Breaking News
light_mode

KH. M. Asyari Papalia (1902-1986)

  • account_circle Admin
  • calendar_month Minggu, 13 Apr 2025
  • visibility 716
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Fajrin Hamid

Bagi sebagian masyarakat kota Ambon tidak akan asing dengan nama Kiyai Asyari, imam masjid raya Alfatah kota ambon, terutama bagi mereka yang pernah merasakan suasana Kota Ambon di tahun 70an hingga tahun 80an. Kiyai Asyari atau Imam Asyari begitu sapaan warga kota ambon, ia adalah ulama Buton asal Kampung Papalia, Pulau Binongko. Dahulu Pulau Binongko, selain dikenal sebagai pulau para pengrajin besi, juga tempat lahirnya para ulama dan orang-orang sholeh di daratan Buton.

KH. Asyari lahir tanggal 31 Desember 1902. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pulau Binongko hingga dewasa. Setelah dewasa ia bertekad untuk menuntut ilmu agama langsung ke tanah suci.

Bersama ulama Binongko lainnya seperti KH. Abdul Syukur dan KH. Ibrahim yang merupakan adik kandungnya sendiri, mereka pernah mukim di tanah suci untuk berhaji dan menimba ilmu agama.

Kiyai Asyari menghabiskan waktu 13 tahun untuk menimba ilmu agama di Mekkah. Di tanah suci banyak cabang ilmu agama yang ia pelajari, termasuk fiqih syafi’i. Ia penganut mazhab syafi’i yang menjadi mazhab mayoritas masyarakat di indonesia. Selain belajar fiqih, ia juga ahli dalam bacaan Alquran, bacaan Quraanya sangat faseh dan lancar.

Ketika kembali ke tanah air, kiyai Asyari memulai dakwah di kampung halamannya sendiri, yakni di Papalia dan disekitar Pulau Binongko. Di papalia, banyak murid yang ia bina termasuk beberapa orang Buton Huamual dari Pulau Seram yang datang ke Papalia untuk belajar ilmu agama.

Setelah berdakwah di Pulau Binongko, pada tahun 1973, ia memutuskan untuk hijrah ke Kota Ambon atas ajakan keluarga besar Papalia di Ambon, terutama para pengusaha dan juragan ikan seperti Bapak Haji La Sangu dan Bapak Haji La Enta. Mereka berdua adalah juragan ikan yang memfasilitasi Kiyai Asyari berdakwah untuk beberapa saat. Ketika tiba di Ambon, kedatangan Kiyai Asyari disambut baik oleh warga, terutama etnis Buton yang berada di Ambon.

Ketika masjid raya Alfatah selesai dibangun pada tahun 1974, posisi Imam besar diisi oleh KH. Syukur Rahimi Marasabessy, beliau termasuk ulama dari Pulau Haruku yang juga aktif berdakwah di kota Ambon. Karena sering sakit-sakitan dan sudah banyak uzur, akhirnya KH. Syukur Marasabessy mengundurkan diri dari jabatannya sebagai imam besar masjid raya Alfatah, dan terjadilah kekosongan jabatan imam untuk beberapa waktu. Pada akhirnya pihak yayasan Alfatah memunculkan beberapa nama pengganti termasuk didalamnya adalah nama Kiyai Asyari.

Atas musyawarah bersama dan pertimbangan yang matang, akhirnya mereka memutuskan Kiyai Asyari sebagai imam masjid raya Alfatah. Kiyai asyari menjadi imam Alfatah sejak tahun 1974 hingga beliau wafat pada tahun 1986.

Pengangkatan beliau sebagai imam Alfatah sempat tidak mendapatkan dukungan dari beberapa pihak, tetapi kemudian salah satu tokoh Kailolo dari Hatuhaha mengatakan bahwa ; “Pemilihan ini bukan pemilihan pemimpin dunia tapi ini adalah pemimpin imam sholat dan harus berdasarkan kriteria agama“. Menurut beliau saat itu tidak ada yang lebih alim dan lebih layak menjadi imam selain Kiyai Asyari. Maka disepakatilah bahwa Kiyai Asyari menjadi imam masjid Alfatah. Masjid kebanggaan warga kota Ambon.

Selain bertugas menjadi imam utama di masjid raya Alfatah, Kiyai Asyari juga aktif mengisi pengajian dan tausiyah, terutama setelah sholat subuh. Pengajiannya ramai dihadiri oleh masyarakat terutama jamaah di seputaran Alfatah.

Gaya bahasa yang sederhana dan tema yang sesuai dengan realitas kehidupan masyarakat membuat kajiannya selalu dihadiri masyarakat. Banyak pelaku maksiat seperti penjudi, pemabuk dan lainnya yang bertaubat setelah mendengarkan tausiahnya.

Selain berdakawah di Ambon, Kiyai Asyari juga sering ke Pulau Seram untuk berdakwah dan memenuhi undangan masyarakat disana. Ia bersama Ustadz lainnya dari Ambon sering mengadakan safari dakwah ke Kairatu dan kampung-kampung disekitarnya. Beliau juga pernah beberapa kali ke Huamual mengunjungi murid-muridnya disana, seperti di kampung Limboro dan Nasiri. Selain di Maluku, beliau juga pernah berdakwah sampai ke tanah Papua, mengisi ceramah dan disambut baik oleh warga disana.

Dalam mengajarkan Alquran, Kiyai Asyari sangat ketat dan teliti, ia tidak mudah meluluskan murid-muridnya sebelum benar-benar faseh bacaannya. Begitupun ia tidak mudah memberikan rekomendasi kepada muridnya untuk mengajarkannya kembali ke masyarakat sebelum betul-betul mutqin bacaannya.

Murid Kiyai Asyari datang dari berbagai suku dan etnis di kota ambon, murid-muridnya tersebar hampir diseluruh pelosok Maluku. Mereka yang telah memperoleh ijazah (rekomendasi) akan kembali ke kampung halamannya untuk mengajarkan Alquran dan mendirikan tempat mengaji Alquran disana. Murid-murid kiyai asyari memiliki bacaan Alquran yang khas, faseh dan cenderung seirama. Selain mengajarkan Alquran, mereka juga adalah rujukan dalam hal keagamaan dan teladan di tengah-tengah masyarakat.

KH. Asyari adalah ulama yang konsisten mendakwahkan islam. Hari-harinya selalu diisi dengan ibadah dan amal sholeh. Selain dikenal karena keilmuan dan kesholehannya, beliau juga sangat tawadhu dan rendah hati. Ia tidak pernah merasa lebih baik dari orang lain dan ia bergaul dengan siapa saja tanpa melihat status sosialnya.

Selain sebagai ulama tempat bertanya dalam masalah keagamaan, pintu rumahnya juga terbuka bagi siapa saja yang datang bersilaturahmi. Rumahnya tidak pernah sepi dari orang-orang yang datang dengan berbagai keperluan. Yang paling sering yaitu mereka yang datang meminta agar didoakan oleh Kiyai. Sepertinya masyarakat meyakini dengan kesholehan dan amalan kiyai maka doa-doanya akan mudah diijabah oleh Allah SWT.

Salah satu momen yang melekat di memori warga muslim Kota Ambon adalah peristiwa wafatnya sang Kiyai. Kepergian kiyai Asyari sulit untuk dilupakan oleh generasi tahun 70 dan 80-an. Hari dimana wafatnya sang kiyai, masjid Alfatah dan suasana kota Ambon tiba-tiba sepi dan hening, banyak pertokoan diseputar Alfatah dan pasar tutup, jalanan menjadi sepi. Warga dari kampung yang mendengar berita kepergian beliau berdatangan untuk melayat.

Ribuan manusia menghadiri pemakaman beliau, rombongan manusia tidak putus disepanjang jalan dari kawasan Alfatah hingga ke kawasan Kudamati. Ia dikebumikan di pemakaman Kudamati (sekarang di seberang Tugu Dolan dibawah pohon beringin). Tempat pemakaman tersebut adalah tempat pemakaman keluarga arab Bahsoan yang sudah menganggap Kiyai seperti keluarga sendiri, dan itu juga salah satu wasiat Kiyai Asyari agar dikebumikan disana.

Kepergian Kiyai Asyari meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan masyarakat muslim Kota Ambon saat itu. Jasa dan dedikasinya terhadap dakwah di Ambon akan selalu dikenang. Beliau mengimami dan membina umat di masjid raya Alfatah kurang lebih selama 12 tahun.

Untuk mengenang jasa dan kebaikan sang Kiyai maka Yayasan Alfatah mengabadikan nama beliau pada suatu gedung aula besar di samping masjid raya Alfatah dengan nama Gedung Asyari.

Kiyai asyari wafat pada tanggal 1 Februari 1986. Setelah wafat, posisinya sebagai imam Alfatah kemudian digantikan oleh KH. Ahmad Bantan yang juga merupakan ulama dan guru ngaji yang nenek moyangnya berasal dari Pulau Jawa (Banten).

Note: Tulisan ini diambil dari keterangan anak asuh Kiyai Asyari dan murid Kiyai yang masih hidup serta sumber lainnya.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Gema Mathaul Anwar Maluku: Percayakan Proses Hukum Kasus Brimob ke APH, Warga Tual dan Malra Diminta Tahan Diri

    Ketua Gema Mathaul Anwar Maluku: Percayakan Proses Hukum Kasus Brimob ke APH, Warga Tual dan Malra Diminta Tahan Diri

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ketua Generasi Muda Mathaul Anwar Maluku, Bansa Hadi Sella, mengimbau masyarakat Maluku, khususnya di Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), agar menahan diri menyikapi kasus pemukulan seorang remaja oleh oknum Brimob yang berujung kematian beberapa waktu lalu. Imbauan itu disampaikan menyusul keputusan tegas institusi kepolisian yang telah menjatuhkan sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) […]

  • FORHATI Maluku, KAHMI dan LPMP Kolaborasi Edukasi Pelajar SMA Negeri 11 Ambon tentang Bahaya HIV/AIDS

    FORHATI Maluku, KAHMI dan LPMP Kolaborasi Edukasi Pelajar SMA Negeri 11 Ambon tentang Bahaya HIV/AIDS

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Majelis Wilayah Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Provinsi Maluku berkolaborasi dengan KAHMI Kota Ambon, dan Lembaga Pemerhati Masyarakat Perkotaan (LPMP) menggelar sosialisasi bahaya dan pencegahan HIV/AIDS bagi kalangan remaja di SMA Negeri 11 Ambon. Kamis (23/7/2026). Kegiatan itu sebagai upaya memperkuat edukasi kesehatan bagi generasi muda dengan menekankan pentingnya pengetahuan sejak dini untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS […]

  • PLN Journalist Awards 2025 Telah Dibuka. Berikut Info Lengkapnya

    PLN Journalist Awards 2025 Telah Dibuka. Berikut Info Lengkapnya

    • calendar_month Kamis, 2 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakartanya,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) kembali mengajak para insan jurnalis untuk berpartisipasi dalam ajang PLN Journalist Awards (PJA) 2025. Mengusung tema “Energi Berdaulat untuk Indonesia Kuat“, pendaftaran dan pengumpulan karya telah dibuka hingga 23 Oktober 2025. Ajang tahunan ini menjadi kesempatan emas bagi para jurnalis di seluruh Tanah Air untuk mengikutsertakan karya terbaiknya melalui 6 (enam) kategori […]

  • Kantor Pertanahan Buru Selatan Serahkan Sertipikat Hak Pakai kepada Pemprov Maluku

    Kantor Pertanahan Buru Selatan Serahkan Sertipikat Hak Pakai kepada Pemprov Maluku

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Namrole,Tajukmaluku.com-Kantor Pertanahan Kabupaten Buru Selatan menyerahkan Sertipikat Hak Pakai kepada Pemerintah Provinsi Maluku sebagai bagian dari upaya pengamanan aset pemerintah daerah dan pemberian kepastian hukum atas tanah yang digunakan untuk pelayanan publik. Penyerahan sertipikat berlangsung di Ruang Loket Kantor Pertanahan Kabupaten Buru Selatan, dan dilakukan langsung oleh Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Buru Selatan. Selasa (30/6/2026). […]

  • Engelina: Konversi Tanah Rakyat Jadi Saham di Blok Masela

    Engelina: Konversi Tanah Rakyat Jadi Saham di Blok Masela

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Proyek Blok Masela di Maluku jangan terjebak dalam pusaran politik teatrikal menjelang tenggat target operasional. Langkah seremonial groundbreaking yang dilakukan kelihatan hanya menjadi komoditas pencitraan politik jangka pendek. Sebab, kesiapan teknis dan keekonomian riil tidak menunjukkan kesiapan yang matang. Begitu juga dengan kesiapan finansial terutama yang menjadi kewajiban PHE Masela terkait dukungan dari Danantara. “Karena […]

  • IDI Wilayah Maluku dan Cabang Kepulauan Tanimbar Gelar Hari Bakti Dokter Indonesia Ke-118

    IDI Wilayah Maluku dan Cabang Kepulauan Tanimbar Gelar Hari Bakti Dokter Indonesia Ke-118

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Saumlaki,Tajukmaluku.com-Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Maluku bersama IDI Cabang Kepulauan Tanimbar menggelar Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-118 di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, 18 hingga 20 Mei 2026. Kegiatan tersebut dibuka langsung Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, dr. Yul Ratuanak. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan organisasi profesi kedokteran dalam menjawab berbagai persoalan […]

expand_less