Sah, A.M. Sangadji Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
- account_circle Admin
- calendar_month 2 menit yang lalu
- visibility 4
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com– Tokoh pergerakan asal Maluku, Abdoel Moethalib Sangadji (A.M Sangadji) resmi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Gelar tersebut akan dianugerahkan pada 10 November 2026.
Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku, Afandi Hassanusi, saat dikonfirmasi redaksi tajukmaluku.com membenarkan penetapan tersebut.
Ia mengatakan Pemerintah Provinsi Maluku telah menerima surat dari Kementerian Sosial yang memberitahukan jadwal penganugerahan gelar itu.
“Tadi kami sudah menerima surat dari Kementerian Sosial. Dalam surat itu disampaikan bahwa A.M. Sangadji telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional dan penganugerahannya akan dilaksanakan pada 10 November 2026,” kata Afandi, Sabtu (7/11/2026).
Ia menyampaikan rasa syukur atas penetapan tersebut dan mengapresiasi dukungan berbagai pihak.
“Alhamdulillah, atas doa dan dukungan Bapak Gubernur, Wakil Gubernur, serta seluruh masyarakat Maluku kini tokoh kita A.M Sangadji ditetapkan sebagai pahlawan nasiona. Ini menjadi kebanggaan bagi Maluku sekaligus pengingat agar perjuangan dan keteladanan A.M. Sangadji terus dikenal, terutama oleh generasi muda,” ujarnya.
Riwayat Hidup A.M. Sangadji
Abdoel Moethalib Sangadji lahir di Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku Tengah, pada 3 Juni 1889. Ia meninggal di Yogyakarta pada 8 Mei 1949. Ia lebih dikenal dengan nama A.M. Sangadji dan dijuluki “Jago Toea” oleh koran Hindenburg Kalimantan dan S.K. Merdeka Solo. Ia dikenal sebagai pejuang perintis kemerdekaan Indonesia.
Sangadji berasal dari keluarga ningrat. Ayahnya, Abdul Wahab Sangadji, merupakan Reghent atau Raja Negeri Rohomoni. Ibunya, Siti Saad Pattisahusiwa, adalah putri Raja Negeri Siri-Sori Islam.
Setelah menyelesaikan sekolah, ia melanjutkan pendidikan di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Saparua. Selama bersekolah, ia tinggal di rumah keluarga ibunya, Raja Negeri Siri-Sori Islam. Setelah lulus dari HIS, ia melanjutkan pendidikan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Ambon.
Sangadji tidak meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada 1909, ia mulai bekerja sebagai juru tulis atau klerk di Kantor Pengadilan Saparua, bagian dari pemerintahan Hindia Belanda. Ia kemudian dipindahkan ke Karesidenan Ambon. Atas inisiatif sendiri, ia mengundurkan diri dan hijrah ke Surabaya pada 1919. Di kota itu, ia bekerja sebagai pegawai pamong Hindia Belanda dengan jabatan griffier atau panitera, dan tinggal di Landraad Surabaya selama kurang lebih tiga tahun.
Pada 1922, Sangadji melepaskan jabatannya dan bergabung dengan H.O.S. Tjokroaminoto serta Haji Agus Salim dalam Sarekat Islam (SI), sebuah wadah perjuangan kolektif pergerakan kebangsaan. Ia kerap menulis di surat kabar Oetoesan Hindia dan Fadjar Asia, yang dikelola Tjokroaminoto. Pada 1925, ia aktif memberikan pencerahan dan pendidikan politik kebangsaan di lingkungan JIB (Jong Islamieten Bond).
Bersama Tjokroaminoto dan Agus Salim, Sangadji turut mengambil bagian dalam perjalanan pergerakan dan pendidikan politik kebangsaan. Tokoh-tokoh lain yang disebut dalam riwayat hidupnya antara lain Mohammad Nasir, Mohammad Roem, A.R. Baswedan, serta banyak tokoh yang memperoleh pendidikan politik kebangsaan dari trio Sarekat Islam—Tjokro, Salim, dan Sangadji.
Saat itu, Sangadji tinggal di Gang Blauran Nomor 4, Surabaya. Sahabat karibnya, Tjokroaminoto, kerap menyapanya dengan sebutan “Broer” dan tinggal di Gang Peneleh Nomor 29, 30, dan 31, Surabaya. Rumah Peneleh menjadi tempat yang turut membentuk sejumlah pemimpin nasional. Soekarno, Semaun, Alimin, Musso, Tan Malaka, dan S.M. Kartosuwirjo pernah indekos di tempat tersebut.
Tahun 1928 menjadi tonggak penting bagi pergerakan pemuda kebangsaan. Dalam momentum yang dipelopori Sugondo Djojopuspito itu, Sangadji turut berperan aktif bersama puluhan perwakilan pemuda Indonesia dari berbagai penjuru tanah air.
Pemuda asal Maluku itu menjadi Peserta Utama Kongres Sumpah Pemuda 1928 di Jakarta. Bersama Johannes Leimena, yang juga berasal dari Ambon, ia didapuk menjadi panitia kongres.
Sangadji juga terlibat dalam Ambon Seileden (Sarekat Ambon), dengan Alexander Yacob Patty (A.Y. Patty) sebagai motor penggeraknya. Ia kemudian terpilih dalam Kongres PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia) untuk masa khidmat 1930–1936 sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah Partai. Tjokroaminoto menjabat sebagai Ketua Dewan Partai.
Dalam pengabdiannya kepada Republik Indonesia, Sangadji pernah menjabat Sekretaris Menteri Kehakiman pada Kabinet Amir Sjarifuddin, 11 November 1947–29 Januari 1948. Setelah itu, ia menjadi Penasihat Menteri Pertahanan Republik Indonesia pada Kabinet Mohammad Hatta, 29 Januari–wafat. Ia juga menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan Badan Pekerja KNIP (BP-KNIP).
Sangadji pernah menjadi Penasihat Delegasi Republik Indonesia bersama Sutan Sjahrir dalam perundingan dengan Belanda di atas kapal USS Renville pada akhir 1947. Ia turut menghadiri peringatan 40 tahun Hari Kebangunan Nasional—perayaan Hari Kebangkitan Nasional pertama—pada 20 Mei 1948 di Istana Agung Yogyakarta.
Dalam kiprah perjuangannya, Sangadji mendirikan Partai Penyadar bersama Agus Salim pada 1937. Ia kemudian menjadi Pimpinan Komite Anshar Al Islam untuk Kemerdekaan Palestina. Ia juga mendirikan BPPR (Balai Pengajaran dan Pendidikan Rakyat) di Samarinda serta memimpin Laskar Hizbullah yang berpusat di Yogyakarta. Dalam perjalanan perjuangannya, ia beberapa kali ditangkap dan ditawan oleh Jepang maupun Belanda.
Sangadji meninggal secara tragis setelah tewas tertembak di rumahnya oleh sekelompok orang yang berafiliasi dengan PKI pada 8 Mei 1949. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Jalan Blunyah Gede, Sinduhadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta.
Penetapan gelar Pahlawan Nasional menjadi pengakuan atas perjalanan panjang A.M. Sangadji dalam pergerakan kebangsaan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia.*(01-F)
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar