Kolaborasi Komunitas Perkuat Konservasi Terumbu Karang di Maluku
- account_circle Admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ambon,Tajukmaluku.com– Coral Triangle Center (CTC) bersama JALA INA di Ambon menginisiasi kegiatan “Bacarita Rawat Terumbu Karang Maluku”, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan ini dihadiri sejumlah komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan penyelam yang selama ini melaksanakan rehabilitasi terumbu karang di Maluku berkumpul untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman serta sharing pembelajaran selama upaya pemulihan ekosistem terumbu karang.
Pertemuan ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengalaman rehabilitasi karang yang selama ini dilakukan oleh berbagai organisasi dan komunitas di banyak tempat, tetapi belum banyak terhubung satu sama lain.
Terumbu karang di Maluku menghadapi berbagai tekanan, mulai dari krisis iklim dan hingga praktik perikanan merusak seperti penggunaan bom dan bahan beracun.
Di sisi lain, berbagai komunitas telah bergerak melakukan pemulihan dengan metode yang beragam. Namun, banyak pengalaman tersebut belum terdokumentasi dengan baik dan belum cukup dipertukarkan sebagai pembelajaran bersama.
Purwanto selaku Maluku Portofolio Manager dari Coral Triangle Center (CTC) menekankan pentingnya berbagi pembelajaran, bejejaring, dan berkolaborasi antar organisasi sehingga upaya rehabiltasi karang dapat memberikan hasil yang optimal .
Sementara itu, JALA INA melihat rehabilitasi terumbu karang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir. Karang bukan hanya bagian dari ekosistem laut, tetapi juga menopang ruang hidup dan sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada laut.
“Terumbu karang adalah tempat hidup. Karena itu, ketika kita bicara tentang merawat terumbu karang, kita juga sedang bicara tentang ruang hidup masyarakat pesisir,” kata Muhammad Yusuf Sangadji, Direktur Eksekutif JALA INA.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai kelompok membagikan pengalaman mereka melakukan rehabilitasi dengan kondisi dan pendekatan yang berbeda.
Dari Pulau Buru, Zainal Harun Renuat dari Bupolo Reef Konservasi membagikan pengalaman menggunakan metode yang relatif sederhana dan murah.
Kelompok ini telah menanam sekitar 750 fragmen menggunakan media spider web serta sekitar 1.200 fragmen melalui metode direct planting di Pantai Jikumarasa. Pendekatan tersebut menekankan pentingnya memilih metode yang tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga memungkinkan masyarakat dan nelayan setempat untuk ikut melakukan perawatan dan monitoring tanpa bergantung pada peralatan yang mahal.
Pengalaman berbeda datang dari Pele Pesisir. Komunitas pemuda ini telah menurunkan sekitar 516 hingga 526 unit terumbu buatan di Negeri Lima dan wilayah sekitarnya. Dari hasil monitoring, kelompok mulai menemukan berbagai biota seperti bulu babi dan ikan karang di sekitar struktur yang telah diturunkan.
Di Halong, rehabilitasi dilakukan menggunakan teknologi Biorock, yang memanfaatkan arus listrik bertegangan rendah untuk membantu proses akresi mineral. Metode ini mampu mendorong pertumbuhan karang dengan cepat, tetapi membutuhkan biaya yang relatif tinggi serta bergantung pada ketersediaan pasokan listrik.
Sementara itu, pengalaman dari Komunitas Penyelam Matasiri, Pelauw menunjukkan penggunaan sejumlah media rehabilitasi, mulai dari balok beton, struktur menyerupai keranda hingga model “payung” berbahan pipa besi. Salah satu metode yang digunakan menunjukkan perkembangan fragmen yang cukup tinggi dalam kurun satu tahun.
Beragam pengalaman itu memperlihatkan bahwa tidak ada satu metode rehabilitasi yang dapat diterapkan secara seragam di seluruh wilayah Maluku. Kondisi arus, gelombang, jenis karang, kedalaman, karakter dasar perairan hingga kemampuan kelompok dalam melakukan monitoring menjadi faktor yang menentukan keberhasilan.
Tantangan tersebut juga dirasakan Moluccas Coastal Care (MCC). Kondisi perairan Rutong yang berhadapan langsung dengan Laut Banda membuat kawasan tersebut memiliki arus dan gelombang yang kuat, terutama pada musim timur. Karena itu, metode yang berhasil di kawasan teluk atau perairan yang lebih terlindung belum tentu sesuai untuk diterapkan di sana.
Selain membahas aspek teknis, peserta juga menyoroti pentingnya keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan proses rehabilitasi. Masyarakat dinilai tidak seharusnya hanya dilibatkan ketika struktur akan diturunkan ke laut, tetapi sejak proses perencanaan, penentuan lokasi, pelaksanaan hingga monitoring.
Pembelajaran tersebut antara lain muncul dari pengalaman rehabilitasi di Pulau Bair. Pelibatan masyarakat sejak tahap awal dinilai penting agar rehabilitasi tidak berhenti sebagai kegiatan jangka pendek, tetapi dapat dilanjutkan dan dirawat oleh masyarakat yang hidup paling dekat dengan kawasan tersebut.
“Masyarakat harus dilibatkan sejak awal perencanaan, karena ini berkaitan langsung dengan ruang hidup mereka sebagai masyarakat pesisir dan kepulauan. Sehingga, kegiatan pemulihan atau program rehabilitasi tidak sekadar seremonial saja,” kata Achmad Munir Wael dari Komunitas Malesi, Negeri Liang.
Pertemuan ini juga memperlihatkan bahwa kerja rehabilitasi karang yang dilakukan berbagai komunitas ini sudah tersebar di berbagai wilayah Maluku, antara lain Negeri Lima, Ureng, Asilulu, Negeri Liang, Hila, Haruku, Pelauw, Halong, Desa Sole, Pulau Pombo hingga Pulau Gunung Api Banda.
Sebaran tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan dan pengalaman pemulihan terumbu karang sebenarnya sudah tumbuh di banyak tempat. Tantangannya adalah bagaimana pengalaman-pengalaman tersebut dapat saling terhubung dan menjadi pembelajaran bersama dalam menghadapi tantangan dan mereplikasi praktek yang baik dan berhasil.
Dalam pertemuan ini, setiap komunitas berusaha mengidentifikasi sejumlah kebutuhan untuk memperkuat rehabilitasi ke depan, mulai dari peningkatan kapasitas dan pelatihan, pendampingan masyarakat dan masyarakat adat, pertukaran pengetahuan antargenerasi hingga penguatan monitoring dan dokumentasi.
Peserta juga menilai rehabilitasi tidak dapat dipisahkan dari upaya menghentikan penyebab kerusakan. Karena itu, penyadaran kepada masyarakat, pengawasan kawasan, pembentukan kelompok pengawas, penggunaan alat tangkap yang lebih ramah lingkungan hingga penyusunan kesepakatan atau aturan di tingkat lokal menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan yang telah direhabilitasi.
Forum ini juga mendorong terbentuknya jaringan komunikasi antar komunitas dan kelompok yang bekerja dalam rehabilitasi terumbu karang di Maluku. Salah satu langkah awal yang dibicarakan adalah membangun ruang komunikasi bersama untuk bertukar informasi, berbagi hasil monitoring, berkonsultasi terkait kendala teknis hingga membuka peluang kolaborasi.
Melalui “Bacarita Rawat Terumbu Karang Maluku”, pengalaman yang selama ini tersebar di berbagai kampung dan komunitas diharapkan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Kerja bersama tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pemulihan terumbu karang yang lebih terukur, berkelanjutan, dan berpijak pada keterlibatan masyarakat sebagai bagian utama dari ruang hidup pesisir dan laut.*(01-F)
- Penulis: Admin






Saat ini belum ada komentar