Breaking News
light_mode

Dari Tangan Perempuan, Peradaban Itu Bertumbuh

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
  • visibility 374
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Nadia Sarah Rumluan

Kadang peradaban tidak dimulai dari gedung yang tinggi, atau ruang rapat yang ramai. Ia justru tumbuh dari percakapan kecil antara dua perempuan yang saling mendengar—dari tangan-tangan yang tiap pagi menata hasil kebun dan laut di pasar: sayur, singkong, ikan, hingga sagu dan embal yang menjadi nadi dapur-dapur Maluku. Di sanalah hidup berdenyut. Di antara riuh tawar-menawar dan tawa anak-anak yang berlarian, perempuan menjaga keseharian agar tetap berjalan, menjaga martabat agar tak hilang ditelan perubahan.

Di waktu yang sama, ada pula perempuan yang bekerja di kantor, mendidik di sekolah, menyusun laporan, menandatangani keputusan. Semuanya terhubung dalam satu denyut yang sama: menyalakan kehidupan. Mereka bukan sekadar menyala—mereka menyalakan.

Peradaban, dalam makna yang paling lembut, bukan tentang siapa yang paling berkuasa, tetapi siapa yang paling berdaya menumbuhkan kehidupan. Di sanalah perempuan dan pemuda menemukan panggilan zaman: bukan untuk memperebutkan panggung, tapi menata ulang cahaya. Dari yang semula menyilaukan, menjadi yang menghangatkan.

Dulu, perempuan sering dianggap sekadar pelengkap sejarah. Kini, narasi itu telah pecah. Mereka menulis sejarahnya sendiri—dengan pena, kerja, dan keberanian yang tak selalu diumumkan. Dalam tubuh KOPRI, semangat itu dirawat seperti api kecil di tengah angin: rapuh tapi tak pernah padam. Sebab, menjadi perempuan di ruang perjuangan bukan sekadar bertahan, tetapi menafsir ulang makna keberanian.

Kemandirian bukan lagi sekadar soal menjauh dari ketergantungan, melainkan kemampuan berdiri sembari tetap merangkul. Di banyak ruang, kader perempuan belajar menegakkan makna “berdaya”—bukan hanya dalam forum wacana, tetapi dalam hidup yang nyata. Mereka tidak sekadar berbicara tentang kesetaraan, melainkan menciptakan ruang aman, nyaman, dan berdaya tumbuh. Ruang di mana perempuan bisa menjadi manusia sepenuhnya, bukan sekadar peran yang diharapkan darinya.

Kemandirian itu juga tumbuh di tanah Maluku, tempat laut dan kebun bersua. Perempuan bangun sebelum fajar, menyiapkan ikan hasil tangkapan semalam, menumbuk embal, menjemur sagu, dan mengantar hasilnya ke pasar. Sebagian lain menulis laporan keuangan di kantor pemerintah, mengajar di sekolah, atau menjahit di rumah. Semua ini, tanpa mereka sadari, adalah bentuk peradaban yang paling dasar: peradaban kesetiaan, ketekunan, dan kasih yang melahirkan keberlangsungan.

KOPRI hadir bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan kultural yang membentuk kesadaran. Seperti ditegaskan Ketua Umum KOPRI PB PMII, Wulan Sari Aliyatus Solikhah, pemberdayaan perempuan tak boleh berhenti pada wacana. Ia harus menjelma dalam kebijakan dan tindakan—mewujud dalam ruang aman, kemandirian ekonomi, dan jejaring solidaritas lintas batas. Visi “KOPRI Berdaya dan Digdaya” bukan sekadar semboyan, tetapi janji pada kehidupan: perempuan yang berdaya bukan untuk berkuasa, tetapi untuk menyalakan peradaban.

Tugas KOPRI di Maluku tidak sederhana. Ia ditantang untuk menafsirkan visi itu di tanah yang kaya laut, hutan, dan keberagaman. Isu perempuan bukan hanya tentang representasi, tetapi juga tentang ketahanan ekonomi dan akses keadilan sosial. Bagaimana perempuan di pulau-pulau kecil tetap berdaya meski terbatas akses modal dan teknologi? Bagaimana ekonomi kreatif berbasis hasil bumi dan laut—sagu, ikan asap, minyak kayu putih, dan embal—bisa diolah dengan cara baru tanpa kehilangan nilai lokalnya? Di sinilah KOPRI Maluku mesti hadir dengan inovasi: membuka pelatihan wirausaha digital, koperasi kader, hingga ruang berbagi pengetahuan yang memerdekakan.

Bayangkan laut Maluku di pagi hari: perahu-perahu kecil berlayar membawa hasil tangkapan, ombak menepuk lembut lambung kayu, dan di tepi dermaga, perempuan menyiapkan dagangan. Ada yang menjemur ikan, ada yang menimbang, ada yang menunggu. Tapi dalam menunggu itu, mereka sedang membangun sesuatu—peradaban sabar, peradaban harap. Dari laut yang luas itu, kita belajar tentang keteguhan: bahwa perempuan tidak perlu berteriak untuk menegaskan kekuatannya. Ia cukup bekerja dengan cinta, dan dunia berubah karenanya.

KOPRI harus belajar dari laut: cair, lentur, namun dalam dan tegas. Di dalamnya, pemuda dan perempuan dapat saling menemukan arah—bukan untuk menegangkan perbedaan, tetapi untuk menenun kebersamaan. Gus Yahya pernah menyebut, peradaban Islam Nusantara tumbuh dari proses menyerap, mengolah, dan menebar kebaikan dalam konteks lokal. Maka, tafsir perempuan atas peradaban pun tak bisa dilepaskan dari tanah tempat ia berpijak. Di Maluku, tafsir itu lahir dari keberanian perempuan menafsir ulang perannya di antara ombak dan kebun, antara iman dan kerja, antara kasih dan keberdayaan.

Peradaban butuh dua hal: daya dan arah. Pemuda membawa daya, perempuan memberi arah. Tanpa arah, kekuatan hanya akan memecah; tanpa kekuatan, arah hanya menjadi cita-cita. Maka, dalam tubuh PMII dan KOPRI, pertemuan keduanya menjadi dialog tentang masa depan—bukan sekadar regenerasi organisasi, tetapi regenerasi nurani.

Zaman digital kini menuntut perempuan dan pemuda hadir di dua dunia: realitas sosial dan ruang digital. Mereka harus mampu membaca algoritma sekaligus membaca nurani masyarakatnya. Tantangan terbesar bukan hanya bersaing, tetapi menjaga empati di tengah derasnya arus pragmatisme. KOPRI tidak boleh hanya aktif di forum-forum diskusi; ia harus menjelma menjadi ruang aksi: dari pelatihan ekonomi kreatif berbasis hasil bumi, klinik advokasi bagi korban kekerasan, hingga gerakan literasi bagi remaja perempuan di pulau-pulau terpencil.

Sebab, pada akhirnya, peradaban memang bertumbuh dari tangan-tangan yang sederhana dari perempuan yang menumbuk sagu, dari pemuda yang menulis ide, dari mereka yang bekerja diam-diam menyalakan makna agar tak padam. Dan mungkin, di situlah letak makna terdalam dari menjadi pelopor peradaban: Bahwa dari tangan perempuan, peradaban itu bertumbuh.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sepi Pengunjung, Booth UMKM di Areal Gong Perdamaian Terancam Jadi Besi Tua

    Sepi Pengunjung, Booth UMKM di Areal Gong Perdamaian Terancam Jadi Besi Tua

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Kawasan Gong Perdamaian Dunia yang selama ini dibanggakan sebagai salah satu ikon pariwisata di Kota Ambon tampak terlihat sunyi. Deretan booth container UMKM yang dibangun di jantung kota itu kini banyak yang tutup. Dari 19 booth yang tersedia, sebagian besar tidak lagi beroperasi akibat minimnya pengunjung dan anjloknya pendapatan pedagang. Kondisi itu diakui salah satu […]

  • Cafe Ujung JMP Ambon Berbagi Makanan Berbuka Puasa, Levi: Ini Sudah Jadi Agenda Rutin Kita

    Cafe Ujung JMP Ambon Berbagi Makanan Berbuka Puasa, Levi: Ini Sudah Jadi Agenda Rutin Kita

    • calendar_month Jumat, 21 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Berbagi makanan berbuka puasa Ramadhan sudah menjadi agenda rutin yang dilakukan Cafe Ujung JMP, terletak di Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, yang sudah beroperasi sejak 2023 silam itu. Cafe milik Levi Kariuw ini, Jumat (21/3/2025) kembali membagikan ratusan dos makanan berbuka puasa.Kegiatan pembagian makanan berbuka puasa berlangung didepan Cafe dipimpin langsung oleh Levi […]

  • BPJS Kesehatan Ambon Gagal Total? 76% Peserta Nonaktif, Uang Iuran Dikemanakan?

    BPJS Kesehatan Ambon Gagal Total? 76% Peserta Nonaktif, Uang Iuran Dikemanakan?

    • calendar_month Minggu, 9 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Kota Ambon mungkin telah mencapai Universal Health Coverage (UHC) dengan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sebesar 97,56%, Namun ada ketimpangan data dan Kepersetaan BPJS. Faktanya, hanya 76% peserta yang aktif, sementara puluhan ribu lainnya terdaftar namun tidak bisa mengakses layanan kesehatan. Kepala BPJS Kesehatan Kota Ambon, Andi Muhammad Irfan, mengakui bahwa dari total peserta JKN, […]

  • IDI Wilayah Maluku dan Cabang Kepulauan Tanimbar Gelar Hari Bakti Dokter Indonesia Ke-118

    IDI Wilayah Maluku dan Cabang Kepulauan Tanimbar Gelar Hari Bakti Dokter Indonesia Ke-118

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Saumlaki,Tajukmaluku.com-Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Maluku bersama IDI Cabang Kepulauan Tanimbar menggelar Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-118 di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, 18 hingga 20 Mei 2026. Kegiatan tersebut dibuka langsung Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, dr. Yul Ratuanak. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi profesi kedokteran dalam menjawab berbagai persoalan […]

  • Holistik Institute Menilai Kapolres Kepulauan Sula Berhasil Tekan Peredaran Miras: 174 Botol Miras Disita dalam Operasi Pekat Kieraha II 2024

    Holistik Institute Menilai Kapolres Kepulauan Sula Berhasil Tekan Peredaran Miras: 174 Botol Miras Disita dalam Operasi Pekat Kieraha II 2024

    • calendar_month Jumat, 20 Des 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Langkah tegas dan profesional yang ditunjukkan Kapolres Kepulauan Sula, AKBP Kodrat Muh Hartanto, dalam memberantas peredaran minuman keras (miras) patut diapresiasi. Dalam Operasi Pekat Kieraha II 2024, Polres Kepulauan Sula berhasil menyita 174 botol miras jenis cap tikus, sebuah pencapaian signifikan yang mencerminkan dedikasi dan ketegasan aparat kepolisian. Selama 10 hari pelaksanaan operasi, AKBP Kodrat […]

  • Masyarakat Negeri Liang Dorong Pengakuan Hak Tenurial Pesisir dan Laut

    Masyarakat Negeri Liang Dorong Pengakuan Hak Tenurial Pesisir dan Laut

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Maluku Tengah, Tajukmaluku.com-Masyarakat Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, mulai mendorong pengakuan hak tenurial pesisir dan laut sebagai upaya melindungi ruang hidup mereka dari berbagai tekanan, mulai dari kebijakan negara hingga ekspansi kepentingan eksternal. Dorongan ini mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diinisiasi oleh Yayasan Jala Ina bersama masyarakat dan pemangku kepentingan lokal. […]

expand_less