Breaking News
light_mode

Selebaran Maut untuk Orang Ambon, Nono: “Republik Tai”

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
  • visibility 225
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ambon,Tajukmaluku.com-Kalau kalian pikir kecurigaan terhadap orang Ambon itu cerita baru, kalian perlu dengar apa yang terjadi di September 1945. Beredar selebaran yang menyerukan pemboikotan, pengepungan rumah, sampai peracunan sumur milik orang Ambon ditempel di jantung ibu kota, oleh sesama anak bangsa yang baru saja merdeka bersama.

Tanggalnya 9 September 1945, belum genap satu bulan sejak Soekarno dan Hatta membacakan proklamasi. Johannes Dirk de Fretes, asisten Mr. Johannes Latuharhary yang belum lama ditunjuk sebagai Gubernur Maluku pertama, mencatat pagi itu dalam memoarnya, Kebenaran Melebihi Persahabatan. Selebaran berjudul “Maklumat Perang Kepada Indo, Ambon dan Manado” yang menuduh tiga kelompok itu musuh bangsa. Isinya adalah seruan ancaman. Para warga Ibukota diserukan memboikot mereka, mengepung rumah mereka dengan kawat berduri, bahkan meracuni sumur dan sumber air minum mereka.

Ironisnya, komunitas yang diburu ini bukan orang baru dalam pergerakan nasional. Johannes Leimena, mahasiswa kedokteran STOVIA, yang tercatat hadir dalam Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda 1928. Alexander Jacob Patty mendirikan Sarekat Ambon dan membayar sikap politiknya dengan pembuangan ke Boven Digoel oleh pemerintah kolonial. Serta Latuharhary sendiri yang rela melepas kariernya sebagai hakim di Kraksaan, Jawa Timur, demi terjun ke pergerakan, dan duduk di BPUPKI untuk merumuskan dasar negara.

Rekam jejak itu tak menyelamatkan orang Ambon dari pelbagai kecurigaan. Bagi sebagian kelompok pemuda di Jakarta menganggap seluruh komunitas Ambon merupakan antek-antek Belanda dikarenakan pada masa kolonial, mereka dianggap menjadi serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Fakta itu cukup untuk menggeneralisir seluruh komunitas Ambon tanpa mempertimbangkan bahwa banyak dari mereka justru berjuang dan bahkan ikut merumuskan arah Republik Indonesia.

Selebaran di Pohon dan Dinding


Pada 9 September 1945, ancaman itu berubah jadi kekerasan nyata. Keluarga Agus Souisa dan keluarga Lukas Polhoupessy menjadi korban penikaman. Padahal Agus sendiri pernah berjuang di pihak Republik di kawasan Senen. Hal itu juga terjadi pada Keluarga Hein Wattimena yang nyaris tewas di Pasar Baru. Markas Angkatan Pemuda Indonesia Ambon (API Ambon) di Jalan Kramat VI pun tak luput didatangi pemuda-pemuda dari Karawang dan Bekasi.

Pola serupa juga terjadi di luar Jakarta. Di Bandung dan Surabaya, orang Ambon turut jadi sasaran kecurigaan, sekalipun ada nama seperti Mattijs Sapija — penulis biografi Kapitan Pattimura — yang justru bertempur di pihak Republik Indonesia dalam Pertempuran 10 November 1945. Sebagian keluarga Ambon di Jakarta akhirnya mengungsi ke bekas tangsi Batalyon X, yang kini menjadi halaman belakang Hotel Borobudur.

Dalam historiografi revolusi, periode kekerasan yang meletus di kekosongan kekuasaan pasca-Jepang ini dikenal sebagai masa Bersiap. Perkiraan korban tewas selama periode Agustus 1945 hingga akhir 1946 berkisar dari 3.500 hingga puluhan ribu jiwa, sebagian besar warga Belanda dan Indo-Eropa, tapi juga mencakup warga Tionghoa serta kelompok pribumi yang dicurigai pro-kolonial yakni orang Ambon, Manado, Minahasa, hingga kalangan ningrat Jawa. Angka pastinya masih diperdebatkan sejarawan hingga sekarang.

Menghadapi ancaman itu, Latuharhary mengumpulkan tokoh-tokoh Ambon di Jakarta pada 5 September 1945 di Jalan Serang 5. Dari pertemuan itu lahir API Ambon, yang belakangan bermarkas di Jalan Cut Meutia 7, satu atap dengan kantor Gubernur Maluku di Jakarta. Ambon sendiri saat itu masih dikuasai NICA, sehingga Latuharhary baru bisa menjalankan tugas gubernurannya langsung di Maluku beberapa tahun kemudian.

Perlindungan kelembagaan itu tak serta-merta mengubah rasa waswas yang telanjur mengakar. Sejarawan Ernest Utrecht, dalam bukunya Ambon: Kolonisatie, Dekolonisatie en Neo-kolonisatie, punya catatan kritis: “Orang Ambon baru sibuk bilamana ia sendiri, keluarganya, atau teman-temannya terancam.” Ini generalisasi yang perlu dibaca hati-hati, meski rekam jejak Leimena, Patty, dan Latuharhary justru menunjukkan sebaliknya. Namun dalam kondisi hidup terancam sehari-hari, sikap defensif semacam itu juga sulit disalahkan begitu saja.

Di tengah kekacauan ini, August Isaac “Nono” Tanasale termasuk yang paling kecewa. Ia menilai negara yang baru lahir itu tak becus melindungi rakyatnya sendiri.

“Republik tai,” katanya, dua kata yang merangkum kekecewaannya.

De Fretes, yang tetap yakin Nono bisa diajak bekerja sama, membujuknya memimpin API Ambon. De Fretes menyakini hanya sosok berpengaruh seperti Nono yang bisa melindungi komunitas Ambon di tengah situasi genting itu. Nono pun setuju.

Meski Nono dan kelompoknya sempat memasok senjata untuk laskar-laskar pro-Republik, bahkan bekerja sama dengan Imam Syafei alias Bang Pi’i dari Senen. Balasannya sebuah tuduhan serampangan dari koran pro-Republik yang melabeli mereka.

“Ambon Anjing NICA”.

Menjelang Natal 1945, ketika pasukan KNIL dari Tarakan menyerbu markas API Ambon di Kramat dan menangkapi anggotanya, Nono-lah yang turun tangan meminta pembebasan mereka dengan bertanya kepada pasukan KNIL, “Siapa yang hendak amankan orang-orang Maluku yang jumlahnya 30.000 di Jawa ini?” Permintaannya itu pun dikabulkan.

Tak lama setelah itu, Nono pun memilih bergabung KNIL hingga berpangkat Pembantu Letnan. Menurut catatan de Fretes, pilihan itu bukan pembelotan ideologis semata, melainkan buah kekecewaan panjang, dimana seorang yang sempat menyokong perjuangan Republik, tapi justru dikhianati oleh pihak yang ia bela.

Kisah orang Ambon di Jakarta pada 1945 memperlihatkan sisi revolusi kemerdekaan yang jarang di tulis pada buku-buku sejarah di bangku sekolah. Kecurigaan berbasis identitas tersebut bisa mengalahkan rekam jejak perjuangan individu, dan negara yang baru lahir, dengan segala keterbatasannya, tak selalu mampu melindungi warganya dari kekerasan berbasis prasangka.

Leimena, Patty, dan Latuharhary membuktikan kontribusi orang Ambon pada Republik ini jauh lebih besar daripada stigma dan kekerasan yang menimpa mereka. Tapi kisah Nono Tanasale mengingatkan bahwa kontribusi saja tak selalu cukup untuk membeli rasa aman. Persekusi terhadap orang Ambon bukan fenomena baru, ia sudah ada sejak hari-hari pertama republik ini berdiri.*

Catatan: Sebagian besar kesaksian dan rincian peristiwa dalam artikel ini bersumber dari testimoni Johannes Dirk de Fretes dalam Kebenaran Melebihi Persahabatan dan catatan Ernest Utrecht dalam Ambon: Kolonisatie, Dekolonisatie en Neo-kolonisatie — sumber primer yang sama juga pernah diangkat Historia.id dalam artikel “Orang Ambon di Front Jakarta”. Data korban periode Bersiap merujuk riset sejarawan Robert Cribb dan sumber sekunder lain, dengan angka yang masih bervariasi antarsumber.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN UIW MMU Raih Penghargaan Silver Indonesia SDGs Awards (ISDA) 2025 melalui Produk Binaan Kopi Tuni

    PLN UIW MMU Raih Penghargaan Silver Indonesia SDGs Awards (ISDA) 2025 melalui Produk Binaan Kopi Tuni

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) meraih Silver Award pada ajang Indonesia SDGs Awards (ISDA) 2025 atas keberhasilan program Pengembangan Koperasi Seribu Negeri Kopi Maluku (Kopi Tuni). Penghargaan ini menjadi pengakuan atas komitmen PLN dalam mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) […]

  • Serahkan Sertipikat Aset BMD dan BUMD Pemprov Kalsel, Wamen Ossy: Perkuat Kepastian Hukum Aset Daerah

    Serahkan Sertipikat Aset BMD dan BUMD Pemprov Kalsel, Wamen Ossy: Perkuat Kepastian Hukum Aset Daerah

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Tajukmaluku.com-Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, bersama Ketua Komisi II DPR RI, M. Rifqinizamy Karsayuda, menyerahkan sertipikat aset pemerintah daerah (Pemda) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (02/09/2026). Sebagian sertipikat yang diserahkan mencakup dua bidang aset Barang Milik Daerah (BMD) Pemerintah […]

  • PLN UIW MMU Raih TOP CSR Awards 2026 Site Level #Star 3 lewat Program Kopi Tuni

    PLN UIW MMU Raih TOP CSR Awards 2026 Site Level #Star 3 lewat Program Kopi Tuni

    • calendar_month Jumat, 29 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) kembali menorehkan prestasi di bidang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dengan meraih penghargaan TOP CSR Awards 2026 Site Level #Star 3 atas pelaksanaan program Pengembangan Koperasi Seribu Negeri Kopi Maluku atau Kopi Tuni. Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan yang dinilai berhasil menjalankan […]

  • Kementerian ATR/BPN Dukung Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan Lewat Sektor Pertanahan dan Tata Ruang

    Kementerian ATR/BPN Dukung Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan Lewat Sektor Pertanahan dan Tata Ruang

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Tingkat Menteri terkait Penguatan Tata Kelola Ekosistem Kebandarudaraan yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Kamis (25/06/2026). Dalam pertemuan ini, Wamen Ossy menegaskan dukungannya dalam penguatan tata kelola […]

  • Listrik di Desa Tutukembong-KKT Normal Kembali, PLN ULP Saumlaki Ungkap Penyebab Gangguan

    Listrik di Desa Tutukembong-KKT Normal Kembali, PLN ULP Saumlaki Ungkap Penyebab Gangguan

    • calendar_month Minggu, 29 Des 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Saumlaki telah menormalkan kembali sistem kelistrikan di Desa Tutukembong, Kecamatan Nirunmas, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.Sebelumnya sempat terjadi pemadaman di hari yang berbeda, yakni pada 24 Desember dan 27 Desember 2024. Setelah melakukan pengecekan, PLN ULP Saumlaki mendapati sumber gangguan sistem kelistrikan […]

  • Dokumen Wakaf Hilang? Menteri ATR/Kepala BPN Jelaskan Cara agar Tanah Tetap Bisa Disertipikatkan

    Dokumen Wakaf Hilang? Menteri ATR/Kepala BPN Jelaskan Cara agar Tanah Tetap Bisa Disertipikatkan

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Dokumen tanah wakaf hilang atau tidak lengkap bukan berarti tanah tersebut tidak bisa disertipikatkan. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menegaskan bahwa masyarakat memiliki jalur hukum yang bisa ditempuh untuk memperoleh kepastian hukum atas tanah wakaf melalui mekanisme yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan. “Kalau kondisi wakif atau alas haknya […]

expand_less