Breaking News
light_mode

“Buah Simalakama” itu Bernama MIP (Bagian-II)

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 9 Okt 2025
  • visibility 488
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: M Kashai Ramdhani Pelupessy

(Dosen Psikologi di UIN AM Sangadji Ambon; Pemerhati Psikologi Lingkungan)

Tajukmaluku.comSituasi di Maluku saat ini ibarat kita sedang terbawa arus deras sungai—tak berdaya melawannya, hanya berusaha bertahan agar kita tidak tenggelam. Dalam kondisi seperti itu, apa pun yang lewat di depan mata akan kita genggam. Bahkan jika yang terlihat adalah kotoran, kita usahakan menggenggamnya erat-erat agar kita tidak tenggelam terbawa arus.

Itulah situasi yang dialami sebagian anak-anak muda di Maluku saat ini. Nalar kritisnya tumpul. Kurang bisa membaca arah gerak sejarah kedepannya akan seperti apa (?). Apapun yang ada di depan mata kita, seperti megaproyek Maluku Integrated Port (MIP), jika menguntungkan maka langsung kita ambil sebagai “pegangan hidup”. Tanpa bertanya, bagaimana situasi yang akan dihadapi nantinya.

Mungkin, hanya sebagian kecil dari anak-anak muda Maluku yang mampu menganalisa, apa masalah utama yang nanti dihadapi ketika megaproyek itu terlaksana. Dan, mereka (anak-anak muda) itu adalah seperti Ali Syariati mengistilahkannya: “kaum-kaum tercerahkan dan terdidik”.

Dalam tulisan saya sebelumnya di tajukmaluku.com (08/10/2025), saya cenderung bertanya-tanya, apakah megaproyek MIP ini sudah ter-ilhami oleh falsafah hidup “siwalima” ataukah belum? Padahal, “siwalima” ini selalu kita agungkan di setiap mimbar-mimbar maupun di dalam ruang-ruang kelas. Namun, kenyataan di lapangan, falsafah hidup “siwalima” ini —tak lebih dan tak kurang— hanyalah menjadi stempel dari logo Pemerintah Provinsi Maluku saja.

Falsafah itu belum “membumi”. Meskipun falsafah itu terus diagungkan dalam kata-kata, tapi faktanya cenderung dikhianati dalam tindakan nyata. Sejumlah proyek pembangunan di Maluku belakangan ini, jika diperiksa, sebetulnya belum ter-ilhami oleh falsafah hidup “siwalima”. Dan, saya berasumsi, megaproyek MIP ini pun juga belum ter-ilhami oleh falsafah “siwalima”.

Atas dasar itulah, saya membayangkan di masa depan, ketika megaproyek MIP ini berjalan tentu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Maluku. Akan tetapi, pertanyaannya adalah, pertumbuhan ekonomi itu nantinya untuk siapa? Apakah untuk masyarakat Maluku secara kolektif? Ataukah sebaliknya, hanya menguntungkan sebagian kalangan konglomerat lokal tertentu?

Pertanyaan di atas itu memang tampak klise, tetapi penting dipahami agar suatu saat kita tidak menjadi “babu” di negeri sendiri. Jangan seperti pepatah bilang begini: “lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang”. Kalau bisa, pepatah itu harus diubah menjadi begini: “walaupun hujan emas di negeri orang itu baik, tetapi lebih baik lagi apabila hujan emas di negeri sendiri”.

Artinya, dampak dari megaproyek MIP ini harus dapat mengucurkan hujan emas bagi seluruh masyarakat di Maluku. Namun, saya membayangkan kedepannya, kucuran hujan emas itu hanya berhenti di kalangan tertentu saja, alias tidak merata. Berikut ini saya akan jelaskan alasannya, kenapa megaproyek MIP ini nantinya tidak bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Maluku.

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya telah mengulas bahwa ada dua problem yang bakalan muncul ketika megaproyek MIP ini terlaksana. Pertama adalah “perampasan lahan”. Kedua, nelayan lokal akan mengalami kerentanan psikososial. Untuk selebihnya, silahkan baca tulisan saya sebelumnya di tajukmaluku.com (08/10/2025).

Berikut ini, saya akan tambahkan lagi beberapa persoalan yang bakal muncul ketika megaproyek MIP ini terlaksana. Persoalan ini lebih terkait dengan “penyerapan tenaga kerja”. Belakangan ini saya ikuti, banyak yang sangat menaruh harapan, bahwa kalau megaproyek MIP ini terlaksana maka akan membuka lapangan kerja yang besar bagi masyarakat Maluku. Benarkah demikian? Jangan-jangan, harapan itu akan berubah menjadi “buah simalakama” di kemudian hari.

Dalam konteks itu, saya ambil contoh yang terjadi di Maluku Utara saat ini. Waktu itu, banyak masyarakat menaruh harapan besar dari hasil pertambangan nikel. Banyak yang membayangkan akan sejahtera di kemudian hari. Namun, belakangan ini, situasi yang terjadi di lapangan tampak sangat memilukan. Gejala sosial yang paling terasa dialami di Maluku Utara saat ini adalah persaingan mencari suaka antara “orang lokal” dan “pendatang”. Jika ini tak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan masalah konflik horizontal di kemudian hari.

Itulah situasi di Maluku Utara saat ini. Mari kita tengok kembali di Maluku, apakah megaproyek MIP akan mendatangkan kesejahteraan? Ataukah, sebaliknya, justru melahirkan persoalan baru di masa depan yakni “perebutan lapangan kerja” antara “orang lokal” dan “pendatang”? Dari situlah kita harus banyak bertanya, apakah anak-anak muda kita sudah siap dan punya kapasitas sebagai “pekerja” untuk mengelola MIP? Seberapa banyak-kah itu?

Jangan sampai, megaproyek MIP ini justru berubah menjadi “buah simalakama” bagi masyarakat Maluku di masa mendatang. Olehnya itu, pemerintah Provinsi Maluku harus benar-benar memastikan, apakah megaproyek MIP ini dapat memberi kesejahteraan secara kolektif bagi masyarakat Maluku ataukah tidak? Saya berasumsi, kemungkinan di masa depan, pertanyaan seperti itu akan muncul lagi dengan suara yang lebih keras. Kita tunggu saja.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gelar Safari Ramadhan, GMPI Maluku dan RAA Connection Salurkan Paket Santunan Untuk Warga Kota Ambon

    Gelar Safari Ramadhan, GMPI Maluku dan RAA Connection Salurkan Paket Santunan Untuk Warga Kota Ambon

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pimpinan Wilayah Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI) Provinsi Maluku menggandeng RAA Connection dalam aksi sosial bertajuk Safari Ramadhan. Kegiatan ini menyasar warga kurang mampu, termasuk janda, anak yatim, dan kaum dhuafa di sejumlah titik di Kota Ambon, seperti Lorong Amalatu, Air Besar, dan Kahena. Ketua Wilayah GMPI Maluku, Bansa Hadi Sella, memimpin langsung penyaluran santunan […]

  • Tiap Hari Terminal A Mardika Dikuasai 700-800 PKL, Berikut Kalkulasi Retribusi

    Tiap Hari Terminal A Mardika Dikuasai 700-800 PKL, Berikut Kalkulasi Retribusi

    • calendar_month Sabtu, 12 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ambon menemukan segudang masalah di kawasan terminal dan Pasar Mardika Ambon. Utamanya terkait pemanfaatan terminal A dan B oleh pedagang kaki lima yang jumlahnya mencapi 2000 pedagang, sehingga mengganggu fungsi utamanya. Ironisnya lagi ada penarikan retribusi yang dinilai tidak sah. “Apa yang disampaikan Dinas Infokom maupun saudara […]

  • Ruko Digerebek, Hartini Bongkar Kelakuan Oknum Polisi Dalam Bisnis Sianida

    Ruko Digerebek, Hartini Bongkar Kelakuan Oknum Polisi Dalam Bisnis Sianida

    • calendar_month Kamis, 25 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Penggerebekan ruko di kawasan Mardika Ambon yang diduga menyimpan Sianida memunculkan cerita baru. Hartini, pemilik ruko, menuding keterlibatan dua oknum polisi dalam bisnis ilegal itu. “Jumlah keseluruhan itu 300 karton. Yang digerebek itu hanya sisa,” kata Hartini, (Kamis, 25/09/2025). Hartini membantah kepemilikan Sianida tersebut. Ia menegaskan dirinya hanya menjadi perantara untuk mengembalikan barang ke pemilik […]

  • Dialog Publik Resolusi Konflik Sosial di UIN A. M Sangadji: Ruang Rekonsiliasi, Refleksi, dan Komitmen Damai Bersama

    Dialog Publik Resolusi Konflik Sosial di UIN A. M Sangadji: Ruang Rekonsiliasi, Refleksi, dan Komitmen Damai Bersama

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Sejumlah pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi maupun komunitas menggelar Dialog Publik Resolusi Konflik Sosial di kawasan UIN A. M. Sangadji Ambon. Kegiatan yang digagas DPD KNPI Provinsi Maluku, Partai Jomblo Intelektual, Yayasan Pijar Demokrasi Indonesia Cabang Ambon, dan Kejayaan Mahasiswa Nusantara (KEMANUSA) Wilayah Maluku itu sebagai bentuk tanggung jawab moral masyarakat sipil dan organisasi […]

  • Bisnis Ubur-Ubur Bermasalah, Kuasa Hukum Sun Deai: Polres SBB Jangan Lambat

    Bisnis Ubur-Ubur Bermasalah, Kuasa Hukum Sun Deai: Polres SBB Jangan Lambat

    • calendar_month Selasa, 18 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Bisnis ubur-ubur yang semula menjanjikan keuntungan besar kini berubah menjadi perkara hukum. Mr. Sun Deai, melalui kuasa hukumnya, resmi melaporkan La Demi ke Polres Seram Bagian Barat atas dugaan penipuan dan penggelapan dana investasi. Laporan yang diajukan oleh tim kuasa hukum yang terdiri dari Bansa Hadi Sella, S.HI, Sutrisno Hatapayo, S.HI, dan Akbar F. Salampessy, […]

  • Kantor Pertanahan Buru Selatan Gelar Rakor GTRA 2026, Perkuat Sinergi Percepatan Reforma Agraria

    Kantor Pertanahan Buru Selatan Gelar Rakor GTRA 2026, Perkuat Sinergi Percepatan Reforma Agraria

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Namrole,Tajukmaluku.com-Kantor Pertanahan Kabupaten Buru Selatan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kabupaten Buru Selatan Tahun 2026 di Aula Kantor Bupati Buru Selatan, Senin (13/7/2026). Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam mendukung pelaksanaan Reforma Agraria di Kabupaten Buru Selatan. Rakor dibuka secara resmi oleh Bupati Buru Selatan selaku […]

expand_less