Breaking News
light_mode

“Buah Simalakama” itu Bernama MIP (Bagian-II)

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 9 Okt 2025
  • visibility 350
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: M Kashai Ramdhani Pelupessy

(Dosen Psikologi di UIN AM Sangadji Ambon; Pemerhati Psikologi Lingkungan)

Tajukmaluku.comSituasi di Maluku saat ini ibarat kita sedang terbawa arus deras sungai—tak berdaya melawannya, hanya berusaha bertahan agar kita tidak tenggelam. Dalam kondisi seperti itu, apa pun yang lewat di depan mata akan kita genggam. Bahkan jika yang terlihat adalah kotoran, kita usahakan menggenggamnya erat-erat agar kita tidak tenggelam terbawa arus.

Itulah situasi yang dialami sebagian anak-anak muda di Maluku saat ini. Nalar kritisnya tumpul. Kurang bisa membaca arah gerak sejarah kedepannya akan seperti apa (?). Apapun yang ada di depan mata kita, seperti megaproyek Maluku Integrated Port (MIP), jika menguntungkan maka langsung kita ambil sebagai “pegangan hidup”. Tanpa bertanya, bagaimana situasi yang akan dihadapi nantinya.

Mungkin, hanya sebagian kecil dari anak-anak muda Maluku yang mampu menganalisa, apa masalah utama yang nanti dihadapi ketika megaproyek itu terlaksana. Dan, mereka (anak-anak muda) itu adalah seperti Ali Syariati mengistilahkannya: “kaum-kaum tercerahkan dan terdidik”.

Dalam tulisan saya sebelumnya di tajukmaluku.com (08/10/2025), saya cenderung bertanya-tanya, apakah megaproyek MIP ini sudah ter-ilhami oleh falsafah hidup “siwalima” ataukah belum? Padahal, “siwalima” ini selalu kita agungkan di setiap mimbar-mimbar maupun di dalam ruang-ruang kelas. Namun, kenyataan di lapangan, falsafah hidup “siwalima” ini —tak lebih dan tak kurang— hanyalah menjadi stempel dari logo Pemerintah Provinsi Maluku saja.

Falsafah itu belum “membumi”. Meskipun falsafah itu terus diagungkan dalam kata-kata, tapi faktanya cenderung dikhianati dalam tindakan nyata. Sejumlah proyek pembangunan di Maluku belakangan ini, jika diperiksa, sebetulnya belum ter-ilhami oleh falsafah hidup “siwalima”. Dan, saya berasumsi, megaproyek MIP ini pun juga belum ter-ilhami oleh falsafah “siwalima”.

Atas dasar itulah, saya membayangkan di masa depan, ketika megaproyek MIP ini berjalan tentu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Maluku. Akan tetapi, pertanyaannya adalah, pertumbuhan ekonomi itu nantinya untuk siapa? Apakah untuk masyarakat Maluku secara kolektif? Ataukah sebaliknya, hanya menguntungkan sebagian kalangan konglomerat lokal tertentu?

Pertanyaan di atas itu memang tampak klise, tetapi penting dipahami agar suatu saat kita tidak menjadi “babu” di negeri sendiri. Jangan seperti pepatah bilang begini: “lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang”. Kalau bisa, pepatah itu harus diubah menjadi begini: “walaupun hujan emas di negeri orang itu baik, tetapi lebih baik lagi apabila hujan emas di negeri sendiri”.

Artinya, dampak dari megaproyek MIP ini harus dapat mengucurkan hujan emas bagi seluruh masyarakat di Maluku. Namun, saya membayangkan kedepannya, kucuran hujan emas itu hanya berhenti di kalangan tertentu saja, alias tidak merata. Berikut ini saya akan jelaskan alasannya, kenapa megaproyek MIP ini nantinya tidak bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Maluku.

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya telah mengulas bahwa ada dua problem yang bakalan muncul ketika megaproyek MIP ini terlaksana. Pertama adalah “perampasan lahan”. Kedua, nelayan lokal akan mengalami kerentanan psikososial. Untuk selebihnya, silahkan baca tulisan saya sebelumnya di tajukmaluku.com (08/10/2025).

Berikut ini, saya akan tambahkan lagi beberapa persoalan yang bakal muncul ketika megaproyek MIP ini terlaksana. Persoalan ini lebih terkait dengan “penyerapan tenaga kerja”. Belakangan ini saya ikuti, banyak yang sangat menaruh harapan, bahwa kalau megaproyek MIP ini terlaksana maka akan membuka lapangan kerja yang besar bagi masyarakat Maluku. Benarkah demikian? Jangan-jangan, harapan itu akan berubah menjadi “buah simalakama” di kemudian hari.

Dalam konteks itu, saya ambil contoh yang terjadi di Maluku Utara saat ini. Waktu itu, banyak masyarakat menaruh harapan besar dari hasil pertambangan nikel. Banyak yang membayangkan akan sejahtera di kemudian hari. Namun, belakangan ini, situasi yang terjadi di lapangan tampak sangat memilukan. Gejala sosial yang paling terasa dialami di Maluku Utara saat ini adalah persaingan mencari suaka antara “orang lokal” dan “pendatang”. Jika ini tak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan masalah konflik horizontal di kemudian hari.

Itulah situasi di Maluku Utara saat ini. Mari kita tengok kembali di Maluku, apakah megaproyek MIP akan mendatangkan kesejahteraan? Ataukah, sebaliknya, justru melahirkan persoalan baru di masa depan yakni “perebutan lapangan kerja” antara “orang lokal” dan “pendatang”? Dari situlah kita harus banyak bertanya, apakah anak-anak muda kita sudah siap dan punya kapasitas sebagai “pekerja” untuk mengelola MIP? Seberapa banyak-kah itu?

Jangan sampai, megaproyek MIP ini justru berubah menjadi “buah simalakama” bagi masyarakat Maluku di masa mendatang. Olehnya itu, pemerintah Provinsi Maluku harus benar-benar memastikan, apakah megaproyek MIP ini dapat memberi kesejahteraan secara kolektif bagi masyarakat Maluku ataukah tidak? Saya berasumsi, kemungkinan di masa depan, pertanyaan seperti itu akan muncul lagi dengan suara yang lebih keras. Kita tunggu saja.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di CEO Forum 2024, Dirut PLN Ajak Selaraskan Langkah Wujudkan Mimpi Indonesia

    Di CEO Forum 2024, Dirut PLN Ajak Selaraskan Langkah Wujudkan Mimpi Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 12 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com– Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo mengajak ratusan CEO perusahaan di Indonesia untuk terus menyelaraskan langkah dalam melanjutkan pembangunan nasional sekaligus mewujudkan mimpi Indonesia ke depan. Hal ini disampaikannya di hadapan Presiden Joko Widodo dan Para CEO yang hadir pada acara Kompas100 CEO Forum 2024 yang digelar di Istana Garuda di Ibu Kota […]

  • Jelang Tahun Baru, PLN UP3 Sofifi Sukses Nyalakan Pelanggan Pasang Baru 131 KVA PT Samator Indo Gas Tbk

    Jelang Tahun Baru, PLN UP3 Sofifi Sukses Nyalakan Pelanggan Pasang Baru 131 KVA PT Samator Indo Gas Tbk

    • calendar_month Sabtu, 30 Nov 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com– PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Sofifi berhasil melakukan penyalaan untuk pelanggan pasang baru, yakni PT Samator Indo Gas Tbk. Diketahui PT Samator Indo Gas Tbk merupakan perusahaan gas industri terbesar di Indonesia yang mengoperasikan 44 pabrik dan lebih dari 100 stasiun […]

  • KPU Kota Kembalikan Rp13 M Lebih Sisa Dana Hibah ke Pemkot Ambon

    KPU Kota Kembalikan Rp13 M Lebih Sisa Dana Hibah ke Pemkot Ambon

    • calendar_month Selasa, 3 Jun 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Ambon telah mengembalikan sisa penggunaan dana hibah Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2024 kepada Pemerintah Kota Ambon. Dari total pagu yang dianggarkan sebesar Rp 35.599,936,00, KPU hanya dapat menyerap anggaran sebesar Rp21,687,387,210 sisanya sebesar Rp13,912,548,790 dikembalikan ke kas daerah. Ketua KPU Kota Ambon, Kaharudin Mahmud mengungkapkan, pengembalian ini dilakukan sesuai […]

  • Ketwil PPP Maluku: Menolak Agus Suparmanto Sama Saja Menutup Jalan Bangkit

    Ketwil PPP Maluku: Menolak Agus Suparmanto Sama Saja Menutup Jalan Bangkit

    • calendar_month Sabtu, 27 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Jelang pembukaan Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP), wacana pencalonan Agus Suparmanto sebagai Ketua Umum memicu polemik. Sejumlah kalangan menolak dengan alasan Agus disebut sebagai “orang luar” PPP. Ketua DPW PPP Maluku, Aziz Hentihu, menilai alasan itu tidak objektif. Menurut dia, setelah gagal menempatkan wakil di parlemen pada Pemilu 2024, PPP justru membutuhkan energi baru […]

  • PLN UIW MMU Ingatkan Pentingnya Jaga Jarak Aman Atribut Kemerdekaan dari Instalasi Listrik

    PLN UIW MMU Ingatkan Pentingnya Jaga Jarak Aman Atribut Kemerdekaan dari Instalasi Listrik

    • calendar_month Kamis, 14 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) mengajak masyarakat untuk tetap mengutamakan keselamatan dalam memasang bendera, umbul-umbul, baliho, dan berbagai atribut kemerdekaan lainnya. General Manager PLN UIW MMU, Noer Soeratmoko menegaskan, pemasangan atribut terlalu dekat dengan instalasi atau jaringan […]

  • Zero Waste Warriors, Bukti PLN UIW MMU Cintai Lingkungan

    Zero Waste Warriors, Bukti PLN UIW MMU Cintai Lingkungan

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian lingkungan melalui peluncuran gerakan kolaboratif bertajuk Zero Waste Warriors. Kegiatan ini dimulai dengan aksi bersih-bersih pantai (Clean Up) di kawasan Pantai Galala, tepat di bawah Jembatan Merah Putih (JMP), Ambon. General Manager PLN UIW MMU, Awat Tuhuloula menyampaikan, kegiatan […]

expand_less