GP Ansor dan Gerakan Ekonomi Rakyat
- account_circle Admin
- calendar_month Selasa, 21 Okt 2025
- visibility 692
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Masyuhri Maswatu
(Wasekjen Pimpinan Pusat GP ANSOR)
Tajukmaluku.com-Sejarah pemikiran ilmu ekonomi berangkat dari salah satu pemikir pra klasik pada zaman yunani kuno. Namun, yang sering disebut bapak ekonomi. Aliran ini menekankan pada beberapa hal yang tidak terduga atau dikenal dengan invisiblehand dalam mengatur pembagian sumber daya. Bertepatan pada waktu itu, juga diperkenalkan pemikiran tentang adanya uang, bunga dan jasa tenaga kerja manusia mulai dari perbudakan hingga perdagangan. Uang, bunga dan jasa tenaga kerja manusia mulai dari perbudakan hingga perdagangan.
Pada abad ke-21 masyarakat semakin mulai bereksplorasi dalam beberapa kegiatan ekonomi. Kegiatan perekonomian menjadi salah satu tuntutan baru untuk menguasainya. Sehingga, akhirnya berbagai bangsa mempelajari dan melanjutkan studi tentang ekonomi dalam berbagai bentuk. Pada saat ini pula kemudian bermunculan beragam mazhab atau aliran-aliran ekonomi. Dari perkembangan yang semakin pesat tersebut, maka mulailah pengkajian pemikiran ekonomi untuk merumuskan hukum-hukum yang akan digunakan dalam kegiatan ekonomi. Di samping itu, untuk mewujudkan tujuan ekonomi, maka dibutuhkan cara-cara untuk dapat merealisasikannya. Berdasarkan tujuan ilmu ekonomi tersebut maka terpecahlah mazhab-mazhab ekonomi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya yang sering kita kenal dengan sebutan ekonomi kapitalis dan ekonomi sosialis.
Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator yang amat penting dalam melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu negara. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Selanjutnya, perekonomian dianggap mengalami pertumbuhan apabila seluru balas jasa riil terhadap penggunaan faktor produksi pada tahun tertentu lebih besar dari pada tahun sebelumnya. Dengan kata lain, perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan bila pendapatan riil masyarakat pada tahun tertentu lebih besar dari pada pendapatan riil masyarakat pada tahun sebelumnya. Indikator yang digunakan lebih besar dari pada pendapatan riil masyarakat pada tahun sebelumnya. Indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi adalah tingkat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil.
Pembangunan nasional diarahkan pada tercapainya standar kualitas hidup masyarakat, baik tingkat kesejahteraannya maupun kesehatan dan pendidikan. Pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian dari pembangunan yang penting bagi masyarakat. Pencapaian pembangunan ekonomi dapat diindikasikan dengan tingginya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya pendapatan perkapita, luasnya kesempatan kerja, berkurangnya tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan.
Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk di suatu daerah meningkat dalam jangka panjang. Kegiatan ekonomi dilaksanakan oleh pemerintah daerah bersama-sama dengan masyarakat, mengolah dan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk merangsang perkembangan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat, antara lain tingkat pemenuhan kebutuhan masyarakat yang berasal dari berbagai produk yang dihasilkan.
Pengembangan ekonomi kerakyatan bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas pembangunan khususnya di bidang ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu mengolah sumber daya alam secara efisien dan berkelanjutan guna meningkatkan pandapatan dan kesejahteraan. Mendorong masyarakat, pengusaha kecil dan menengah untuk berkembang serta mampu mendukung berkembangnya ekonomi daerah dan menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha.
Kesenjangan, Pemberdayaan Ekonomi Rakyat
Peringatan (warning) terhadap kesenjangan kepemilikan akses ekonomi antara pengusaha besar yang kapitalis dan kegiatan ekonomi kecil berbasis kerakyatan, sebenarnya sudah muncul sejak pertengahan tahun 1970 hingga 1980- an. Saat itu sudah banyak dikupas mengenai trade-off antara pertumbuhan dan pemerataan. Intinya, orientasi pertumbuhan yang tercermin dengan berkibarnya bendera kaum konglomerat yang mengandalkan investasi besar, tidak banyak bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan sebagian besar rakyat kecil.
Argumentasi tentang teori trickle-down effect dimentahkan oleh kenyataan semakin memburuknya kesenjangan kepemilikan modal dan aset. Pola pembangunan yang terlalu berorientasi pada pertumbuhan selama rezim orba berkuasa dan dengan semangat sentralisme kekuasaan yang kuat telah menanamkan bibit-bibit ketidakpuasan dan sekaligus konflik sosial sebagai bom waktu di berbagai daerah. Diskursus model pembangunan tahun 80-an yang bertumpu pada masyarakat (people centered development) yang bertujuan untuk pemberdayaan rakyat, ternyata hanya sekedar wacana, dan kenyataannya kapitalisme semu justru menimbulkan ketimpangan dan konflik sosial.
Ini menjadi landsan organisasi kepemudaan GP Ansor berkomitmen kuat untuk menata kembali perekonomian yang bertumpu pada kekuatan ekonomi rakyat, maka pemberdayaan ekonomi rakyat melalui UKM harus menjadi prioritas utama. Hal ini menjadi urgen bila dikaitkan dengan keadaan akhir-akhir ini yang menuntut adanya akses ekonomi oleh masyarakat secara lebih luas. Artinya kekuatan ekonomi bukan sekedar bertumpu pada segelintir masyarakat. Perekonomian rakyat diselenggarakan oleh rakyat, berarti bahwa perekonomian nasional berakar pada potensi dan kekuatan masyarakat secara luas dalam menjalankan roda perekonomian mereka sendiri.
UKM menjadi subyek studi dan kebijakan penting di Indonesia saat ini. Alasan yang dikemukakan antara lain pertama, UKM di setiap negara memberi peran vital bagi pembangunan ekonomi oleh masyarakat karena menyerap lebih dari 60 persen tenaga kerja. Kedua, secara jelas dan konsisten menjadi prioritas pemerintah Indonesia saat ini. Ketiga, memiliki makna khusus bila dikaitkan dengan isu pemerataan. Hal senada juga dikemukakan oleh hasil penelitian Shujiro Urata (JICA, 2000), bahwa UKM berperan memberi kontribusi bagi penyerapan tenaga kerja, meskipun produktivitasnya masih relatif rendah.
Entrepreneurship GP ANSOR bagi UKM
Gerakan Pemuda Ansor ( GP Ansor ) akan Menyelenggarakan inisiatif ekonomi rakyat berskala nasional melalui pembentukan kelompok usaha gotong royong dan pembangunan kampung peternakan ayam terpadu di seluruh desa di indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari gerakan ekonomi rakyat yang di inisiasi oleh GP Ansor untuk mendorong kemandirian ekonomi kader dan masyarakat desa berbasis semangat gotong royong.
Dengan semangat gotong-royong dan saling melengkapi satu sama lain, tingkat ekonomi masyarakat Indonesia akan lebih mudah untuk bangkit dan berkembang. Hal ini juga dapat ditemukan dalam teori ekonomi Islam yang juga bertujuan untuk berbuat baik sesama makhluk, dan tolong menolong serta saling membantu dalam kebaikan untuk menuju kesejahteraan ekonomi, lebih-lebih kebahagiaan di akhirat. Pemikiran ini juga banyak dipengaruhi oleh agama Islam dalam penentuan konsep perekonomian Indonesia. Salah satu contohnya, Hatta berpendapat bahwa pemikiran sosialis yang dimilikinya berangkat dari adanya ajaran Islam. Hal ini kerap kali ditemukan dalam bukunya yang berjudul “Persoalan Ekonomi Sosialis Indonesia” bahwa tulisan beliau kerap kali mengkolaborasikan pemikiran keislaman dengan pemikiran konsep sosialis.
Semangat yang terkandung dalam entrepreneurship pada hakekatnya adalah segala upaya untuk menciptakan kemakmuran bagi individu atau sekelompok orang dan juga harus dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat luas. Jika sekelompok individu tersebut berasal dari kalangan bawah (masyarakat ekonomi lemah), maka peningkatan kemakmuran akan mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi di antara kelompok masyarakat yang ada. Selain itu, memberikan nilai tambah bagi masyarakat luas akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah atau nasional. Dua hal tersebut menjadi sesuatu yang urgen dewasa ini.
Diskursus tentang kewirausahaan tidak akan lepas dari sifat intrinsik yang melekat, yakni kreativitas dan inovasi. Kreativitas akan menciptakan gagasan baru (avant garde atau makes it new), sedangkan inovasi adalah menerapkan gagasan baru yang akan memberi nilai lebih. Kedua sifat dasar ini akan berkembang baik dalam lingkungan yang kondusif, yakni lingkungan sosial yang demokratis (bukan otoritarian-represif) dan sikap mental mau menghargai pendapat dan karya orang lain.
Konsolidasi dan pelatihan manajemen bisnis untuk kader bisa menjadi langkah awal. Dari pelatihan tersebut, GP Ansor bisa mencetak pelaku usaha sosial (social entrepreneur) yang tidak hanya mencari keuntungan semata, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar. Sehingga spirit ‘hubbul wathan minal iman’ pun bisa diimplementasikan dalam konteks ekonomi yang membebaskan. Kehadiran unit usaha bukan lagi pilihan, melainkan keharusan karena menjadi bagian dari transformasi organisasi agar lebih adaptif menghadapi tantangan zaman. Masa depan GP Ansor terletak pada kemampuannya merespons kebutuhan generasi muda, termasuk dalam bidang ekonomi.*
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar