Breaking News
light_mode

Ambon, Titik Nol Protestan di Asia

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
  • visibility 316
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Engelina Pattiasina

(Direktur Archipelago Solidarity Foundation)

Tajukmaluku.com-Judul ini mungkin terdengar bombastis: bagaimana mungkin Protestan Ambon disebut sebagai pionir Protestan di Indonesia, bahkan Asia? Namun jika kita menelusuri garis waktu sejarah Reformasi, klaim itu justru memiliki pijakan yang kuat.

Semua bermula di abad ke-16, ketika seorang biarawan Jerman, Martin Luther, menggugat otoritas Gereja Katolik Roma. Pada masa itu, Gereja bukan sekadar lembaga keagamaan, melainkan pusat kekuasaan politik dan sosial Eropa. Ketika Luther menolak mencabut 95 tesisnya dalam sidang gereja di Diet of Worms tahun 1521, ia tidak hanya memantik perdebatan teologis, tetapi juga memicu pergeseran geopolitik.

Penemuan mesin cetak mempercepat penyebaran gagasan Reformasi. Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman—tidak lagi eksklusif dalam bahasa Latin—dan Protestanisme menjalar cepat. Eropa pun terbelah antara Katolik dan Protestan.

Setelah wafatnya Luther pada 1546, konflik berkepanjangan itu menemukan titik kompromi dalam Peace of Augsburg tahun 1555. Melalui prinsip cuius regio, eius religio—siapa berkuasa, dia menentukan agama wilayahnya—Protestanisme diakui sebagai agama sah dalam Kekaisaran Romawi Suci. Agama menjadi identitas politik negara.

Belanda, yang kemudian kuat dalam tradisi Calvinis di bawah pengaruh John Calvin, menjadikan Protestan sebagai agama negara. Prinsip Augsburg menjadi legitimasi teologis sekaligus politis bagi ekspansi mereka.

Namun, sebelum Augsburg diteken, Portugis telah tiba di Maluku pada 1512. Dengan semangat yang sama—agama mengikuti kekuasaan—Portugis membawa Katolik ke wilayah yang mereka kuasai, termasuk Maluku dan Timor. Saat itu, mereka nyaris tanpa pesaing Eropa. Meski demikian, penting dicatat: komunitas Muslim telah lebih dahulu hadir dan berakar kuat di Maluku sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa.

Sejarah Maluku kemudian menjadi panggung persaingan poros Katolik (Portugis–Spanyol) dan Protestan (Belanda–Inggris).  Politik dan agama berkelindan dalam perebutan rempah-rempah.

Pada 23 Februari 1605, Belanda menaklukkan Portugis di Ambon dengan merebut Benteng Laha. Empat hari kemudian, tepat 27 Februari 1605, ibadah Protestan pertama di daratan Ambon dipimpin oleh ziekentrooster Johannes Stollenbeeker.

Momentum ini penting. Jika dihitung dari Diet of Worms (1521), hanya berselang sekitar 80 tahun. Dari Perdamaian Augsburg (1555), bahkan hanya sekitar 50 tahun. Artinya, Ambon menerima Protestanisme hampir bersamaan dengan konsolidasi Protestan di Eropa sendiri.

Lebih jauh lagi, ibadah Protestan di Ambon pada 1605 mendahului berbagai jejaring misi Protestan mapan di Asia daratan seperti India, Tiongkok, dan Jepang. Bahkan, ia juga lebih awal dibanding pendirian Gereja Anglikan di koloni Inggris Amerika Utara pada 1607 oleh Robert Hunt di Jamestown, Virginia.

Dalam konteks ini, Ambon bukan sekadar penerima, melainkan salah satu titik awal Protestan global di luar Eropa.

Menariknya, terhadap umat Islam di Maluku, Belanda tidak sepenuhnya menerapkan prinsip cuius regio, eius religio. Sikap mereka lebih pragmatis. Demi stabilitas perdagangan rempah dan relasi dengan kesultanan-kesultanan lokal, Belanda tidak mencampuri urusan agama Islam. Bahkan, zending dilarang menginjili komunitas Muslim. Motif ekonomi kerap lebih dominan daripada misi religius.

Maluku, dengan demikian, menjadi laboratorium politik-agama sebelum lahirnya sistem negara modern.

Ketika Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648) mengoyak Eropa, Maluku telah lebih dahulu mengalami praktik “agama mengikuti kekuasaan”. Barulah melalui Peace of Westphalia tahun 1648, prinsip cuius regio, eius religio mulai ditinggalkan dan digantikan dengan konsep kedaulatan negara serta non-intervensi—fondasi sistem internasional modern yang kelak memengaruhi lahirnya United Nations.

Namun Ambon telah mengalami dua fase: pra-Westphalia dan pasca-Westphalia. Ia menjadi ruang praktik sebelum teori dirumuskan di Eropa.Karena itu, menyebut Ambon sebagai “Gerbang Protestan” di Asia bukanlah klaim kosong. Ibadah 27 Februari 1605 di daratan Ambon memiliki kesinambungan historis yang dapat ditelusuri hingga kini. Dari jemaat awal itu lahir Indische Kerk, yang kemudian berkembang menjadi gereja-gereja mandiri di Indonesia.

Secara genealogis, Gereja Protestan Maluku adalah pewaris langsung sejarah tersebut. Memang, GPM merayakan 6 September sebagai hari kemandirian gereja—itu sah dan tepat. Namun mengingat 27 Februari 1605 berarti menengok akar, menyadari dari mana kita bertumbuh.

Pada 27 Februari 2026, peristiwa itu genap berusia 421 tahun. Sebuah rentang sejarah yang panjang—bahkan lebih tua dari banyak institusi Protestan di Asia.

Maka, ungkapan orang Ambon, “Seng usah ajar beta, beta su baca Alkitab sejak potong tali pusar,” bukan sekadar metafora jenaka. Ia adalah ekspresi kesadaran historis—bahwa Protestanisme telah berakar lebih dari empat abad di tanah ini.

Ambon bukan hanya kota rempah. Ia adalah simpul sejarah global—tempat politik, agama, dan perdagangan dunia bertemu. Dan dalam narasi Reformasi, ia berdiri sebagai salah satu titik nol Protestan di Asia.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dukung Gerakan Si Lisa DLH Kota Ternate, PLN UPK Maluku Sumbang Compost Bag

    Dukung Gerakan Si Lisa DLH Kota Ternate, PLN UPK Maluku Sumbang Compost Bag

    • calendar_month Sabtu, 28 Sep 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon, Tajukmaluku.com– PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelaksana Pembangkitan (UPK) menyumbangkan sebanyak 50 buah Compost Bag berukuran 80 liter kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate. Sumbangan itu diberikan PLN UPK Maluku sebagai dukungan penuh terhadap proyek perubahan (proper) Strategi Pengelolaan Sampah “Gerakan Si Lisa” yang […]

  • RUMMI Bakal Laporkan Sekda SBB ke Polda Maluku Soal Dugaan Gratifikasi

    RUMMI Bakal Laporkan Sekda SBB ke Polda Maluku Soal Dugaan Gratifikasi

    • calendar_month Sabtu, 24 Mei 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Lembaga Swadaya Masyarakat Rumah Muda Anti Korupsi (RUMMI) menyatakan bakal melaporkan Sekretaris Daerah (Sekda) Seram Bagian Barat (Sekda SBB) ke Kepolisian Daerah (Polda) Maluku atas dugaan gratifikasi yang melibatkan pejabat tinggi di lingkungan Pemkab SBB. Ketua RUMMI, Fadel Rumakat dalam keterangannya kepada media mengatakan, laporan resmi akan disampaikan pada awal pekan depan. Menurutnya, dugaan gratifikasi […]

  • Pilgub Maluku: Jeritan Rakyat Menuju Perubahan Nyata

    Pilgub Maluku: Jeritan Rakyat Menuju Perubahan Nyata

    • calendar_month Kamis, 10 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Risno Ibrahim [Direktur Inout Institut] Ambon, Tajukmaluku.com- Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Maluku bukan hanya agenda politik lima tahunan, tetapi sebuah kesempatan emas bagi masyarakat untuk mencapai perubahan yang nyata. Maluku, yang kaya akan sumber daya alam, masih terbelakang dalam banyak aspek pembangunan. Kepemimpinan Gubernur Murad Ismail terkesan gagal, menjadi catatan kelam yang tak bisa diabaikan. […]

  • Hari Listrik Nasional ke-79, Dirut PLN Tegaskan Komitmen sebagai Fondasi Pembangunan Nasional

    Hari Listrik Nasional ke-79, Dirut PLN Tegaskan Komitmen sebagai Fondasi Pembangunan Nasional

    • calendar_month Rabu, 30 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com– Tepat 27 Oktober diperingati sebagai Hari Listrik Nasional (HLN) ke-79. Selama 79 tahun juga PT PLN (Persero) telah menerangi masyarakat seantero Indonesia. Dengan mengusung tema “Energi Baru untuk Indonesia Maju”, perseroan berharap dapat terus berinovasi dalam menyediakan energi bersih secara berkelanjutan demi kemajuan Indonesia. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo dalam upacara peringatan HLN ke-79 […]

  • SEMMI Maluku Dukung Penuh POLRI Tetap Independen, Bukan di Bawah Kementerian

    SEMMI Maluku Dukung Penuh POLRI Tetap Independen, Bukan di Bawah Kementerian

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Wacana menempatkan Kepolisian Negara Republik Indonesia di bawah struktur kementerian kembali mencuat. Isu lama ini selalu muncul dengan dalih penguatan kontrol sipil. Namun bagi banyak kalangan, gagasan tersebut justru berpotensi menggerus independensi penegakan hukum. Ketua PW Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Maluku, Risman Solissa, secara terbuka menyatakan dukungan terhadap sikap tegas Kapolri Listyo Sigit Prabowo […]

  • Audiensi dengan Komisi III DPRD, KNPI Maluku Minta Pengawalan Dana Pinjaman SMI Rp1,5 Triliun

    Audiensi dengan Komisi III DPRD, KNPI Maluku Minta Pengawalan Dana Pinjaman SMI Rp1,5 Triliun

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-DPD KNPI Maluku meminta adanya pengawalan ketat terkait alokasi dana pinjaman PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Rp 1,5 triliun yang difokuskan pada pembangunan infrastruktur. Itu disampaikan dalam audiensi bersama Ketua Komisi III DPRD Maluku, Alhidayat Wadjo, Senin (1/12/2025). Ketua KNPI Maluku, Arman Kalean, menegaskan bahwa Komisi III perlu melakukan pengawasan ketat terhadap proses pembahasan Ranperda […]

expand_less