Breaking News
light_mode

Menjadi Terbiasa dengan Konflik di Maluku

  • account_circle Admin
  • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
  • visibility 222
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Dhani Pelupessy

(Akademisi UIN Abdul Muthalib Sangadji)

Tajukmaluku.com-Kita sering berkonflik tanpa tahu asal penyebabnya dari mana. Penyebabnya sangat beragam. Aktor intelektual dibalik konflik yang meletup itu pun kita tidak punya kemampuan mengetahuinya. Siapa pelakunya? Tidak tahu. Sasaran terakhir ialah pihak kepolisian, harus kerja ekstra mengusut tuntas siapa pelakunya.

Namun, pihak kepolisian kewelahan. Intelijen pun bingung. Padahal, mereka diajarkan “asas praduga tak bersalah”. Situasi ini memang sangat dilematis bagi polisi. Kalau mereka tetapkan “siapa tersangkanya” berdasarkan “asas praduga tak bersalah”, khawatirnya akan muncul reaksi dari masyarakat. Orang-orang berontak melawan polisi. Memang, semua ini serba salah.

Karena tidak tahu siapa pelakunya, kita pun mulai meraba-raba dan menganalisis. Bahwa konflik di Maluku disebabkan oleh persoalan struktural ekonomi-politik. Misalnya, masalah ketimpangan, ketidaksejahteraan, akses pendidikan yang terbatas, dan segala persoalan lain yang berkaitan dengan semua itu kita anggap sebagai akar masalah konflik di Maluku.

Sementara di sisi lain, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat berdasarkan logika pembangunannya sendiri. Tujuannya sangat mulia, untuk kesejahteraan kolektif, agar konflik dapat teratasi. Namun, terkadang logika pembangunan itu tidak sejalan dengan ‘local wisdom’ masyarakat Maluku. Jadi, semua menjadi buntu.

Menelusuri akar masalah konflik di Maluku tidak ada habisnya. Konflik di Maluku telah menjadi semacam laboratorium bagi para peneliti sosial. Mulai dari para antropolog, sosiolog, psikolog, ilmu politik, hukum, ilmu-ilmu keagamaan (baik Islam maupun Kristen), dan studi filsafat, semua telah berupaya membongkar akar persoalan konflik di Maluku. Tapi, semua itu tampaknya tidak berfungsi dalam penyelesaian konflik di Maluku.

Akhirnya, semua studi itu hanya tersimpan di balik ruang-ruang perpustakaan. Semua studi itu berubah menjadi arsip dengan katalog yang lumayan banyak. Kemudian, arsip-arsip itu mengendap dalam ingatan kolektif kita bersama. Membentuk pengetahuan dan pemahaman. Tapi, belum terejawantahkan menjadi program untuk pengentasan masalah konflik di Maluku.

Meskipun demikian, studi-studi yang telah dilakukan itu suatu saat akan memberi manfaat. Terutama bagi generasi Maluku ke depannya. Ketika mereka mulai membuka arsip studi-studi itu, pasti mereka terkaget-kaget. Betapa “bodohnya” orang-orang Maluku di masa lampau, yang sebetulnya adalah kita saat ini. Begitulah kira-kira, jika saya membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan.

Konflik di Maluku memang tidak pernah habis dibahas. Titik temu pemahaman dalam penyelesaian konflik ini tak pernah terjadi. Masing-masing dengan logikanya sendiri. Semua menyodorkan pandangan paling terbaik untuk penyelesaian konflik di Maluku, yakni dengan cara ini dan itu. Tapi, sebetulnya tidak ada titik temu pemahaman yang jelas dalam pengentasan konflik tersebut.

Pemerintah daerah punya pemahaman sendiri. Para intelektual publik juga punya pemahamannya sendiri. Masyarakat pun punya pemahamannya sendiri. Semua pemahaman bergerak secara sporadis, terpisah-pisah. Tidak ada titik temu yang jelas. Akhirnya, konflik terus meletup dan mengambang tanpa arah jelas.

Dialog publik sudah berapa kali di lakukan, mempertemukan unsur pemuda, intelektual publik, pemerintah, legislator, dan masyarakat, tapi hasilnya tetap sama saja. Konflik masih terus terjadi. Konflik tidak pernah hilang. Ya, konflik tidak pernah hilang. Konflik akan terus menjerat psikologis kita sehari-hari, dan kita mulai terbiasa dengannya. Tapi, apakah ini pilihan rasional?

Meminjam pendapat Donna J. Haraway, bahwa kita saat ini hidup dalam situasi penuh masalah. Kita tidak bisa keluar darinya. Kita harus hidup di dalamnya. Menyatu dengan masalah itu, sembari membangun relasi kekerabatan dengan semua makhluk hidup. Artinya, kita tidak bisa menghindari konflik. Kita harus hidup di dalam konflik itu sendiri. Menjadi terbiasa dengannya.

Tapi, kadangkala kita berusaha menyelesaikan konflik itu dengan membayangkan situasi aman di masa mendatang. Bagi Donna J. Haraway, bahwa hidup dengan masalah tidaklah seperti itu. Kita tidak bisa keluar dari konflik dengan cara membayangkan situasi aman di masa depan. Kita harus hidup di dalam konflik itu sendiri. Dan ini adalah pilihan rasional.

Jadi, kita harus terbiasa dengan konflik itu sendiri. Menjadi rutinitas harian yang perlu kita jalani secara terus menerus ke depannya. Menyatu dengannya. Dengan begitu, kita akan mendapati banyak jawaban tak terduga dibalik konflik yang terus terjadi. Jawaban-jawaban itu nantinya akan menjadi solusi yang lebih orisinil terhadap pengentasan konflik di Maluku.*

  • Penulis: Admin

Komentar (1)

  • Bungwir

    Menawarkan solusi untuk mendapatkan solusi dan berakhir dengan kebuntuan solusi. Sebenarnya satu-satunya solusi adalah setiap individu harus punya kesadaran atas diri dan akibat dari perbuatan dirinya. Sebab konflik di Maluku adalah peristiwa yang tidak natural, ia diciptakan. Sama halnya dengan kerusuhan 1999, saat Gus Dur memberikan pernyataan bawa, “yang bisa menyelesaikan konflik adalah masyarakat Maluku sendiri” pernyataan ini dianggap, negara lepas tangan. padahal akhirnya konflik bisa teratasi karena masyarakat Maluku mulai sadarr, betapa merekalah yang menciptakan kuburan mereka sendiri.

    Balas30 Januari 2026 3:06 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tual Pertahankan WTP, Walikota Akhmad Yani Renuat Terima Penghargaan Kedua

    Tual Pertahankan WTP, Walikota Akhmad Yani Renuat Terima Penghargaan Kedua

    • calendar_month Rabu, 28 Mei 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pemerintah Kota Tual kembali torehkan prestasi membanggakan dengan meraih predikat Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Tahun Anggaran 2024. Penghargaan tersebut diserahkan secara resmi oleh BPK RI Perwakilan Provinsi Maluku dalam sebuah seremoni di Ambon, Selasa (27/5/2025). Wali Kota Tual, H. Akhmad […]

  • Sambut HLN Ke-79, Donasi Insan PLN Terangi 3.725 Keluarga se-Indonesia

    Sambut HLN Ke-79, Donasi Insan PLN Terangi 3.725 Keluarga se-Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 26 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com- Memperingati Hari Listrik Nasional (HLN) ke-79, PT PLN (Persero) melalui program Light Up The Dream memberikan bantuan listrik gratis kepada 3.725 keluarga kurang mampu secara serentak di seluruh Indonesia pada Rabu (23/10). Program bantuan yang berasal dari donasi para pegawai PLN ini total telah menjangkau 28.488 keluarga sejak diluncurkan pertama kali di tahun 2020. […]

  • Perjuangkan Konektivitas Daerah Kepulauan, Komisi III Datangi Kemenhub

    Perjuangkan Konektivitas Daerah Kepulauan, Komisi III Datangi Kemenhub

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Komisi III DPRD Maluku menyampaikan sejumlah program prioritas yang berkaitan dengan persoalan konektivitas di wilayah kepulauan saat bertemu Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI di Jakarta, Rabu (10/12/2025). Bagi Komisi III, peningkatan layanan transportasi darat, laut, dan udara di Maluku harus bisa ditindak lanjuti Kemenhub dengan cepat. “Kami datang menyampaikan kebutuhan daerah, terutama peningkatan konektivitas dan pemerataan […]

  • Pemuda SBB Apresiasi PLN UIW MMU atas Keandalan Listrik Saat Natal & Tahun Baru

    Pemuda SBB Apresiasi PLN UIW MMU atas Keandalan Listrik Saat Natal & Tahun Baru

    • calendar_month Rabu, 1 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Perayaan Natal 2024 di Seram Bagian Barat (SBB) berlangsung penuh khidmat berkat keandalan listrik yang disiagakan oleh PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Maluku-Maluku Utara. Jovandry Aditya, pemuda Seram Bagian Barat, memberikan apresiasi kepada PLN di bawah kepemimpinan Awat Tuhuloula atas komitmen dan kesiapan dalam menjaga pasokan listrik selama Natal dan Tahun Baru. “Siaga listrik yang […]

  • Bagikan 100 Paket Beras di Buka Puasa Bersama, Kahmi Ambon Serukan Tak Euforia saat Malam Takbiran

    Bagikan 100 Paket Beras di Buka Puasa Bersama, Kahmi Ambon Serukan Tak Euforia saat Malam Takbiran

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon, Tajukmaluku.com– Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Kota Ambon menggelar buka puasa bersama sekaligus penyaluran bantuan sosial Ramadan di Baileo Cafe, Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Jumat, 13 Maret 2026. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 17.30 hingga 20.30 WIT itu dihadiri pengurus MD KAHMI Kota Ambon bersama sejumlah undangan dari berbagai […]

  • Studi Banding Soal Peningkatan PAD, DPRD Maluku Terima Kunker dari Dewan Lampung

    Studi Banding Soal Peningkatan PAD, DPRD Maluku Terima Kunker dari Dewan Lampung

    • calendar_month Rabu, 25 Jun 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-DPRD Provinsi Maluku menerima kunjungan kerja dari Komisi III DPRD Provinsi Lampung, Rabu (25/6/2025). Kunker itu untuk studi banding terkait upaya meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di daerah kepulauan seperti Maluku yang memiliki potensi kelautan sangat besar. Kunker ini turut dihadiri sejumlah OPD teknis, seperti Badan Pendapatan Daerah (Bapenda), Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah […]

expand_less