Breaking News
light_mode

Dari Pingitan ke Peradaban: Kartini dalam Dua Wajah

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 18 Apr 2025
  • visibility 454
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Olivia Ch. Salampessy

Wakil Ketua Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan)

Sambil menikmati hangatnya teh hijau di pagi hari, saya menyempatkan diri membaca lembar demi lembar buku R.A. Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang – Door Duisternis Tot Licht, yang berisi surat-surat beliau.

Membayangkan Kartini, seorang gadis remaja di usia dua belas tahun harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia luar. Tidak lagi pergi ke sekolah. Ia dikurung di rumah, dipingit oleh adat yang tak bisa dibantah.

Dari ruang kamarnya yang sepi, ia menghadirkan surat-surat yang lahir dari keresahan, diantaranya kepada Stella Zeehandelaar, Nyonya Rosa Abendanon, Nyonya Nellie van Kohl, Nyonya M.C. E. Ovink-Soer, juga Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya.

Keresahan atas kesempatan yang tidak didapatkan perempuan di negerinya, sebagaimana cerita-cerita tentang perempuan di negeri jauh yang bisa bebas memilih jalan hidupnya. Keresahan atas adat yang begitu keras pada mereka yang hanya ingin belajar. Begitu kritis dan peka terhadap kondisi saat itu yang penuh ketidakadilan bagi perempuan.

Surat-suratnya yang melampaui tembok rumahnya, melintasi samudera, sampai ke tangan orang-orang yang terkejut karena seorang gadis Jawa bicara tentang kesetaraan, pendidikan dan masa depan bangsanya.

Surat-suratnya adalah panggungnya, yang walaupun tanpa mikrofon dan kerumunan yang bersorak, mampu membakar diam-diam. Bicara tentang perempuan sebagai fondasi peradaban dan pentingnya pendidikan bagi semua perempuan, bukan hanya untuk perempuan bangsawan saja.

…Kami memohon dengan sangat supaya disini diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan. Bukanlah karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan menjadi saingan orang laki-laki, melainkan karena kami yakin akan pengaruh besar yang mungkin datang dari kaum perempuan…Pekerjaan memajukan peradaban itu haruslah diserahkan kepada kaum perempuan. Dengan demikian maka peradaban itu akan meluas dengan cepat dalam kalangan bangsa Jawa. Ciptakanlah ibu-ibu yang cakap serta berpikiran maju, maka tanah Jawa pasti akan mendapat pekerja yang tangkas. Peradaban dan kepandaiannya akan diturunkannya kepada anak-anaknya. Anak-anak perempuannya akan menjadi ibu pula, sedangkan anak-anak yang laki-laki kelak pasti akan menjadi penjaga kepentingan bangsanya. (Surat kepada Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

Sepenggal surat Kartini di atas, menguatkan saya, begitu pentingnya pendidikan bagi perempuan. Ini adalah senjata pamungkas Kartini dalam membangunkan bangsa Jawa yang tertidur lelap oleh kungkungan adat. Pemikiran Kartini menginspirasi lahirnya gerakan-gerakan pendidikan, organisasi perempuan dan bahkan sebagai cikal bakal nasionalisme.

Kartini menjadi tokoh berwajah epik, yang melampaui zamannya. Di sisi lain, Kartini menampilkan wajah yang menyimpan luka, menjalani poligami yang tidak disukainya karena bakti dan cintanya kepada sang ayah. Yang tidak sempat melihat dan mengecap buah perjuangannya. Dua wajah yang saling melengkapi, yang hidup di antara harapan dan keterpaksaan.

Menyeruput teh hijau yang mulai dingin dengan rasa pahit yang lebih kuat, terlintas tampilan anak-anak perempuan, para gadis dan ibu-ibu berkebaya sambil menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, sebuah tradisi setiap tanggal 21 April.

Bersukacita disaat nilai-nilai kesetaraan, keadilan dan kemajuan bagi perempuan yang diperjuangkan Kartini, masih menjadi pekerjaan rumah yang belum dituntaskan selama seratus dua puluh dua tahun. Berbagai bentuk kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan masih terus terjadi. Kekerasan seksual marak terjadi di ruang-ruang pendidikan dengan aktor orang-orang terdidik, yang seharusnya melindungi.

Perjuangan Kartini masih harus dilanjutkan dengan meyakini bahwa perubahan besar dapat dimulai dari ruang terkecil, dari kamar sunyi dengan secarik kertas dan berbagai pertanyaan, sebagaimana dilakukan Kartini. Walaupun dalam pingitan tetap bisa menyalakan cahaya. Dunia boleh mengurungmu, tapi jangan biarkan pikiranmu ikut terkunci.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • BEM Nusantara Maluku Sebut Tudingan Terhadap JMS Tak Berdasar, Maluku Butuh Investasi dari Anak Daerah

    BEM Nusantara Maluku Sebut Tudingan Terhadap JMS Tak Berdasar, Maluku Butuh Investasi dari Anak Daerah

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Maluku menyatakan tuduhan dugaan suap terhadap Jaqueline Margareth Sahetapy tidak memiliki dasar hukum yang jelas dan tidak didukung bukti yang terverifikasi. Koordinator BEM Nusantara Maluku, Adam R. Rahantan, menegaskan informasi yang beredar tidak melalui proses verifikasi yang memadai. Ia menilai pola penyebaran tuduhan seperti ini berbahaya karena merusak reputasi individu […]

  • Antara Hak Leluhur dan Hasrat Kapital: Masyarakat Adat Maluku di Tengah Arus Ekonomi Ekstraktif

    Antara Hak Leluhur dan Hasrat Kapital: Masyarakat Adat Maluku di Tengah Arus Ekonomi Ekstraktif

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Di antara gemericik emas (mutiara) dan gemuruh mesin tambang yang menggerus perut bumi Maluku, tersembunyi sebuah paradoks zaman: bagaimana masyarakat adat yang selama ribuan tahun menjadi penjaga keseimbangan alam kini terpojok sebagai penonton di tanahnya sendiri? Sejak abad ke-16, Maluku telah menjadi medan perang antara perlindungan hak dan ekspansi kapital. Dulu, Portugis dan VOC membantai […]

  • Desentralisasi Tergerus, Senator Bisri Ingatkan Ancaman bagi NKRI

    Desentralisasi Tergerus, Senator Bisri Ingatkan Ancaman bagi NKRI

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Anggota Komite I Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Bisri As Shiddiq Latuconsina, menilai semangat desentralisasi yang lahir dari Reformasi kian melemah dalam satu dekade terakhir. Pelemahan itu, kata dia, bukan sekadar persoalan teknis pemerintahan, melainkan berpotensi membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Saya mohon maaf tidak menjustifikasi siapapun juga, tapi dalam 10 tahun terakhir ini […]

  • PLN UP3 Saumlaki Sambut Kunjungan Bupati Jauwerissa, Sinergi Hadirkan Listrik Berkualitas di KKT

    PLN UP3 Saumlaki Sambut Kunjungan Bupati Jauwerissa, Sinergi Hadirkan Listrik Berkualitas di KKT

    • calendar_month Rabu, 7 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Saumlaki,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) terus bersinergi dengan pemerintah daerah di wilayah kerjanya. Hal ini terus dilakukan PLN UIW MMU sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pembangunan daerah dan memastikan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat. Kunjungan demi kunjungan pun dilakukan. Kali ini, di kantor Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Saumlaki, PLN […]

  • Konsisten, PLN UIW MMU Hadirkan Listrik di Desa Kumo, Wujudkan Pemerataan Energi di Wilayah Kepulauan Maluku Utara

    Konsisten, PLN UIW MMU Hadirkan Listrik di Desa Kumo, Wujudkan Pemerataan Energi di Wilayah Kepulauan Maluku Utara

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tobelo,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan akses listrik yang merata hingga ke wilayah terluar dan kepulauan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui keberhasilan penyalaan listrik di Desa Kumo, Pulau Kumo, Kabupaten Halmahera Utara. Penyalaan listrik ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara PLN UP3 Tobelo dan PLN UP2K Maluku […]

  • Bos Jakarta Baru Diduga Tipu Pembeli, Uang Diterima, Sertifikat Tanah Tak Kunjung Datang

    Bos Jakarta Baru Diduga Tipu Pembeli, Uang Diterima, Sertifikat Tanah Tak Kunjung Datang

    • calendar_month Selasa, 8 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Uang senilai Rp.100.000.000 telah diterima Johny Sutjajo, bos PT. Jakarta Baru. Ironisnya IA yang membeli sebidang tanah di kawasan Air Kuning Desa Batu Merah sampai saat ini belum juga menerima sertifikat tanah yang dijanjikan. Transaksi jual beli tanah ini terjadi pada 21 Maret 2022, waktu itu IA menyerahkan uang sebesar Rp.50 juta untuk biaya panjar […]

expand_less