Rapimwil dan Dialog Publik, GMPI Maluku Buka Ruang Konsolidasi Pemuda- Pemda Par Maluku Pung Bae
- account_circle Admin
- calendar_month Minggu, 21 Des 2025
- visibility 187
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com-Generasi Muda Pembangunan Indonesia (GMPI) Maluku menggelar Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) dan Dialog Publik bertajuk “Sinergitas Pemuda & Pemerintah dalam Pembangunan Berkelanjutan par Maluku Pung Bae”.
Kegiatan yang berlangsung di Grand Avira Hotel Ambon, 21–22 Desember 2025 dan diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai elemen kepemudaan dan organisasi itu untuk membuka ruang konsolidasi gagasan dan kritik terbuka antara pemuda dan pemerintah daerah.

Sejumlah tokoh hadir sebagai narasumber, antara lain Rektor UIN Ambon Dr. Abidin Wakano, Ketua KNPI Maluku, Arman Kalean, serta perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Maluku melalui Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga, Roy J. Mongie.
Ketua GMPI Maluku, Bansa Hadi Sella, dalam sambutannya menegaskan bahwa agenda ini bukan seremoni rutin organisasi, melainkan upaya serius membangun pola kerja kolaboratif antara pemuda dan pemerintah.

“Pembangunan berkelanjutan di Maluku tidak bisa dikerjakan secara sektoral. Pemuda harus dilibatkan mulai dari perencanaan, bukan sekadar dipanggil saat seremoni. Sinergi yang kita maksud adalah kerja bersama yang konkret, kritis, dan saling mengawasi ” kata Bansa.
Menurut dia, GMPI ingin mendorong pemuda Maluku keluar dari jebakan romantisme wacana dan masuk ke ruang praksis kebijakan.
“Pemuda harus menjadi mitra strategis pemerintah, sekaligus penjaga akal sehat publik. Itu cara kita merawat Maluku pung bae,” ujarnya.
Dalam dialog publik, Rektor UIN Ambon Abidin Wakano menekankan pentingnya nilai sosial Maluku sebagai fondasi pembangunan. Ia mengingatkan bahwa kemajuan daerah akan rapuh jika tercerabut dari etika hidup bersama.

“Hidup orang basudara di Maluku bukan slogan budaya, tapi modal sosial. Kalau nilai itu rusak, pembangunan apa pun akan kehilangan makna,” kata Abidin.
Ia mendorong pemuda menjadi penjaga nalar kebangsaan yang berakar pada kearifan lokal.
Sementara itu, Ketua KNPI Maluku, Arman Kalean berbicara lugas soal masa depan pemuda Maluku. Menurutnya, tantangan terbesar pemuda hari ini bukan kekurangan ide, melainkan minimnya ruang aktualisasi yang terhubung dengan kebijakan.
“Masa depan pemuda Maluku ditentukan oleh keberanian mengambil peran. Pemuda tidak boleh puas jadi penonton atau sekadar penggembira dalam politik. Harus ada keberanian masuk ke ruang pengambilan keputusan,” ujar Arman.
Ia menyebut forum seperti yang digagas GMPI sebagai ruang penting untuk merumuskan arah bersama.

Sementara, Roy J. Mongie menegaskan komitmen Dispora Maluku untuk membuka ruang kolaborasi. Ia mengakui bahwa sinergi dengan pemuda masih perlu diperkuat, tidak hanya dalam kegiatan olahraga, tetapi juga dalam pembangunan sosial dan karakter.
“Sinergi pemuda dengan pemerintah par Maluku pung bae harus dibangun secara berkelanjutan. Pemerintah butuh energi, ide, dan kontrol dari pemuda. Tanpa itu, program pembangunan hanya jadi jadi rutinitas administratif,” kata Roy.

Dialog publik berlangsung dinamis, dengan sejumlah kritik dan usulan mengemuka dari peserta. Acara ditutup dengan penyerahan plakat penghargaan kepada para narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi pemikiran mereka.
Melalui Rapimwil dan dialog ini, GMPI Maluku menegaskan diri sebagai organisasi pemuda yang tidak hanya bersuara, tetapi juga menawarkan arah. Di tengah kompleksitas persoalan Maluku, GMPI memilih jalan sinergi, kritis, setara, dan berpihak pada masa depan Maluku.*(01-F)
- Penulis: Admin



Saat ini belum ada komentar