Melihat H.O.S. Tjokroaminoto Dari Sahabat A.M Sangadji
- account_circle Admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 7
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tajukmaluku.com-Melalui narasi yang dihidupkan kembali oleh Muhammad Kamil Mony, pandangan Abdoel Moethalib Sangadji ( Jago Toea) terhadap HOS Tjokroaminoto mencerminkan aliansi ideologis yang kuat antara tokoh Jawa dan pejuang asal Maluku dalam Sarekat Islam.
Sangadji melihat Tjokroaminoto bukan sekadar pemimpin, melainkan mentor, sahabat karib, serta “Guru Bangsa” yang menyatukan pergerakan nasional tanpa sekat kesukuan.
Kedekatan ini turut membentuk corak perjuangan Sangadji yang mengombinasikan aksi politik dengan pendidikan rakyat. Perspektif ini menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun atas dasar persatuan dan rajutan pemikiran lintas wilayah.
Dalam lanskap sejarah pergerakan nasional Indonesia, relasi antar-tokoh sering kali hanya dilihat dari kacamata politik formal yang kaku. Namun, jika kita menyelami lebih dalam melalui kacamata pengamat dan pemikir kontemporer seperti Muhammad Kamil Mony, kita akan menemukan sebuah dimensi kemanusiaan yang sangat kaya, sublim, dan bernas di balik kokohnya fondasi Sarekat Islam (SI).
Salah satu faset paling menarik yang sering diulas adalah bagaimana Abdoel Moethalib (A.M.) Sangadji singa podium asal Maluku yang dijuluki “Jago Toea” melihat, memaknai, dan menempatkan sosok Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto dalam hidup dan perjuangannya.
Melalui narasi yang dibangun oleh Muhammad Kamil Mony, hubungan antara Tjokroaminoto dan A.M. Sangadji bukanlah sekadar relasi antara ketua umum dan pengurus di dalam partai.
Hubungan ini adalah kristalisasi dari persahabatan ideologis, ikatan kultural yang melampaui batas geografis, serta pertautan jiwa antara dua singa pergerakan yang saling mengagumi dan melengkapi.
Dalam pandangan Muhammad Kamil Mony, salah satu poin krusial yang ditangkap oleh A.M. Sangadji dari sosok Tjokroaminoto adalah kemampuannya menjadi magnet persatuan.
Pada awal abad ke-20, hambatan terbesar dari pergerakan di Hindia Belanda adalah sifatnya yang masih kedaerahan (provinsialistik). Sebagai seorang putra Maluku (dari Negeri Rohomoni, Pulau Haruku) yang merantau ke Jawa, Sangadji tentu merasakan betul bagaimana sekat-sekat etnisitas kerap membatasi ruang gerak perjuangan.
Namun, di mata Sangadji, Tjokroaminoto adalah figur yang berhasil mendobrak tembok pembatas tersebut. Melalui Sarekat Islam, Tjokroaminoto mampu mengubah sentimen keagamaan dan kebangsaan menjadi bahan bakar nasionalisme yang inklusif.
Kamil Mony menggarisbawahi bahwa Sangadji melihat Tjokroaminoto bukan sebagai “pemimpin orang Jawa”, melainkan sebagai pemimpin bangsa yang melintasi batas-batas pulau. Kehadiran Sangadji di lingkaran utama Tjokroaminoto (bahkan kemudian dipercaya menjadi salah satu petinggi CSI/Centraal Sarekat Islam) kemudian terpilih secara demokratis sebagai Presiden Partai PSII tahun 1930 menggantikan Tjokrominoto sahabat saudara separtai yang kerap disapa dengan sebutan “Broer” adalah bukti nyata betapa Tjokroaminoto menghargai dan merangkul potensi intelektual dan militansi dari wilayah Timur Nusantara.
Bagi Sangadji, Tjokroaminoto adalah simbol bahwa Indonesia masa depan adalah milik bersama, dari ujung barat hingga ujung timur.
A.M. Sangadji dikenal dalam sejarah sebagai orator ulung yang mampu membakar semangat ribuan massa dengan suaranya yang menggelegar dan pilihan katanya yang tajam. Namun, di balik keandalannya di atas podium, Sangadji menaruh hormat yang luar biasa pada kemampuan retorika Tjokroaminoto.
Muhammad Kamil Mony menggambarkan bahwa dalam refleksi sejarahnya, Sangadji memandang Tjokroaminoto sebagai guru sejati dalam seni komunikasi politik rakyat. Tjokroaminoto bukan sekadar berpidato untuk pamer intelektualitas; ia berpidato untuk menyuntikkan kesadaran hukum, harga diri, dan keberanian kepada rakyat jelata yang selama berabad-abad ditundukkan oleh kolonialisme.
Sangadji menyerap “gaya satria” Tjokroamino cara Tjokroaminoto menatap mata massa, mempermainkan intonasi, dan menyederhanakan konsep-konsep politik yang rumit agar dipahami oleh kaum buruh dan petani. Bagi Sangadji, Tjokroaminoto adalah “Raja Tanpa Mahkota” yang kekuasaannya tidak bersumber dari dekrit kolonial, melainkan dari cinta dan kepatuhan sukarela rakyat yang mendengarkan suaranya.
Perjuangan di era SI bukanlah jalan bertabur bunga, melainkan jalan sunyi yang penuh dengan ancaman penjara, pengasingan, dan kesulitan finansial. Di sinilah letak keindahan hubungan mereka yang disorot oleh Kamil Mony: kesetiaan di masa-masa sulit.
Ketika Sarekat Islam mulai digoyang oleh infiltrasi ideologi kiri (Semaun dan kawan-kawan yang kelak membentuk SI Merah/PKI), Tjokroaminoto menghadapi tekanan batin dan politik yang luar biasa hebat. Di saat banyak pihak mulai meragukan arah kebijakan Tjokroaminoto, A.M. Sangadji berdiri pasang badan sebagai benteng pertahanan ideologis di sisi sahabatnya.
Sangadji melihat keteguhan Tjokroaminoto untuk tetap menjaga asas Islam dan Kebangsaan sebagai prinsip yang tidak bisa ditawar. Kedekatan mereka bukan sekadar urusan rapat-rapat formal di kantor SI, melainkan obrolan mendalam di ruang tamu rumah Tjokroaminoto di Peneleh, Surabaya—tempat di mana ide-ide besar diperdebatkan dan nasib bangsa ini dirumuskan bersama para pemuda seperti Sukarno.
Hal lain yang sangat dikagumi Sangadji dari Tjokroaminoto dan kerap ditekankan oleh Muhammad Kamil Mony dalam ulasannya adalah visi Tjokroaminoto mengenai pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui jalur pendidikan mandiri. Konsep Zelfbestuur (pemerintahan sendiri) yang didengungkan Tjokroaminoto tidak akan bermakna tanpa rakyat yang terdidik.
Terinspirasi oleh gerakan kedaulatan berpikir yang diajarkan Tjokroaminoto, A.M. Sangadji di kemudian hari mendirikan institusi pendidikan seperti Balai Pendidikan di Maluku dan Kalimantan dan berbagai tempat lainnya. Sangadji mempraktikkan langsung apa yang ia lihat dari sang sahabat: bahwa melawan kolonialisme tidak cukup hanya dengan otot dan demonstrasi, tetapi harus dengan mencetak kader-kader bangsa yang memiliki kedalaman ilmu dan keteguhan iman.
Kamil Mony mengkritik kecenderungan penulisan sejarah nasional yang kerap terjebak dalam pusaran sentralisme geografis. Menuntut gelar Pahlawan Nasional untuk A.M. Sangadji bukanlah bentuk memohon belas kasihan atau sekadar formalitas birokrasi, melainkan sebuah restrukturisasi keadilan
Negara harus mengakui secara jujur bahwa denyut nadi kemerdekaan Indonesia dibidani oleh pertautan keringat dan darah tokoh antarpulau di mana seorang putra Maluku berdiri kokoh di ring satu kepemimpinan Sarekat Islam di tanah Jawa. •
Menolak atau menunda pengakuan terhadap Jago Toea berarti mengaburkan peran vital masyarakat Indonesia Timur dalam merajut tenun kebangsaan purba. Kamil Mony menegaskan bahwa tanpa keteguhan Sangadji menjaga benteng ideologi Islam Nasionalis bersama Tjokroaminoto, peta politik pergerakan pra-kemerdekaan akan pincang. Pengakuan negara adalah cara melunasi “utang budi” sejarah kepada kepeloporan Maluku.
Narasi ini digulirkan bukan untuk romantisasi masa lalu, melainkan sebagai kompas moral bagi masa depan. Keadilan sejarah yang diperjuangkan bertujuan agar generasi baru Maluku dan Indonesia secara luas tidak kehilangan akar keteladanan. Bahwa dari pulau sekecil Haruku, pernah lahir seorang pemikir besar yang mampu menjadi jangkar bagi gerakan massa terbesar di Nusantara pada masanya.
Melalui penegasan Kamil Mony, kita disadarkan bahwa merawat ingatan atas relasi Tjokroaminoto dan A.M. Sangadji bukan sekadar membaca arsip lama. Ini adalah sebuah upaya penting untuk mengembalikan hak sejarah yang dirampas oleh waktu dan kelalaian struktural, demi utuhnya martabat sebuah bangsa yang besar.*(01-F)
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar