Breaking News
light_mode

Waktunya Maluku “Merdeka”

  • account_circle Admin
  • calendar_month Kamis, 24 Okt 2024
  • visibility 558
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Fadhel Abraham Rumakat

Narasi tentang “Waktunya Maluku Merdeka” adalah seruan terhadap ketidakadilan struktural yang selama ini dirasakan oleh masyarakat Maluku, bukan dalam arti literal mengenai pemisahan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, tetapi dalam arti mendalam tentang pembebasan dari ketertinggalan, ketergantungan, dan ketidakadilan yang seolah menjadi warisan dari sistem politik dan ekonomi sentralistis.

Sejarah Ketertinggalan: Jejak Kolonial yang Belum Selesai

Jika menilik sejarah, Maluku adalah wilayah yang dahulu sangat strategis karena kekayaannya berupa rempah-rempah. Namun, hingga kini, potensi alam yang melimpah ini tidak dinikmati secara optimal oleh penduduk lokal. Kolonialisme memang telah lama berakhir secara fisik, namun jejak-jejaknya masih terasa dalam distribusi sumber daya, kebijakan ekonomi, hingga pengelolaan kekayaan alam.

Maluku menjadi contoh jelas dari kawasan yang selalu diinjeksi tema kesajahteraan, tetapi nyatanya tertinggal jauh dari pusat. Di sinilah letak ketidakadilan struktural itu: Jakarta selalu menjadi poros, dan daerah-daerah seperti Maluku hanya menjadi bagian pinggiran yang dilirik sekadarnya ketika dibutuhkan.

Kita harus bertanya, seberapa sering Maluku dijadikan prioritas dalam kebijakan pembangunan nasional? Bagaimana mungkin Maluku yang kaya dengan potensi sumber daya alam, terutama kelautan, justru masih berkutat dengan kemiskinan dan ketergantungan pada pusat?

Pengelolaan Sumber Daya Alam: Maluku yang Kaya, Masyarakat yang Miskin

Maluku adalah salah satu provinsi terkaya dengan potensi sumber daya alam yang melimpah ruah, terutama di sektor kelautan dan perikanan. Namun, ironisnya, tingkat kemiskinan dan ketimpangan ekonomi di wilayah ini tetap tinggi. Bahkan ada di urutan ke-4 (Buka data BPS Tahun 2023) .

Pengelolaan hasil perikanan yang sebagian besar dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar, terutama yang berpusat di luar Maluku, menandakan bahwa potensi ekonomi daerah ini tidak memberikan dampak signifikan pada kesejahteraan masyarakat lokal.

Apa yang didapat Masyarakat Maluku dari Kekayaan Lautnya?

Nelayan lokal hanya memperoleh bagian kecil dari hasil laut mereka sendiri karena infrastruktur yang buruk dan akses pasar yang terbatas. Pemerintah pusat gagal menyediakan fasilitas yang layak untuk meningkatkan daya saing dan kemampuan ekonomi nelayan lokal, sehingga mereka terus-menerus terjebak dalam lingkaran ketergantungan. Sementara itu, kapal-kapal besar dari luar Maluku bebas mengambil hasil laut dalam jumlah besar tanpa ada kontrol yang berarti. Maluku seharusnya menjadi pusat perikanan dunia, tetapi justru menjadi penonton di tanahnya sendiri. Lagi-lagi karna kebijakan Pusat yang tidak berpihak.

Ketimpangan Infrastruktur: Membangun Dari Pusat, Melupakan Daerah

Pembangunan infrastruktur juga menunjukkan ketimpangan yang sangat jelas. Akses jalan, jembatan, pelabuhan, hingga bandara di Maluku masih tertinggal jauh dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. Di saat pemerintah pusat gencar membangun infrastruktur besar-besaran di pulau-pulau besar, Maluku seperti dilupakan.

Kurangnya infrastruktur tidak hanya mempersulit mobilitas barang dan orang, tetapi juga memperlebar kesenjangan ekonomi. Akses yang sulit membuat biaya hidup di Maluku jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah-daerah lain.

Beberapa daerah di Maluku semisal Seram Bagian Timur, Tanimbar. Akses Internet juga terbatas, padahal di era digital seperti ini, ketidakmampuan untuk terhubung dengan dunia luar berarti ketidakmampuan untuk bersaing secara ekonomi dan pendidikan.

Pendidikan: Diskriminasi Dalam Akses dan Kualitas

Ketidakadilan juga sangat terasa di sektor pendidikan. Banyak wilayah di Maluku yang belum memiliki fasilitas pendidikan yang memadai, mulai dari minimnya jumlah sekolah, kekurangan guru, hingga kualitas pendidikan yang sangat tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah lain. Generasi muda Maluku yang seharusnya menjadi agen perubahan, justru terjebak dalam sistem pendidikan yang tidak memberikan mereka kesempatan untuk berkembang.

Tiap tahunnya, angka putus sekolah, pengangguran intelektual masih tinggi, akses ke perguruan tinggi sangat terbatas. Banyak anak-anak Maluku yang harus meninggalkan kampung halamannya, pergi menyambung hidup di Provinsi tentangga, sebut saja Maluku Utara dengan PT. IWIP-nya. Ketidakadilan ini semakin mengakar karena tanpa pendidikan yang baik, masyarakat Maluku akan terus berada dalam siklus kemiskinan dan ketergantungan.

Ketergantungan Ekonomi: Otonomi Setengah Hati

Otonomi daerah seharusnya memberikan kewenangan lebih besar kepada daerah untuk mengelola sumber daya dan kebijakan lokal. Namun, dalam praktiknya, otonomi ini lebih sering menjadi sebatas simbol daripada kenyataan. Pemerintah daerah sering kali tidak memiliki cukup sumber daya, baik secara finansial maupun kapasitas, untuk menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan dengan optimal.

Maluku masih bergantung pada dana transfer dari pusat. Ketergantungan ini membuat Maluku tidak memiliki kebebasan untuk menentukan arah kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Pemerintah pusat, yang sering kali tidak memahami dinamika lokal, justru mendikte kebijakan-kebijakan yang kurang relevan. Jika terus begini, kapan Maluku bisa benar-benar merdeka dalam menentukan nasibnya sendiri?

Waktunya Maluku “Merdeka”

Membangun dengan KemandirianMerdeka dalam konteks ini bukan berarti memisahkan diri dari Indonesia, melainkan bebas dari ketergantungan, ketidakadilan, dan ketertinggalan yang selama ini membelenggu. Maluku butuh kebijakan yang lebih berpihak pada kepentingan masyarakat Maluku, mulai dari pengelolaan sumber daya alam yang adil, pembangunan infrastruktur yang memadai, hingga pendidikan yang merata dan berkualitas.

Pemerintah pusat harus melihat Maluku sebagai potensi besar yang perlu diberdayakan, bukan sekadar wilayah pinggiran yang ditinggalkan. Desentralisasi yang lebih nyata harus diberikan kepada Maluku, dengan sumber daya yang cukup untuk mengelola kekayaan alam dan manusia di wilayah ini. Ini bukan hanya soal keadilan bagi Maluku, tetapi juga soal keadilan bagi Indonesia sebagai satu kesatuan bangsa. Jika Maluku berkembang, maka Indonesia akan semakin kuat. Seperti idiom yang diucapkan oleh Bung Karno “Indonesia tanpa Maluku bukanlah Indonesia”

Waktunya Maluku merdeka dari ketidakadilan, ketergantungan, dan marginalisasi. Waktunya kita bersama-sama membangun Maluku sebagai wilayah yang maju, mandiri, dan sejahtera, demi Indonesia yang lebih adil dan merata.

Penulis adalah Anggota Gerakan Pemuda Alwasliya Provinsi Maluku.

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pasca Pemerintahan Murad Ismail, Hendrik Lewerissa Kini Ajukan Lagi Pinjaman Dana SMI Rp1,5 Triliun

    Pasca Pemerintahan Murad Ismail, Hendrik Lewerissa Kini Ajukan Lagi Pinjaman Dana SMI Rp1,5 Triliun

    • calendar_month Rabu, 19 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku sedang mengajukan permohonan dana pinjaman dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar Rp 1,5 Triliun. Peminjaman dana itu digadang-gadang bakal untuk membiayai berbagai program prioritas, di bumi raja-raja ini, terutama pembangunan infrastruktur mendesak. Padahal, peminjaman dana dari PT SMI di era pemerintahan sebelumnya, yakni dibawah kepemimpinan Murad Ismail sebagai Gubernur Maluku […]

  • PKS Ambon Beri Bantuan Beras ke Kaum Dhuafa di Momen Musda

    PKS Ambon Beri Bantuan Beras ke Kaum Dhuafa di Momen Musda

    • calendar_month Senin, 8 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Ambon beri bantuan beras kepada para kaum dhuafa. Pembagian bantuan beras itu dilaksanakan disela-sela gelaran Musyawarah Daerah (Musda) di Grand Avira, Minggu (7/9/2025) kemarin. Ketua PKS Kota Ambon, Malik Raudhi Tuasamu menjelaskan, penyaluran bantuan beras itu kepada para penyapu jalan dan juga pengemudi ojek online.Kemudian, para […]

  • PLN UP3 Ternate Resmikan PLN Taste House Kie Raha, Dukung UMKM Lokal dan Gaya Hidup Listrik

    PLN UP3 Ternate Resmikan PLN Taste House Kie Raha, Dukung UMKM Lokal dan Gaya Hidup Listrik

    • calendar_month Senin, 4 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ternate resmi meluncurkan PLN Taste House Kie Raha, sebuah kafe inovatif yang mengangkat cita rasa khas UMKM lokal sekaligus mempromosikan gaya hidup berbasis energi listrik (electrifying lifestyle) kepada pegawai dan pelanggan. General Manager PLN UIW Maluku dan […]

  • Komisi II Usul Pengolahan Kopra di Maluku Masuk Program Strategis Nasional

    Komisi II Usul Pengolahan Kopra di Maluku Masuk Program Strategis Nasional

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Komisi II DPRD Provinsi Maluku menemui Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman guna mendorong penguatan sektor perkebunan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Maluku. Kamis (22/1/2026). Dalam forum tersebut, DPRD Maluku secara tegas mengusulkan sejumlah program besar, antara lain bantuan bibit jambu mete senilai Rp300 miliar, penguatan sektor kelapa/kopra, serta dukungan alat dan […]

  • Hidup Bersama Bencana di Maluku: Bukan Sekadar Mitigasi

    Hidup Bersama Bencana di Maluku: Bukan Sekadar Mitigasi

    • calendar_month Sabtu, 31 Mei 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Oleh: M Kashai Ramdhani Pelupessy (Mahasiswa S3 Psikologi UGM yang Concern pada Isu Psikologi Kebencanaan) “Alam punya kemauannya sendiri”, kredo ini yang harus kita pegang sebelum menghadapi bencana alam. Gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami merupakan peristiwa yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia di dalamnya. Kita tidak bisa menghindarinya. Kita hanya bisa memahaminya […]

  • Komisi III DPRD Maluku Desak Prioritas Penanganan Banjir dan Perbaikan Ruas Jalan

    Komisi III DPRD Maluku Desak Prioritas Penanganan Banjir dan Perbaikan Ruas Jalan

    • calendar_month Kamis, 7 Agt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com – Komisi III DPRD Maluku meminta Balai Wilayah Sungai (BWS), Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), BPBD, dan Dinas PUPR Provinsi Maluku segera mengambil langkah cepat menangani sejumlah titik banjir dan kerusakan jalan yang menjadi keluhan masyarakat. Wakil Ketua Komisi III DPRD Maluku, Mumin Refra, menyebut titik banjir yang dibahas dalam rapat bersama tersebut meliputi […]

expand_less