Breaking News
light_mode

“Buah Simalakama” itu Bernama Maluku Integrated Port (MIP)

  • account_circle Admin
  • calendar_month Rabu, 8 Okt 2025
  • visibility 464
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: M Kashai Ramdhani Pelupessy

(Dosen Psikologi di UIN AM Sangadji Ambon; Pemerhati Psikologi Lingkungan)

Tajukmaluku.com–Saya membayangkan, bagaimana jika megaproyek Maluku Integrated Port (MIP) ini benar-benar terwujud di masa depan? Apakah kehadirannya akan menjadi jalan menuju kesejahteraan masyarakat Maluku? Ataukah, sebaliknya, membuka babak baru permasalahan sosial-ekologis di kemudian hari? Di tengah kondisi perekonomian Maluku yang masih tertinggal dan tingkat kemiskinan yang terus membelit, investasi besar seperti megaproyek MIP ini kadang disebut sebagai solusi strategis.

Olehnya itu, tak heran jika Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, menyambut baik penandatangan MoU antara Shanxi Sheng’an Mining dan PT. Indonesia Mitra Jaya untuk memuluskan megaproyek MIP tersebut. Bahkan, sang Gubernur rela terbang ke Jepang demi menyaksikan penandatangan MoU, ini adalah sebuah gestur yang menunjukkan betapa besar harapan pemerintah Provinsi Maluku terhadap megaproyek MIP.

Namun, kita perlu berhati-hati. Jangan sampai megaproyek MIP justru berubah menjadi “buah simalakama” bagi masyarakat Maluku di masa mendatang.

Ibarat pepatah “buah simalamaka”: dimakan mati, tak dimakan pun mati. Artinya, megaproyek MIP itu bisa saja menjanjikan kemajuan ekonomi di satu sisi, tetapi sekaligus juga dapat menimbulkan kerentanan sosial, ekologis, dan budaya di sisi lain.

Apakah pemerintah Provinsi Maluku dapat memastikan megaproyek MIP itu berjalan tanpa merusak kondisi sosial-ekologis dan budaya yang sudah terbangun sejak ribuan tahun di Maluku? Mari kita berkaca dari pengalaman Provinsi Maluku Utara.

Beberapa hari lalu, kita mendapat kabar bahwa kondisi perekonomian di Maluku Utara sangat tumbuh drastis. Tetapi, apa yang kita lihat di Maluku Utara itu hanya “cover-nya” saja. Dibalik itu (baca: undercover), kondisi sosial-ekologis di Maluku Utara sangat dramatis, mulai dari pengrusakan alam, masyarakat adat kehilangan tanah ulayatnya, perampasan ruang hidup, dan lain sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan sosial-ekologi akan melahirkan petaka di kemudian hari.

Atas alasan itulah, tulisan ini dibuat untuk memberi semacam “sinyal perhatian” kepada pemerintah Provinsi Maluku agar lebih berhati-hati saat mengimplementasikan program pembangunannya di masa mendatang. “Dibalik kritik, tentu ada solusi”. Inilah kredo yang harus kita pegang kalau Maluku mau maju kedepannya.

Siwalima, Jangan Cuma Logo

Satu hal yang sering kita lihat dari Provinsi Maluku adalah logo “siwalima”-nya. Logo itu bahkan sering dipakai kemana-mana oleh para pegawai setempat, baik saat menghadiri pertemuan resmi maupun ke acara pernikahan. Tetapi, yang perlu kita ingat bahwa “siwalima” bukan sekadar logo. “Siwalima” bukan sekadar ajaran mengenai relasi manusia dengan manusia, tetapi juga relasi manusia dengan alam sekaligus dengan Tuhan. Pertanyaannya adalah, apakah megaproyek MIP sudah mengakomodasi falsafah hidup “siwalima” atau belum? Program pembangunan yang lepas kendali dari falsafah hidup setempat akan menimbulkan keretakan di kemudian hari, seperti contoh di Maluku Utara belakangan ini.

Sebagaimana yang telah saya sampaikan di awal, saya mencoba membayangkan bagaimana kalau megaproyek MIP ini berjalan? Yang pertama, tentu butuh lahan yang besar. Karena itulah, “perampasan lahan” akan menjadi problem sosial yang bakal muncul di kemudian hari. Kita semua tahu, bahwa problem utama masyarakat Maluku adalah selalu berurusan dengan persoalan tapal batas wilayah. Dan menariknya, tapal batas wilayah bagi orang Maluku cenderung sangat cair karena dilatarbelakangi narasi historis yang sangat panjang dari masa lampau.

Terlepas dari itu, poin pentingnya adalah, wilayah atau tanah ulayat adalah bukan benda mati. Wilayah atau tanah ulayat bagi orang Maluku, kalau meminjam istilah Aholiab Watloly dalam tulisannya berjudul “Konsep Diri Masyarakat Kepulauan”, adalah lokus personal. Artinya, wilayah adalah bagian dari eksistensi diri masyarakat Maluku. Sebab, wilayah itu sudah diberi makna, baik itu secara spiritual maupun kebudayaan. Hal ini menunjukkan relasi antara masyarakat dengan alamnya, yang merupakan hakikat dari falsafah “siwalima” tersebut.

Kedua, jika megaproyek MIP ini berjalan, saya membayangkan akan terjadi hilir-mudik kapal-kapal besar di wilayah perairan Maluku. Tentu, ini akan menjadi problem sosial di kemudian hari, terutama dapat memberi kerentanan bagi nelayan lokal. Suatu saat, ketika para nelayan lokal ingin menangkap ikan akan butuh waktu dan biaya cukup besar. Situasi ini tentu sangat bertolak belakang dengan tujuan dari falsafah hidup “siwalima”. Sebab, relasi orang Maluku dengan kondisi alamnya menjadi terganggu akibat megaproyek MIP, dan parahnya lagi akan berimbas pada menurunnya resiliensi nelayan lokal dalam menjalani rutinitas kehidupannya.

Resiliensi atau ketahanan bagi masyarakat Maluku adalah sangat bergantung dari alam. Alam merupakan resource (sumber daya) bagi masyarakat Maluku. Olehnya itu, jika sumber daya itu digerogoti (baca: dirusak), maka yang dirasakan masyarakat tempatan adalah kerentanan. Sebetulnya, persoalan itu sudah banyak dibicarakan para ilmuwan. Ambil contoh, penelitian yang dilakukan oleh Neil Adger selama beberapa tahun pada masyarakat pesisir di Vietnam. Hasil penelitiannya menemukan bahwa masyarakat lokal di Vietnam yang rutinitasnya selalu bergantung dari alam, apabila hal itu rusak maka yang dirasakan adalah kerentanan.

Itu baru dua persoalan yang muncul jika saya membayangkan kalau megaproyek MIP ini benar-benar terlaksana di kemudian hari. Lagi-lagi, pertanyaannya adalah, apakah pemerintah Provinsi Maluku dapat memastikan bahwa semua itu dapat berjalan mulus? Dalam bahasa lain, apakah megaproyek MIP ini sudah ter-ilhami oleh nilai-nilai dari falsafah hidup “siwalima”? Jangan-jangan, suatu saat, megaproyek MIP ini justru berubah menjadi “buah simalakama” di masa mendatang.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Raih 19 Medali, Atlet Taekwondo Harumkan Nama Maluku Di Panggung Nasional

    Raih 19 Medali, Atlet Taekwondo Harumkan Nama Maluku Di Panggung Nasional

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Makassar,Tajukmaluku.com-Kontingen Taekwondo Maluku tampil mencolok di ajang Poltek Cup 2025 yang digelar di Makassar. Dari 24 atlet yang turun berlaga, 19 di antaranya berhasil menyabet medali. Total, Maluku membawa pulang 12 emas, 4 perak, dan 3 perunggu. Para peraih medali emas masing-masing adalah Alfeliks, Jody, Tristan, Marsel, Andri, Syaqilah, Lourens, Ithin, Junior, Vani (dua kategori), […]

  • Kasus Bullying dan Kekerasan di Sekolah Rakyat Malteng: Korban Dipukul hingga Memar

    Kasus Bullying dan Kekerasan di Sekolah Rakyat Malteng: Korban Dipukul hingga Memar

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Kasus perundungan (bullying) disertai kekerasan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (STR) 1 Maluku Tengah (Malteng) kembali terjadi, Senin (5/10/2026). Berdasarkan informasi yang diterima redaksi TajukMaluku.com, insiden itu bermula ketika beberapa siswa terlibat saling adu mulut. Kemudian, seorang siswa berinisial DNW menerima tamparan dan ditonjok oleh dua siswa lainnya. Atas tindakan kekerasan itu, DNW kemudian mengalami memar […]

  • Pernyataan AV ‘Pemimpin Islam Seng Tau Malu’? Alkatiri: AV Itu Cerminan Pemimpin yang Dangkal”

    Pernyataan AV ‘Pemimpin Islam Seng Tau Malu’? Alkatiri: AV Itu Cerminan Pemimpin yang Dangkal”

    • calendar_month Senin, 11 Nov 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com- Pernyataan calon Wakil Gubernur Maluku, Abdullah Vanath, yang secara terbuka menyebutkan bahwa “Pemimpin Islam seng tau malu” dalam salah satu sesi kampanye telah memicu kontroversi di berbagai kalangan. Pernyataan ini dinilai mengandung generalisasi yang berpotensi melukai umat Muslim, terutama para pemimpin Islam yang selama ini menjaga marwah kepemimpinan dengan nilai-nilai keislaman yang tinggi. Kritik […]

  • Menjadi Terbiasa dengan Konflik di Maluku

    Menjadi Terbiasa dengan Konflik di Maluku

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: Dhani Pelupessy (Akademisi UIN Abdul Muthalib Sangadji) Tajukmaluku.com-Kita sering berkonflik tanpa tahu asal penyebabnya dari mana. Penyebabnya sangat beragam. Aktor intelektual dibalik konflik yang meletup itu pun kita tidak punya kemampuan mengetahuinya. Siapa pelakunya? Tidak tahu. Sasaran terakhir ialah pihak kepolisian, harus kerja ekstra mengusut tuntas siapa pelakunya. Namun, pihak kepolisian kewelahan. Intelijen pun […]

  • YBM PLN UIW MMU Hadirkan Muharam Berkah, Berbagi Kebahagiaan untuk Anak Yatim dan Dhuafa di Ternate

    YBM PLN UIW MMU Hadirkan Muharam Berkah, Berbagi Kebahagiaan untuk Anak Yatim dan Dhuafa di Ternate

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara menghadirkan program “Muharam Berkah YBM PLN 1448 H/2026”. Hal itu sebagai wujud memaknai Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, melalui kepedulian sosial insan PLN kepada masyarakat yang membutuhkan. General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara, Noer Soeratmoko, menyampaikan bahwa kehadiran PLN di tengah […]

  • PLN UIW MMU Resmi Jalin PKS dengan Kejaksaan Tinggi, Perkuat Sinergi Hukum untuk Kelistrikan Maluku dan Malut

    PLN UIW MMU Resmi Jalin PKS dengan Kejaksaan Tinggi, Perkuat Sinergi Hukum untuk Kelistrikan Maluku dan Malut

    • calendar_month Senin, 14 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Wilayah (UIW) Maluku dan Maluku Utara secara resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Kejaksaan Tinggi Maluku dan Kejaksaan Tinggi Maluku Utara serentak pada Senin (14/7/2025). Penandatangan PKS ini sebagai bagian dari upaya memperkuat sinergi kelembagaan dalam bidang hukum guna mendukung optimalisasi pelayanan ketenagalistrikan di wilayah Maluku dan Maluku […]

expand_less