Breaking News
light_mode

36 Tahun Tanpa Putra Maluku di Kabinet: Diskriminasi Terstruktur atau Pengabaian Sistematis?

  • account_circle Admin
  • calendar_month Minggu, 20 Okt 2024
  • visibility 235
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Aldin Keliangin

Sudah lebih dari tiga dekade, tepatnya 36 tahun, Republik Indonesia tidak pernah memasukkan putra-putri Maluku ke dalam kabinet. Setiap kali reshuffle diumumkan, setiap kali Kabinet Indonesia dibentuk, wajah-wajah dari Timur selalu absen dari posisi penting yang menentukan arah kebijakan bangsa. Maluku, yang dikenal dengan kekayaan sejarah, budaya, dan sumber daya alam, seolah-olah dilupakan dari percaturan politik nasional.

Sebuah catatan yang menyakitkan, bahkan lebih ironi ketika kita melihat kontribusi besar Maluku dalam sejarah bangsa ini. Namun dalam setiap pengumuman kabinet, baik dalam era reformasi hingga Kabinet Indonesia Maju di bawah Prabowo-Gibran, wajah putra Maluku seakan tidak pernah terpampang di kursi-kursi elite kekuasaan.

Apakah Maluku Tidak Berhak Mendapat Tempat di Kabinet?

Pertanyaan yang terus mengemuka dalam benak masyarakat Maluku: apakah kami tidak berhak untuk mendapat tempat di kabinet? Apakah kemampuan putra-putri Maluku dianggap rendah? Atau ini sekadar cerminan dari diskriminasi struktural yang terus-menerus mengisolasi Maluku dari pusat kekuasaan?

Maluku, yang dikenal dengan kekayaan sejarah, budaya, dan sumber daya alam, seolah-olah dilupakan dari percaturan Elite politik nasional.

Setiap kali pergantian kabinet terjadi, janji perubahan dan representasi daerah selalu dilontarkan, tetapi hasilnya? Nihil. Putra Maluku seakan-akan menjadi warga kelas dua di negeri sendiri, dikesampingkan dan diabaikan dalam proses pengambilan keputusan yang penting bagi bangsa ini.

Maluku bukan sekadar wilayah geografis di timur Indonesia, melainkan bagian integral dari sejarah perjuangan bangsa. Peran Maluku dalam mempertahankan kemerdekaan, mengamankan perbatasan negara, dan kontribusi di berbagai bidang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun mengapa selama 36 tahun, tidak ada satu pun putra Maluku yang dipercaya untuk duduk di kursi kabinet? Hal ini menyiratkan bahwa masih ada diskriminasi nyata dalam representasi daerah, khususnya dari wilayah timur Indonesia.

Apa yang Salah dengan Pusat Kekuasaan?

Ketika Jakarta dan pusat kekuasaan lainnya terus mendominasi percaturan politik nasional, daerah-daerah seperti Maluku terpinggirkan. Ini bukan sekadar masalah representasi politik, tetapi juga soal pengakuan terhadap kontribusi dan hak setiap daerah. Bagaimana mungkin Maluku, dengan segala kekayaan sumber daya dan potensinya, tidak pernah dianggap layak memiliki perwakilan di kabinet? Ini adalah penghinaan terhadap kemampuan dan keberadaan putra-putri Maluku yang telah berjuang dan berdedikasi bagi negara.

Pemerintahan yang sehat adalah pemerintahan yang inklusif, yang mampu merangkul seluruh wilayah Indonesia secara adil dan setara. Lebih dari tiga dekade, kabinet-kabinet yang terbentuk seolah-olah hanya milik segelintir elit di Jakarta dan Jawa. Seharusnya, kepemimpinan nasional tidak hanya ditentukan oleh satu pulau atau satu kelompok etnis saja. Maluku, dengan sejarah panjangnya sebagai salah satu wilayah pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia ini, layak mendapatkan tempat di kancah nasional.

Kabinet Indonesia Maju: Retorika Kosong atau Perubahan Nyata?

Kini, di era Kabinet Indonesia Maju yang dipimpin oleh Prabowo-Gibran, kita kembali menantikan apakah perubahan yang dijanjikan hanya akan menjadi sekadar retorika kosong atau benar-benar menghadirkan perwakilan yang merata dari seluruh penjuru negeri. Mengusung nama “Indonesia Maju,” kabinet ini seharusnya menyadari bahwa kemajuan tidak hanya bisa dicapai dengan segelintir pemimpin dari satu wilayah. Indonesia hanya akan benar-benar maju jika setiap daerah, termasuk Maluku, diberi kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pemerintahan.

Jika Prabowo dan Gibran ingin mencatat sejarah sebagai pemimpin yang mempersatukan dan memperkuat seluruh wilayah Indonesia, maka sudah saatnya mereka melibatkan putra-putri Maluku dalam kabinet mereka. Tidak cukup hanya mendengar aspirasi dari Jakarta dan Jawa, mereka harus mendengar suara dari timur, suara yang sudah terlalu lama dibungkam dan diabaikan. Pengabaian ini hanya akan semakin memperlebar jurang ketidakadilan dan kesenjangan antara pusat dan daerah, yang pada akhirnya akan melemahkan kesatuan bangsa.

Bagaimana Jika Maluku Merdeka?

Dengan segala ketidakadilan yang terjadi, bukan tidak mungkin gagasan kemerdekaan Maluku akan kembali mencuat di kalangan masyarakat. Jika selama 36 tahun Maluku terus diabaikan, apakah artinya kami tidak dihargai sebagai bagian dari Indonesia? Bagaimana mungkin kami diminta setia pada negara yang tidak pernah memberikan ruang bagi kami dalam pengambilan keputusan penting?

Gagasan kemerdekaan memang bukan solusi yang sederhana, tetapi ini adalah konsekuensi logis dari ketidakadilan yang terus-menerus dialami. Jika pemerintah pusat terus menutup mata terhadap kebutuhan dan aspirasi Maluku, maka jangan heran jika wacana pemisahan diri semakin menggema. Maluku memiliki potensi besar untuk mandiri, dengan kekayaan alam yang melimpah dan posisi strategis di jalur perdagangan internasional. Jika kami tidak dianggap penting di Indonesia, mengapa kami tidak mencoba untuk menentukan nasib sendiri?

Waktunya Tindakan Nyata, Bukan Janji-janji Kosong

Sudah saatnya pemerintah pusat berhenti menganggap enteng aspirasi dari Maluku. Bukan hanya soal representasi di kabinet, tetapi juga soal keadilan dan kesetaraan dalam seluruh aspek pembangunan nasional. Jika pemerintah pusat ingin menjaga persatuan dan keutuhan Indonesia, maka mereka harus segera memperbaiki ketidakadilan ini. Maluku dan daerah-daerah lainnya berhak mendapatkan tempat yang layak di kancah nasional, bukan sekadar menjadi penonton dari pinggiran.

Prabowo dan Gibran memiliki kesempatan emas untuk mencatatkan diri mereka dalam sejarah sebagai pemimpin yang benar-benar mewakili seluruh bangsa. Namun jika mereka gagal menyadari pentingnya perwakilan dari Maluku, maka mereka hanya akan melanjutkan siklus diskriminasi dan pengabaian yang sudah berjalan selama 36 tahun. Kita tidak butuh lagi janji-janji kosong, kita butuh tindakan nyata. Maluku harus mendapatkan tempat di kabinet, atau kita akan terus bertanya: Apakah kita masih dianggap sebagai bagian dari Indonesia?

Penulis adalah Aktivis Muda Maluku

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Alhidayat Wajo Soroti Kebijakan KKP Terkait Program PIT di Laut Arafura

    Alhidayat Wajo Soroti Kebijakan KKP Terkait Program PIT di Laut Arafura

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota Komisi II DPRD Maluku dari Fraksi PDI Perjuangan, saat menyoroti kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait Program Penangkapan Ikan Terukur (PIT) dan praktik alih muatan (transhipment) di Laut Arafura. Dalam forum penyampaian aspirasi daerah kepada pemerintah pusat, Alhidayat secara keras mendesak agar kebijakan transhipment di wilayah perairan Maluku segera dicabut. Ia menilai, kebijakan […]

  • DPR RI Usul Penggunaan AI Untuk Analisis Penyakit Pasien di Daerah

    DPR RI Usul Penggunaan AI Untuk Analisis Penyakit Pasien di Daerah

    • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tajukmaluku.com-Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh mengusulkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai salah satu solusi pendukung pelayanan kesehatan di tengah masih terbatasnya jumlah dokter di berbagai daerah. Usulan tersebut disampaikan dalam rapat kerja Komisi IX DPR RI bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (25/6/2026). […]

  • Audiensi dengan Komisi III DPRD, KNPI Maluku Minta Pengawalan Dana Pinjaman SMI Rp1,5 Triliun

    Audiensi dengan Komisi III DPRD, KNPI Maluku Minta Pengawalan Dana Pinjaman SMI Rp1,5 Triliun

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-DPD KNPI Maluku meminta adanya pengawalan ketat terkait alokasi dana pinjaman PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Rp 1,5 triliun yang difokuskan pada pembangunan infrastruktur. Itu disampaikan dalam audiensi bersama Ketua Komisi III DPRD Maluku, Alhidayat Wadjo, Senin (1/12/2025). Ketua KNPI Maluku, Arman Kalean, menegaskan bahwa Komisi III perlu melakukan pengawasan ketat terhadap proses pembahasan Ranperda […]

  • Ramadan 1447 Hijriah, Alhidayat Wajo Salurkan Bantuan Buku di Siri Sori Islam Saparua

    Ramadan 1447 Hijriah, Alhidayat Wajo Salurkan Bantuan Buku di Siri Sori Islam Saparua

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Momentum Ramadhan 1447 Hijriah dimanfaatkan Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Alhidayat Wajo, untuk berbagi kepedulian terhadap dunia pendidikan. Legislator asal Daerah Pemilihan Maluku Tengah itu menyalurkan bantuan buku tulis bagi siswa Sekolah Dasar di Negeri Siri Sori Islam, Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Kegiatan sosial yang berlangsung di wilayah administratif Kabupaten Maluku Tengah tersebut […]

  • Debat Perdana Pilgub Maluku 2024: Tiga Paslon Bertarung Gagasan untuk Wujudkan Maluku Berdaya Saing dan Berbudaya

    Debat Perdana Pilgub Maluku 2024: Tiga Paslon Bertarung Gagasan untuk Wujudkan Maluku Berdaya Saing dan Berbudaya

    • calendar_month Minggu, 27 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Maluku sukses menggelar Debat Pertama Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Tahun 2024, Sabtu (27/10/2024). Acara yang digelar di Ballroom The Natsepa Hotel ini disiarkan langsung oleh TRANSTV pukul 10.00 WIT dan dapat diakses melalui live streaming di kanal resmi YouTube KPU Provinsi Maluku. Debat perdana ini mengusung tema “Akselerasi […]

  • KNPI Maluku Soroti Keterpurukan Infrastruktur Jalan di Kota Ambon yang Dinilai Buruk

    KNPI Maluku Soroti Keterpurukan Infrastruktur Jalan di Kota Ambon yang Dinilai Buruk

    • calendar_month Sabtu, 18 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-KNPI Provinsi Maluku menyoroti keterpurukan infrastruktur jalan di Kota Ambon yang dinilai saat ini dalam kondisi buruk. Hal itu disampaikan Wasekbid Hukum dan HAM KNPI Maluku, Fahrudin Rahakbauw melalui pers rilis yang diterima Tajukmaluku.com, Sabtu (18/10/2025). “Infrastruktur jalan yang buruk di Maluku, khususnya di Kota Ambon, wilayah Kebun Cengkeh dan Stain, merupakan masalah serius yang […]

expand_less