Breaking News
light_mode

36 Tahun Tanpa Putra Maluku di Kabinet: Diskriminasi Terstruktur atau Pengabaian Sistematis?

  • account_circle Admin
  • calendar_month Minggu, 20 Okt 2024
  • visibility 199
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Aldin Keliangin

Sudah lebih dari tiga dekade, tepatnya 36 tahun, Republik Indonesia tidak pernah memasukkan putra-putri Maluku ke dalam kabinet. Setiap kali reshuffle diumumkan, setiap kali Kabinet Indonesia dibentuk, wajah-wajah dari Timur selalu absen dari posisi penting yang menentukan arah kebijakan bangsa. Maluku, yang dikenal dengan kekayaan sejarah, budaya, dan sumber daya alam, seolah-olah dilupakan dari percaturan politik nasional.

Sebuah catatan yang menyakitkan, bahkan lebih ironi ketika kita melihat kontribusi besar Maluku dalam sejarah bangsa ini. Namun dalam setiap pengumuman kabinet, baik dalam era reformasi hingga Kabinet Indonesia Maju di bawah Prabowo-Gibran, wajah putra Maluku seakan tidak pernah terpampang di kursi-kursi elite kekuasaan.

Apakah Maluku Tidak Berhak Mendapat Tempat di Kabinet?

Pertanyaan yang terus mengemuka dalam benak masyarakat Maluku: apakah kami tidak berhak untuk mendapat tempat di kabinet? Apakah kemampuan putra-putri Maluku dianggap rendah? Atau ini sekadar cerminan dari diskriminasi struktural yang terus-menerus mengisolasi Maluku dari pusat kekuasaan?

Maluku, yang dikenal dengan kekayaan sejarah, budaya, dan sumber daya alam, seolah-olah dilupakan dari percaturan Elite politik nasional.

Setiap kali pergantian kabinet terjadi, janji perubahan dan representasi daerah selalu dilontarkan, tetapi hasilnya? Nihil. Putra Maluku seakan-akan menjadi warga kelas dua di negeri sendiri, dikesampingkan dan diabaikan dalam proses pengambilan keputusan yang penting bagi bangsa ini.

Maluku bukan sekadar wilayah geografis di timur Indonesia, melainkan bagian integral dari sejarah perjuangan bangsa. Peran Maluku dalam mempertahankan kemerdekaan, mengamankan perbatasan negara, dan kontribusi di berbagai bidang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun mengapa selama 36 tahun, tidak ada satu pun putra Maluku yang dipercaya untuk duduk di kursi kabinet? Hal ini menyiratkan bahwa masih ada diskriminasi nyata dalam representasi daerah, khususnya dari wilayah timur Indonesia.

Apa yang Salah dengan Pusat Kekuasaan?

Ketika Jakarta dan pusat kekuasaan lainnya terus mendominasi percaturan politik nasional, daerah-daerah seperti Maluku terpinggirkan. Ini bukan sekadar masalah representasi politik, tetapi juga soal pengakuan terhadap kontribusi dan hak setiap daerah. Bagaimana mungkin Maluku, dengan segala kekayaan sumber daya dan potensinya, tidak pernah dianggap layak memiliki perwakilan di kabinet? Ini adalah penghinaan terhadap kemampuan dan keberadaan putra-putri Maluku yang telah berjuang dan berdedikasi bagi negara.

Pemerintahan yang sehat adalah pemerintahan yang inklusif, yang mampu merangkul seluruh wilayah Indonesia secara adil dan setara. Lebih dari tiga dekade, kabinet-kabinet yang terbentuk seolah-olah hanya milik segelintir elit di Jakarta dan Jawa. Seharusnya, kepemimpinan nasional tidak hanya ditentukan oleh satu pulau atau satu kelompok etnis saja. Maluku, dengan sejarah panjangnya sebagai salah satu wilayah pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia ini, layak mendapatkan tempat di kancah nasional.

Kabinet Indonesia Maju: Retorika Kosong atau Perubahan Nyata?

Kini, di era Kabinet Indonesia Maju yang dipimpin oleh Prabowo-Gibran, kita kembali menantikan apakah perubahan yang dijanjikan hanya akan menjadi sekadar retorika kosong atau benar-benar menghadirkan perwakilan yang merata dari seluruh penjuru negeri. Mengusung nama “Indonesia Maju,” kabinet ini seharusnya menyadari bahwa kemajuan tidak hanya bisa dicapai dengan segelintir pemimpin dari satu wilayah. Indonesia hanya akan benar-benar maju jika setiap daerah, termasuk Maluku, diberi kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pemerintahan.

Jika Prabowo dan Gibran ingin mencatat sejarah sebagai pemimpin yang mempersatukan dan memperkuat seluruh wilayah Indonesia, maka sudah saatnya mereka melibatkan putra-putri Maluku dalam kabinet mereka. Tidak cukup hanya mendengar aspirasi dari Jakarta dan Jawa, mereka harus mendengar suara dari timur, suara yang sudah terlalu lama dibungkam dan diabaikan. Pengabaian ini hanya akan semakin memperlebar jurang ketidakadilan dan kesenjangan antara pusat dan daerah, yang pada akhirnya akan melemahkan kesatuan bangsa.

Bagaimana Jika Maluku Merdeka?

Dengan segala ketidakadilan yang terjadi, bukan tidak mungkin gagasan kemerdekaan Maluku akan kembali mencuat di kalangan masyarakat. Jika selama 36 tahun Maluku terus diabaikan, apakah artinya kami tidak dihargai sebagai bagian dari Indonesia? Bagaimana mungkin kami diminta setia pada negara yang tidak pernah memberikan ruang bagi kami dalam pengambilan keputusan penting?

Gagasan kemerdekaan memang bukan solusi yang sederhana, tetapi ini adalah konsekuensi logis dari ketidakadilan yang terus-menerus dialami. Jika pemerintah pusat terus menutup mata terhadap kebutuhan dan aspirasi Maluku, maka jangan heran jika wacana pemisahan diri semakin menggema. Maluku memiliki potensi besar untuk mandiri, dengan kekayaan alam yang melimpah dan posisi strategis di jalur perdagangan internasional. Jika kami tidak dianggap penting di Indonesia, mengapa kami tidak mencoba untuk menentukan nasib sendiri?

Waktunya Tindakan Nyata, Bukan Janji-janji Kosong

Sudah saatnya pemerintah pusat berhenti menganggap enteng aspirasi dari Maluku. Bukan hanya soal representasi di kabinet, tetapi juga soal keadilan dan kesetaraan dalam seluruh aspek pembangunan nasional. Jika pemerintah pusat ingin menjaga persatuan dan keutuhan Indonesia, maka mereka harus segera memperbaiki ketidakadilan ini. Maluku dan daerah-daerah lainnya berhak mendapatkan tempat yang layak di kancah nasional, bukan sekadar menjadi penonton dari pinggiran.

Prabowo dan Gibran memiliki kesempatan emas untuk mencatatkan diri mereka dalam sejarah sebagai pemimpin yang benar-benar mewakili seluruh bangsa. Namun jika mereka gagal menyadari pentingnya perwakilan dari Maluku, maka mereka hanya akan melanjutkan siklus diskriminasi dan pengabaian yang sudah berjalan selama 36 tahun. Kita tidak butuh lagi janji-janji kosong, kita butuh tindakan nyata. Maluku harus mendapatkan tempat di kabinet, atau kita akan terus bertanya: Apakah kita masih dianggap sebagai bagian dari Indonesia?

Penulis adalah Aktivis Muda Maluku

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pasokan Listrik PLN Andal Suksesi Peringatan HUT RI Di Istana Merdeka

    Pasokan Listrik PLN Andal Suksesi Peringatan HUT RI Di Istana Merdeka

    • calendar_month Senin, 18 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) berhasil menyuplai listrik andal selama rangkaian Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (17/8/2025). Acara kenegaraan mulai dari Malam Renungan Suci, Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi dan Upacara Penurunan Bendera Merah Putih tersebut berlangsung khidmat, meriah, dan penuh makna kebangsaan, dengan dukungan pengamanan […]

  • Workshop di Ambon, LPTK Didorong Jadi Kunci Perbaikan Mutu Pendidikan Indonesia

    Workshop di Ambon, LPTK Didorong Jadi Kunci Perbaikan Mutu Pendidikan Indonesia

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) kembali ditegaskan sebagai aktor kunci dalam membangun ekosistem pendidikan daerah yang lebih kuat dan berkelanjutan. Pesan ini mengemuka dalam Workshop Berbagi Pengalaman dan Penggalian Ide: Peran LPTK bagi Pemerintah Daerah yang diselenggarakan oleh Program INOVASI untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan antara Pemerintah Australia dan Indonesia di bidang pendidikan dasar, […]

  • Buka Turnamen Futsal Cup Waetele 2025, Ketua DPRD BURU Bakar Semangat Anak Muda

    Buka Turnamen Futsal Cup Waetele 2025, Ketua DPRD BURU Bakar Semangat Anak Muda

    • calendar_month Minggu, 20 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Buru,Tajukmaluku.com-Ketua DPRD Kabupaten Buru, Bambang Lang Lang Buana, S.Pd., M.M., secara resmi membuka turnamen Futsal Cup Waetele 2025 di Desa Waetele, Kecamatan Waiapo, Minggu (20/4/2025). Dalam sambutannya, Bambang menekan pentingnya ajang ini sebagai wahana silaturahmi antarpemuda sekaligus medium untuk menyalakan kembali geliat usaha mikro di tingkat desa. “Turnamen ini jadi panggung bagi generasi muda untuk tumbuh” ujar […]

  • Pokir Rp30 Miliar DPRD SBB Jadi Isu Lokal yang Akan Dibawa HMI Dalam Aksi 1 September

    Pokir Rp30 Miliar DPRD SBB Jadi Isu Lokal yang Akan Dibawa HMI Dalam Aksi 1 September

    • calendar_month Minggu, 31 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Piru,Tajukmaluku.com-Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Seram Bagian Barat (SBB) akan menggelar aksi demonstrasi pada Senin, 1 September 2025. Aksi ini beriringan dengan gelombang protes di Jakarta beberapa waktu lalu, namun HMI SBB lebih menekankan pada persoalan-persoalan lokal yang dinilai mencederai pembangunan daerah. Ketua Umum HMI Cabang SBB, Abdul Rahman Rahayaan, menyorot manuver DPRD SBB yang […]

  • Terboson Tingkatkan Industri, PLN Maluku-Malut Nyalakan 690 Ribu VA dan 345 Ribu VAPPI Morotai

    Terboson Tingkatkan Industri, PLN Maluku-Malut Nyalakan 690 Ribu VA dan 345 Ribu VAPPI Morotai

    • calendar_month Sabtu, 31 Agt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Dukung Pertumbuhan Industri Perikanan, PLN UP3 Tobelo Lakukan Penyalaan Pelanggan Baru 690.000 VA dan Penambahan Daya 345.000 VA PPI Daeo Majiko Morotai.*** Tobelo, Tajukmaluku.com– PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) terus berupaya memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan di setiap wilayah kerjanya. Kali ini, dibawah kepemimpinan Awat Tuhuloula, dua terobosan […]

  • Peduli Pendidikan Maluku, PLN dan FCT Bangun Kelas Baru untuk SMPN 1 SBB.

    Peduli Pendidikan Maluku, PLN dan FCT Bangun Kelas Baru untuk SMPN 1 SBB.

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Piru,Tajukmaluku.com-Komitmen terhadap pembangunan sumber daya manusia kembali ditunjukkan oleh Febry Calvin Tetelepta (FCT) melalui kolaborasinya dengan PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU). FCT bersama PLN meresmikan tiga ruang kelas baru di SMP Negeri 1, Kota Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat. Selasa (17/6/2025). Bagi FCT, momen tersebut bukan sekadar seremoni. […]

expand_less