Breaking News
light_mode

Merah Putih di Borneo

  • account_circle Admin
  • calendar_month Sabtu, 8 Agt 2026
  • visibility 176
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

A.M. Sangadji, Guru Politik dan Safari Kemerdekaan di Kalimantan

Oleh: Kamil Mony (Founder Abdoel Moethalib Sangadji Institute)

Tajukmaluku.com-Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, bangsa ini kembali diajak menengok lembaran-lembaran sejarah yang selama ini kurang mendapat perhatian. Salah satunya adalah Safari Kemerdekaan yang dipimpin Abdoel Moethalib (A.M.) Sangadji, sebuah perjalanan revolusioner yang menghubungkan Samarinda, pedalaman Kalimantan, hingga Banjarmasin untuk menyebarluaskan berita Proklamasi 17 Agustus 1945 sekaligus mengonsolidasikan kekuatan rakyat di Borneo.

Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis di Jakarta, Surabaya, Bandung, atau Yogyakarta. Di tepian Sungai Mahakam dan Sungai Barito, di hutan-hutan tropis Kalimantan, serta di kampung-kampung pedalaman, Merah Putih juga dikibarkan sebagai tanda lahirnya sebuah bangsa yang merdeka. Di balik perjuangan itu berdiri seorang tokoh asal Maluku yang mengabdikan hidupnya bagi Indonesia, A.M. Sangadji.

Sesudah Proklamasi dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, berita kemerdekaan tidak serta-merta menjangkau seluruh pelosok Nusantara. Keterbatasan sarana komunikasi menyebabkan rakyat di banyak daerah baru mengetahui Proklamasi beberapa minggu bahkan beberapa bulan kemudian. Radio hanya dimiliki oleh sedikit orang, surat kabar beredar sangat terbatas, sementara jaringan transportasi masih bergantung pada sungai, jalan setapak, dan jalur laut.

Keadaan itu semakin rumit di Kalimantan. Wilayah yang sangat luas, minimnya infrastruktur, serta masih kuatnya pengawasan tentara Jepang yang belum sepenuhnya menyerahkan kekuasaan kepada Sekutu membuat penyebaran berita kemerdekaan berlangsung lambat. Di sinilah A.M. Sangadji mengambil peran yang sangat penting.

Namun keberhasilan Safari Kemerdekaan sesungguhnya bukanlah perjuangan yang lahir secara spontan setelah Proklamasi. Jauh sebelumnya, sejak akhir dekade 1930-an, A.M. Sangadji telah menanamkan benih-benih nasionalisme melalui pendidikan dan kaderisasi. Ketika menetap di Samarinda, beliau aktif sebagai Dewan Penasihat Neutrale School Vereniging (NSV). Pada masa pendudukan Jepang, sekolah tersebut kemudian dihidupkan kembali menjadi Balai Pengadjaran dan Pendidikan Ra’jat (BPPR), sebuah lembaga yang berkembang menjadi pusat pendidikan rakyat sekaligus tempat pembinaan kader-kader nasionalis.

Di BPPR, A.M. Sangadji tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis. Beliau menanamkan disiplin, kepemimpinan, keberanian, persatuan, dan kesadaran bahwa Indonesia suatu hari harus menjadi bangsa yang merdeka. Pendidikan dijadikan sebagai strategi perjuangan ketika ruang politik dibatasi oleh pemerintah pendudukan Jepang.

Dari lingkungan BPPR inilah lahir generasi muda nasionalis yang kemudian memainkan peranan penting dalam Revolusi Kemerdekaan. Di antaranya adalah Abdoel Moeis Hassan, murid politik sekaligus kader yang memperoleh banyak pelajaran organisasi dan kepemimpinan dari A.M. Sangadji. Bersama para aktivis Roekoen Pemoeda Indonesia (Roepindo) seperti Badroen Tasin, Chairul Arief, Syahranie Jusuf, dan tokoh-tokoh muda lainnya, mereka menjadi generasi yang kelak menggerakkan perjuangan Republik di Kalimantan Timur.

Ketika Proklamasi dikumandangkan, jaringan kader yang telah dibangun bertahun-tahun itulah yang menjadi modal besar perjuangan. Dari Samarinda, A.M. Sangadji memimpin Safari Kemerdekaan menuju Banjarmasin. Bersama rombongan pejuang, beliau menempuh perjalanan ratusan kilometer melewati hutan belantara, jalan setapak, Sungai Mahakam, hingga Daerah Aliran Sungai Barito menggunakan perahu-perahu rakyat.

Tujuan perjalanan itu bukan sekadar membawa kabar bahwa Indonesia telah merdeka. Mereka menggelar rapat-rapat rakyat, membangkitkan kesadaran politik masyarakat, membentuk jaringan perjuangan, serta mengajak rakyat menyatakan kesetiaan kepada Republik Indonesia melalui pengibaran Sang Merah Putih.

Bagi banyak masyarakat pedalaman Kalimantan, rombongan inilah yang pertama kali membawa berita tentang lahirnya Republik Indonesia. Kehadiran mereka mengakhiri ketidakpastian setelah runtuhnya pendudukan Jepang dan memberi keyakinan bahwa bangsa Indonesia telah memiliki negara sendiri yang harus dipertahankan bersama.

A.M. Sangadji mengoordinasikan sedikitnya tiga rombongan besar yang bergerak secara bersamaan menyebarkan Proklamasi ke berbagai wilayah Kalimantan. Di Samarinda, perjuangan mendapat dukungan dari Abdoel Moeis Hassan beserta jaringan BPPR dan Roepindo. Di sepanjang jalur Barito hingga Kalimantan Selatan, beliau bekerja bersama Mohammad Roeslan, dr. Dja’far Diapari, H. Mohammad Nawawie Arief, Mahir Mahar, Adonis Samad, serta tokoh-tokoh Dayak, Banjar, Kutai, dan para pemuda daerah lainnya yang memilih berdiri teguh di belakang Republik Indonesia.

Gelombang perjuangan itu kemudian menyatu dengan gerakan rakyat di berbagai wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Tengah tampil tokoh-tokoh seperti Tjilik Riwut, George Obus, Mahir Mahar, serta para pejuang Dayak yang mengonsolidasikan kekuatan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Revolusi di Kalimantan menjadi perjuangan kolektif lintas suku, agama, dan daerah yang dipersatukan oleh cita-cita Indonesia Merdeka.

Di setiap daerah yang disinggahi, Sang Merah Putih dikibarkan. Pekik “Merdeka!” menggema di kampung-kampung sepanjang Mahakam dan Barito. Bagi rakyat, bendera Merah Putih bukan sekadar simbol, tetapi bukti bahwa Republik benar-benar telah hadir hingga ke pelosok Borneo.

Salah satu momentum paling bersejarah terjadi di Muara Teweh. Dalam rapat rakyat yang dihadiri masyarakat setempat, Merah Putih dikibarkan sebagai penegasan bahwa pedalaman Kalimantan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Republik Indonesia. Pengibaran tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan deklarasi politik bahwa rakyat Barito menolak kembalinya pemerintahan kolonial Belanda (NICA) dan memilih berdiri bersama Republik.

Dari Muara Teweh, semangat kemerdekaan terus menjalar ke Puruk Cahu, Buntok, Barabai, dan berbagai daerah lain di sepanjang Daerah Aliran Sungai Barito. Di mana pun rombongan singgah, rakyat mulai mengibarkan Merah Putih sebagai lambang persatuan dan keberanian melawan kolonialisme.

Keberhasilan Safari Kemerdekaan membuat pemerintah kolonial Belanda meningkatkan operasi penangkapan terhadap para pemimpin gerakan. Pada April 1946, A.M. Sangadji ditangkap di Marabahan dan dipenjarakan di Banjarmasin.

Namun penahanan itu justru melahirkan salah satu kisah heroik Revolusi. Ketika A.M. Sangadji memasuki Penjara Banjarmasin, para tahanan politik menyambutnya dengan pekik “Merdeka!” yang bergema dari seluruh blok penjara. Dari Bangsal D terdengar lagu “Indonesia Raya” dinyanyikan bersama. Penjara yang berada di bawah kekuasaan Belanda seketika berubah menjadi ruang perjuangan yang dipenuhi semangat Republik.

A.M. Sangadji bersama sejumlah pejuang Republiken mengalami beberapa kali pemindahan tempat penahanan di Kalimantan. Dari satu penjara ke penjara lainnya, mereka tetap menunjukkan semangat perjuangan yang tidak pernah padam. Meskipun berada di balik jeruji besi, para tahanan politik terus memelihara keyakinan bahwa Republik Indonesia akan tetap bertahan. Akhirnya, A.M. Sangadji bersama beberapa pejuang lainnya dipindahkan ke Penjara Cipinang di Batavia, yang pada masa itu menjadi salah satu tempat penahanan bagi tokoh-tokoh pergerakan yang dianggap membahayakan pemerintahan kolonial Belanda.

Setelah memperoleh pembebasan bersyarat dari Penjara Cipinang, A.M. Sangadji tidak memilih menjalani kehidupan yang tenang. Dengan mempertaruhkan keselamatan jiwanya, beliau berhasil menembus blokade Belanda untuk mencapai Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia yang saat itu masih menjadi pusat pemerintahan dan perjuangan nasional. Di kota perjuangan itulah beliau kembali mengabdikan seluruh tenaga, pikiran, dan pengalamannya bagi Republik hingga akhir hayatnya. Pada 8 Mei 1949, A.M. Sangadji mengembuskan napas terakhir sebagai seorang pejuang yang telah mengabdikan hidupnya demi kemerdekaan, persatuan, dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sementara itu, kader-kader yang pernah dibinanya terus melanjutkan perjuangan. Abdoel Moeis Hassan kemudian memimpin Front Nasional Kalimantan Timur dalam menolak politik federal Belanda dan memperjuangkan integrasi Kalimantan Timur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan panjang itu mencapai hasil ketika Karesidenan Kalimantan Timur resmi bergabung dengan Republik Indonesia pada 10 April 1950. Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa kaderisasi yang dibangun A.M. Sangadji jauh sebelum Proklamasi telah melahirkan generasi pemimpin yang mampu menjaga cita-cita kemerdekaan.

Warisan terbesar A.M. Sangadji bukan hanya keberaniannya memimpin Safari Kemerdekaan ataupun pengorbanannya sebagai tahanan politik. Warisan terbesarnya adalah manusia-manusia yang dididiknya, nilai-nilai kebangsaan yang ditanamkannya, serta jaringan perjuangan yang berhasil ia bangun di seluruh Kalimantan. Beliau bukan sekadar pejuang revolusi, tetapi juga seorang guru politik, pendidik rakyat, pembina kader, dan arsitek lahirnya generasi Republiken di Borneo.

Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kisah pengibaran Merah Putih di Muara Teweh dan Safari Kemerdekaan yang dipimpin A.M. Sangadji patut kembali diangkat sebagai memori kolektif bangsa. Sebab kemerdekaan Indonesia menjadi kenyataan bukan hanya karena Proklamasi dibacakan di Jakarta, melainkan karena ada orang-orang yang rela mempertaruhkan kebebasan, keselamatan, bahkan nyawanya untuk memastikan Sang Merah Putih berkibar hingga ke pelosok Nusantara.

Di antara mereka, A.M. Sangadji menorehkan jejak yang tidak terhapuskan dalam sejarah Borneo dan Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 27-29 Juni Jemaah Haji Maluku Tiba Tanah Air, Ka.Kanwil: PPIH Segera Rapat Persiapan

    27-29 Juni Jemaah Haji Maluku Tiba Tanah Air, Ka.Kanwil: PPIH Segera Rapat Persiapan

    • calendar_month Kamis, 19 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Dr. H. Yamin, S.Ag., M.Pd.I., menginformasikan kedatangan jemaah haji asal Maluku yang dijadwalkan berlangsung pada tanggal 27-29 Juni 2025. Proses pemulangan gelombang pertama diawali dengan kedatangan rombongan Kelompok Terbang (Kloter) 22 UPG yang diisi 390 jemaah dan petugas asal Maluku. “Sesuai yang telah kami sampaikan sejak awal dan […]

  • Tangkap Pelaku, Kapolres Bongkar Motif Pembakaran Kantor KPU BURU. Benarkah hanya Bendahara?

    Tangkap Pelaku, Kapolres Bongkar Motif Pembakaran Kantor KPU BURU. Benarkah hanya Bendahara?

    • calendar_month Minggu, 20 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Buru,Tajukmaluku.com-Kasus pembakaran kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Buru pada 28 Februari 2025 akhirnya terungkap. Berdasarkan penyelidikan intensif yang dilakukan Polres Buru, terungkap bahwa pembakaran tersebut direncanakan dan dilakukan oleh tiga orang, dengan salah satunya berperan sebagai dalang utama. Kapolres Buru, AKBP Sulastri Sukidjang, dalam konferensi pers yang digelar Sabtu siang (19/4), mengungkapkan bahwa motif […]

  • Kontrol Politik, Harapan Baru Maluku

    Kontrol Politik, Harapan Baru Maluku

    • calendar_month Senin, 24 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Dalam sela-sela acara pelantikan pengurus ICMI Maluku periode 2025 – 2030 pada tanggal 27 Januari kemarin, Gubernur Maluku terpilih Hendrik Lewerissa saat pidatonya menyampaikan bahwa beberapa pokok pikiran tentang strategi pembangunan provinsi Maluku yang akan terus di akselerasi untuk menyambut cita-cita Pembangunan Maluku 2045, dengan konsep hilirisasi perikanan. Maluku merupakan salah satu provinsi yang terletak […]

  • Ary Sahertian Dukung Pemkot Ambon Tertibkan Parkir Liar

    Ary Sahertian Dukung Pemkot Ambon Tertibkan Parkir Liar

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota DPRD Provinsi Maluku dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Ambon, Ary Sahertian, mendukung penuh terhadap kebijakan penanganan parkir liar yang tengah digencarkan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon. Katanya, kebijakan ini merupakan langkah positif, yang memberikan manfaat luas bagi seluruh masyarakat. Sebagai warga Kota Ambon sendiri, Ary menyatakan, bahwa parkir liar bukan hanya masalah ketertiban lalu lintas, […]

  • Listrik Nyala 24 Jam di Tonu Jaya: Bukti Kolaborasi Nyata Bupati SBB dengan PLN

    Listrik Nyala 24 Jam di Tonu Jaya: Bukti Kolaborasi Nyata Bupati SBB dengan PLN

    • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dusun Tonu Jaya, Pulau Kelang Seram Bagian Barat (SBB), akhirnya merasakan listrik menyala 24 jam penuh. Momen bersejarah itu menjadi sorotan dalam peringatan Hari Pelanggan Nasional (HPN) 2025 yang digelar PLN UIW Makuku dan Maluku Utara, Sabtu (20/9/2025). Bupati SBB, Asri Arman, tampil sebagai wajah daerah yang menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah dan PLN untuk menghadirkan […]

  • Bukber PPP Maluku Tegaskan Soliditas: “Partai Ini Dibangun dengan Darah dan Nilai Perjuangan Bukan Manuver Kekuasaan”

    Bukber PPP Maluku Tegaskan Soliditas: “Partai Ini Dibangun dengan Darah dan Nilai Perjuangan Bukan Manuver Kekuasaan”

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Momentum Ramadan dimanfaatkan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Maluku untuk memperkuat konsolidasi internal melalui agenda silaturahmi dan buka puasa bersama yang digelar di Sekretariat DPW PPP Maluku, kawasan Permi, Kota Ambon. (4/2/2026) Di momen itu, jajaran pengurus wilayah dan pimpinan DPC se-Maluku menegaskan kembali komitmen menjaga soliditas partai di tengah dinamika politik […]

expand_less