Prodi Ilmu Kelautan Unkhair Gelar Seminar Kebencanaan di Kota Ternate
- account_circle Admin
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ternate,Tajukmaluku.com-Program Studi Ilmu Kelautan UNKHAIR menggelar seminar kebencanaan Kota Ternate, Selasa, (12/5/2026) berlokasi di Aula Nuku, Kampus 2 Gambesi.
Seminar kebencanaan ini dipandu langsung oleh moderator Abdul Ajiz Siolimbona dengan menghadirkan dua narasumber yakni Ir. Zulhan A. Harahap dan M. Ridwan Lessy. Acara dibuka oleh dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Dr. Ir. Riyadi Subur. Turut dihadiri perwakilan DPRD Kota Ternate, BALITBANGDA Kota Ternate, BPBD Kota Ternate, akademisi dan juga mahasiswa.
Zulhan Harahap yang juga merupakan Koordinator Program Studi Ilmu Kelautan UNKHAIR menyampaikan pemaparannya dengan judul “Dinamika Ketinggian Air Laut Kota Ternate”.
Dalam pemaparan awalnya, Zulhan menjelaskan penyebab kenaikan muka air laut secara global, diantaranya meningkatnya suhu bumi yang berakibat pada pencairan es di Kutub Utara dan Selatan serta pencairan es di Greenland.

“Adapun pencairan es yang berdampak pada kenaikan muka air laut juga terjadi di pegunungan salju, termasuk di Puncak Cartenz, Papua. Selain itu, kenaikan muka air laut juga disebabkan faktor lokal dan temporal seperti pasang-surut, gelombang dan arus, bentuk topografi dasar perairan serta letak geografis suatu wilayah,” kata Zulhan.
Zulhan yang merupakan alumni program doctoral dari University of Sheffield, Inggris ini menjelaskan hasil analisisnya terhadap kenaikan muka air laut di Kelurahan Tafamutu, Pulau Moti, yang mengungkap fenomena kenaikan air laut ke daratan sejauh lebih dari 9 meter.
Kenaikan air laut tersebut sempat mengakibatkan erosi di halaman belakang sebuah Madrasah Aliyah di Kelurahan Tafamutu. Kabar baiknya, setelah hasil kajian ini dilaporkan, pemerintah Kota Ternate telah melakukan Pembangunan talud sehingga Pantai di Kelurahan Tafamutu, Pulau Moti kini lebih aman dari ancaman erosi.
Selanjutnya, Ridwan Lessy yang tampil sebagai narasumber kedua menyampaikan pemaparannya dengan judul “Memahami multihazard events di Pulau Ternate”.
Mengawali pemaparannya, Ridwan yang merupakan fresh graduate program doctoral dari Charles Darwin University Australia ini menggambarkan tantangan yang dihadapi Pulau Ternate antara lain ketersediaan lahan hunian yang terbatas, karena lahan yang tersedia didominasi lereng serta bukit, utamanya gunung api aktif.

Tantangan berikutnya adalah posisi Pulau Ternate berada di sekitar 3 lempeng bumi yaitu lempeng laut Maluku, Lempeng Halmahera dan Lempeng Pasifik yang membuat Pulau Ternate sangat rentan terdampak aktifitas tektonik.
“Selain itu, Pulau Ternate juga dikelilingi laut dan dekat dengan samudera pasifik sehingga sangat berpotensi terpapar badai,” tuturnya.
Hasil kajian kebencanaan yang dilakukan Lessy menimpulkan hampir seluruh Pulau Ternate dapat terdampak bencana, baik terdampak kuat, sedang ataupun lemah. Jenis bencana yang berpotensi berdampak kepada masyarakat yaitu gempa bumi, longsor, banjir bandang, cuaca ekstrim, gelombang ekstrim dan badai, tsunami serta erupsi gunung api.
Sebagai penutup, Lessy menjelaskan tentang pentingnya mempersiapkan ketahanan bencana, baik pada level individu, keluarga, sampai level kota di Ternate.
Selain itu, perlu adanya penanda di setiap lokasi tentang tingkat dampak bencana di lokasi tersebut sehingga masyarakat dapat mempersiapkan diri. Pemerintah setempat juga wajib menyiapkan peta jalur evakuasi berdasarkan jenis bencana sehingga harapannya dapat meminimalisir korban, baik korban jiwa maupun materil.
“Berikutnya, perlu disusun regulasi dan rencana tata ruang berbasis mitigasi bencana,” ucap Lessy.
Dalam sesi diskusi, peserta banyak memberikan masukan dan pertanyaan antara lain perlunya kolaborasi antar intansi perguruan tinggi, pemerintah dan masyarakat dalam menyiapkan langkah-langkah mitigasi bencana serta pentingnya penyediaan peralatan pendukung guna memonitor bencana di Kota Ternate.
Acara kemudian ditutup oleh Koordinator Program Studi Ilmu Kelautan, Zulhan Harahap. Sebelum menutup acara, Zulhan menyampaikan bahwa Program Studi Ilmu Kelautan UNKHAIR akan terus berusahan memberikan kontribusi berupa data-data kelautan yang dibutuhkan oleh pemerintah Kota Ternate dan juga pemerintah Provinsi Maluku Utara untuk keperluan mitigasi bencana maupun Pembangunan di wilayah pesisir dan laut ke depan.*(01-F)
- Penulis: Admin





Saat ini belum ada komentar