Hadiri Silaknas, ICMI Ambon Ungkap Reposisi Organisasi di Tengah Turbulensi Politik dan Ekonomi Nasional
- account_circle Admin
- calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
- visibility 67
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com-Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menggelar Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) di Bali, Jumat (5/12/2025) hingga Minggu (7/12/2025).
Kegiatan ini diikuti sekitar 700 peserta pengurus dari seluruh provinsi di Indonesia yang memadati Four Points by Sheraton, Kuta. Tujuan dari Silaknas kali ini untuk melaporkan capaian program, menguji relevansi gagasan, dan membicarakan arah baru ICMI kedepan.
Saat dihubungi Tajukmaluku.com, Ketua ICMI Kota Ambon, Dr. A. Manaf Tubaka menyampaikan soal reposisi organisasi di tengah turbulensi politik dan ekonomi nasional.
“Penting untuk melakukan reposisi dan konsolidasi peran ICMI sebagai gerakan sosial ekonomi, politik, dan kebudayaan dalam membangun umat di era digital,” kata Tubaka, Sabtu (6/12/2025).
“ICMI sebagai kekuatan berhimpun kaum cendekiawan dari berbagai latar belakang profesi harus merespon dinamika kehidupan berbangsa melalui isu pelayanan publik, korupsi, dan ruang partisipasi masyarakat terkait isu lingkungan. Semua itu mesti dirumuskan menjadi kebijakan publik yang berbasis iman, ilmu, dan amal,” tambah Akademisi UIN Amsa Ambon itu.
Di tengah euforia pergantian kepengurusan, Silaknas Bali bukan sekadar rutinitas tahunan. Forum ini memperlihatkan satu kebutuhan mendasar yakni ICMI harus kembali memainkan peran strategis sebagai laboratorium gagasan, menjadi wadah intelektual yang bisa terimplemntasi dengan aksi nyata.
Di era digital yang kian gaduh, organisasi ini dituntut hadir sebagai corong cendekia yang harus tajam, substantif, dan berakar pada kepentingan publik. Diketahui, Silaknas akan berlanjut dengan agenda finalisasi rekomendasi nasional serta pembacaan laporan akhir kepengurusan.
Silaknas tahun ini juga menjadi penanda berakhirnya masa bakti pengurus pusat di bawah nakhoda Prof. Dr. Arif Satria. Mantan Rektor IPB yang kini memimpin Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menutup hampir setengah dekade dinamika organisasi dengan warisan pemikiran soal sains, inovasi, dan kontribusi cendekiawan dalam ruang publik.* (01-F)
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar