Breaking News
light_mode

Sagu Dijual Rp50 Ribu, Tapi Tak Ada yang Menanam Lagi

  • account_circle Tajuk Maluku.com
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 1.121
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ishak R. Boufakar bicara tentang maraknya penebangan sagu dan lenyapnya peran perempuan dalam tata kelola pangan di Seram Timur.

Wawancara Tajukmaluku.com
Senin, 26 Mei 2025 |

Pada 24 Mei lalu, Ketua HKTI Seram Bagian Timur menyebut harga jual batang sagu hanya Rp50 ribu. Ia menilai harga itu terlalu murah dan menyengsarakan petani. Tapi di kampung-kampung penghasil sagu, cerita itu sudah lama terdengar. Penebangan sagu terjadi setiap hari, tanpa skema budidaya, tanpa pelibatan perempuan, dan tanpa perhatian dari lembaga formal.

Tajukmaluku.com mewawancarai Ishak R. Boufakar, mahasiswa Kajian Budaya Unhas, yang meneliti praktik jual beli sagu dan eksklusi perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam di Seram Timur. Berikut petikan wawancara yang dilakukan melalui sambungan daring pada Ahad sore, 25 Mei 2025.

Bagaimana Anda melihat pernyataan Ketua HKTI yang menyebut harga batang sagu terlalu murah?
Itu pernyataan yang normatif dan datang terlambat. Di kampung, warga sudah bertahun-tahun menjual sagu dengan harga segitu. Mereka tahu itu murah, tapi kebutuhan ekonomi memaksa. Pernyataan seperti itu tidak menyentuh akar masalah: tidak ada kontrol, tidak ada perlindungan, dan tidak ada alternatif selain menjual.

Apakah penjualan sagu ini termasuk praktik eksploitatif?
Iya, dalam banyak aspek. Sagu ditebang dalam jumlah besar, tapi tidak ada upaya penanaman kembali. Padahal sagu itu bukan seperti pisang. Ia tumbuh 10 sampai 15 tahun, dan hanya berbunga sekali. Begitu ditebang, dia mati. Tidak ada yang tanam lagi. Ini pembiaran yang sistematis.

Apa yang Anda temukan soal peran perempuan dalam tata kelola sagu?
Justru itu yang mengkhawatirkan. Perempuan yang dulu memegang pengetahuan dan praktik pengolahan sagu, kini nyaris tidak dilibatkan dalam keputusan menebang. Transaksi jual beli sagu didominasi laki-laki. Perempuan hanya tahu ketika batang sagu sudah hilang dari dusun.

Apa dampaknya bagi keberlanjutan pangan lokal?
Sagu itu pangan pokok di Seram Timur. Tapi sekarang, karena sagu dijual besar-besaran tanpa kendali, warga mulai tergantung pada beras dari luar. Padahal beras harus dibeli. Ini menggeser orientasi ekonomi dan mengguncang keamanan pangan lokal. Hutan sagu hilang, dan ketergantungan pada pasar meningkat.

Apakah Anda melihat adanya kebijakan yang melindungi sagu dan masyarakat adat?
Nyaris tidak ada. Tidak ada regulasi lokal tentang perlindungan kawasan sagu, tidak ada peta wilayah yang jelas, dan tidak ada skema reboisasi. Bahkan pemerintah tidak tahu berapa jumlah batang sagu yang ditebang tiap bulan. Semua berjalan atas nama “pasar”.

Dalam kerangka studi budaya dan ekologi politik feminis, bagaimana Anda membaca fenomena ini?
Ini bukan hanya soal harga atau soal ekonomi semata. Ini soal relasi kuasa yang saling berkelindan—antara negara, pasar, dan struktur patriarki dalam masyarakat adat. Dari kacamata ekologi politik feminis, kita melihat bagaimana perempuan mengalami eksklusi ganda: mereka dikeluarkan dari pengambilan keputusan, dan sekaligus kehilangan akses terhadap sumber daya yang dulu mereka kelola. Ini bukan sekadar ketimpangan ekonomi, tapi bentuk ketidakadilan ekologis yang berpijak pada ketimpangan gender dan relasi kuasa yang timpang dalam tata kelola alam.

Apa yang perlu dilakukan untuk menghentikan krisis ini?
Pertama, hentikan penebangan masif. Kedua, buat peta wilayah sagu dan tetapkan zona lindung. Ketiga, dorong skema budidaya sagu dengan melibatkan perempuan. Dan terakhir, rekognisi terhadap pengetahuan lokal—terutama yang dikuasai perempuan—harus jadi pijakan kebijakan.

Anda sempat menulis bahwa menjual sagu Rp50 ribu itu seperti menukar sejarah dengan dua bungkus rokok. Bisa dijelaskan?
Ini benar-benar dari lapangan. Sagu itu tumbuh liar, mereka tidak menanam secara sistematis seperti tanaman lain. Butuh waktu puluhan tahun sampai batang itu siap dipanen. Tapi karena kebutuhan uang cepat, satu batang sagu yang sudah tumbuh puluhan tahun itu dijual murah sekali, cuma sekitar Rp50 ribu—setara dua bungkus rokok. Uang itu cepat habis, tapi pohon sagu butuh minimal 10-15 tahun untuk tumbuh kembali, dan itu belum tentu tumbuh di tempat yang sama. Jadi, yang hilang bukan cuma nilai ekonomi, tapi juga warisan ekologis dan sosial yang tak tergantikan.

Apakah Anda optimis perubahan bisa terjadi?
Optimisme saya sangat bergantung pada bagaimana suara perempuan di kampung mulai didengar kembali. Selama ini, suara mereka sering tenggelam di tengah hiruk-pikuk transaksi dan kepentingan pasar. Namun, saya melihat ada gerakan kecil yang menjanjikan, seperti komunitas-komunitas belajar dan komunitas film Wanusinema yang aktif mengangkat isu ini. Mereka mulai menolak praktik pernikahan dini dan berupaya melestarikan warisan sagu sebagai sumber kehidupan. Dari sana, saya yakin harapan untuk perubahan bisa tumbuh dan berkembang.

Profil Narasumber:
Ishak R. Boufakar adalah mahasiswa Program Pascasarjana Cultural Studies di Universitas Hasanuddin. Ia tengah menulis tesis tentang resistensi perempuan pengolah sagu terhadap eksklusi struktural dalam tata kelola sumber daya di Seram Timur. Penelitiannya dilakukan melalui pendekatan Ekologi Politik Feminis selama tiga bulan di lima desa di Seram Timur.

  • Penulis: Tajuk Maluku.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kakanwil Kemenag Maluku Kukuhkan FPMI: Dorong Penguatan Pendidikan Inklusif hingga Kabupaten/Kota

    Kakanwil Kemenag Maluku Kukuhkan FPMI: Dorong Penguatan Pendidikan Inklusif hingga Kabupaten/Kota

    • calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pengurus Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Provinsi Maluku periode 2026–2031 dikukuhkan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku, H. Yamin, di Lantai V Hotel Santika Ambon, Jumat (21/8/2026). Pengukuhan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif di lingkungan madrasah. FPMI diharapkan menjadi wadah kolaborasi sekaligus penggerak dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi […]

  • Hadirkan Plt. Sekjen KKP, Mata Garuda LPDP Gelar Webinar Arah Kebijakan Ekonomi Biru Indonesia

    Hadirkan Plt. Sekjen KKP, Mata Garuda LPDP Gelar Webinar Arah Kebijakan Ekonomi Biru Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Mata Garuda LPDP webinar dengan tema Arah Kebijakan Ekonomi Biru Indonesia Untuk Pertumbuhan Berkelanjutan dengan menghadirkan Dr. Andy Artha Donny Oktopura Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebagai Keynote Speaker, Jumat (29/5/2026). Gelaran webinar ini menyusul peluang besar Indonesia untuk menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional melalui penerapan […]

  • Listrik di Desa Tutukembong-KKT Normal Kembali, PLN ULP Saumlaki Ungkap Penyebab Gangguan

    Listrik di Desa Tutukembong-KKT Normal Kembali, PLN ULP Saumlaki Ungkap Penyebab Gangguan

    • calendar_month Minggu, 29 Des 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Saumlaki telah menormalkan kembali sistem kelistrikan di Desa Tutukembong, Kecamatan Nirunmas, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.Sebelumnya sempat terjadi pemadaman di hari yang berbeda, yakni pada 24 Desember dan 27 Desember 2024. Setelah melakukan pengecekan, PLN ULP Saumlaki mendapati sumber gangguan sistem kelistrikan […]

  • Isi Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Rocky Gerung Ingin Taruna/i Pahami Tiga Konsep Pemaknaan Pengelolaan Tanah

    Isi Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Rocky Gerung Ingin Taruna/i Pahami Tiga Konsep Pemaknaan Pengelolaan Tanah

    • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Sleman,Tajukmaluku.com-Pemahaman yang utuh terhadap tanah menjadi bekal penting bagi calon insan pertanahan dalam menjalankan pengelolaan pertanahan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Dalam Kuliah Umum Politeknik Agraria STPN yang berlangsung pada Jumat (04/09/2026), akademisi dan filsuf Rocky Gerung mengajak para taruna/i untuk memahami hal mendasar, yakni tanah tidak semata sebagai objek yang dapat dimiliki, tetapi sebagai […]

  • DPRD Maluku Jadwalkan Paripurna Perdana Gubernur Maluku 5 Maret Nanti

    DPRD Maluku Jadwalkan Paripurna Perdana Gubernur Maluku 5 Maret Nanti

    • calendar_month Selasa, 25 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Maluku menjadwalkan paripurna perdana Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih di 5 Maret 2025 nanti. Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Provinsi Maluku, Benhur Watubun Kepada wartawan di Baileo Karang Panjang Ambon, Selasa (25/2/2025). Menurutnya jadwal sidang paripurna perdana untuk Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku terpilih, Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath, […]

  • Akademisi Sebut Depidar SOKSI Maluku Arogan dan Langgar Asta Cita Prabowo

    Akademisi Sebut Depidar SOKSI Maluku Arogan dan Langgar Asta Cita Prabowo

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Akademisi Universitas Jakarta sekaligus Peneliti Strategi Nusantara Raya, Subhan Akbar Saidi, menilai langkah Depidar SOKSI Maluku melaporkan media malukuindomedia.com ke polisi sebagai tindakan arogansi yang justru bertentangan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto. “Ini bentuk arogansi dan sangat bertentangan dengan Asta Cita Presiden Prabowo. Pada poin pertama Asta Cita ditegaskan: Memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan […]

expand_less