Dialog Publik Resolusi Konflik Sosial di UIN A. M Sangadji: Ruang Rekonsiliasi, Refleksi, dan Komitmen Damai Bersama
- account_circle Admin
- calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
- visibility 95
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com-Sejumlah pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi maupun komunitas menggelar Dialog Publik Resolusi Konflik Sosial di kawasan UIN A. M. Sangadji Ambon.
Kegiatan yang digagas DPD KNPI Provinsi Maluku, Partai Jomblo Intelektual, Yayasan Pijar Demokrasi Indonesia Cabang Ambon, dan Kejayaan Mahasiswa Nusantara (KEMANUSA) Wilayah Maluku itu sebagai bentuk tanggung jawab moral masyarakat sipil dan organisasi kepemudaan dalam menjaga kampus sebagai ruang aman, inklusif, dan bermartabat dengan membuka ruang rekonsiliasi, refleksi, dan komitmen damai bersama.
Hal itu sebagai bentuk respons meningkatnya dinamika konflik horizontal antar mahasiswa berlatar belakang kedaerahan di lingkungan UIN A.M. Sangadji Ambon. Mengingat, bentrokan yang kerap terjadi tidak hanya mengganggu stabilitas keamanan kampus, tetapi juga mengancam iklim akademik yang sehat dan dialogis. Jika tidak dikelola secara terbuka dan beradab, konflik semacam ini berpotensi direproduksi menjadi konflik sosial yang lebih luas.
Dialog publik ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, antara lain AKP Jafar Lessy (Kasat Bimas Polres Kota Ambon), Fais Yahya Marasabessy sebagai tokoh pemuda dan aktivis sosial, serta Basir Tuhepaly selaku Ketua Umum YPDI Cabang Ambon dan penanggung jawab kegiatan.
Ketua DPD KNPI Provinsi Maluku, Arman Kalean, menegaskan bahwa kampus tidak boleh dibiarkan menjadi ruang reproduksi kekerasan identitas.
“Kampus adalah ruang akal sehat dan perjumpaan. Karena itu kami mendorong pendekatan dialog, bukan dendam. Semangat yang kami bawa sederhana: JANDA (Jangan Nakal dan Damai). Ini simbol bahwa anak-anak muda Maluku harus memilih kedewasaan dan persaudaraan,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026) malam.
Di tempat yang sama, Faisal Marasabessy menilai kampus harus menjadi ruang dialogis sekaligus gerbang awal perdamaian.
“Kekerasan tidak menyelesaikan masalah, dan ketertiban kampus hanya lahir dari kesadaran kolektif. Jika konsisten dan diawasi, JANDA (Jangan Nakal dan Damai) bisa menjadi penanda bahwa kampus ini memilih nalar, dialog, dan tanggung jawab sosial sebagai jalan keluar” Kata Faisal.
Sementara itu, Basir Tuhepaly menyampaikan bahwa dialog ini dirancang sebagai ruang yang jujur, setara, dan bermartabat.
“Kami ingin menghentikan logika saling curiga dan menggantinya dengan keberanian untuk bicara dan mendengar. Konflik tidak boleh diwariskan. Ia harus diselesaikan,” tegasnya.
Melalui forum ini, para pihak diharapkan dapat mengidentifikasi akar konflik secara objektif, membangun komitmen bersama, serta merumuskan rekomendasi konkret demi menjaga UIN A.M. Sangadji Ambon sebagai rumah bersama seluruh mahasiswa Maluku.
Dialog Publik Resolusi Konflik Sosial ini juga diharapkan menjadi model penanganan konflik berbasis dialog dan kearifan lokal Maluku, sekaligus menegaskan kembali nilai persaudaraan, pela gandong, dan etika akademik sebagai fondasi kehidupan kampus.*(01-F)
- Penulis: Admin



Saat ini belum ada komentar