Breaking News
light_mode

“Membongkar Mitos”: Benarkah Alam Kaya Membuat Orang Maluku Malas?

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
  • visibility 331
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: M Kashai Ramdhani Pelupessy

(Dosen Psikologi di UIN A.M Sangadji; Peneliti Psikologi Lingkungan dan Masyarakat Adat)

Tajukmaluku.com-Sudah menjadi cerita lama yang terus diulang bahwa “orang Maluku itu malas karena alamnya terlalu kaya raya”. Ungkapan ini sering kita dengar di berbagai tempat. Baik saat kita santai di warung kopi maupun dalam ruang-ruang diskusi formal tentang pembangunan daerah. Karena ikan mudah ditangkap dan sayur-mayur tumbuh subur di mana-mana, masyarakat Maluku tidak memiliki dorongan kuat untuk bekerja keras.

Namun, kita perlu berhati-hati dengan pandangan bahwa “orang Maluku itu malas karena alamnya terlalu kaya raya”. Pasalnya, pandangan seperti ini justru menjerumuskan kita pada cara berpikir dangkal.

Pandangan tersebut sebetulnya lahir dari paradigma kolonial dan modernis yang memandang kerja sebagai ukuran moralitas dan kemajuan. Dalam pandangan itu, manusia “baik” adalah yang bekerja tanpa henti, yang terus memproduksi dan menaklukkan alam.

Ketika masyarakat hidup lebih santai, dekat dengan ritme alam, mereka segera dicap malas, tertinggal, atau tidak produktif. Padahal, bagi masyarakat kepulauan seperti Maluku, relasi dengan alam bukan semata urusan produksi, melainkan soal keseimbangan, kebersamaan, dan keberlanjutan hidup.

Jika kita tengok sejarah, masyarakat Maluku telah lama hidup dari laut dan tanahnya dengan pengetahuan ekologis yang mendalam. Masyarakat Maluku sangat pandai memahami musim, arus laut, dan siklus tanam dengan presisi yang tidak kalah dari sains modern. Sistem tradisional seperti sasi menunjukkan kesadaran ekologis yang tinggi. Sasi bukan tanda kemalasan, melainkan bukti bahwa orang Maluku memahami pentingnya memberi waktu bagi alam untuk pulih.

Akan tetapi, ketika logika kapitalistik mulai masuk, nilai-nilai itu perlahan bergeser. Pembangunan dipahami sebagai peningkatan produksi tanpa henti, bukan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan daya dukung alam. Akibatnya, orang Maluku yang hidup selaras dengan alam malah dianggap tidak maju. Padahal, yang disebut “kemajuan” justru sering membawa kerusakan ekologis di banyak tempat.

Lebih jauh, pandangan yang menyalahkan alam sebagai penyebab “kemalasan” juga berbahaya karena telah menggeser tanggung jawab sosial. Seolah-olah kemiskinan atau keterbelakangan di Maluku terjadi karena masyarakatnya sendiri tidak mau bekerja, bukan karena ketimpangan pembangunan, minimnya akses, atau kebijakan ekonomi yang sentralistis.

Akibatnya, pandangan bahwa “orang Maluku itu pemalas karena alam kaya raya”, ini justru menyeret orang Maluku memilih jalan alternatif yakni mengeksploitasi alam agar produktif. Logika produktivitas dan masyarakat yang dikategorikan “maju” adalah jika harus keluar dari narasi kemalasan dengan cara mengeksploitasi alam di Maluku.

Itulah ironinya, karena manusia berusaha “melawan kehendak alam,” justru jatuh ke dalam perangkap eksploitasi. Keinginan untuk menunjukkan diri sebagai makhluk produktif dan modern akhirnya membuat manusia merusak sumber kehidupannya sendiri. Di Maluku, eksploitasi hutan, tambang, dan laut menjadi bukti nyata bagaimana semangat pembangunan bisa berubah menjadi perampasan ekologis.

Alih-alih malas, orang Maluku sebenarnya menjaga ritme hidup yang menghargai batas-batas alam. Dalam budaya orang Maluku tidak menebang pohon sembarangan, tidak menangkap ikan berlebihan, dan tidak menambang tanpa memikirkan dampaknya. Dalam logika ekonomi modern, hal ini mungkin tampak sebagai “tidak bekerja keras.” Tapi dalam logika ekologis dan spiritual masyarakat Maluku, ini adalah bentuk kerja yang paling bijak: kerja yang mempertahankan kehidupan.

Sayangnya, nilai-nilai semacam itu jarang mendapat tempat dalam wacana pembangunan daerah. Pembangunan masih diukur dengan angka produksi dan pertumbuhan ekonomi. Cara hidup yang sederhana dan selaras dengan alam malah dianggap sebagai tanda kemunduran.

Akibatnya, masyarakat lokal Maluku sering dipaksa menyesuaikan diri dengan model pembangunan yang tidak sesuai dengan konteks ekologis mereka.

Padahal, dunia kini sedang menghadapi krisis lingkungan global. Perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, dan krisis pangan menunjukkan bahwa paradigma eksploitasi terhadap alam telah gagal. Dalam situasi ini, pengetahuan ekologis lokal seperti yang dimiliki masyarakat Maluku justru bisa menjadi sumber inspirasi untuk model pembangunan yang lebih berkelanjutan.

Sayangnya, pengetahuan tersebut sering diabaikan karena tidak sesuai dengan ukuran “rasionalitas modern.”Pandangan bahwa alam meninabobokan masyarakat Maluku juga mencerminkan ketidakmampuan sebagian pihak untuk memahami konsep “kecukupan”. Bagi masyarakat Maluku, bekerja bukan tentang produktif menumpuk kekayaan, tetapi memenuhi kebutuhan bersama.

Ketika hasil laut dan kebun cukup untuk makan dan berbagi, mengapa harus bekerja lebih dari yang diperlukan? Prinsip ini bukan kemalasan, tetapi bentuk kearifan ekologis—menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Namun, ketika nilai-nilai ini dihadapkan pada sistem ekonomi global, terjadi benturan. Generasi muda Maluku sering merasa terjepit di antara dua pandangan, yakni (1) warisan leluhur yang mengajarkan keseimbangan, dan (2) tuntutan modernitas yang mengagungkan produktivitas tanpa henti. Di sinilah muncul dilema identitas ekologis: bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan kebijaksanaan lokal.

Untuk itu, penting bagi kita merekonstruksi cara pandang terhadap masyarakat Maluku. Kita perlu berhenti mengulang narasi bahwa kekayaan alam membuat orang Maluku malas. Sebaliknya, kita perlu belajar bagaimana orang Maluku membangun relasi yang penuh hormat dengan alam. Dalam dunia yang sedang mencari cara untuk hidup berkelanjutan, orang Maluku sebenarnya sudah lama memiliki jawabannya.

Pemerintah dan lembaga pendidikan juga harus berperan dalam mengubah pandangan bahwa “orang Maluku malas karena alamnya kaya raya”. Dengan begitu, generasi muda dapat melihat bahwa menjaga alam bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan budaya dan moral.

Pada akhirnya, alam bukan penyebab kemalasan, melainkan cermin yang memperlihatkan cara kita memahami kehidupan. Alam Maluku yang kaya seharusnya tidak ditakuti sebagai sumber kemalasan, tetapi dirayakan sebagai sumber kebijaksanaan.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tali Kasih Natal Presiden Prabowo, 98 Resolution Network Salur 3.000 Paket Natal di Ambon

    Tali Kasih Natal Presiden Prabowo, 98 Resolution Network Salur 3.000 Paket Natal di Ambon

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com– Kementerian Sekretariat Negara bekerjasama dengan Jaringan aktivis 98 Resolution Network dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya untuk menjalankan program Tali Kasih Natal Presiden Prabowo Subianto di Kota Ambon. Tali Kasih Natal Presiden Prabowo itu dalam bentuk 3000 paket sembako ke masyarakat terdiri dari 2.000 paket bantuan Presiden RI dan 1.000 paket dari Pelindo. Wahab Talaohu, […]

  • Martho: Kami Pastikan 2M Menang Pilgub Maluku 2024

    Martho: Kami Pastikan 2M Menang Pilgub Maluku 2024

    • calendar_month Minggu, 3 Nov 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,tajukmaluku.com-Pemilihan kepala daerah Maluku tahun 2024 di Maluku sebentar lagi dilaksanakan, pasangan calon nomor urut 2 Murat Ismail-Michael Wattimena dinilai berpeluang menang. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Relawan Serikat Rakyat untuk Murad-Michael (SERAMM), Martho Zaini Warat pada Tajukmaluku.com, Minggu (03/11/2024). Menurutnya, tahapan pelaksanaan kampanye sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh KPU provinsi Maluku, dari […]

  • Komisi II DPRD Maluku Respon Cepat Tanggapi Keluhan Warga Soal Tumpahan Oli di Teluk Ambon

    Komisi II DPRD Maluku Respon Cepat Tanggapi Keluhan Warga Soal Tumpahan Oli di Teluk Ambon

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ketua Komisi II DPRD Provinsi Maluku, Irawadi, menyoroti dugaan tumpahan oli bekas yang mencemari kawasan pesisir Teluk Ambon. Dugaan ini muncul setelah masyarakat melaporkan adanya bercak hitam menyerupai oli di sepanjang pantai Negeri Hative Besar, akhir Oktober lalu. Menindaklanjuti laporan itu, DPRD Maluku berencana memanggil instansi terkait, termasuk Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), Dinas […]

  • Lewat Program Desa Siaga Bencana, PLN UIW MMU Perkuat Kesiapan Warga Negeri Waai

    Lewat Program Desa Siaga Bencana, PLN UIW MMU Perkuat Kesiapan Warga Negeri Waai

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) terus mendorong penguatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengenalan Program serta Edukasi Karakteristik Bencana di Sekitar, yang digelar di Negeri Waai, Kabupaten Maluku Tengah, Senin (26/1/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Desa Siaga Bencana yang diinisiasi PLN melalui […]

  • DPRD Maluku Pastikan Infrastruktur Rusak Akibat Bencana Sedang Dalam Tahap Identifikasi

    DPRD Maluku Pastikan Infrastruktur Rusak Akibat Bencana Sedang Dalam Tahap Identifikasi

    • calendar_month Selasa, 12 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota Komisi III DPRD Maluku, Rovik Akbar Afifuddin, memastikan semua infrastruktur yang rusak akibat bencana hujan deras dan tanah longsor akan segera diidentifikasi. Rovik mengatakan, saat ini Maluku sudah berstatus tanggap darurat bencana, sehingga proses koordinasi dan pendataan dilakukan secepatnya. “Semua infrastruktur yang rusak akan dikoordinasikan untuk diidentifikasi. Kemarin kami sudah minta diidentifikasi mana yang […]

  • Ridwan Nurdin: “Maluku Butuh RPH Terstandar untuk Jamin Kesehatan dan Kebersihan Daging”

    Ridwan Nurdin: “Maluku Butuh RPH Terstandar untuk Jamin Kesehatan dan Kebersihan Daging”

    • calendar_month Jumat, 24 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota Komisi II DPRD Provinsi Maluku, H. Ridwan Nurdin, menyorot pentingnya pendirian Rumah Potong Hewan (RPH) berstandar di Maluku. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama mitra Komisi II DPRD Maluku pada Kamis (24/01/2024), Ridwan menegaskan bahwa ketiadaan RPH berstandar di Maluku menjadi tantangan besar dalam menjamin kebersihan dan kesehatan daging yang dikonsumsi masyarakat. “Kondisi pemotongan […]

expand_less