Breaking News
light_mode

Sengketa Tanah dan Raja di Maluku, Naskah Kolonial Perlu Diuji

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
  • visibility 613
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ambon,Tajukmaluku.com-Sejumlah naskah kolonial berbahasa Belanda kembali mencuat dalam pelbagai sengketa tanah dan saling klaim raja di Maluku. Dokumen-dokumen lama itu kerap dijadikan dasar legitimasi oleh pihak-pihak tertentu, tanpa melalui pengujian metodologis yang memadai. Akibatnya, pro-kontra antarsesama ahli waris maupun antar mata rumah terus berulang. Informasi yang dianggap sejarah itu, lalu dijadikan sebagai alat pembenaran, bukan lagi menjadi objek kajian yang kritis.

Peneliti Rumpun Ilmu Alam di UIN AM Sangadji, Arman Kalean, menegaskan bahwa naskah kolonial tidak bisa dipahami secara harfiah dan sepihak, apalagi dijadikan dasar mutlak dalam sengketa hukum dan adat.

“Dokumen kolonial itu produk kekuasaan. Ia tidak netral. Kalau dibaca tanpa metodologi, justru berbahaya karena bisa memicu konflik baru,” kata Arman, yang juga dikenal sebagai pegiat etnosains.

Ditemui di sela akreditasi Prodi, Arman menjelaskan bahwa setiap naskah lama, baik besluit, catatan administrasi kolonial, maupun silsilah, wajib diuji secara ilmiah. Pengujian itu mencakup keaslian dokumen, konteks sejarah penerbitannya, bahasa yang digunakan, serta kepentingan politik yang melatarbelakanginya. Maka itu, harus multidisipliner dan interdisipliner. Metodologi Ilmu Sejarah, metodologi Ilmu Bahasa, sisi sosiologi, berkaitan dengan riset manuskrip yang terkait sengketa tanah dan sengketa raja perlu dicermati.

Ia menekankan pula perbedaan penting antara sejarah dalam konteks, yang artinya satu alur versi atau kronologi peristiwa, dengan sejarah sebagai metodologi, menurut G. J. Reiner, yang menekankan pada proses analisis kritis, verifikasi sumber, dan rekonstruksi fakta berdasarkan bukti. Dengan memahami perbedaan ini, penelitian dokumen kolonial tidak sekadar menyalin narasi lama, tetapi menguji relevansi, keaslian, dan konteks kekuasaan di balik dokumen tersebut.

“Metodologi itu bukan hiasan akademik. Ia alat untuk membedakan mana fakta sejarah, mana narasi yang dibentuk untuk kepentingan tertentu,” ujarnya.

Ia menambahkan, tradisi lisan dan praktik adat yang masih hidup di masyarakat juga harus ditempatkan sejajar sebagai sumber pengetahuan, bukan dipatahkan hanya oleh satu dokumen kolonial.

Dalam konteks hukum, Arman menekankan bahwa naskah kolonial tidak otomatis memiliki kekuatan pembuktian yang menentukan. Di pengadilan, dokumen semacam itu dinilai sebagai alat bukti surat yang harus diuji keasliannya, relevansinya, serta keterkaitannya dengan kondisi hukum saat ini.

Yang diuji bukan hanya tampilan permukaan kertasnya saja, tapi kontennya juga, termasuk analisis kodikologi, serta uji karbon dan uji spektrometrik pada kertas untuk memastikan usia, lapisan material, dan keaslian dokumen tersebut. Hakim akan melihat segi pembuktian tersebut dari sisi ilmiah, dengan mempertimbangkan hasil uji laboratorium, keterangan ahli, serta kesesuaian metodologi yang digunakan dalam menguji naskah tersebut.

Hakim, kata dia, tidak akan hanya melihat usia dokumen, tetapi juga apakah hak yang diklaim masih berlanjut secara, didukung bukti lain, dan tidak bertentangan dengan hukum nasional pascakemerdekaan.

“Suatu peristiwa sejarah tanpa pembuktian dengan melibatkan metodologi riset berbagai disiplin ilmu terkait, di hadapan Hukum, maka Sejarah itu hanya akan jadi klaim subjektif,” kata Arman.

Arman mengingatkan, penggunaan dokumen kolonial secara serampangan justru berpotensi mewariskan prokontra dan konflik ke generasi berikutnya. Sengketa tanah dan klaim raja tidak akan selesai jika Sejarah dibaca secara deterministik atau terbatas.

“Kalau metodologi diabaikan, kita bukan sedang menyelesaikan masalah, tapi sedang memproduksi konflik baru dengan dalih sejarah,” ujarnya.

Lanjutnya, naskah sejarah seharusnya menjadi bahan refleksi kritis, tanpa disiplin metodologi dan pembuktian yang berlapis, konflik di Maluku akan terus berulang dengan pola yang sama.*(01-F)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN UP3 Tual Hadirkan Khitanan Massal Gratis, Wujud Kepedulian bagi Generasi Sehat

    PLN UP3 Tual Hadirkan Khitanan Massal Gratis, Wujud Kepedulian bagi Generasi Sehat

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tual,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Tual melalui Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN menghadirkan kegiatan khitanan massal gratis bagi masyarakat di Kota Tual dan sekitarnya. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian PLN dalam memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya dalam mendukung akses layanan kesehatan yang aman dan berkualitas bagi anak-anak. General Manager PLN Unit […]

  • DJK Kementerian ESDM, PLN, dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Akses Listrik Desa di Maluku Utara

    DJK Kementerian ESDM, PLN, dan Pemerintah Daerah Perkuat Sinergi Percepatan Akses Listrik Desa di Maluku Utara

    • calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) serta pemerintah daerah memperkuat sinergi dalam mendukung percepatan Program Listrik Perdesaan (Lisdes) untuk memperluas akses listrik masyarakat di Provinsi Maluku Utara. General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara, Dony Noor […]

  • Awalnya Terisolasi Kini Sistem Kelistrikan Aceh Kembali Terhubung, Tower dan Jaringan Transmisi Rampung. PLN Masuki Tahap Pengoperasian Pembangkit

    Awalnya Terisolasi Kini Sistem Kelistrikan Aceh Kembali Terhubung, Tower dan Jaringan Transmisi Rampung. PLN Masuki Tahap Pengoperasian Pembangkit

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Aceh,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) berhasil memulihkan kembali jaringan transmisi bertegangan 150 kilovolt (kV) Pangkalan Brandan–Langsa pada Rabu (17/12) pukul 13.30 WIB. Kini, interkoneksi sistem kelistrikan Aceh yang tadinya terisolasi telah kembali terhubung dengan _backbone_ sistem besar Sumatra. Dengan pulihnya interkoneksi tersebut, pemulihan kelistrikan Aceh kini memasuki tahapan pengoperasian kembali pembangkit listrik. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo […]

  • Sukses Kawal Groundbreaking Blok Masela, PLN Dorong Ketahanan Energi Par Maluku Pung Bae

    Sukses Kawal Groundbreaking Blok Masela, PLN Dorong Ketahanan Energi Par Maluku Pung Bae

    • calendar_month Sabtu, 18 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Saumlaki,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Saumlaki sukses mendukung kebutuhan kelistrikan pada pelaksanaan Groundbreaking Proyek Abadi LNG di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Keandalan pasokan listrik menjadi bagian penting dalam memastikan kelancaran agenda strategis nasional yang dihadiri langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia serta diikuti Presiden Republik Indonesia melalui video […]

  • Penumpang Keluhkan Layanan KM Pangrango: Banyak Kecoa dan Ruangan Pengap

    Penumpang Keluhkan Layanan KM Pangrango: Banyak Kecoa dan Ruangan Pengap

    • calendar_month Minggu, 3 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Salah satu penumpang, Putri Hastari keluhkan pelayanan di KM. Pangrango yang melayani rute Ambon-Banda Neira. Pasalnya, saat berlayar menggunakan kapal milik PT Pelni tersebut, terdapat hal-hal yang cukup mengganggu kenyamanan selama berlayar. Seperti banyaknya kecoa yang berkeliaran di dalam kapal serta ruangan yang panas dan pengap. “Kecoa kecil terlihat di sekitar tempat tidur, di barang-barang […]

  • Pengurus IDI Buru Selatan Masa Bakti 2025–2028 Resmi Dilantik

    Pengurus IDI Buru Selatan Masa Bakti 2025–2028 Resmi Dilantik

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Namrole,Tajukmaluku.com-Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Buru Selatan masa bakti 2025–2028 resmi dilantik. Acara ini digelar di Aula Kantor Bupati Buru Selatan, Kota Namrole. Sabtu (31/01/2026). Pelantikan ini menegaskan komitmen Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi dalam memperkuat etika dan profesionalisme dokter, sekaligus mempererat kemitraan strategis dengan Pemerintah Kabupaten Buru Selatan guna meningkatkan kualitas […]

expand_less