jalur jalan nasional di Maluku dibangun di atas tanah labil dan batuan muda vulkanik yang mudah longsor.

43 sungai besar aktif di wilayah Maluku belum memiliki sistem pengendalian banjir terpadu.

Cuaca ekstrem dan topografi pegunungan mempersulit mobilisasi alat berat dan material.

Dalam sebuah laporan internal yang berhasil diperoleh redaksi, terdapat 19 titik rawan longsor di jalan nasional Seram yang hingga kini belum tersentuh perbaikan akibat keterbatasan anggaran tahun berjalan.

Saat sebagian publik Maluku menagih hasil instan dari kerja pembangunan, Iqbal Tamher tahu bahwa ia sedang berjalan di medan yang tak semua orang mau tempuh. Jalan yang penuh jebakan politis, keterbatasan fiskal, dan ekspektasi publik yang membuncah. Ia tetap memilih menyusun jalan satu demi satu. Karena baginya, menjadi anak negeri bukan soal nostalgia. Tapi soal tanggung jawab.

Dalam perenungan bisa jadi hati kecilnya berkata:

“Beta seng bisa bikin semua jalan mulus. Tapi beta bisa mulai, dari jalan yang bisa bikin orang kampung seng susah pulang.” *(01-F)

  • Penulis: Tajuk Maluku.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sadli Ie Dinilai Sukses, SEMMI Maluku: Keberlanjutan Prestasi Harus Diteruskan

    Sadli Ie Dinilai Sukses, SEMMI Maluku: Keberlanjutan Prestasi Harus Diteruskan

    • calendar_month Jumat, 28 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ketua Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Wilayah Maluku, Umar, menilai bahwa kepemimpinan Sadli Ie selama menjabat sebagai Pj Gubernur memberikan dampak signifikan terhadap kemajuan daerah. Tata kelola birokrasi dan keuangan daerah menunjukkan perkembangan positif, berbagai kebijakan strategis yang diterapkan berhasil meningkatkan efektivitas pemerintahan, menegakkan disiplin pegawai, meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta mendorong kesejahteraan masyarakat selama Sadli mendapuk […]

  • Kasus Pembunuhan di Hualoy, Keluarga Tak Puas Pelaku Hanya Dituntut 5 Tahun Penjara

    Kasus Pembunuhan di Hualoy, Keluarga Tak Puas Pelaku Hanya Dituntut 5 Tahun Penjara

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Keluarga korban pembunuhan Abdul Aziz Manuputty meminta Pengadilan Negeri Daratan Hunipopu menghukum pelaku dengan hukuman makmisal. Opan Wakano mewakili keluarga korban menuturkan, saudaranya alm Abdul Aziz Manuputty meninggal dunia secara tragis di Desa Hualoy Kecamatan Amalatu, tepatnya di depan Masjid Zainal Abidin. Visum et Repertum No. 015/VER/PT/I/2025 dengan tegas juga menyatakan penyebab kematian alm Abd […]

  • Misteri Kematian Firdaus di Gunung Binaya: Tubuh Retak, Fakta Tak Lengkap

    Misteri Kematian Firdaus di Gunung Binaya: Tubuh Retak, Fakta Tak Lengkap

    • calendar_month Sabtu, 31 Mei 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Oleh: Ishak R. Boufakar SUDAH lebih dari tiga minggu jasad Firdaus Ahmad Fauzi diterbangkan ke kampung halamannya di Bogor. Ia adalah pendaki muda berusia 27 tahun yang dilaporkan hilang pada 26 April 2025 di kawasan Gunung Binaya, Pulau Seram, Maluku Tengah—salah satu dari Seven Summit Indonesia, sekaligus kawasan konservasi. Firdaus ditemukan 21 hari kemudian, di […]

  • Rahantan: Tuduhan GPAK Maluku Terkait DAK 2023 di Dinas Pendidikan Tidak Berdasar

    Rahantan: Tuduhan GPAK Maluku Terkait DAK 2023 di Dinas Pendidikan Tidak Berdasar

    • calendar_month Kamis, 30 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Maluku menegaskan bahwa pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2023 di Dinas Pendidikan Provinsi Maluku telah berjalan sesuai prosedur dan diawasi langsung oleh pihak berwenang, termasuk Kejaksaan Tinggi Maluku dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Koordinator Daerah BEM Nus Maluku, Adam Rahantan, menyatakan bahwa berdasarkan hasil penelusuran mereka, tidak ditemukan adanya […]

  • Menjadi Terbiasa dengan Konflik di Maluku

    Menjadi Terbiasa dengan Konflik di Maluku

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 1Komentar

    Oleh: Dhani Pelupessy (Akademisi UIN Abdul Muthalib Sangadji) Tajukmaluku.com-Kita sering berkonflik tanpa tahu asal penyebabnya dari mana. Penyebabnya sangat beragam. Aktor intelektual dibalik konflik yang meletup itu pun kita tidak punya kemampuan mengetahuinya. Siapa pelakunya? Tidak tahu. Sasaran terakhir ialah pihak kepolisian, harus kerja ekstra mengusut tuntas siapa pelakunya. Namun, pihak kepolisian kewelahan. Intelijen pun […]

  • Siap-siap Orang Banda Akan Dijajah Lagi?

    Siap-siap Orang Banda Akan Dijajah Lagi?

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Sebanyak 6,3 juta hektar kawasan konservasi terumbu karang di Kecamatan Banda Kabupaten Maluku Tengah menjadi alat negosiasi Pemerintah Pusat untuk membayar sebagian hutang ke Amerika Serikat. Penandatanganan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengalihkan utang senilai 35 juta dolar AS menjadi investasi bagi konservasi terumbu karang Indonesia selama sembilan tahun ke depan. Penandatanganan ini dilakukan oleh […]

expand_less