Breaking News
light_mode

Dari Tangan Perempuan, Peradaban Itu Bertumbuh

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
  • visibility 304
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Nadia Sarah Rumluan

Kadang peradaban tidak dimulai dari gedung yang tinggi, atau ruang rapat yang ramai. Ia justru tumbuh dari percakapan kecil antara dua perempuan yang saling mendengar—dari tangan-tangan yang tiap pagi menata hasil kebun dan laut di pasar: sayur, singkong, ikan, hingga sagu dan embal yang menjadi nadi dapur-dapur Maluku. Di sanalah hidup berdenyut. Di antara riuh tawar-menawar dan tawa anak-anak yang berlarian, perempuan menjaga keseharian agar tetap berjalan, menjaga martabat agar tak hilang ditelan perubahan.

Di waktu yang sama, ada pula perempuan yang bekerja di kantor, mendidik di sekolah, menyusun laporan, menandatangani keputusan. Semuanya terhubung dalam satu denyut yang sama: menyalakan kehidupan. Mereka bukan sekadar menyala—mereka menyalakan.

Peradaban, dalam makna yang paling lembut, bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling berdaya menumbuhkan kehidupan. Di sanalah perempuan dan pemuda menemukan panggilan zaman: bukan untuk memperebutkan panggung, tapi menata ulang cahaya. Dari yang semula menyilaukan, menjadi yang menghangatkan.

Dulu, perempuan sering dianggap sekadar pelengkap sejarah. Kini, narasi itu telah pecah. Mereka menulis sejarahnya sendiri—dengan pena, kerja, dan keberanian yang tak selalu diumumkan. Dalam tubuh KOPRI, semangat itu dirawat seperti api kecil di tengah angin: rapuh tapi tak pernah padam. Sebab, menjadi perempuan di ruang perjuangan bukan sekadar bertahan, tetapi menafsir ulang makna keberanian.

Kemandirian bukan lagi sekadar soal menjauh dari ketergantungan, melainkan kemampuan berdiri sembari tetap merangkul. Di banyak ruang, kader perempuan belajar menegakkan makna “berdaya”—bukan hanya dalam forum wacana, tetapi dalam hidup yang nyata. Mereka tidak sekadar berbicara tentang kesetaraan, melainkan menciptakan ruang aman, nyaman, dan berdaya tumbuh. Ruang di mana perempuan bisa menjadi manusia sepenuhnya, bukan sekadar peran yang diharapkan darinya.

Kemandirian itu juga tumbuh di tanah Maluku, tempat laut dan kebun bersua. Perempuan bangun sebelum fajar, menyiapkan ikan hasil tangkapan semalam, menumbuk embal, menjemur sagu, dan mengantar hasilnya ke pasar. Sebagian lain menulis laporan keuangan di kantor pemerintah, mengajar di sekolah, atau menjahit di rumah. Semua ini, tanpa mereka sadari, adalah bentuk peradaban yang paling dasar: peradaban kesetiaan, ketekunan, dan kasih yang melahirkan keberlangsungan.

KOPRI hadir bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan kultural yang membentuk kesadaran. Seperti ditegaskan Ketua Umum KOPRI PB PMII, Wulan Sari Aliyatus Solikhah, pemberdayaan perempuan tak boleh berhenti pada wacana. Ia harus menjelma dalam kebijakan dan tindakan—mewujud dalam ruang aman, kemandirian ekonomi, dan jejaring solidaritas lintas batas. Visi “KOPRI Berdaya dan Digdaya” bukan sekadar semboyan, tetapi janji pada kehidupan: perempuan yang berdaya bukan untuk berkuasa, tetapi untuk menyalakan peradaban.

Tugas KOPRI di Maluku tidak sederhana. Ia ditantang untuk menafsirkan visi itu di tanah yang kaya laut, hutan, dan keberagaman. Isu perempuan bukan hanya tentang representasi, tetapi juga tentang ketahanan ekonomi dan akses keadilan sosial. Bagaimana perempuan di pulau-pulau kecil tetap berdaya meski terbatas akses modal dan teknologi? Bagaimana ekonomi kreatif berbasis hasil bumi dan laut—sagu, ikan asap, minyak kayu putih, dan embal—bisa diolah dengan cara baru tanpa kehilangan nilai lokalnya? Di sinilah KOPRI Maluku mesti hadir dengan inovasi: membuka pelatihan wirausaha digital, koperasi kader, hingga ruang berbagi pengetahuan yang memerdekakan.

Bayangkan laut Maluku di pagi hari: perahu-perahu kecil berlayar membawa hasil tangkapan, ombak menepuk lembut lambung kayu, dan di tepi dermaga, perempuan menyiapkan dagangan. Ada yang menjemur ikan, ada yang menimbang, ada yang menunggu. Tapi dalam menunggu itu, mereka sedang membangun sesuatu—peradaban sabar, peradaban harap. Dari laut yang luas itu, kita belajar tentang keteguhan: bahwa perempuan tidak perlu berteriak untuk menegaskan kekuatannya. Ia cukup bekerja dengan cinta, dan dunia berubah karenanya.

KOPRI harus belajar dari laut: cair, lentur, namun dalam dan tegas. Di dalamnya, pemuda dan perempuan dapat saling menemukan arah—bukan untuk menegangkan perbedaan, tetapi untuk menenun kebersamaan. Gus Yahya pernah menyebut, peradaban Islam Nusantara tumbuh dari proses menyerap, mengolah, dan menebar kebaikan dalam konteks lokal. Maka, tafsir perempuan atas peradaban pun tak bisa dilepaskan dari tanah tempat ia berpijak. Di Maluku, tafsir itu lahir dari keberanian perempuan menafsir ulang perannya di antara ombak dan kebun, antara iman dan kerja, antara kasih dan keberdayaan.

Peradaban butuh dua hal: daya dan arah. Pemuda membawa daya, perempuan memberi arah. Tanpa arah, kekuatan hanya akan memecah; tanpa kekuatan, arah hanya menjadi cita-cita. Maka, dalam tubuh PMII dan KOPRI, pertemuan keduanya menjadi dialog tentang masa depan—bukan sekadar regenerasi organisasi, tetapi regenerasi nurani.

Zaman digital kini menuntut perempuan dan pemuda hadir di dua dunia: realitas sosial dan ruang digital. Mereka harus mampu membaca algoritma sekaligus membaca nurani masyarakatnya. Tantangan terbesar bukan hanya bersaing, tetapi menjaga empati di tengah derasnya arus pragmatisme. KOPRI tidak boleh hanya aktif di forum-forum diskusi; ia harus menjelma menjadi ruang aksi: dari pelatihan ekonomi kreatif berbasis hasil bumi, klinik advokasi bagi korban kekerasan, hingga gerakan literasi bagi remaja perempuan di pulau-pulau terpencil.

Sebab, pada akhirnya, peradaban memang bertumbuh dari tangan-tangan yang sederhana dari perempuan yang menumbuk sagu, dari pemuda yang menulis ide, dari mereka yang bekerja diam-diam menyalakan makna agar tak padam. Dan mungkin, di situlah letak makna terdalam dari menjadi pelopor peradaban: Bahwa dari tangan perempuan, peradaban itu bertumbuh.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gagal Framing, Jais Ely Jadi Simbol Amburadulnya Birokrasi Maluku

    Gagal Framing, Jais Ely Jadi Simbol Amburadulnya Birokrasi Maluku

    • calendar_month Senin, 21 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pernyataan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Jais Ely, yang menyalahkan Efrita Trifena Lamerkabel dalam polemik Miss Youth Indonesia justru menjadi cermin birokrasi yang tidak empatik, miskin inisiatif, dan gagal membaca arah kepemimpinan. Polemik finalis Miss Youth Indonesia asal Maluku, Efrita Trifena Lamerkabel, membuka aib lama soal OPD yang hanya sibuk membangun citra, tapi abai pada […]

  • Benhur Watubun Sampaikan Duka Cita Mendalam Atas Meninggalnya 2 Mahasiswa KKN UGM di Malra

    Benhur Watubun Sampaikan Duka Cita Mendalam Atas Meninggalnya 2 Mahasiswa KKN UGM di Malra

    • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ketua DPRD Maluku, Benhur Watubun menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya dua mahasiswa KKN dari Universitas Gajah Mada (UGM) di Maluku Tenggara. Kedua mahasiswa dimaksud yakni Septian Eka Rahmadi dan Bagus Adi Prayogo. Ungkapan tersebut disampaikan disela-sela sambutannya dalam rapat paripurna dalam rangka Penyampaian Rencana Peraturan Daerah (Ranperda) Laporan Pertanggung Jawaban Pelaksanaan (LPJ) APBD Gubernur […]

  • Proyek Kolam Renang Mangkrak, Mahasiswa Unpatti Desak Evaluasi BLU dan Pemeriksaan Kontraktor

    Proyek Kolam Renang Mangkrak, Mahasiswa Unpatti Desak Evaluasi BLU dan Pemeriksaan Kontraktor

    • calendar_month Selasa, 4 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Mahasiswa Unpatti mendesak Dewan Pengawas Badan Layanan Umum (BLU) Universitas Pattimura untuk mengevaluasi kinerja satuan kerja (Satker) BLU kampus tersebut. Selain itu, mereka juga meminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku, Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon, dan Kepolisian Daerah (Polda) Maluku untuk segera memeriksa Direktur CV. Femero selaku kontraktor proyek pembangunan […]

  • Jelang Ramadhan, PLN UP3 Ternate Sukses Lakukan Pasang Baru Daya 345.000 VA di Stadion Gelora Kie Raha

    Jelang Ramadhan, PLN UP3 Ternate Sukses Lakukan Pasang Baru Daya 345.000 VA di Stadion Gelora Kie Raha

    • calendar_month Rabu, 19 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) terus memperluas jangkauan layanannya kepada pelanggan potensial. Hal ini dilakukan dengan kunjungan berkala ke pelanggan potensial di wilayah kerjanya, dan mendengarkan langsung seperti apa kebutuhan kelistrikannya. Seperti yang dilakukan PLN UIW MMU melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ternate bersama Unit Layanan Pelanggan […]

  • SP PLN Apresiasi Sikap Presiden RI Prabowo Tolak Skema Power Wheeling

    SP PLN Apresiasi Sikap Presiden RI Prabowo Tolak Skema Power Wheeling

    • calendar_month Minggu, 2 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-SP PT PLN (Persero) mengapresiasi sikap Presiden RI Prabowo Subianto yang dikabarkan menolak penerapan skema power wheeling sebagaimana disampaikan Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2025 di Hotel WesLn, Jakarta, Rabu (26/2) “Kita memberikan apresiasi yang seLnggi-Lngginya kepada Presiden RI Prabowo Subianto atas penolakan skema […]

  • Kolaborasi Humas–IT Jadikan Maluku Juara di Kemenag Award 2025

    Kolaborasi Humas–IT Jadikan Maluku Juara di Kemenag Award 2025

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: Zamhir Azwar Razaad Musaad (Ketua Tim Humas Kanwil Kemenag Maluku || Koordinator Humas Kemenag Kabupaten/Kota se-Maluku) Tajukmaluku.com-Ada satu pelajaran besar yang ditegaskan lewat capaian Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku di ajang Humas Kemenag Award 2025: bahwa tidak ada prestasi besar yang lahir dari kerja individual. Prestasi lahir dari kolaborasi, kolaborasi yang hidup, bernapas, […]

expand_less