Breaking News
light_mode

Ramadhan, Ketimpangan  dan Krisis Sosial

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 28 Feb 2025
  • visibility 495
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Foto; Yastrib Akbar Sowakil

Akhir-akhir ini wajah kapitalisme semakin memperlihatkan karakternya yang semakin serakah. Hampir semua ruang kehidupan manusia dikendalikan oleh norma-norma ekonomi dan sosial. Termasuk ruang religiutas manusia. Ibadah Puasa yang sebentar lagi menghampiri umat jagat ini, juga tidak terhindarkan dari kapitalisasi yang ekstrim yang dipelopori oleh industri media. Semua menawarkan pesona dan keindahan puasa dengan dibarengi pola konsumerisme tinggi.

Setiap memasuki bulan ramadan, semua stasiun TV seakan berebut menemani pemirsanya menunggu dan bersantap sahur. Berbagai program acara pun disuguhkan, berbagai program mulai dari- talkshow, Sinetron, reality show, hingga komedian ditayang dan semua dikemas sedemikian rupa sehingga membantu menghilangkan kantuk dan bosan saat menunggu dan menyantap sahur. Bintang-bintang yang terlibatpun tidak tanggung-tanggung. Artis-artis papan atas “berjubel” dalam program tersebut seolah oleh menampilkan keseriusan ritme puasa.

Tanpa kita sadari dalam waktu yang bersamaan, kapitalisme memperlihatkan watak aslinya yang konsumtif, orang-orang-pun dengan lantang berkata (saya membeli maka saya ada) sebuah parodi dari ucapan Rene Descartes beberapa abad silam Cogito Ergo Sum (aku berpikir maka aku ada). Sebuah pilihan ekstrim. Eksistensi manusia hanya dinilai dari seberapa rakus seseorang mengkonsumsi. Maka, kultur konsumsi menjadi kultur dominan di tengah-tengah etos produksi kita yang rendah.

Bulan Ramadhan yang penuh berkah dan kasih bagi umat islam, di hadapkan dengan fenomena kapitalisme yang luar biasa yang mencoba mengeksploitasi momen ini untuk kepentingan bisnis dan keuntungan beberapa golongan, puasa harus menjadi diskursus kritik polemik dinamika berbangsa saat ini dengan kekangan kapitlisme luar biasa, seperti beberapa hari kemarin kita di hadapkan dengan kasus negara, pengoplosan minyak pertalite ke pertamax yang merugikan rakyat luar biasanya, saya memakai diksi merugikan rakyat bukan memakai diksi yang biasa di pakai media yaitu diksi merugikan negara, sebab hak rakyat telah di ekploitasi.

Sosial dalam Puasa

Puasa sangat erat hubungannya dengan kepedulian sosial, Puasa yang ditunaikan pada bulan Ramadhan, mempunyai pesan transformatif. Ramadhan merupakan momen mengasah kepekaan sosial. Ramadhan tidak hanya berkutat pada wilayah ubudiyah (transenden) semata, melainkan banyak ibadah yang menampilkan tentang nuansa kepedulian terhadap umat yang mengalami penindasan, baik dari sisi hak hidup, ekonomi maupun penindasan keadilan. Ramadhan adalah syahrul Jud (bulan pemberi) dan syahrul Muwassah (bulan memberi pertolongan).

Ibn Qayyim al-Jauzi menjelaskan bahwa yang dimaksud puasa tak lain adalah menahan syahwat dan nafsu dari sesuatu yang disenanginya, dengan demikian, menahan lapar dalam puasa merupakan percobaan untuk berani mengingat dan menanggung derita saudaranya yang miskin dan teraniaya, mendisiplinkan tubuh dari jejaring kapitalisme yang menjalar dalam kesadaran kita agar tidak terus mengkonsumsi banyak hal yang bisa merusak kehidupan dunia dan akhirat. Puasa merupakan jalan para muttaqin (orang-orang bertaqwa) untuk diri kepada Allah. Melalui puasa, tubuh dan jiwa dijaga dari hal yang dapat mendegradasi kualitas jiwa. Puasa juga mampu menjadi penawar dari keserakahan yang tak tertanggungkan.

Kapitalisme memang lihai, selalu mempunyai cara untuk menggiring massa mengikutinya. Hampir semua peristiwa sosial dan keagamaan, kapitalisme mampu menyusup dan bahkan menjadi bagian penting di dalamnya. Entah itu, puasa, lebaran, ibadah haji dan kegiatan keagamaan lainnya.

Gejala ini juga telah berlangsung di Indonesia, bahkan lebih intens, setidaknya dalam dasawarsa terakhir. Komodifikasi Islam itu bisa dipastikan selalu mencapai puncaknya sepanjang Ramadhan. Hal ini bisa dilihat di mana-mana; dalam tayangan TV, di mal dan supermarket, dan seterusnya. Antara lain, karena peningkatan komodifikasi Islam ini, tingkat konsumsi masyarakat meningkat tajam menjelang dan selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Bila kita cermati dengan baik, komersialisasi Islam itu mengubah keimanan dan simbol-simbolnya menjadi komoditas yang dapat diperjual belikan untuk mendapat keuntungan. Komersialisasi Islam menjadikan Islam sebagai sebuah komoditas, komersialisasi Islam boleh jadi membuat banyak kalangan umat Islam mengerutkan dahinya. Apalagi, secara tradisional, banyak ulama menyatakan, agama tidak boleh dijadikan barang dagang untuk mendapat keuntungan dari penjualan dan perdagangan simbol-simbol agama. Bahkan, para ulama, ustadz, dan mubaligh diharapkan tidak mendapatkan nafkah apalagi profit material dari kegiatannya berdakwah tetapi realita yang terjadi, pesan-pesan dakwah yang harusnya menjadi spirit perjuangan malah menjadi keuntungan semata.

Namun, apa boleh buat, zaman sudah berubah dan komersialisasi Islam itu tidak bisa lagi dihindarkan. Mereka yang bergerak dalam bidang dakwah boleh jadi menolak istilah ini, sebaliknya, mungkin lebih nyaman dengan istilah profesional dalam dakwah, karena itu boleh saja berusaha mendapat keuntungan dari profesi dakwah mereka.

Ironi Puasa

Sebuah pemandangan yang kontradiktif, pesan puasa yang seharusnya sebagai media membentuk pengendalian dari segala keinginan konsumtif, malah yang muncul sebaliknya, penuh keserakahan. Semua orang beriman, khususnya orang Islam, ditantang untuk mampu menjawab problem ketimpangan global yang kian membengkak. Fatalnya, banyak orang lupa jika mereka merupakan bagian dari dunia yang dipenuhi dengan ketimpangan, ketidakadilan, keserakahan dan ancaman kerusakan lingkungan oleh pembangunan yang tak mengindahkan kelestarian.

Thomas Robert Malthus, yang pemikirannya disebut Malthusian, pada abad ke-18 pernah mengungkapkan bahwa seiring dengan bertambahnya penduduk, maka sejatinya kebutuhan akan produksi dan konsumsi akan terus meningkat, dan dengan demikian maka lingkungan juga sebenarnya terus dalam ancaman. Apalagi pertumbuhan penduduk dunia terus meningkat, sulit dipungkiri bahwa kebutuhan atas produksi dan konsumsi akan terus meningkat. Pada akhirnya, ekstraksi sumberdaya alam semakin banyak, dan limbah yang dihasilkan juga tak terbendung. Asumsi ini bukannya tak berdasar. Akar kekacauan pada keseimbangan lingkungan adalah pola konsumsi yang melampaui batas dan menguras sumber daya alam.

Francis Fukuyama dalam The Great Disruption (2016) telah mewanti-wanti kita, bahwa akar kerusakan di bumi bersumber dari empat hal: Kemiskinan yang meningkat, kekayaan yang meningkat, kemerosotan nilai-nilai kultural dan religius, meningkatnya egoisme atau kepuasaan individualistis di atas kewajiban komunal.

Dari uraian sederhana itu kita menjadi tahu. Kita perlu “sistem pengendalian” atas egoisme manusia, keserakahan, dan sifat konsumtif manusia. Puasa, yang dipahami sebagai “menahan diri dari makan dan minum mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari” adalah satu sistem religi yang dapat berperan sebagai pengendali egoisme manusia, terutama pada pola produksi dan konsumsi atas sumberdaya sehingga kondisi ini dapat menjadikan manusia larut dalam gebyar dan hiruk ramadhan.

Puasa tidak lebih dari sekedar ritual kolosal tahunan dengan segala syarat dan rukunya yang tidak berimplikasi apa-apa. Memang, syiar keagamaan nampak meriah dengan berbagai sajian dan ragam acara media. Namun juga tidak banyak imbas terhadap peningkatan spiritual. Dan bahkan membuatnya menjadi dangkal karena bergerak sesuai dengan kemauan pasar.

Pesan Utama Puasa

Jauh lebih penting dari segala pernak pernik ramadhan tersebut adalah, bagaimana menemukan kembali semangat dan pesan utamanya puasa yang semakin hari semakin kabur. Kaharusan menahan makan, minum, dari fajar hingga terbenam matahari adalah pesan esetoris untuk lebih mengendalikan syahwat pesan kerja keras untuk menaklukan keegoisan manusia.

Dengan demikian, makna puasa tidak hanya menyangkut urusan ritual, spiritual saja tetapi juga menyangkut dimensi lain, yakni dimensi krisis sosial, dan ekologis. Manifestasinya adalah dengan berpuasa kita harus sadar kembali betapa pentingnya menahan diri dari hasrat kegilaan manusia, gaya hidup konsumtif yang berlebihan, dan boros. Puasa menata secara teratur aliran hasrat, dimulai dari dalam (hati), dan kemudian melahirkan pribadi muslim yang bertaqwa, tidak hanya taqwa secara ritual, tetapi juga taqwa secara sosial.

Memang tak mudah, setelah sebelas bulan sebelumnya, hampir tidak mengendalikan syahwat jasmaniah dengan berlapar-lapar dan dahaga, setidaknya, puasa memberi pesan bahwa menjadi orang kecil dan miskin secara struktur sosial, adalah berat dan tidaklah mudah. Maka mereka mutlak diperhatikan kesejahtraannya. Karena membiarkan golongan mereka sama seperti kita mendustakan Islam itu sendiri. Struktur sosial yang cenderung eksploitatif, di mana kelompok yang kuat cenderung menindas yang kecil, membutuhkan advokasi atau pembelaan berlanjut.

Dari sinilah peran agama itu dibutuhkan dengan mampu menangkap pesan puasa tersebut, setidaknya bulan puasa tidak hanya sekadar memberi suasana syaduh , namun mampu memberi pesan atau suara kemanusian agar wajib terus kita pelihara. SELAMAT BERPUASA.

Yatsrib Akbar Sowakil, Penulis adalah anak muda Bumi Bupolo.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Ramadan, Ridwan Nurdin Minta Pemprov Segera Cek Ketersediaan Stok dan Stabilitas Harga Pangan

    Jelang Ramadan, Ridwan Nurdin Minta Pemprov Segera Cek Ketersediaan Stok dan Stabilitas Harga Pangan

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota DPRD Provinsi Maluku, Ridwan Nurdin meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku untuk segera mengecek ketersediaan stok dan menjaga stabilitas harga pangan. Hal itu disampaikan mengingat kurang lebih 11 hari lagi, umat muslim akan menghadapi bulan Ramadan 1447 Hijriah. “Saya meminta agar pemerintah segera mengecek ketersediaan stok dan menjaga stabilitas harga pangan,” kata Nurdin kepada TajukMaluku.com, […]

  • Akademisi: Pertemuan Karel Ralahalu dan Kakanwil Kemenag Jadi Contoh Pembangunan Integratif

    Akademisi: Pertemuan Karel Ralahalu dan Kakanwil Kemenag Jadi Contoh Pembangunan Integratif

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pembangunan inklusif dan distribusi kesejahteraan yang merata dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas sosial di Maluku. Dalam konteks masyarakat yang heterogen, peran elit dan tokoh masyarakat sangat menentukan arah pembangunan yang menyentuh seluruh elemen sosial. Akademisi Fisipol Universitas Pattimura, Amir F. Kutarumalos, menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan yang holistik sebagai instrumen untuk meredam potensi konflik […]

  • Jelang Ramadhan, Minyak Tanah Langka di SBT: Disperindag Mandul, Warga Menjerit

    Jelang Ramadhan, Minyak Tanah Langka di SBT: Disperindag Mandul, Warga Menjerit

    • calendar_month Kamis, 27 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Bula,Tajukmaluku.com-Dalam hitungan hari, umat Muslim akan memasuki bulan suci Ramadhan. Namun, di tengah persiapan ibadah dan kebutuhan rumah tangga yang meningkat, warga di Kota Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) justru menghadapi kenyataan pahit, mereka sangat kesulitan mendapatkan minyak tanah, bahan bakar utama bagi sebagian besar masyarakat itu semakin langka di pangkalan dan pasaran. Terpantau, […]

  • PLN UP3 Ternate Sukses Realisasikan Penambahan Daya Listrik Kantor Perwakilan BI Malut

    PLN UP3 Ternate Sukses Realisasikan Penambahan Daya Listrik Kantor Perwakilan BI Malut

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ternate berhasil merealisasikan penyalaan penambahan daya listrik untuk Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Utara. Penambahan kapasitas daya ini meningkat dari semula 240 kVA menjadi 345 kVA. Langkah strategis ini merupakan respons atas permintaan resmi dari Bank […]

  • Tuasuun Sekda SBB dan Tugas yang Terabaikan

    Tuasuun Sekda SBB dan Tugas yang Terabaikan

    • calendar_month Kamis, 28 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Peristiwa skorsing rapat paripurna DPRD Seram Bagian Barat (SBB) pada Rabu, 27 Agustus 2025, seharusnya menjadi alarm tersendiri bagi Bupati Asri Arman. Sebab, kelalaian menyiapkan naskah pidato bupati yang dibacakan Wakil Bupati Selfinus Kainama tak bisa diliat sebagai “lupa berkas”, naskah pidato yang semestinya sudah siap sejak jauh hari itu menjadi cermin dari lemahnya koordinasi […]

  • Tinjau SPKLU Bandung, Dirut PLN Pastikan Seluruh Infrastruktur EV Siap Layani Masyarakat 24 Jam

    Tinjau SPKLU Bandung, Dirut PLN Pastikan Seluruh Infrastruktur EV Siap Layani Masyarakat 24 Jam

    • calendar_month Kamis, 26 Des 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo memastikan bahwa seluruh infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Provinsi Jawa Barat telah dalam posisi yang siap untuk melayani kendaraan listrik (_Electric Vehicle_/EV) yang digunakan masyarakat selama perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru (Nataru) 2025. Kepastian ini disampaikan saat ia melakukan rangkaian inspeksi SPKLU Trans Jawa […]

expand_less