Breaking News
light_mode

Waktunya Maluku “Merdeka”

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 24 Okt 2024
  • visibility 598
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Fadhel Abraham Rumakat

Narasi tentang “Waktunya Maluku Merdeka” adalah seruan terhadap ketidakadilan struktural yang selama ini dirasakan oleh masyarakat Maluku, bukan dalam arti literal mengenai pemisahan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi dalam arti mendalam tentang pembebasan dari ketertinggalan, ketergantungan, dan ketidakadilan yang seolah menjadi warisan dari sistem politik dan ekonomi sentralistis.

Sejarah Ketertinggalan: Jejak Kolonial yang Belum Selesai

Jika menilik sejarah, Maluku adalah wilayah yang dahulu sangat strategis karena kekayaannya berupa rempah-rempah. Namun, hingga kini, potensi alam yang melimpah ini tidak dinikmati secara optimal oleh penduduk lokal. Kolonialisme memang telah lama berakhir secara fisik, namun jejak-jejaknya masih terasa dalam distribusi sumber daya, kebijakan ekonomi, hingga pengelolaan kekayaan alam.

Maluku menjadi contoh jelas dari kawasan yang selalu diinjeksi tema kesajahteraan, tetapi nyatanya tertinggal jauh dari pusat. Di sinilah letak ketidakadilan struktural itu: Jakarta selalu menjadi poros, dan daerah-daerah seperti Maluku hanya menjadi bagian pinggiran yang dilirik sekadarnya ketika dibutuhkan.

Kita harus bertanya, seberapa sering Maluku dijadikan prioritas dalam kebijakan pembangunan nasional? Bagaimana mungkin Maluku yang kaya dengan potensi sumber daya alam, terutama kelautan, justru masih berkutat dengan kemiskinan dan ketergantungan pada pusat?

Pengelolaan Sumber Daya Alam: Maluku yang Kaya, Masyarakat yang Miskin

Maluku adalah salah satu provinsi terkaya dengan potensi sumber daya alam yang melimpah ruah, terutama di sektor kelautan dan perikanan. Namun, ironisnya, tingkat kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di wilayah ini tetap tinggi. Bahkan ada di urutan ke-4 (Buka data BPS Tahun 2023) .

Pengelolaan hasil perikanan yang sebagian besar dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar, terutama yang berpusat di luar Maluku, menandakan bahwa potensi ekonomi daerah ini tidak memberikan dampak signifikan pada kesejahteraan masyarakat lokal.

Apa yang didapat Masyarakat Maluku dari Kekayaan Lautnya?

Nelayan lokal hanya memperoleh bagian kecil dari hasil laut mereka sendiri karena infrastruktur yang buruk dan akses pasar yang terbatas. Pemerintah pusat gagal menyediakan fasilitas yang layak untuk meningkatkan daya saing dan kemampuan ekonomi nelayan lokal, sehingga mereka terus-menerus terjebak dalam lingkaran ketergantungan. Sementara itu, kapal-kapal besar dari luar Maluku bebas mengambil hasil laut dalam jumlah besar tanpa ada kontrol yang berarti. Maluku seharusnya menjadi pusat perikanan dunia, tetapi justru menjadi penonton di tanahnya sendiri. Lagi-lagi karna kebijakan Pusat yang tidak berpihak.

Ketimpangan Infrastruktur: Membangun Dari Pusat, Melupakan Daerah

Pembangunan infrastruktur juga menunjukkan ketimpangan yang sangat jelas. Akses jalan, jembatan, pelabuhan, hingga bandara di Maluku masih tertinggal jauh dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Di saat pemerintah pusat gencar membangun infrastruktur besar-besaran di pulau-pulau besar, Maluku seperti dilupakan.

Kurangnya infrastruktur tidak hanya mempersulit mobilitas barang dan orang, tetapi juga memperlebar kesenjangan ekonomi. Akses yang sulit membuat biaya hidup di Maluku jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lain.

Beberapa daerah di Maluku semisal Seram Bagian Timur, Tanimbar. Akses Internet juga terbatas, padahal di era digital seperti ini, ketidakmampuan untuk terhubung dengan dunia luar berarti ketidakmampuan untuk bersaing secara ekonomi dan pendidikan.

Pendidikan: Diskriminasi Dalam Akses dan Kualitas

Ketidakadilan juga sangat terasa di sektor pendidikan. Banyak wilayah di Maluku yang belum memiliki fasilitas pendidikan yang memadai, mulai dari minimnya jumlah sekolah, kekurangan guru, hingga kualitas pendidikan yang sangat tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Generasi muda Maluku yang seharusnya menjadi agen perubahan, justru terjebak dalam sistem pendidikan yang tidak memberikan mereka kesempatan untuk berkembang.

Tiap tahunnya, angka putus sekolah, pengangguran intelektual masih tinggi, akses ke perguruan tinggi sangat terbatas. Banyak anak-anak Maluku yang harus meninggalkan kampung halamannya, pergi menyambung hidup di Provinsi tentangga, sebut saja Maluku Utara dengan PT. IWIP-nya. Ketidakadilan ini semakin mengakar karena tanpa pendidikan yang baik, masyarakat Maluku akan terus berada dalam siklus kemiskinan dan ketergantungan.

Ketergantungan Ekonomi: Otonomi Setengah Hati

Otonomi daerah seharusnya memberikan kewenangan lebih besar kepada daerah untuk mengelola sumber daya dan kebijakan lokal. Namun, dalam praktiknya, otonomi ini lebih sering menjadi sebatas simbol daripada kenyataan. Pemerintah daerah sering kali tidak memiliki cukup sumber daya, baik secara finansial maupun kapasitas, untuk menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan dengan optimal.

Maluku masih bergantung pada dana transfer dari pusat. Ketergantungan ini membuat Maluku tidak memiliki kebebasan untuk menentukan arah kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Pemerintah pusat, yang sering kali tidak memahami dinamika lokal, justru mendikte kebijakan-kebijakan yang kurang relevan. Jika terus begini, kapan Maluku bisa benar-benar merdeka dalam menentukan nasibnya sendiri?

Waktunya Maluku “Merdeka”

Membangun dengan KemandirianMerdeka dalam konteks ini bukan berarti memisahkan diri dari Indonesia, melainkan bebas dari ketergantungan, ketidakadilan, dan ketertinggalan yang selama ini membelenggu. Maluku butuh kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan masyarakat Maluku, mulai dari pengelolaan sumber daya alam yang adil, pembangunan infrastruktur yang memadai, hingga pendidikan yang merata dan berkualitas.

Pemerintah pusat harus melihat Maluku sebagai potensi besar yang perlu diberdayakan, bukan sekadar wilayah pinggiran yang ditinggalkan. Desentralisasi yang lebih nyata harus diberikan kepada Maluku, dengan sumber daya yang cukup untuk mengelola kekayaan alam dan manusia di wilayah ini. Ini bukan hanya soal keadilan bagi Maluku, tetapi juga soal keadilan bagi Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa. Jika Maluku berkembang, maka Indonesia akan semakin kuat. Seperti idiom yang diucapkan oleh Bung Karno “Indonesia tanpa Maluku bukanlah Indonesia”

Waktunya Maluku merdeka dari ketidakadilan, ketergantungan, dan marginalisasi. Waktunya kita bersama-sama membangun Maluku sebagai wilayah yang maju, mandiri, dan sejahtera, demi Indonesia yang lebih adil dan merata.

Penulis adalah Anggota Gerakan Pemuda Alwasliya Provinsi Maluku.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN Terus Kebut Siang Malam Perbaiki Jalur Listrik Langsa-Pangkalan Brandan, Penopang Pemulihan Kelistrikan Aceh

    PLN Terus Kebut Siang Malam Perbaiki Jalur Listrik Langsa-Pangkalan Brandan, Penopang Pemulihan Kelistrikan Aceh

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Langsa,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) terus mempercepat upaya pemulihan infrastruktur ketenagalistrikan yang terdampak banjir di wilayah Aceh. Perbaikan pada Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Langsa–Pangkalan Brandan menjadi kunci untuk pemulihan sistem kelistrikan Aceh. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo turun langsung memimpin percepatan pemulihan sekaligus memastikan seluruh sumber daya PLN dimobilisasi dan bekerja secara maksimal. Ia […]

  • Inspektur Tambang Mangkir, DPRD Maluku Murka: “Sering Nongkrong di Kafe, Tapi RDP Tak Hadir”

    Inspektur Tambang Mangkir, DPRD Maluku Murka: “Sering Nongkrong di Kafe, Tapi RDP Tak Hadir”

    • calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Rapat dengar pendapat (RDP) Komisi II DPRD Maluku, berubah panas setelah Kepala Inspektur Tambang Wilayah Maluku tidak muncul dalam forum pembahasan insiden lingkungan akibat patahnya tongkang milik PT Batutua Tembaga Raya (BTR). Forum yang membahas pencemaran laut usai peristiwa 26 Agustus 2025 itu terpaksa tertunda. Tongkang pengangkut material tambang milik BTR disebut patah di perairan, […]

  • Lewat LKPJ Gubernur Maluku 2025, DPRD Rekomendasi Pengelolaan Pasar Mardika Diserahkan ke Pemkot Ambon

    Lewat LKPJ Gubernur Maluku 2025, DPRD Rekomendasi Pengelolaan Pasar Mardika Diserahkan ke Pemkot Ambon

    • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku merekomendasikan agar pengelolaan Pasar Mardika diserahkan kepada Pemerintah Kota Ambon. Hal ini mereka sebutkan sebagaimana amanat Undang-undang yang mengatur kewenangan pengelolaan pasar berada di tingkat Kabupaten atau Kota. Rekomendasi itu disampaikan dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Gubernur Maluku Tahun Anggaran 2025. Dengan pertimbangan efektivitas pengelolaan serta optimalisasi […]

  • Akademisi: Pertemuan Karel Ralahalu dan Kakanwil Kemenag Jadi Contoh Pembangunan Integratif

    Akademisi: Pertemuan Karel Ralahalu dan Kakanwil Kemenag Jadi Contoh Pembangunan Integratif

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pembangunan inklusif dan distribusi kesejahteraan yang merata dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas sosial di Maluku. Dalam konteks masyarakat yang heterogen, peran elit dan tokoh masyarakat sangat menentukan arah pembangunan yang menyentuh seluruh elemen sosial. Akademisi Fisipol Universitas Pattimura, Amir F. Kutarumalos, menegaskan pentingnya pendekatan pembangunan yang holistik sebagai instrumen untuk meredam potensi konflik […]

  • Antusiasme Tinggi, 1.889 Pelanggan di Maluku dan Maluku Utara Manfaatkan Promo Tambah Daya PLN

    Antusiasme Tinggi, 1.889 Pelanggan di Maluku dan Maluku Utara Manfaatkan Promo Tambah Daya PLN

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) mencatat antusiasme tinggi masyarakat terhadap program promo tambah daya “Power Up Real: Listrik Aman Kerja Lancar” yang berlangsung pada 15–28 April 2026. Sebanyak 1.889 pelanggan memanfaatkan program diskon tambah daya sebesar 50 persen melalui aplikasi PLN Mobile. Dari program tersebut, total kenaikan daya […]

  • Kasus Penganiayaan Anak di Tual, Benhur Watubun Desak Aparat Tindak Tegas Provokator Lewat Akun Palsu

    Kasus Penganiayaan Anak di Tual, Benhur Watubun Desak Aparat Tindak Tegas Provokator Lewat Akun Palsu

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Aparat penegak hukum diminta bergerak cepat dan tegas menelusuri serta menindak akun-akun palsu yang menyebarkan provokasi di media sosial pasca kasus dugaan penganiayaan terhadap seorang remaja 15 tahun di Tual yang berujung meninggal dunia. Permintaan itu disampaikan Ketua DPRD Provinsi Maluku, Benhur George Watubun, menyusul meningkatnya narasi bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang […]

expand_less