Breaking News
light_mode

Hidup Bersama Bencana di Maluku: Bukan Sekadar Mitigasi

  • account_circle Tajuk Maluku.com
  • calendar_month Sabtu, 31 Mei 2025
  • visibility 332
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: M Kashai Ramdhani Pelupessy

(Mahasiswa S3 Psikologi UGM yang Concern pada Isu Psikologi Kebencanaan)

“Alam punya kemauannya sendiri”, kredo ini yang harus kita pegang sebelum menghadapi bencana alam. Gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami merupakan peristiwa yang terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia di dalamnya. Kita tidak bisa menghindarinya. Kita hanya bisa memahaminya sebagai sebuah proses alamiah.

Namun, tak semua orang melihat peristiwa alam itu dengan perasaan yang sama. Ada yang melihatnya dengan bahagia karena gejala alam itu menandakan bahwa ia sedang hidup, tapi ada juga melihatnya dengan perasaan cemas. Kecemasan muncul karena bencana telah merenggut sumber primer dari kehidupan masyarakat. Bencana telah menurunkan kondisi ekonomi rumah tangga, menghilangkan nyawa anggota keluarga, merusak fasilitas publik, dan mengubah struktur sosial yang ada.

Perasaan cemas yang muncul pasca bencana harus dimitigasi. Proses mitigasi ini perlu kerjasama kolektif baik dari pemerintah dan semua unsur lapisan masyarakat. Belajar dari pengalaman gempa Maluku tahun 2019 silam, pemerintah saat ini harus berupaya menaikkan atensinya pada proses mitigasi bencana. Namun, dari semua usaha mitigasi, yang paling tak kalah penting ialah program kesiapsiagaan sebelum menghadapi bencana. 

Istilah mitigasi dan kesiapsiagaan ini memiliki sedikit perbedaan. Sejumlah ahli memasukkan istilah mitigasi ini sebagai proses pemulihan pasca bencana, sedangkan kesiapsiagaan merupakan usaha masyarakat sebelum menghadapi bencana. Indonesia yang terletak di wilayah ring of fire menunjukkan bahwa negara ini sangat rawan terjadi bencana, sehingga kesiapsiagaan harus menjadi program prioritas pemerintah saat ini dan kedepannya.

Hidup di Negara Cincin Api

Terdapat beberapa daerah di Indonesia yang telah melewati banyak bencana alam begitu parah. Ambil contoh adalah Di Sumatera Utara, Danau Toba merupakan bukti bencana alam maha dahsyat sekitar 78 ribu tahun lalu. Erupsi gunung api purba Toba waktu itu telah mendorong homo sapiens harus mengurung dirinya di Afrika, populasi manusia menyusut hingga 60%, dan rantai makanan terganggu.

Selain Danau Toba, gempa bumi diikuti tsunami paling mengerikan juga pernah terjadi di Maluku sekitar tahun 1674 dan 1899. Gempa di Maluku terjadi karena wilayah ini berada di kawasan seismik aktif. Peristiwa alam di Maluku waktu itu tercatat korban meninggal mencapai 2.320 pada tahun 1674 dan 3.864 orang tewas tahun 1899.

Selain itu, bencana yang masih kita ingat sampai sekarang ialah tsunami Aceh tahun 2004 telah mengorbankan 170.000 jiwa, bencana tsunami Palu tahun 2018, bencana tsunami Pangandaran tahun 2006, dan tsunami Mentawai tahun 2010. Bencana yang baru saja terjadi tahun 2024 lalu ialah gempa tektonik di Kertasari, kabupaten Bandung. 

Sederet peristiwa alam itu menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara paling rentan mengalami bencana di dunia. Hal ini karena letak Indonesia berada di wilayah ring of fire yang biasa disebut sebagai Circum-Pacific Belt. Panjang wilayah cincin api ini sekitar 40.000 kilometer (24.900 mil) dengan menelusuri batas-batas lempeng tektonik yang melewati sejumlah daerah di Indonesia dari Sumatera sampai Papua.

Sekitar 75% gunung berapi aktif berada di sepanjang wilayah tersebut. Melimpahnya gunung berapi aktif ini disebabkan oleh pergerakan lempeng, dimana setiap lempeng saling tumpang tindih yang biasa disebut zona subduksi.

Hidup di negara yang diselimuti cincin api ini membuat pemerintah dan masyarakat harus lebih meningkatkan kesiapsiagaannya. Hal ini karena bencana kadang datang secara tiba-tiba, sebagaimana Longstaff (2005) mengistilahkannya sebagai “kejutan”.

Namun, tampaknya kita belum secara totalitas menerapkan program kesiapsiagaan sebelum menghadapi bencana. Ada banyak faktor dari program kesiapsiagaan ini yang tampaknya belum kita wujudkan secara tuntas. Salah satu faktor diantaranya ialah keadilan pembangunan ekonomi dan penyediaan fasilitas publik yang berkualitas.

Kemajuan pembangunan ekonomi tampaknya masih berat sebelah. Beberapa daerah di Indonesia yang rawan terjadi bencana masih tergolong masyarakat miskin. Sejumlah ahli mengatakan bahwa bencana yang dialami masyarakat di daerah miskin cenderung membuat mereka sulit pulih pasca bencana. Belakangan ini pemerintah sudah berupaya menaikkan status ekonomi di sejumlah daerah melalui pembangunan infrastruktur (jalan tol) dan hilirisasi sebagai program prioritas.

Namun, program itu tampaknya belum membuahkan hasil maksimal. Program prioritas itu disinyalir hanya menguntungkan beberapa konglomerat tertentu, sementara masyarakat miskin di akar rumput semakin menderita. Idealnya, pembangunan ekonomi ini harus berbasis pada prinsip keadilan. Hal ini yang dapat menopang masyarakat lebih siap sebelum menghadapi bencana.

Selain itu, peningkatan fasilitas publik yang berkualitas juga merupakan faktor kunci kesiapsiagaan sebelum menghadapi bencana. Fasilitas publik ini seperti ketersediaan rumah sakit dan puskesmas yang memiliki alat-alat kedokteran super canggih, serta jumlah tenaga medis yang mumpuni. Dengan ketersediaan fasilitas publik seperti ini maka akan membuat masyarakat lebih siap sebelum menghadapi bencana di kemudian hari. 

Modal Sosial dan Spiritualitas

Selain ketersediaan fasilitas kesehatan publik dan orientasi pembangunan ekonomi yang adil sebagai tonggak kesiapsiagaan masyarakat sebelum menghadapi bencana, Indonesia beruntung karena masyarakat telah memiliki modal sosial dan spiritualitas yang kuat sebelum menghadapi bencana. Modal sosial dan spiritualitas ini menjadi faktor penting dari kesiapsiagaan sebelum menghadapi bencana. 

Bourdieu (1986) mengartikan modal sosial sebagai kumpulan sumber daya yang terkait dengan jaringan relasional di dalam masyarakat, sudah bertahan lama, terlembagakan, dan diakui secara bersama. Modal sosial ini yang memberi inspirasi bagi anggota di dalam masyarakat untuk lebih siap menghadapi bencana.

Salah satu karakteristik dalam masyarakat kolektif seperti Indonesia adalah cenderung memiliki modal sosial seperti rasa kebersamaan. Rasa kebersamaan ini terekspresikan misalnya dalam perilaku efikasi kolektif untuk bersama-sama menghadapi kesulitan. Selain itu, perilaku yang muncul dari modal sosial dari masyarakat kolektif juga adalah kekompakkan (gotong royong) yang didalamnya terdapat dukungan sosial dan saling memotivasi saat menghadapi situasi sulit (bencana).

Perilaku-perilaku seperti itu perlu ditransmisikan secara terus–menerus melalui pendidikan formal dan non-formal. Hal ini karena rasa kebersamaan ini tampaknya mulai memudar saat kita memasuki era globalisasi. Era ini telah membawa budaya individualisme sehingga membuat kita cenderung tidak peduli dengan orang lain. Olehnya itu, pendidikan karakter perlu menjadi skala prioritas di lembaga formal dan non-formal untuk menguatkan rasa kebersamaan sebagai modal sosial masyarakat Indonesia. Hal ini yang dapat membuat kita lebih siap menghadapi bencana.

Selain modal sosial, masyarakat Indonesia juga memiliki karakter spiritualitas sebagai panduan hidupnya saat melihat situasi sulit seperti bencana. Salah satu pakar psikolog klinis, Prof. Subandi, menjelaskan bahwa spiritualitas sangat membantu masyarakat untuk terus bertahan dalam situasi sulit.

Dalam artikelnya di Australasian Journal of Disaster and Trauma Studies tahun 2014, Prof. Subandi menjelaskan bahwa spiritualitas yang dimiliki masyarakat akan memandu mereka mengembangkan traumanya ke arah positif pasca bencana. Dalam kata lain, bencana cenderung akan dilihat secara positif sebagai anugerah dari Tuhan. Spiritualitas yang sudah dimiliki masyarakat Indonesia merupakan faktor penting dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana.

Kesejahteraan Sosial

Semua hal yang dipersiapkan sebelum menghadapi bencana itu sebetulnya bertujuan untuk menjaga sekaligus meningkatkan stabilitas kesejahteraan sosial. Hampir sebagian besar ilmuwan mengatakan bahwa bencana cenderung mengakibatkan masyarakat mengalami ketidaksejahteraan. Situasi ini tentu akan memicu hadirnya fenomena sosial yang lebih parah kedepannya seperti konflik horizontal, bunuh diri, dan penggunaan zat adiktif untuk meredakan gejala stres pasca bencana.

Olehnya itu, pemerintah perlu memprioritaskan program kesiapsiagaan sebelum menghadapi bencana dengan memperhatikan faktor-faktor kunci yang telah dijelaskan di atas. 

Selain mitigasi, program kesiapsiagaan sebelum menghadapi bencana harus menjadi skala prioritas pemerintah saat ini dan kedepannya. Hal ini karena Indonesia berada di wilayah cincin api yang rentan mengalami bencana alam secara terus menerus. Peningkatan pembangunan ekonomi yang berkeadilan, penyediaan fasilitas publik yang berkualitas, dan mempertahankan modal sosial serta spiritualitas melalui pendidikan adalah sederet faktor kunci menuju kesiapsiagaan sebelum menghadapi bencana.

  • Penulis: Tajuk Maluku.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Buka Training Raya Tingkat Nasional, Wali Kota Ambon: HMI Organisasi Besar

    Buka Training Raya Tingkat Nasional, Wali Kota Ambon: HMI Organisasi Besar

    • calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena, resmi membuka kegiatan Training Raya Tingkat Nasional Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon, di Balai Diklat Pertanian Provinsi Maluku. Rabu (30/4/2025). Mengusung tema “HMI dan Metanarasi Pemikiran Keislaman dan Keindonesiaan” kegiatan ini akan berlangsung hingga 6 Mei 2025, dengan melibatkan sekitar 100 peserta dari berbagai cabang HMI se-Indonesia. Training Raya […]

  • Dugaan Pungli SMAN 7 Bursel. 100 Hari Kerja Bupati Lahamidi Dipertanyakan

    Dugaan Pungli SMAN 7 Bursel. 100 Hari Kerja Bupati Lahamidi Dipertanyakan

    • calendar_month Minggu, 25 Mei 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Praktik pungutan liar (Pungli) kembali mencoreng dunia pendidikan Maluku. Di SMA Negeri 7 Buru Selatan, sejumlah siswa dikabarkan diusir dari ruangan Ujian Akhir Semester (UAS) hanya karena belum membayar iuran komite sekolah. Peristiwa memilukan yang terjadi pada Senin, 20 Mei 2025 itu memicu reaksi keras dari wali murid dan masyarakat, mereka menilai kebijakan tersebut sangat […]

  • Nazaruddin Resmi Pimpin Indonesia Pickleball Federation Periode 2026–2031

    Nazaruddin Resmi Pimpin Indonesia Pickleball Federation Periode 2026–2031

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Jakarta,Tajukmaluku.com-Muhammad Nazaruddin resmi terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Indonesia Pickleball Federation (IPF) periode 2026–2031 dalam Musyawarah Nasional (Munas) IPF yang berlangsung di ARTOTEL Gelora Senayan, Selasa (31/3/2026). Munas yang dihadiri oleh 29 delegasi pengurus provinsi IPF dari seluruh Indonesia tersebut menetapkan Nazaruddin secara aklamasi untuk memimpin organisasi pickleball nasional lima tahun ke depan. Ia […]

  • DPRD Maluku Desak BPN Klarifikasi Lahan Bandara Banda

    DPRD Maluku Desak BPN Klarifikasi Lahan Bandara Banda

    • calendar_month Kamis, 25 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-DPRD Provinsi Maluku meminta Badan Pertanahan Nasional (BPN) segera memberikan klarifikasi terkait status lahan di Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Lahan yang sejak awal ditetapkan sebagai kawasan bandara dan zona hijau itu kini disebut beralih ke tangan Abdullah Tuasikal, mantan Bupati Maluku Tengah, bersama sejumlah pejabat lain. Anggota DPRD Maluku, Rovik Akbar Afifudin, menegaskan lahan […]

  • Reses di SBB, Marasabessy Sesalkan Alih Fungsi Puskesmas Rumahkay jadi Polsek Amalatu

    Reses di SBB, Marasabessy Sesalkan Alih Fungsi Puskesmas Rumahkay jadi Polsek Amalatu

    • calendar_month Senin, 15 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota DPRD Provinsi Maluku dari Komisi I, Ismail Marasabessy, menyoroti sejumlah persoalan yang dihadapi masyarakat di Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), khususnya di Kecamatan Amalatu dan Kairatu saat reses. Dalam kunjungannya ke Negeri Rumahkay dan desa-desa sekitar seperti Latu dan Hualoi, Marasabessy menemukan adanya masalah terkait alih fungsi penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan di Rumahkay. Salah […]

  • Tingkatkan Partisipasi Perempuan dalam Pilkada 2024: KPU Maluku Gelar Sosialisasi

    Tingkatkan Partisipasi Perempuan dalam Pilkada 2024: KPU Maluku Gelar Sosialisasi

    • calendar_month Jumat, 22 Nov 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Maluku menggelar dialog Sosialisasi Pendidikan Pemilih bagi Segmen Perempuan dalam rangkaian persiapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku Tahun 2024. Kegiatan yang berlangsung di Aula Lanud Pattimura, Ambon, ini dihadiri oleh Anggota KPU Provinsi Maluku, Almudatsir Z. Sangadji, sebagai narasumber utama. (22/12/2024) Acara dibuka secara resmi oleh Almudatsir setelah sambutan […]

expand_less