Survei Ungkap Mayoritas Anak Muda Ambon Tak Punya Tabungan Diatas Rp10 Juta
- account_circle Admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 13
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com-Mayoritas anak muda di Kota Ambon ternyata belum memiliki tabungan pribadi di atas Rp10 juta. Di sisi lain, tren nongkrong di kafe justru terus meningkat dan menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda perkotaan.
Fakta itu terungkap dalam survei independen yang dilakukan selama Februari-April 2026 melalui Google Form terhadap 612 responden berusia 19 hingga 34 tahun di Kota Ambon.
Responden berasal dari lima kecamatan, yakni Sirimau, Nusaniwe, Baguala, Teluk Ambon, dan Leitimur Selatan. Mereka terdiri dari mahasiswa, pegawai swasta, ASN muda, pelaku UMKM, hingga pengangguran.
Hasil survei menunjukkan sebanyak 71,4 persen responden mengaku hanya memiliki tabungan di bawah Rp5 juta. Bahkan, 38 persen di antaranya mengaku saldo rekening mereka kerap berada di bawah Rp1 juta menjelang akhir bulan.
Sementara responden yang memiliki tabungan di atas Rp10 juta hanya mencapai 12,6 persen.
Data itu memperlihatkan kontras yang mencolok dengan meningkatnya budaya nongkrong di kafe yang dalam beberapa tahun terakhir menjamur di Kota Ambon.
Sebanyak 64 persen responden mengaku nongkrong di kafe minimal tiga kali dalam seminggu. Dari jumlah itu, rata-rata pengeluaran sekali nongkrong berada pada kisaran Rp50 ribu hingga Rp150 ribu.
Jika dikalkulasi sederhana, pengeluaran nongkrong bisa menyentuh Rp600 ribu hingga Rp1,8 juta per bulan. Nilai itu belum termasuk biaya bensin, belanja online, hingga gaya hidup konsumtif lain yang dianggap sebagai “kebutuhan sosial”.
Menariknya, 58 persen responden mengaku tidak memiliki target tabungan tahunan. Sedangkan 47 persen lainnya mengaku sering menggunakan fitur paylater atau pinjaman online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kadang nongkrong itu bukan karena punya uang , tapi karena takut dianggap tidak hits kalau tidak ikut,” kata seorang responden berinisial FR, 24 tahun, penjual kuliner di kawasan Waehaong.
Fenomena itu memperlihatkan adanya tekanan sosial baru di kalangan anak muda perkotaan. Nongkrong sudah jadi bagian dari identitas sosial.
Direktur RUMMI, Fadel Rumakat, menilai budaya konsumtif di kalangan generasi muda Ambon sangat mengkhawatirkan.
Menurut dia, ada kecenderungan sebagian anak muda lebih sibuk menjaga validasi sosial dibanding membangun ketahanan finansial.
“Anak muda sekarang hidup dalam tekanan validasi sosial. Media sosial membuat orang berlomba terlihat mapan, padahal kondisi rekening sering kali kosong,” ujarnya saat dimintai tanggapan, Sabtu, 16 Mei 2026.
Ia mengatakan pertumbuhan kafe di Ambon memang berdampak positif terhadap ekonomi kreatif dan UMKM. Namun di sisi lain, pola konsumsi yang tidak diimbangi literasi keuangan dapat menciptakan generasi dengan gaya hidup tinggi tetapi rapuh secara ekonomi.
Survei tersebut juga mencatat hanya 18 persen responden yang rutin menyisihkan pendapatan ke instrumen investasi atau tabungan darurat. Sisanya mengaku kesulitan menabung karena pendapatan tidak stabil dan tingginya biaya hidup perkotaan.
Di tengah kondisi itu, ironi paling besar justru terlihat pada pola pengeluaran yang cenderung simbolik. Sebagian responden mengaku tetap memaksakan nongkrong meski harus tertatih pada pembayaran kebutuhan dasar.
“Banyak yang memilih fomo untuk nongkrong, tapi tidak takut rekening kosong,” ujar Fadel.*(01-F)
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar