Mikroalga: Pahlawan Sunyi Penyelamat Bumi dari Krisis Iklim dan Kerusakan Lingkungan
- account_circle Admin
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 16
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Tri Santi Kurnia
(Mahasiswa S3 Biologi UGM || Akademisi UIN Abdul Muthalib Sangadji Ambon)
Tajukmaluku.com-Selama ini kita terlalu sering memusatkan perhatian pada hutan ketika berbicara tentang paru-paru dunia. Kita menanam pohon, mengkampanyekan reboisasi, dan mengkritik deforestasi. Semua itu tentu penting. Namun, ada satu “pahlawan” lain yang luput dari perhatian publik yakni Mikroalga—organisme mikroskopis yang justru bekerja tanpa henti di wilayah yang menutupi 71% permukaan Bumi.
Bumi kerap disebut sebagai planet air. Artinya, sebagian besar kehidupan di planet ini sangat bergantung pada ekosistem perairan. Di dalamnya, mikroalga hidup dan berkembang dalam jumlah yang sangat besar. Organisme kecil ini mampu berfotosintesis seperti tumbuhan darat, menghasilkan oksigen, sekaligus membentuk biomassa.
Jika hutan bekerja di daratan, maka mikroalga bekerja di lautan, sungai, dan danau. Bahkan bisa jadi, kontribusi mereka terhadap produksi oksigen dunia jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.
Ironisnya, di tengah meningkatnya deforestasi dan degradasi lingkungan, perhatian terhadap peran mikroalga masih sangat minim. Kita cenderung memandang air hanya sebagai sumberdaya yang bisa dimanfaatkan, bukan sebagai sistem kehidupan yang kompleks. Padahal, di setiap badan air terdapat fondasi rantai makanan yang dimulai dari mikroalga.
Menurut saya, sudah saatnya paradigma kita berubah. Mikroalga bukan sekadar organisme penyebab warna hijau di kolam atau fenomena “blooming” di laut. Mereka adalah produsen utama dalam ekosistem perairan. Tanpa mikroalga, zooplankton tidak memiliki sumber makanan.
Tanpa zooplankton, populasi ikan akan terganggu. Dan pada akhirnya, manusia pun ikut terdampak. Artinya, stabilitas ekosistem global bergantung pada organisme yang bahkan tidak bisa kita lihat dengan mata telanjang.
Lebih dari itu, mikroalga menawarkan harapan nyata dalam menghadapi krisis iklim. Kita tahu bahwa karbon dioksida (CO₂) adalah salah satu gas rumah kaca utama yang memicu pemanasan global. Mikroalga menggunakan CO₂ sebagai bahan baku fotosintesis. Dengan kata lain, mereka secara alami berfungsi sebagai penyerap karbon.
Langkah konkret sudah mulai dilakukan. Di Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi foto bioreaktor berbasis mikroalga untuk membantu mereduksi emisi karbon. Ini menunjukkan bahwa mikroalga bukan hanya solusi ekologis, tetapi juga solusi teknologi yang aplikatif.
Jika dikembangkan secara masif dan efisien, bukan tidak mungkin mikroalga menjadi salah satu kunci strategi mitigasi perubahan iklim di masa depan.
Selain itu, kemampuan mikroalga dalam menyerap dan menguraikan zat pencemar membuka peluang besar dalam bidang bioremediasi. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Chemosphere (2022) menunjukkan bahwa mikroalga berpotensi efektif dalam mengatasi pencemaran logam berat di perairan.
Ini membuktikan bahwa solusi terhadap kerusakan lingkungan sebenarnya sudah tersedia di alam dan kita hanya perlu mengelolanya dengan bijak.
Bagi saya, yang menjadi persoalan utama bukanlah apakah mikroalga penting atau tidak. Jawabannya jelas: sangat penting. Persoalannya adalah apakah kita mau memberi perhatian, investasi riset, dan kebijakan yang memadai untuk memaksimalkan potensinya.
Kita hidup di era krisis iklim, pencemaran, dan ketidakseimbangan ekosistem. Dalam situasi seperti ini, mengabaikan mikroalga sama saja dengan mengabaikan fondasi sistem kehidupan di perairan. Organisme kecil ini mengajarkan satu hal penting kalau ukuran tidak selalu menentukan dampak. Yang tak terlihat sering kali justru paling menentukan.
Sudah saatnya mikroalga keluar dari bayang-bayang dan diakui sebagai salah satu pilar utama keberlanjutan Bumi. Jika hutan adalah paru-paru daratan, maka mikroalga adalah paru-paru samudra dan mungkin, penyelamat masa depan kita.*
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar