Breaking News
light_mode

Dari Tangan Perempuan, Peradaban Itu Bertumbuh

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
  • visibility 410
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Nadia Sarah Rumluan

Kadang peradaban tidak dimulai dari gedung yang tinggi, atau ruang rapat yang ramai. Ia justru tumbuh dari percakapan kecil antara dua perempuan yang saling mendengar—dari tangan-tangan yang tiap pagi menata hasil kebun dan laut di pasar: sayur, singkong, ikan, hingga sagu dan embal yang menjadi nadi dapur-dapur Maluku. Di sanalah hidup berdenyut. Di antara riuh tawar-menawar dan tawa anak-anak yang berlarian, perempuan menjaga keseharian agar tetap berjalan, menjaga martabat agar tak hilang ditelan perubahan.

Di waktu yang sama, ada pula perempuan yang bekerja di kantor, mendidik di sekolah, menyusun laporan, menandatangani keputusan. Semuanya terhubung dalam satu denyut yang sama: menyalakan kehidupan. Mereka bukan sekadar menyala—mereka menyalakan.

Peradaban, dalam makna yang paling lembut, bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling berdaya menumbuhkan kehidupan. Di sanalah perempuan dan pemuda menemukan panggilan zaman: bukan untuk memperebutkan panggung, tapi menata ulang cahaya. Dari yang semula menyilaukan, menjadi yang menghangatkan.

Dulu, perempuan sering dianggap sekadar pelengkap sejarah. Kini, narasi itu telah pecah. Mereka menulis sejarahnya sendiri—dengan pena, kerja, dan keberanian yang tak selalu diumumkan. Dalam tubuh KOPRI, semangat itu dirawat seperti api kecil di tengah angin: rapuh tapi tak pernah padam. Sebab, menjadi perempuan di ruang perjuangan bukan sekadar bertahan, tetapi menafsir ulang makna keberanian.

Kemandirian bukan lagi sekadar soal menjauh dari ketergantungan, melainkan kemampuan berdiri sembari tetap merangkul. Di banyak ruang, kader perempuan belajar menegakkan makna “berdaya”—bukan hanya dalam forum wacana, tetapi dalam hidup yang nyata. Mereka tidak sekadar berbicara tentang kesetaraan, melainkan menciptakan ruang aman, nyaman, dan berdaya tumbuh. Ruang di mana perempuan bisa menjadi manusia sepenuhnya, bukan sekadar peran yang diharapkan darinya.

Kemandirian itu juga tumbuh di tanah Maluku, tempat laut dan kebun bersua. Perempuan bangun sebelum fajar, menyiapkan ikan hasil tangkapan semalam, menumbuk embal, menjemur sagu, dan mengantar hasilnya ke pasar. Sebagian lain menulis laporan keuangan di kantor pemerintah, mengajar di sekolah, atau menjahit di rumah. Semua ini, tanpa mereka sadari, adalah bentuk peradaban yang paling dasar: peradaban kesetiaan, ketekunan, dan kasih yang melahirkan keberlangsungan.

KOPRI hadir bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan kultural yang membentuk kesadaran. Seperti ditegaskan Ketua Umum KOPRI PB PMII, Wulan Sari Aliyatus Solikhah, pemberdayaan perempuan tak boleh berhenti pada wacana. Ia harus menjelma dalam kebijakan dan tindakan—mewujud dalam ruang aman, kemandirian ekonomi, dan jejaring solidaritas lintas batas. Visi “KOPRI Berdaya dan Digdaya” bukan sekadar semboyan, tetapi janji pada kehidupan: perempuan yang berdaya bukan untuk berkuasa, tetapi untuk menyalakan peradaban.

Tugas KOPRI di Maluku tidak sederhana. Ia ditantang untuk menafsirkan visi itu di tanah yang kaya laut, hutan, dan keberagaman. Isu perempuan bukan hanya tentang representasi, tetapi juga tentang ketahanan ekonomi dan akses keadilan sosial. Bagaimana perempuan di pulau-pulau kecil tetap berdaya meski terbatas akses modal dan teknologi? Bagaimana ekonomi kreatif berbasis hasil bumi dan laut—sagu, ikan asap, minyak kayu putih, dan embal—bisa diolah dengan cara baru tanpa kehilangan nilai lokalnya? Di sinilah KOPRI Maluku mesti hadir dengan inovasi: membuka pelatihan wirausaha digital, koperasi kader, hingga ruang berbagi pengetahuan yang memerdekakan.

Bayangkan laut Maluku di pagi hari: perahu-perahu kecil berlayar membawa hasil tangkapan, ombak menepuk lembut lambung kayu, dan di tepi dermaga, perempuan menyiapkan dagangan. Ada yang menjemur ikan, ada yang menimbang, ada yang menunggu. Tapi dalam menunggu itu, mereka sedang membangun sesuatu—peradaban sabar, peradaban harap. Dari laut yang luas itu, kita belajar tentang keteguhan: bahwa perempuan tidak perlu berteriak untuk menegaskan kekuatannya. Ia cukup bekerja dengan cinta, dan dunia berubah karenanya.

KOPRI harus belajar dari laut: cair, lentur, namun dalam dan tegas. Di dalamnya, pemuda dan perempuan dapat saling menemukan arah—bukan untuk menegangkan perbedaan, tetapi untuk menenun kebersamaan. Gus Yahya pernah menyebut, peradaban Islam Nusantara tumbuh dari proses menyerap, mengolah, dan menebar kebaikan dalam konteks lokal. Maka, tafsir perempuan atas peradaban pun tak bisa dilepaskan dari tanah tempat ia berpijak. Di Maluku, tafsir itu lahir dari keberanian perempuan menafsir ulang perannya di antara ombak dan kebun, antara iman dan kerja, antara kasih dan keberdayaan.

Peradaban butuh dua hal: daya dan arah. Pemuda membawa daya, perempuan memberi arah. Tanpa arah, kekuatan hanya akan memecah; tanpa kekuatan, arah hanya menjadi cita-cita. Maka, dalam tubuh PMII dan KOPRI, pertemuan keduanya menjadi dialog tentang masa depan—bukan sekadar regenerasi organisasi, tetapi regenerasi nurani.

Zaman digital kini menuntut perempuan dan pemuda hadir di dua dunia: realitas sosial dan ruang digital. Mereka harus mampu membaca algoritma sekaligus membaca nurani masyarakatnya. Tantangan terbesar bukan hanya bersaing, tetapi menjaga empati di tengah derasnya arus pragmatisme. KOPRI tidak boleh hanya aktif di forum-forum diskusi; ia harus menjelma menjadi ruang aksi: dari pelatihan ekonomi kreatif berbasis hasil bumi, klinik advokasi bagi korban kekerasan, hingga gerakan literasi bagi remaja perempuan di pulau-pulau terpencil.

Sebab, pada akhirnya, peradaban memang bertumbuh dari tangan-tangan yang sederhana dari perempuan yang menumbuk sagu, dari pemuda yang menulis ide, dari mereka yang bekerja diam-diam menyalakan makna agar tak padam. Dan mungkin, di situlah letak makna terdalam dari menjadi pelopor peradaban: Bahwa dari tangan perempuan, peradaban itu bertumbuh.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tual Pertahankan WTP, Walikota Akhmad Yani Renuat Terima Penghargaan Kedua

    Tual Pertahankan WTP, Walikota Akhmad Yani Renuat Terima Penghargaan Kedua

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pemerintah Kota Tual kembali torehkan prestasi membanggakan dengan meraih predikat Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2024. Penghargaan tersebut diserahkan secara resmi oleh BPK RI Perwakilan Provinsi Maluku dalam sebuah seremoni di Ambon, Selasa (27/5/2025). Wali Kota Tual, H. Akhmad […]

  • Strategi Pemenuhan Tenaga Dokter di Provinsi Maluku: Upaya Mewujudkan Maluku Sehat yang Berkemajuan

    Strategi Pemenuhan Tenaga Dokter di Provinsi Maluku: Upaya Mewujudkan Maluku Sehat yang Berkemajuan

    • calendar_month Kamis, 12 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Oleh: dr. M. Saleh Tualeka, SpM.,M.Kes, (Ketua IDI Wilayah Maluku) Tajukmaluku.com-Kebutuhan penyediaan tenaga dokter baik dokter umum maupun dokter spesialis di Provinsi Maluku untuk mengisi fasilitas kesehatan baik yang primer (Puskesmas) maupun yang sekunder (Rumah Sakit) masih menjadi tantangan tersendiri, butuh komitmen yang kuat sebagai bentuk tanggungjawab pemerintah daerah untuk merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan […]

  • Pembangunan Proyek Kodam XV Pattimura di Sungai Waitomu Kini Dihentikan Sementara

    Pembangunan Proyek Kodam XV Pattimura di Sungai Waitomu Kini Dihentikan Sementara

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pangdam XV/Pattimura, Mayjen TNI Dody Triwinarto, memutuskan untuk hentikan sementara pembangunan jembatan di kawasan Sungai Wai Tomu, Kota Ambon. Keputusan tersebut disampaikan dalam Forum Group Discussion (FGD) tentang pengembangan dan pemanfaatan Sungai Wai Tomu yang digelar Kodam XV/Pattimura di Serambi Kehormatan Makodam, Ambon, Kamis (29/10/2026). Penghentian sementara ini merupakan tindak lanjut dari pembahasan bersama berbagai […]

  • Jaga Konektivitas Antar Pulau, DPRD Maluku Minta PD Panca Karya Segera Operasikan Kapal Bahtera Nusantara

    Jaga Konektivitas Antar Pulau, DPRD Maluku Minta PD Panca Karya Segera Operasikan Kapal Bahtera Nusantara

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Perusahaan Daerah (PD) Panca Karya diminta untuk segera mengoperasikan Kapal Bahtera Nusantara pada pertengahan Agustus 2026. Hal itu guna mendukung konektivitas transportasi laut antar pulau di Maluku dan pelayanan kepada masyarakat. Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Alhidayat Wajo mengatakan ,pengoperasian kapal tersebut tidak boleh kembali mengalami penundaan, karena sangat dibutuhkan. “Kami memberikan batas waktu, […]

  • KNPI Meminta Menteri Esdm Bahlil Lahadalia Soroti Distribusi BBM Di Kabupaten SBB

    KNPI Meminta Menteri Esdm Bahlil Lahadalia Soroti Distribusi BBM Di Kabupaten SBB

    • calendar_month Rabu, 22 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ketua Tim Investigasi DPD KNPI Seram Bagian Barat (SBB), Radhi Samal, menyorot adanya dugaan penyimpangan distribusi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di wilayah Seram Bagian Barat. Dalam rilisan yang diterima media ini, ia menegaskan bahwa pihaknya telah melayangkan surat resmi untuk audiensi dengan PT Pertamina Patra Niaga SHC&T Regional Papua Maluku guna membahas kelangkaan BBM […]

  • Bak Hukum Karma Berlaku, Sadali Ie Dikabarkan Lengser dari Kursi Sekda Maluku, Kasrul Selang Jabat Plt

    Bak Hukum Karma Berlaku, Sadali Ie Dikabarkan Lengser dari Kursi Sekda Maluku, Kasrul Selang Jabat Plt

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Sadali Ie dikabarkan telah lengser dari kursi Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Maluku, Selasa (25/11/2025). Alasan lengsernya Sadali dari jabatan strategis di dunia birokrat itu belum diketahui pasti. Namun kabarnya, Sadali saat ini sedang tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik lantaran sedang ada gangguan kesehatan. Kini, nama Kasrul Selang telah tercantum dalam SK Nomor 800.1.11.1/479 tanggal […]

expand_less