Wow! Ternyata Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana Lebih Kaya dari Prabowo
- account_circle Admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 11
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com-Ketika Presiden Prabowo Subianto mengumumkan susunan Kabinet Merah Putih pada Oktober 2024, ada satu nama yang langsung mencuri perhatian publik yakni Widiyanti Putri Wardhana. Bukan karena kiprahnya di sektor pariwisata. Bukan pula karena keberhasilannya mengelola destinasi wisata, industri perhotelan, atau ekonomi kreatif.
Widiyanti Putri Wardhana merupakan menteri terkaya di kabinet dan hampir tidak memiliki satu pun rekam jejak dan jam terbang yang menonjol di sektor yang ia pimpin.
Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Widiyanti melaporkan total kekayaan mencapai Rp5,4 triliun. Nilai itu menjadikannya menteri terkaya di Kabinet Merah Putih. Jumlah tersebut bahkan jauh melampaui kekayaan Presiden Prabowo yang dalam laporan terakhir berada di kisaran Rp2 triliun.
Widiyanti lahir di Singapura pada 8 Desember 1970. Ia menempuh pendidikan menengah di Swiss sebelum melanjutkan studi bidang administrasi bisnis di Pepperdine University.
Latar belakang pendidikannya memang kuat di bidang bisnis dan manajemen. Namun jika ditelusuri lebih jauh, sangat sulit untuk menemukan jejak karier Widiyanti dalam pengelolaan sektor pariwisata nasional.
Sebelum masuk kabinet, Widiyanti lebih dikenal sebagai pengusaha dan bagian dari keluarga pemilik Teladan Group. Grup usaha ini dibangun oleh ayahnya, Wiwoho Basuki Tjokronegoro, dan bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari perkebunan, energi, pertambangan hingga investasi. Keluarga ini juga memiliki keterkaitan dengan jaringan bisnis yang berhubungan dengan Indika Energy dan Kideco Jaya Agung.
Sebagian besar kekayaan Widiyanti berasal dari kepemilikan surat berharga dan investasi, bukan dari aktivitas usaha pariwisata. Dari total Rp5,4 triliun yang dilaporkan, lebih dari Rp5 triliun berbentuk surat berharga. Artinya sumber kekuatannya berada pada kepemilikan modal dan investasi finansial berskala besar.
Usut tinggal usut, Widiyanti ternyata tidak ada pengalaman sama sekali di bidang pariwisata, padahal jabatan yang diembannya sekarang ini berhubungan langsung dengan nasib jutaan pelaku UMKM, pekerja hotel, pemandu wisata, industri kreatif, transportasi lokal, hingga masyarakat adat yang hidup di kawasan wisata.
Ini adalah sektor yang membutuhkan pemahaman lapangan, pengalaman industri, serta kemampuan membaca dinamika sosial dan budaya masyarakat.
Karena itu, publik berhak mempertanyakan mengapa kursi strategis tersebut diberikan kepada sosok yang lebih dikenal sebagai bagian dari lingkaran elite bisnis daripada figur yang tumbuh dan berkarier di industri pariwisata.
Tentu tidak ada aturan yang melarang seorang konglomerat menjadi menteri. Kekayaan juga bukan sebuah kesalahan. Namun jabatan sebagai menteri pariwisata harus linier dengan kapasitas, pengalaman, dan kompetensi yang sama di sektor ini. Sebab, Pariwisata adalah salah satu tulang punggung ekonomi nasional.*(01-F)
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar