Breaking News
light_mode

Republik Setengah Hati: Kuasa atas Nasionalisme Bernegara

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 10 Nov 2025
  • visibility 1.001
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Kamil Mony

(Founder A.M Sangadji Institute)

Tajukmaluku.com-Tahun ini, Maluku kembali menelan kecewa. Dari deretan nama penerima gelar Pahlawan Nasional 2025, tak satu pun datang dari bumi raja-raja. Seolah republik ini setengah hati menatap sejarah timur Nusantara. Wilayah yang sejak awal berdarah untuk kemerdekaan, tapi selalu tersisih dalam penghormatan resmi negara.

Kekecewaan itu menukik lebih dalam ketika nama Abdoel Moethalib Sangadji, tokoh besar, perintis sejati, dan pendiri kesadaran politik modern di Ambon kembali diabaikan untuk ketiga kalinya.

Jago Toea”, julukan yang disematkan pemerintah kolonial karena keberaniannya melawan otoritas Belanda lewat pena dan gerakan politik. Ia termasuk perintis NIC ( National Indische Congress) di Surabaya tahun 1923 bersama puluhan pemuda pergerakan lainnya dari berbagai penjuru tanah air jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928. Namun ironis, di tengah bangsa yang gemar menobatkan pahlawan baru setiap tahun, figur sekelas Sangadji justru dilupakan.

Padahal, sejarah telah mengakui kontribusinya. Ia memimpin perlawanan intelektual terhadap kolonialisme, membentuk kesadaran kebangsaan jauh sebelum kemerdekaan diproklamasikan. Di Ambon, nama Abdoel Moethalib Sangadji kini diabadikan lewat transformasi IAIN Ambon menjadi UIN Abdoel Moethalib Sangadji, berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2025. Sebuah pengakuan akademik atas jasa besarnya. Tapi pengakuan itu berhenti di atas kertas.

Presiden Prabowo Subianto seolah menutup mata terhadap figur yang layak disebut “arsitek moral” dari pergerakan kaum terpelajar di Maluku.

Jika Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan menjadi ukuran, maka Sangadji telah melampaui setiap pasalnya. Ia berintegritas, berjuang dalam politik kebangsaan, setia pada republik, dan menghasilkan gagasan besar yang mewarnai arah bangsa.

Dalam definisi yuridis maupun moral, kriteria “pahlawan nasional” ada dalam dirinya. Maka yang absen bukan bukti melainkan kemauan politik negara untuk menegakkan keadilan sejarah.

Negara ini seakan tidak jujur dalam sejarah. Definisi kepahlawanan dalam UU No. 20/2009 perlu dikaji ulang, bukan karena salah substansi, tapi karena praktiknya kerap tunduk pada selera kekuasaan. Selama politik masih menjadi penentu siapa yang layak disebut pahlawan, selama tim penilai masih menimbang nama dengan kalkulasi elektoral, maka penghargaan itu kehilangan makna.

Sudah saatnya pemerintah menyelesaikan dulu “utang moral” kepada para perintis kemerdekaan yang terlupakan. Termasuk di dalamnya nama Abdoel Moethalib Sangadji, seangkatan dengan Tjokroaminoto dan Agus Salim yang konsistensinya pada cita republik tak perlu diragukan.

Tahun 2024, Sangadji hanya masuk daftar tunda. Tahun 2025, namanya hilang sama sekali. Mungkin bagi pusat, ia hanya sejarawan pinggiran dari Maluku. Tapi bagi bangsa yang masih waras membaca sejarahnya, Sangadji adalah simbol bahwa republik ini pernah dibangun oleh pikiran, bukan oleh popularitas.

Abdoel Moethalib Sangadji tak menuntut untuk dihormati, atau pajangan krans bunga dengan ucapan selamat atas gelar kepahlawanan. Tapi kita sedang bernegara. Berkerja dalam integrasi nasional. Memahami jejak perjuangan dari pinggiran Batavia. Jika Prabowo atau Negara terus menggunakan rasio basis politik dan ekonomi atas pengakuan gelar kepahlawanan, maka Maluku akan kehilangan segalanya, baik Si Jago Toea maupun keadilan distributif bagi keterlibatan panjang ber-Indonesia.

Rasanya, kita memang punya identitas ganda dalam bernegara. Nasionalisme tidak disusun atas patriotisme, loyalitas dan dedikasi menjaga keutuhan NKRI dari propaganda politik asing dan Kolonialisme.

Gejala ini seolah mereview gagasan Nasionalisme Semua atau Komunitas Terbayang Ben Anderson. Bahwa, seolah-olah kita menjadi bagian dari semangat nasionalisme dalam cara pandang kekuasaan, tetapi setiap jengkal jejak perjuangan dilupakan. Tersapu angin seperti debu.

Semoga penganugerahan gelar pahlawan nasional di masa depan bukan lagi panggung politik penguasa, melainkan ruang penebusan sejarah. Karena selama Abdoel Moethalib Sangadji masih dibiarkan menunggu di lorong waktu, republik ini tetaplah setengah hati.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Hari Pahlawan, YBM PLN UIW MMU Gelar Panen Raya Sekaligus Salurkan Bantuan bagi Peternak dan Petani di Pulau Ambon

    Jelang Hari Pahlawan, YBM PLN UIW MMU Gelar Panen Raya Sekaligus Salurkan Bantuan bagi Peternak dan Petani di Pulau Ambon

    • calendar_month Jumat, 8 Nov 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com– Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) kembali menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat dengan menggelar Panen Raya, Jumat (8/11/2024). Panen Raya ini digelar bersamaan dengan penyerahan bantuan pertanian dan peternakan, serta santunan bagi kaum dhuafa di empat dusun yang tersebar di Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Yakni, kelompok […]

  • Sambut HLN Ke-79, Donasi Insan PLN Terangi 3.725 Keluarga se-Indonesia

    Sambut HLN Ke-79, Donasi Insan PLN Terangi 3.725 Keluarga se-Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 26 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com- Memperingati Hari Listrik Nasional (HLN) ke-79, PT PLN (Persero) melalui program Light Up The Dream memberikan bantuan listrik gratis kepada 3.725 keluarga kurang mampu secara serentak di seluruh Indonesia pada Rabu (23/10). Program bantuan yang berasal dari donasi para pegawai PLN ini total telah menjangkau 28.488 keluarga sejak diluncurkan pertama kali di tahun 2020. […]

  • Serahkan 1.303 SK ASN dan PPPK Kemenag Maluku, Gubernur; Komitmen Perkuat Pelayanan Publik

    Serahkan 1.303 SK ASN dan PPPK Kemenag Maluku, Gubernur; Komitmen Perkuat Pelayanan Publik

    • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Sebanyak 1.303 Aparatur Sipil Negara (ASN) formasi tahun 2024 resmi bergabung dalam jajaran Kementerian Agama Provinsi Maluku. Penyerahan Surat Keputusan (SK) untuk 99 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan 1.204 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dilakukan langsung oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, di sela pembukaan orientasi ASN di aula Kanwil Kemenag Maluku, Senin (30/6/2025). […]

  • Konsisten Dukung Sektor Industri, PLN UP3 Sofifi Tindak Lanjuti Rencana Penambahan Daya Listrik PT Semarak Group

    Konsisten Dukung Sektor Industri, PLN UP3 Sofifi Tindak Lanjuti Rencana Penambahan Daya Listrik PT Semarak Group

    • calendar_month Sabtu, 22 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Sofifi,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) berkomitmen terus mengawal setiap kebutuhan daya listrik pelanggan, termasuk sektor industri jasa otomotif atau industri perbaikan kendaraan. Hal ini dilakukan PLN UIW MMU melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Sofifi yang berkunjung ke bengkel PT Semarak Group. Kunjungan ini dalam rangka menindaklanjuti permintaan penambahan daya […]

  • Milad ke-19, YBM PLN UIW MMU Salurkan Bantuan bagi 238 Mustahik di Maluku

    Milad ke-19, YBM PLN UIW MMU Salurkan Bantuan bagi 238 Mustahik di Maluku

    • calendar_month Sabtu, 4 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dalam rangka memperingati Milad ke-19, Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pemberdayaan masyarakat dengan menyerahkan bantuan kepada 238 orang mustahik yang tersebar di Provinsi Maluku. Para penerima manfaat berasal dari berbagai latar belakang, seperti pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), kelompok tani, hingga […]

  • International Women’s Day 2025: Aksi Bisu, dan Duka Perempuan

    International Women’s Day 2025: Aksi Bisu, dan Duka Perempuan

    • calendar_month Senin, 10 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com– “Indonesia boleh gelap tapi perempuan adalah cahaya yang tidak akan padam“. Demikian sorak perlawanan yang digaungkan para perempuan Maluku dalam Aksi Bisu memperingati International Women’s Day (IWD) di Bundaran Poka, Kota Ambon (10/3/2025). Gerakan aktivis perempuan yang diprakarsai oleh Korps HMI-Wati (Kohati) Komisariat Polnam, Kohati Komisariat Ekonomi dan Bisnis Unpatti, Bidang Pemberdayaan Perempuan HMI […]

expand_less