Breaking News
light_mode

Buah Simalakama” itu Bernama MIP (Bagian III)

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
  • visibility 580
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: M Kashai Ramdhani Pelupessy

(Dosen Psikologi di UIN AM Sangadji Ambon; Pemerhati Psikologi Lingkungan)

Perlu diingat bahwa megaproyek Maluku Integrated Port (MIP) ini bukan keniscayaan melainkan sebuah pilihan yang disodorkan kepada masyarakat. Olehnya itu, megaproyek tersebut masih perlu dikritisi lebih tajam lagi, dengan mempertanyakan apakah sudah ter-ilhami falsafah hidup “siwalima” ataukah belum?

Anehnya, pertanyaan itu justru dicurigai sebagai tanda ketakutan terhadap kemajuan. Wacana terkait ide kemajuan ini kalau meminjam logika Foucault adalah upaya menormalisasi kekuasaan dan membungkam pilihan alternatif lokal yang mungkin lebih berkeadilan secara ekologis dan kultural.

Wacana “kemajuan” tak selamanya terkooptasi dengan narasi “pertumbuhan ekonomi” saja, melainkan harus ter-ilhami oleh falsafah hidup masyarakat setempat. Falsafah hidup “siwalima” sangat menekankan keadilan sosial-ekologis, di mana masyarakat Maluku dan alam sekitarnya adalah satu-kesatuan dalam konteks relasional.

Falsafah hidup “siwalima” jangan sekedar menjadi logo Pemerintah Provinsi Maluku saja. Melainkan, harus benar-benar “membumi” dalam program pembangunan. Hanya saja, saya membayangkan di masa depan, ketika megaproyek MIP ini terlaksana, terkesan cenderung akan mencederai falsafah hidup “siwalima”. Banyak hal yang nanti dikorbankan seperti “perampasan lahan” (krisis ekologi), nelayan-nelayan kecil mengalami kerentanan, dan muncul konflik lapangan kerja.

Padahal, dalam Sapta Cipta Gubernur Hendrik Lewerissa selalu menekankan bahwa adat, budaya dan kearifan lokal adalah basis dalam proyek pembangunannya. Selain itu, Asta Cita, Presiden Prabowo, juga menekankan bahwa kehidupan harmonis dengan lingkungan, alam dan budaya merupakan spirit dalam program pembangunan.

Hanya saja, saya membayangkan, ketika megaproyek MIP ini terlaksana kedepannya akan sangat jauh dari spirit Sapta Cipta Gubernur Hendrik itu, apalagi Asta Cita Presiden Prabowo. Sebab, logika yang tersembunyi dibalik megaproyek MIP ini masih dominan mengejar “pertumbuhan ekonomi” dengan wacana “kemajuan” tanpa mempertimbangkan keadilan sosial-ekologis.

Meskipun, megaproyek MIP dibingkai dalam wacana pemberdayaan ekonomi lokal, tetapi pertanyaannya adalah siapa yang nanti memiliki kontrol atas modal dan nilai tambah kedepannya? Jika kepemilikan hanya berada di tangan investor luar atau elite tertentu, maka masyarakat lokal hanya akan menjadi babu (buruh) di negeri sendiri. Olehnya itu, “hujan batu di negeri sendiri itu sebetulnya tidak adil”.

Narasi bahwa nelayan tradisional akan “terangkat” melalui MIP terdengar seperti bentuk “false consciousness” yakni kesadaran semu. Sebab, narasi tersebut seolah-olah membuat masyarakat percaya bahwa MIP akan membebaskan masyarakat dari kemiskinan. Apakah akan terjadi demikian?

Dalam kenyataannya, industrialisasi pesisir sering kali mengakibatkan keterputusan relasi masyarakat lokal dengan lingkungannya, degradasi ekologis, dan konflik horizontal. Artinya, kemajuan ekonomi yang dinanti-nantikan itu justru melahirkan ketidaksejahteraan di masa depan. Karena masyarakat “kehilangan” falsafah hidupnya.

Bagi masyarakat adat Maluku, laut bukan sekadar sumber nafkah. Ia adalah ruang hidup (living space) yang sakral, di mana relasi antara manusia dan alam dijaga melalui ritual, tabu, dan simbol-simbol religio-kultural. Dalam sistem pengetahuan lokal, menjaga laut berarti menjaga kehidupan. Industrialisasi pelabuhan seperti MIP menggeser logika relasional ini menjadi logika ekstraktif: laut diukur dari potensi ekonominya, bukan dari keseimbangan ekologinya.

Atas dasar itulah, saya membayangkan di masa depan, megaproyek MIP ini nantinya akan berubah menjadi “buah simalakama” bagi masyarakat Maluku. Ibarat pepatah “buah simalakama”: dimakan mati, tak dimakan pun mati. Olehnya itu, megaproyek MIP ini perlu dikritisi lebih tajam lagi, dengan selalu mempertanyakan apakah megaproyek tersebut sudah ter-ilhami falsafah hidup “siwalima” ataukah belum?*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wakil Rakyat Dorong Hilirisasi Pertanian dan Perkebunan

    Wakil Rakyat Dorong Hilirisasi Pertanian dan Perkebunan

    • calendar_month Selasa, 13 Mei 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,TajukMaluku.com– Anggota Komisi II DPRD Provinsi Maluku, Al Hidayat Wajo mendorong pemerintah daerah untuk membuka ruang bagi proses hilirisasi sektor pertanian dan perkebunan di Maluku. Ia menekankan pentingnya pengolahan hasil pertanian di dalam daerah guna meningkatkan nilai tambah bagi petani. Hidayat menyoroti permasalahan yang dihadapi masyarakat terkait pemasaran hasil pertanian, khususnya kelapa. Ia mencontohkan, Provinsi […]

  • Negara Hadir, Pemerintah Targetkan 1.285 Desa Terang di 2025

    Negara Hadir, Pemerintah Targetkan 1.285 Desa Terang di 2025

    • calendar_month Kamis, 23 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Musi Banyusin,Tajukmaluku.com-Pemerintah terus memperluas pemerataan akses listrik PT PLN (Persero) di seluruh pelosok negeri. Melalui Program Listrik Desa (Lisdes), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pembangunan infrastruktur kelistrikan di 1.285 desa hingga akhir tahun 2025. Langkah ini menjadi wujud nyata kehadiran negara dalam memastikan keadilan energi bagi seluruh rakyat Indonesia. Menteri ESDM, Bahlil […]

  • Hartini Bongkar Skandal Suap Sianida Diduga Libatkan Petinggi Polda Maluku

    Hartini Bongkar Skandal Suap Sianida Diduga Libatkan Petinggi Polda Maluku

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Salah satu mantan Kapolsek KPYS Ambon diduga terima suap untuk membebaskan 300 karton Sianida yang baru tiba di pelabuhan untuk dikirim ke Gunung Botak. Selain itu ada beberapa pejabat Polda Maluku juga terindikasi menikmati uang haram tersebut. Kejadian suap menyuap ini berlangsung sekitar awal tahun 2025. Uang itu diterima oleh sejumlah oknum polisi yang merupakan […]

  • Simak Nilai Zakat Terbaru di Provinsi Maluku per Tahun 2026

    Simak Nilai Zakat Terbaru di Provinsi Maluku per Tahun 2026

    • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Badan Amil Zakat (Baznas) Nasional Provinsi Maluku telah menetapkan nilai zakat fitrah dan fidyah untuk wilayah Maluku tahun 1447 H/2026 M. Dalam Surat Keputusan Nomor 01 tahun 2026, nilai zakat fitrah ditetapkan sebesar Rp 40.000/jiwa. Sedangkan nilai Fidyah sebesar Rp 54.000/jiwa. Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan syariat, lokalitas, ekonomi, dan harga beras terkini yang banyak […]

  • Merasa Dihina dan Nama Baik Dicemar, Artis Ambon Meifhy Pattikawa Lapor Sejumlah Netizen ke Polisi

    Merasa Dihina dan Nama Baik Dicemar, Artis Ambon Meifhy Pattikawa Lapor Sejumlah Netizen ke Polisi

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Artis lokal Ambon, Meifhy Pattikawa melaporkan sejumlah netizen ke Polresta Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease. Laporan itu dilayangkan lantaran Meifhy merasa nama baiknya telah dicemarkan, dihina, difitnah, kemudian ada cacian dan narasi negatif lainnya melalui komentar-komentar dan postingan para netizen dalam menanggapi konten Tiktok di akun resmi Meifhy yakni @meifhy.pattikawa. “Klien kami merasa reputasinya dicemarkan […]

  • PLN UP3 Tobelo Gelar Sosialisasi Dampak Diskon 50% Listrik terhadap PBJT-TL kepada BPKAD Halmahera Utara

    PLN UP3 Tobelo Gelar Sosialisasi Dampak Diskon 50% Listrik terhadap PBJT-TL kepada BPKAD Halmahera Utara

    • calendar_month Selasa, 14 Jan 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PLN Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) melalui Unit Pelayanan Pelanggan (UP3) Tobelo menggelar sosialisasi kepada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Halmahera Utara. Sosialisasi tersebut terkait dampak diskon 50 persen listrik terhadap Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT). General Manager PLN UIW MMU, Awat Tuhuloula menyampaikan, sosialisasi tersebut bertujuan […]

expand_less