Breaking News
light_mode

Kenapa Megawati Bisa Sangat Kuat? (Bagian I)

  • account_circle Admin
  • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
  • visibility 184
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tajukmaluku.com-Lahir di bawah naungan megah nama Soekarno tak lantas membawa Megawati Soekarno Putri melangkah mulus ke panggung politik.

Ia justru dibentuk menjadi seorang penyintas politik tangguh, yang sering disebut mampu mengubah trauma sejarah keluarganya menjadi sebuah kontrol kekuasaan yang sangat kuat.

Megawati muncul sebagai paradoks dalam demokrasi Indonesia. Di satu sisi, dipuja sebagai Ibu Wong Cilik yang menjadi rahim lahirnya institusi demokrasi seperti KPK. Namun di sisi lain ia menjalankan partai dengan tangan besi yang sangat sentralistik.

Kehadirannya menunjukkan sebuah kontradiksi yang besar. Di mana ia berperan sebagai penjaga gawang reformasi sekaligus simbol abadi politik dinasti yang sulit ditembus.

Lantas pertanyaannya, apakah ia benar-benar memimpin sebagai seorang demokrat yang merdeka serta berpihak pada rakyat atau sebenarnya Megawati hanyalah seorang anak yang tidak bisa keluar dari bayangan besar nama bapaknya?

Berikut catatan singkat tentang Megawati Soekarno Putri…

Trauma Sejarah Sebagai Kompas Politik Megawati

Memahami manuver politik Megawati Soekarno Putri hingga hari ini, berarti harus juga melihat bagaimana luka masa lalunya tercipta.

Bagi Megawati, politik bukan sekadar urusan administrasi negara atau retorika di atas podium. Justru baginya, politik adalah ruang trauma yang pernah menghancurkan dunia masa kecilnya secara brutal.

Anatomi luka ini bermula pada transisi kekuasaan paling berdarah dalam sejarah Indonesia, yakni kejatuhan Bung Karno Pasca 1965.

Bayangkan perasaan seorang putri Presiden yang menyaksikan bapaknya sang proklamator berjuluk penyambung lidah rakyat yang dipuja dunia. Peranannya dipereteli, kehormatannya dikurung dalam kesunyian Wisma Yaso hingga wafat tanpa penanganan medis yang sistematis.

Peristiwa de-Soekarnoisasi yang dilakukan oleh rezim Orde Baru bukan hanya upaya menghapus sejarah bangsa, tetapi merupakan serangan langsung terhadap martabat keluarganya.

Pengalaman menyaksikan pengkhianatan elit dan ketidakberdayaan seorang pemimpin besar di tangan militer menanamkan pelajaran pahit bahwa dalam politik, loyalitas adalah mata uang yang sangat tidak stabil dan kekuasaan tanpa kontrol ketat adalah jalan menuju kehinaan.

Trauma ini kemudian bermutasi menjadi apa yang bisa kita sebut sebagai “Musim Dingin Orde Baru”.

Selama lebih dari 3 dekade pemerintahan Soeharto, Megawati dan saudara-saudaranya tidak hanya kehilangan akses pada fasilitas negara, tetapi juga hidup dalam kondisi karantina politik yang mencekam.

Mereka diawasi secara ketat oleh intelijen. Ruang geraknya dibatasi dan setiap langkah mereka dipandang sebagai potensi ancaman bagi stabilitas rezim.

Hidup dalam pengawasan ini membentuk sige mentality atau mentalitas terkepung dalam diri Megawati. Ia belajar untuk tidak mudah mempercayai orang di luar lingkaran intim darah biru keluarganya.

Kecurigaan yang mendarah daging ini bukan tanpa alasan. Karena memang, selama puluhan tahun, lingkungan di sekitarnya penuh dengan penyusup dan mata-mata yang ingin memastikan trah Soekarno tetap terkubur dalam sejarah.

Dampaknya sangat terasa hingga hari ini. Salah satunya terlihat jelas dari bagaimana Megawati membangun PDIP bukan sebagai organisasi terbuka yang cair, melainkan sebagai benteng yang kedap udara dengan security system internal yang sangat ketat untuk mencegah terulangnya infiltrasi dan pengkhianatan masa lalu.

Luka sejarah inilah yang kemudian melahirkan gaya kepemimpinan Megawati yang unik, yaitu kepemimpinan dalam kesunyian.

Masa Orde Baru, ketika para politisi lain sibuk bermanuver atau berkoalisi dengan penguasa, Megawati memilih untuk diam. Namun diamnya Megawati bukanlah tanda ketidaktahuan, melainkan sebuah strategi bertahan yang sangat cerdas.

Ia memahami betul bahwa bicara terlalu banyak di bawah rezim otoriter adalah sebuah kerentanan dan membawanya menuju bahaya.

Dengan diam, ia justru menjadi simbol perlawanan pasif yang kuat. Megawati membiarkan rakyat memproyeksikan penderitaan dan kerinduan mereka pada sosok Soekarno ke dalam kesunyian.

Strategi Walt and See ini sering ia terapkan kelak dalam mengambil keputusan krusial. Seperti penentuan calon presiden atau AR koalisi yang sebenarnya merupakan hasil dari pengamatan panjang terhadap bagaimana ambisi yang meledak-ledak seringkali menghancurkan diri sendiri.

Ia memilih menjadi jangkar di lautan politik yang tetap tenang di dasar laut saat badai politik berkecamuk di permukaan. Sebuah mekanisme pertahanan yang lahir dari pengalaman pahit melihat bagaimana bapaknya dihantam badai politik yang tak berbelas kasih.

Namun anatomi luka ini juga memiliki sisi gelap yang menjadi beban bagi demokrasi internal partainya.

Karena kompas politiknya digerakkan oleh trauma pengkhianatan, Megawati cenderung menempatkan buta di atas kompetensi intelektual atau prestasi kader.

Sikap dingin, dan tertutup yang ia bangun sebagai tameng perlindungan diri pun seringkali membuat partainya terlihat gagap dalam berdialog dengan aspirasi baru yang lebih cair dan demokratis.

Ia seolah membangun tembok yang begitu tebal untuk melindungi dirinya dari luka masa lalu. Hingga terkadang ia sendiri sulit melihat perubahan landscap politik di luar tembok tersebut.

Jalan Terjal Menuju PDI-P dan Mengklaim Kembali Mandat Rakyat

Perjalanan Megawati menuju puncak kekuasaan bukanlah sebuah garis lurus yang nyaman, melainkan sebuah pendakian di atas tebing curam yang penuh dengan jebakan politik rezim.

Untuk memahami bagaimana PDIP menjadi raksasa politik hari ini, kita harus melihat kembali titik mulanya.

Di tahun 1987, Saat dirinya memutuskan masuk ke Partai Demokrasi Indonesia atau PDI sebuah wadah hasil fusi paksa yang didesain Orde Baru untuk menjinakan kekuatan nasionalis. Masuknya Megawati ke PDI adalah sebuah perjudian sejarah yang sangat berisiko.

Bagi Rezim Soeharto, ia awalnya dianggap hanya sebagai pemanis surat suara untuk menarik basis masa Partai Nasional Indonesia atau PNI yang rindu pada Bung Karno.

Namun bagi Megawati, ini adalah penyusupan balik untuk menanamkan pengaruhnya di dunia politik. Ia menggunakan struktur yang diciptakan untuk mengontrolnya sebagai kuda troya untuk menghidupkan kembali nafas nasionalisme Soekarno yang sempat mati suri.

Ia tidak masuk dengan orasi yang menggelegar seperti bapaknya, melainkan muncul dengan kepribadian yang tenang, yang justru memicu “Demam Megawati” di kalangan rakyat bawah yang selama dua dekade merasa kehilangan identitas politiknya.

Ketegangan antara popularitas Megawati dan ketakutan rezim mencapai puncaknya. Pada pertengahan 1990-an, ketika Megawati terpilih sebagai ketua umum PDI dalam Kongres Luar Biasa atau KLB di Surabaya pada tahun 1993, Jakarta mulai panik. Rezim Orde Baru menyadari bahwa magnet Megawati telah melampaui kendali mereka.

Puncak ketegangan ini adalah tragedi berdarah 27 Juli 1996 atau yang dikenal sebagai Peristiwa “Kudatuli”.

Penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro oleh kelompok PDI versi pemerintah, pemimpin Soerjadi yang didukung militer adalah skema kasar untuk memenggal kepemimpinan Megawati. Namun secara ironis, kekerasan tersebut justru menjadi titik balik yang fatal bagi Rezim. Dalam satu malam Megawati bertransformasi dari seorang korban politik menjadi simbol perlawanan nasional.

Luka fisik pada pendukungnya dan pengusiran paksa tersebut memberikan legitimasi moral yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Dari peristiwa tersebut, rakyat tidak hanya melihatnya sebagai putri Soekarno, tetapi sebagai pemimpin yang berani berdiri tegak di depan moncong senapan, juga menjadikannya ikon perlawanan sipil terhadap otoriteranisme pada masa itu.

Pasca tumbangnya Soeharto pada tahun 1998, Megawati melakukan langkah strategis yang menentukan arah politik Indonesia modern.

Menyadari bahwa struktur PDI yang lama masih sarat dengan kaki tangan rezim dan rentan disusupi. Ia memilih jalan memutar dengan mendirikan partai baru yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP.

Pada tahun 1999, penambahan kata “Perjuangan” bukan sekadar hiasan kata belaka, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap status quo. PDIP lahir sebagai kristalisasi dari kemarahan, harapan, dan loyalitas buta terhadap trah Soekarno.

Di sinilah terjadi perubahan mendalam, dimana partai yang dulunya adalah alat kontrol rezim orde baru Soeharto kini bermutasi menjadi benteng pribadi keluarga Soekarno.

Megawati memastikan bahwa di dalam PDIP tidak boleh ada lagi pengkhianatan seperti yang ia alami di masa lalu.

Ia membangun arsitektur partai yang sangat sentralistik. Di mana garis komando berakhir pada satu meja di rumahnya di Jln. Teuku Umar. Sehingga memastikan bahwa mandat rakyat yang telah ia klaim kembali tidak akan pernah dicuri lagi oleh penyusup manapun.

Namun di balik kegemilangan PDIP sebagai pemenang pemilu di tahun 1999 menyisakan kritik tajam mengenai masa depan demokrasi internalnya.

Evolusi dari pergerakan rakyat menjadi benteng pribadi ini menciptakan sebuah struktur yang sangat bergantung pada figur tunggal.

Di satu sisi, model ini membuat PDIP menjadi partai paling solid dan kedap badai politik di Indonesia. Di sisi lain, ia menciptakan hambatan bagi kaderisasi organik yang sehat.

Seseorang bisa memiliki kapasitas intelektual yang luar biasa. Namun tanpa restu ideologis dan loyalitas absolut kepada Megawati, karir politiknya bakal menginjak pecahan beling.

Bersambung……

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN UIW MMU Konsisten Terangi Negeri Lewat Program Light Up The Dream

    PLN UIW MMU Konsisten Terangi Negeri Lewat Program Light Up The Dream

    • calendar_month Kamis, 31 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Malteng,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) terus berkomitmen dalam menghadirkan akses listrik yang andal, merata, dan berkeadilan hingga ke pelosok. Hal ini diwujudkan melalui program sosial Light Up The Dream, yang menjadi wujud nyata PLN dalam menyinari kehidupan masyarakat tidak mampu di daerah tertinggal. General Manager PLN UIW MMU, […]

  • Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata Ruang

    Seleksi Penerimaan Taruna Baru Politeknik Agraria STPN, Jaring SDM Unggul Bidang Pertanahan dan Tata Ruang

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Cikeas,Tajukmaluku.com-Perguruan tinggi di bawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), yaitu Politeknik Agraria STPN, menyelenggarakan Seleksi Penerimaan Taruna Baru (SPTB) Tahun Akademik 2026/2027. Calon Taruna/i yang nantinya akan bergabung dalam perkuliahan Politeknik Agraria STPN akan dipersiapkan menjadi insan pertanahan dan tata ruang yang dapat berkontribusi ke pembangunan Indonesia. “Kita harus optimis siapa […]

  • PLN UP3 Tobelo Tuntaskan Pemulihan Kelistrikan Pascabanjir dan Longsor di Loloda dan Loloda Utara

    PLN UP3 Tobelo Tuntaskan Pemulihan Kelistrikan Pascabanjir dan Longsor di Loloda dan Loloda Utara

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tobelo,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Tobelo bergerak cepat memulihkan sistem kelistrikan pascabanjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Loloda dan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara. Selasa (24/2/2026). Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi mengakibatkan gangguan pada jaringan distribusi listrik dan berdampak pada […]

  • Listrik 24 Jam Hadir di 5 Pulau, Gubernur Maluku Apresiasi Komitmen dan Konsistensi PLN UIW MMU

    Listrik 24 Jam Hadir di 5 Pulau, Gubernur Maluku Apresiasi Komitmen dan Konsistensi PLN UIW MMU

    • calendar_month Jumat, 28 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menyampaikan apresiasinya terhadap komitmen dan konsistensi PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) yang telah berhasil menghadirkan listrik 24 jam pada lima pulau. Kata Hendrik, berkat kerja keras dan komitmen tersebut, kini 2.625 pelanggan yang tersebar di Pulau Sjahrir, Ay, Rhun, Pulau Hatta dan Pulau Buano itu dapat […]

  • PLN UP3 Saumlaki Perkuat Literasi Layanan Kelistrikan Hingga Wilayah Pedesaan

    PLN UP3 Saumlaki Perkuat Literasi Layanan Kelistrikan Hingga Wilayah Pedesaan

    • calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Saumlaki,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) UP3 Saumlaki terus berkomitmen menghadirkan layanan kelistrikan yang semakin mudah, andal, dan dekat dengan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan sosialisasi layanan kelistrikan yang menyasar masyarakat hingga wilayah pedesaan di Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya PLN dalam memberikan informasi kepada masyarakat terkait […]

  • Anggota DPRD SBB Fredy Pentury Dinilai Gagal Paham Soal Kasus MBG Kairatu, “Terlalu Cari Panggung”

    Anggota DPRD SBB Fredy Pentury Dinilai Gagal Paham Soal Kasus MBG Kairatu, “Terlalu Cari Panggung”

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Polemik kasus keracunan makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Kairatu kembali memantik perdebatan baru. Kali ini, pernyataan Ketua Komisi I DPRD Seram Bagian Barat (SBB) Recyson Fredy Pentury di laman Facebook pribadinya menuai reaksi keras dari kalangan pemuda. Dalam unggahan video berdurasi 4 menit 53 detik, Anggota DPRD fraksi PDIP itu menyerukan […]

expand_less