Breaking News
light_mode

Perpanjangan Runway Bandara Banda Neira Dinilai Belum Menjawab Kebutuhan Warga

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
  • visibility 200
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ambon,Tajukmaluku.com– Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir bersama perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan meninjau Bandara Banda Neira, Sabtu (11/7/2026).

Peninjauan tersebut berkaitan dengan rencana peningkatan kapasitas bandara untuk mendukung pengembangan Kepulauan Banda sebagai destinasi wisata kelas dunia.

Rencana memperpanjang landasan tersebut dipertanyakan warga. Proyek itu dinilai berpotensi mengganggu ruang hidup masyarakat pesisir, mata pencaharian nelayan, dan ekosistem laut jika dijalankan tanpa kajian lingkungan dan sosialisasi yang komprehensip.

Putri Hastari, salah satu warga Banda Neira sekaligus lulusan Magister Ilmu Kelautan Universitas Pattimura Ambon, meminta pemerintah Malteng menjelaskan urgensi dan manfaat langsung proyek tersebut bagi masyarakat lokal.

Ia menilai pemerintah perlu lebih dulu menyelesaikan persoalan dasar yang selama ini menghambat aktivitas warga. Salah satunya ialah kerusakan jalan utama dari pelabuhan menuju bandara hingga Desa Tanah Rata.

“Pemerintah perlu melihat kebutuhan masyarakat secara langsung. Salah satu persoalan yang mendesak adalah kerusakan jalan utama dari pelabuhan menuju bandara hingga jalur ke Desa Tanah Rata,” kata Putri dalam keterangan tertulis ke media Tajukmaluku.com. Selasa (14/7/2026).

Menurutnya, kerusakan jalan tersebut mengganggu mobilitas masyarakat dan meningkatkan risiko kecelakaan. Jalur itu menjadi akses utama warga untuk bekerja, berdagang, bersekolah dan aktivitas lainnya.

Putri mengatakan pembangunan bandara tidak seharusnya hanya diarahkan untuk meningkatkan jumlah wisatawan atau membuka akses bagi pesawat berukuran lebih besar. Pemerintah juga perlu menjelaskan dampak ekonomi proyek bagi masyarakat Banda Neira.

Ia meminta pemda malteng membuka desain pembangunan, luas wilayah terdampak, kebutuhan lahan, potensi perubahan garis pantai, risiko lingkungan, dan bentuk perlindungan terhadap warga pesisir.

“Pemerintah harus berdiskusi dengan masyarakat mengenai persoalan yang mereka hadapi. Jangan sampai proyek yang direncanakan tidak menjawab kebutuhan warga,” ujarnya.

Banda Neira selama ini telah berkembang sebagai tujuan wisata sejarah dan bahari. Wisatawan domestik maupun mancanegara juga menggunakan jalur laut untuk mengunjungi kepulauan tersebut.

Karena itu, Putri menilai pengembangan pariwisata tidak semestinya hanya bertumpu pada perluasan bandara. Pemerintah perlu memperbaiki transportasi laut, jalan umum, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, dan pelayanan publik lainnya.

Kekhawatiran warga juga menyasar kemungkinan penimbunan pesisir atau reklamasi untuk memperpanjang landasan pacu. Kawasan pantai di Banda Neira bukan hanya ruang wisata, tetapi juga wilayah ekonomi masyarakat.

Para nelayan menggunakan kawasan tersebut sebagai tempat tambatan perahu, jalur melaut. Perubahan garis pantai dinilai dapat mengganggu akses nelayan terhadap wilayah tangkap.

Putri mengingatkan bahwa penimbunan pesisir dapat memicu sedimentasi. Endapan material berpotensi menutup terumbu karang, menurunkan kualitas air, mengganggu habitat ikan, dan mengubah pola arus laut.

“Jika ekosistem pesisir terganggu, nelayan kecil akan menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya,” katanya.

Sebagian besar nelayan di Kepulauan Banda merupakan nelayan tradisional yang memiliki wilayah tangkap terbatas. Kerusakan terumbu karang dan perubahan arus dapat mempersempit daerah tangkap serta menurunkan hasil perikanan.

Putri meminta pemda malteng perlu memastikan kajian analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang tidak hanya dijadikan syarat administratif. Kajian Amdal harus dilakukan secara terbuka dengan melibatkan masyarakat pesisir, nelayan, akademisi, ahli kelautan, dan organisasi lingkungan.

Pemda malteng juga diminta mempertimbangkan kondisi geografis Kepulauan Banda. Wilayah tersebut diketahui alami risiko aktivitas vulkanik, gempa bumi, cuaca ekstrem, abrasi, dan kenaikan permukaan laut.

Menurut Putri, pembangunan infrastruktur di kawasan pesisir harus memperhitungkan risiko bencana, daya dukung lingkungan, dan kemampuan pulau menanggung tekanan pembangunan.

Ambisi proyek yang disusun tanpa kajian menyeluruh dinilai dapat meningkatkan kerentanan wilayah dan memicu konflik dengan masyarakat.

Ia menegaskan masyarakat lokal tidak boleh kehilangan ruang hidup demi kepentingan pengembangan pariwisata.

“Masyarakat Banda Neira bukan objek pelengkap destinasi wisata. Mereka hidup dan bergantung pada sumber daya alam di wilayah tersebut,” ujarnya.

Putri juga meminta pemda malteng membuka informasi mengenai pihak ketiga yang bakal memperoleh manfaat besar dari proyek, luas kawasan pesisir yang terdampak, nasib nelayan, serta jaminan perlindungan terhadap ekosistem laut.

Sosialisasi ke masyarakat, kata dia, harus dilakukan sebelum pembangunan dijalankan. Masyarakat perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan, bukan hanya menerima informasi setelah proyek itu ada.

Rencana perpanjangan landasan pacu Bandara Banda Neira masih membutuhkan penjelasan terbuka dari pemerintah. Kajian lingkungan, risiko bencana, kebutuhan masyarakat, dan dampak terhadap nelayan menjadi isu utama yang harus dijawab sebelum proyek dilanjutkan.*(01-F)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antara Hak Leluhur dan Hasrat Kapital: Masyarakat Adat Maluku di Tengah Arus Ekonomi Ekstraktif

    Antara Hak Leluhur dan Hasrat Kapital: Masyarakat Adat Maluku di Tengah Arus Ekonomi Ekstraktif

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Di antara gemericik emas (mutiara) dan gemuruh mesin tambang yang menggerus perut bumi Maluku, tersembunyi sebuah paradoks zaman: bagaimana masyarakat adat yang selama ribuan tahun menjadi penjaga keseimbangan alam kini terpojok sebagai penonton di tanahnya sendiri? Sejak abad ke-16, Maluku telah menjadi medan perang antara perlindungan hak dan ekspansi kapital. Dulu, Portugis dan VOC membantai […]

  • Pembangunan Rumah Makan Bergizi Gratis, Warga Desa Walantenga Siap Sambut Kedatangan Gubernur Maluku

    Pembangunan Rumah Makan Bergizi Gratis, Warga Desa Walantenga Siap Sambut Kedatangan Gubernur Maluku

    • calendar_month Minggu, 20 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    SBT,Tajukmaluku.com-Suasana antusias menyelimuti Desa Walantenga, Kecamatan Tutuk Tolo, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) menjelang kunjungan Gubernur Maluku pada Senin, 21 Juli 2025. Warga bersiap menyambut kedatangan Gubernur untuk peletakan batu pertama pembangunan Rumah Makan Bergizi Gratis. Basir Rombory, koordinator lapangan sekaligus pemuda Desa Walantenga menyampaikan antusiasme masyarakat. Ia mengungkapkan apresiasi atas kerja keras dan kesukarelaan […]

  • Utamakan Daya Beli Masyarakat, Pemerintah Jaga Tarif Listrik Tetap Terjangkau Sepanjang 2025

    Utamakan Daya Beli Masyarakat, Pemerintah Jaga Tarif Listrik Tetap Terjangkau Sepanjang 2025

    • calendar_month Selasa, 30 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan untuk tidak mengubah tarif tenaga listrik bagi pelanggan PT PLN (Persero) pada Triwulan IV (Oktober–Desember) 2025. Dengan keputusan tersebut, Pemerintah secara konsisten menjaga tarif tenaga listrik tetap terjangkau sepanjang tahun 2025 demi memprioritaskan daya beli masyarakat. Plt. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Tri Winarno, menjelaskan bahwa penetapan […]

  • DPRD Maluku Soroti Antrean BBM Subsidi di Ambon

    DPRD Maluku Soroti Antrean BBM Subsidi di Ambon

    • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi II DPRD Maluku menyoroti antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Ambon akibat terbatasnya kuota solar subsidi. Persoalan tersebut dibahas dalam rapat bersama PT Pertamina Patra Niaga dan lembaga penyalur SPBU, Jumat (28/8/2026). Ketua Komisi II DPRD Maluku, Irawady mengatakan salah satu persoalan yang ditemukan adalah kuota solar di sejumlah SPBU yang dinilai masih […]

  • Setelah Kilmury, PLN UIW MMU Komitmen Kawasan Utian – Kecamatan Werinama Akan Dilistriki Secara Bertahap

    Setelah Kilmury, PLN UIW MMU Komitmen Kawasan Utian – Kecamatan Werinama Akan Dilistriki Secara Bertahap

    • calendar_month Rabu, 2 Okt 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) berkomitmen untuk mewujudkan penyalaan listrik 5 desa di Kecamatan Werinama, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Hal ini disampaikan General Manager PLN UIW MMU, Awat Tuhuloula. Dia menyebutkan, kelima desa tersebut, yakni; Desa Batu Asa, Tobo, Osong, Gusalaut, dan Desa Tum dengan […]

  • Kesepakatan Bersama, Pelaku Narkoba di Hitu Bakal Kena Sanksi Sosial

    Kesepakatan Bersama, Pelaku Narkoba di Hitu Bakal Kena Sanksi Sosial

    • calendar_month 8 jam yang lalu
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pemerintah Negeri Hitu Lama dan Hitumessing bersama warganya mengambil langkah tegas untuk menyelematkan generasi mereka dari bahaya narkoba dengan cara bakal memberikan sanksi sosial kepada siapapun oknum warga yang mencoba-coba berbisnis barang haram tersebut di Negeri Hitu. Raja Negeri Hitu Lama, Salhana Pelu menyebut pemerintah negeri, tokoh masyarakat, dan warga Hitu Lama juga Hitumessing telah […]

expand_less