Breaking News
light_mode

KH. M. Asyari Papalia (1902-1986)

  • account_circle Admin
  • calendar_month Minggu, 13 Apr 2025
  • visibility 776
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Fajrin Hamid

Bagi sebagian masyarakat kota Ambon tidak akan asing dengan nama Kiyai Asyari, imam masjid raya Alfatah kota ambon, terutama bagi mereka yang pernah merasakan suasana Kota Ambon di tahun 70an hingga tahun 80an. Kiyai Asyari atau Imam Asyari begitu sapaan warga kota ambon, ia adalah ulama Buton asal Kampung Papalia, Pulau Binongko. Dahulu Pulau Binongko, selain dikenal sebagai pulau para pengrajin besi, juga tempat lahirnya para ulama dan orang-orang sholeh di daratan Buton.

KH. Asyari lahir tanggal 31 Desember 1902. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pulau Binongko hingga dewasa. Setelah dewasa ia bertekad untuk menuntut ilmu agama langsung ke tanah suci.

Bersama ulama Binongko lainnya seperti KH. Abdul Syukur dan KH. Ibrahim yang merupakan adik kandungnya sendiri, mereka pernah mukim di tanah suci untuk berhaji dan menimba ilmu agama.

Kiyai Asyari menghabiskan waktu 13 tahun untuk menimba ilmu agama di Mekkah. Di tanah suci banyak cabang ilmu agama yang ia pelajari, termasuk fiqih syafi’i. Ia penganut mazhab syafi’i yang menjadi mazhab mayoritas masyarakat di indonesia. Selain belajar fiqih, ia juga ahli dalam bacaan Alquran, bacaan Quraanya sangat faseh dan lancar.

Ketika kembali ke tanah air, kiyai Asyari memulai dakwah di kampung halamannya sendiri, yakni di Papalia dan disekitar Pulau Binongko. Di papalia, banyak murid yang ia bina termasuk beberapa orang Buton Huamual dari Pulau Seram yang datang ke Papalia untuk belajar ilmu agama.

Setelah berdakwah di Pulau Binongko, pada tahun 1973, ia memutuskan untuk hijrah ke Kota Ambon atas ajakan keluarga besar Papalia di Ambon, terutama para pengusaha dan juragan ikan seperti Bapak Haji La Sangu dan Bapak Haji La Enta. Mereka berdua adalah juragan ikan yang memfasilitasi Kiyai Asyari berdakwah untuk beberapa saat. Ketika tiba di Ambon, kedatangan Kiyai Asyari disambut baik oleh warga, terutama etnis Buton yang berada di Ambon.

Ketika masjid raya Alfatah selesai dibangun pada tahun 1974, posisi Imam besar diisi oleh KH. Syukur Rahimi Marasabessy, beliau termasuk ulama dari Pulau Haruku yang juga aktif berdakwah di kota Ambon. Karena sering sakit-sakitan dan sudah banyak uzur, akhirnya KH. Syukur Marasabessy mengundurkan diri dari jabatannya sebagai imam besar masjid raya Alfatah, dan terjadilah kekosongan jabatan imam untuk beberapa waktu. Pada akhirnya pihak yayasan Alfatah memunculkan beberapa nama pengganti termasuk didalamnya adalah nama Kiyai Asyari.

Atas musyawarah bersama dan pertimbangan yang matang, akhirnya mereka memutuskan Kiyai Asyari sebagai imam masjid raya Alfatah. Kiyai asyari menjadi imam Alfatah sejak tahun 1974 hingga beliau wafat pada tahun 1986.

Pengangkatan beliau sebagai imam Alfatah sempat tidak mendapatkan dukungan dari beberapa pihak, tetapi kemudian salah satu tokoh Kailolo dari Hatuhaha mengatakan bahwa ; “Pemilihan ini bukan pemilihan pemimpin dunia tapi ini adalah pemimpin imam sholat dan harus berdasarkan kriteria agama“. Menurut beliau saat itu tidak ada yang lebih alim dan lebih layak menjadi imam selain Kiyai Asyari. Maka disepakatilah bahwa Kiyai Asyari menjadi imam masjid Alfatah. Masjid kebanggaan warga kota Ambon.

Selain bertugas menjadi imam utama di masjid raya Alfatah, Kiyai Asyari juga aktif mengisi pengajian dan tausiyah, terutama setelah sholat subuh. Pengajiannya ramai dihadiri oleh masyarakat terutama jamaah di seputaran Alfatah.

Gaya bahasa yang sederhana dan tema yang sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat membuat kajiannya selalu dihadiri masyarakat. Banyak pelaku maksiat seperti penjudi, pemabuk dan lainnya yang bertaubat setelah mendengarkan tausiahnya.

Selain berdakawah di Ambon, Kiyai Asyari juga sering ke Pulau Seram untuk berdakwah dan memenuhi undangan masyarakat disana. Ia bersama Ustadz lainnya dari Ambon sering mengadakan safari dakwah ke Kairatu dan kampung-kampung disekitarnya. Beliau juga pernah beberapa kali ke Huamual mengunjungi murid-muridnya disana, seperti di kampung Limboro dan Nasiri. Selain di Maluku, beliau juga pernah berdakwah sampai ke tanah Papua, mengisi ceramah dan disambut baik oleh warga disana.

Dalam mengajarkan Alquran, Kiyai Asyari sangat ketat dan teliti, ia tidak mudah meluluskan murid-muridnya sebelum benar-benar faseh bacaannya. Begitupun ia tidak mudah memberikan rekomendasi kepada muridnya untuk mengajarkannya kembali ke masyarakat sebelum betul-betul mutqin bacaannya.

Murid Kiyai Asyari datang dari berbagai suku dan etnis di kota ambon, murid-muridnya tersebar hampir diseluruh pelosok Maluku. Mereka yang telah memperoleh ijazah (rekomendasi) akan kembali ke kampung halamannya untuk mengajarkan Alquran dan mendirikan tempat mengaji Alquran disana. Murid-murid kiyai asyari memiliki bacaan Alquran yang khas, faseh dan cenderung seirama. Selain mengajarkan Alquran, mereka juga adalah rujukan dalam hal keagamaan dan teladan di tengah-tengah masyarakat.

KH. Asyari adalah ulama yang konsisten mendakwahkan islam. Hari-harinya selalu diisi dengan ibadah dan amal sholeh. Selain dikenal karena keilmuan dan kesholehannya, beliau juga sangat tawadhu dan rendah hati. Ia tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain dan ia bergaul dengan siapa saja tanpa melihat status sosialnya.

Selain sebagai ulama tempat bertanya dalam masalah keagamaan, pintu rumahnya juga terbuka bagi siapa saja yang datang bersilaturahmi. Rumahnya tidak pernah sepi dari orang-orang yang datang dengan berbagai keperluan. Yang paling sering yaitu mereka yang datang meminta agar didoakan oleh Kiyai. Sepertinya masyarakat meyakini dengan kesholehan dan amalan kiyai maka doa-doanya akan mudah diijabah oleh Allah SWT.

Salah satu momen yang melekat di memori warga muslim Kota Ambon adalah peristiwa wafatnya sang Kiyai. Kepergian kiyai Asyari sulit untuk dilupakan oleh generasi tahun 70 dan 80-an. Hari dimana wafatnya sang kiyai, masjid Alfatah dan suasana kota Ambon tiba-tiba sepi dan hening, banyak pertokoan diseputar Alfatah dan pasar tutup, jalanan menjadi sepi. Warga dari kampung yang mendengar berita kepergian beliau berdatangan untuk melayat.

Ribuan manusia menghadiri pemakaman beliau, rombongan manusia tidak putus disepanjang jalan dari kawasan Alfatah hingga ke kawasan Kudamati. Ia dikebumikan di pemakaman Kudamati (sekarang di seberang Tugu Dolan dibawah pohon beringin). Tempat pemakaman tersebut adalah tempat pemakaman keluarga arab Bahsoan yang sudah menganggap Kiyai seperti keluarga sendiri, dan itu juga salah satu wasiat Kiyai Asyari agar dikebumikan disana.

Kepergian Kiyai Asyari meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan masyarakat muslim Kota Ambon saat itu. Jasa dan dedikasinya terhadap dakwah di Ambon akan selalu dikenang. Beliau mengimami dan membina umat di masjid raya Alfatah kurang lebih selama 12 tahun.

Untuk mengenang jasa dan kebaikan sang Kiyai maka Yayasan Alfatah mengabadikan nama beliau pada suatu gedung aula besar di samping masjid raya Alfatah dengan nama Gedung Asyari.

Kiyai asyari wafat pada tanggal 1 Februari 1986. Setelah wafat, posisinya sebagai imam Alfatah kemudian digantikan oleh KH. Ahmad Bantan yang juga merupakan ulama dan guru ngaji yang nenek moyangnya berasal dari Pulau Jawa (Banten).

Note: Tulisan ini diambil dari keterangan anak asuh Kiyai Asyari dan murid Kiyai yang masih hidup serta sumber lainnya.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Natal dan Tahun Baru Pemuda Muslim Air Salobar Ambon Komitmen Jaga Kondusifitas Kamtibmas

    Jelang Natal dan Tahun Baru Pemuda Muslim Air Salobar Ambon Komitmen Jaga Kondusifitas Kamtibmas

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pemuda Muslim Air Salobar menyatakan komitmen kuat untuk menjaga kondusifitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Komitmen tersebut ditegaskan sebagai bentuk tanggung jawab moral pemuda dalam menjaga kedamaian, persatuan, dan kerukunan antarumat beragama di Kota Ambon. Pernyataan sikap ini disampaikan sebagai respons atas meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang akhir […]

  • Retribusi PDAM Ambon Dinilai Tak Masuk Akal Jika Air Masih Bermasalah

    Retribusi PDAM Ambon Dinilai Tak Masuk Akal Jika Air Masih Bermasalah

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pemerhati isu sosial politik Maluku, Ardiman Kelihu, menilai pernyataan Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena soal kewajiban retribusi air bersih tidak bisa dilepaskan dari kualitas layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang hingga kini masih bermasalah. Ardiman menegaskan, kebijakan retribusi sah secara aturan. Namun, kewajiban membayar harus sejalan dengan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan layanan air […]

  • Saudah Tethool Soroti Lemahnya Anggaran Konsumsi Siswa SMA Siwalima Ambon

    Saudah Tethool Soroti Lemahnya Anggaran Konsumsi Siswa SMA Siwalima Ambon

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ketua Komisi IV DPRD Maluku, Saudah Tethool soroti lemahnya anggaran yang dikucurkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku untuk pembiayaan konsumsi siswa di SMA Siwalima Ambon yang tinggal di asrama. “Kalau ditanggung pemerintah daerah secara penuh tentu membutuhkan anggaran yang besar. Karena itu, perlu dicari solusi bersama terkait kebutuhan makan siswa yang tinggal di asrama,” kata Tethool. […]

  • Kasus Pembunuhan di Hualoy, Keluarga Tak Puas Pelaku Hanya Dituntut 5 Tahun Penjara

    Kasus Pembunuhan di Hualoy, Keluarga Tak Puas Pelaku Hanya Dituntut 5 Tahun Penjara

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Keluarga korban pembunuhan Abdul Aziz Manuputty meminta Pengadilan Negeri Daratan Hunipopu menghukum pelaku dengan hukuman makmisal. Opan Wakano mewakili keluarga korban menuturkan, saudaranya alm Abdul Aziz Manuputty meninggal dunia secara tragis di Desa Hualoy Kecamatan Amalatu, tepatnya di depan Masjid Zainal Abidin. Visum et Repertum No. 015/VER/PT/I/2025 dengan tegas juga menyatakan penyebab kematian alm Abd […]

  • Kantah Buru Selatan Ikut Sosialisasi Inventarisasi dan Verifikasi Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan

    Kantah Buru Selatan Ikut Sosialisasi Inventarisasi dan Verifikasi Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Namrole,Tajukmaluku.com-Kantor Pertanahan Kabupaten Buru Selatan mengikuti kegiatan Sosialisasi Inventarisasi dan Verifikasi Penguasaan Tanah dalam rangka Penataan Kawasan Hutan (Inver PPTPKH) yang diselenggarakan oleh Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah IX Kementerian Kehutanan, Kamis (25/6/2026). Kegiatan tersebut dipusatkan di Ruang Rapat Kantor Bupati Buru Selatan dan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengelolaan kawasan hutan […]

  • Dugaan Pemalsuan Dokumen dan Korupsi, Warga Lapor KADES Negeri Effa ke Polres SBT

    Dugaan Pemalsuan Dokumen dan Korupsi, Warga Lapor KADES Negeri Effa ke Polres SBT

    • calendar_month Rabu, 2 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Bula,Tajukmaluku.com-Kepala Desa Negeri Effa, Kecamatan Wakate, dilaporkan warganya ke Polres Seram Bagian Timur, terkait dugaan pemalsuan dokumen dan penipuan. Rabu, (02/04/2025). Fadli Rumakefing selaku Kuasa Hukum Warga, menyampaikan bahwa saudara Ahmad Sugit Rumakefing pada tahun 2017/2018 telah melakukan pemalsuan Besloit/ Surat Keputusan dari Pemerintah Negeri Belanda kepada Raja Negeri Effa demi hasrat kekuasaan menjadi Raja […]

expand_less