Breaking News
light_mode

Ambon, Titik Nol Protestan di Asia

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
  • visibility 370
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Engelina Pattiasina

(Direktur Archipelago Solidarity Foundation)

Tajukmaluku.com-Judul ini mungkin terdengar bombastis: bagaimana mungkin Protestan Ambon disebut sebagai pionir Protestan di Indonesia, bahkan Asia? Namun jika kita menelusuri garis waktu sejarah Reformasi, klaim itu justru memiliki pijakan yang kuat.

Semua bermula di abad ke-16, ketika seorang biarawan Jerman, Martin Luther, menggugat otoritas Gereja Katolik Roma. Pada masa itu, Gereja bukan sekadar lembaga keagamaan, melainkan pusat kekuasaan politik dan sosial Eropa. Ketika Luther menolak mencabut 95 tesisnya dalam sidang gereja di Diet of Worms tahun 1521, ia tidak hanya memantik perdebatan teologis, tetapi juga memicu pergeseran geopolitik.

Penemuan mesin cetak mempercepat penyebaran gagasan Reformasi. Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman—tidak lagi eksklusif dalam bahasa Latin—dan Protestanisme menjalar cepat. Eropa pun terbelah antara Katolik dan Protestan.

Setelah wafatnya Luther pada 1546, konflik berkepanjangan itu menemukan titik kompromi dalam Peace of Augsburg tahun 1555. Melalui prinsip cuius regio, eius religio—siapa berkuasa, dia menentukan agama wilayahnya—Protestanisme diakui sebagai agama sah dalam Kekaisaran Romawi Suci. Agama menjadi identitas politik negara.

Belanda, yang kemudian kuat dalam tradisi Calvinis di bawah pengaruh John Calvin, menjadikan Protestan sebagai agama negara. Prinsip Augsburg menjadi legitimasi teologis sekaligus politis bagi ekspansi mereka.

Namun, sebelum Augsburg diteken, Portugis telah tiba di Maluku pada 1512. Dengan semangat yang sama—agama mengikuti kekuasaan—Portugis membawa Katolik ke wilayah yang mereka kuasai, termasuk Maluku dan Timor. Saat itu, mereka nyaris tanpa pesaing Eropa. Meski demikian, penting dicatat: komunitas Muslim telah lebih dahulu hadir dan berakar kuat di Maluku sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa.

Sejarah Maluku kemudian menjadi panggung persaingan poros Katolik (Portugis–Spanyol) dan Protestan (Belanda–Inggris).  Politik dan agama berkelindan dalam perebutan rempah-rempah.

Pada 23 Februari 1605, Belanda menaklukkan Portugis di Ambon dengan merebut Benteng Laha. Empat hari kemudian, tepat 27 Februari 1605, ibadah Protestan pertama di daratan Ambon dipimpin oleh ziekentrooster Johannes Stollenbeeker.

Momentum ini penting. Jika dihitung dari Diet of Worms (1521), hanya berselang sekitar 80 tahun. Dari Perdamaian Augsburg (1555), bahkan hanya sekitar 50 tahun. Artinya, Ambon menerima Protestanisme hampir bersamaan dengan konsolidasi Protestan di Eropa sendiri.

Lebih jauh lagi, ibadah Protestan di Ambon pada 1605 mendahului berbagai jejaring misi Protestan mapan di Asia daratan seperti India, Tiongkok, dan Jepang. Bahkan, ia juga lebih awal dibanding pendirian Gereja Anglikan di koloni Inggris Amerika Utara pada 1607 oleh Robert Hunt di Jamestown, Virginia.

Dalam konteks ini, Ambon bukan sekadar penerima, melainkan salah satu titik awal Protestan global di luar Eropa.

Menariknya, terhadap umat Islam di Maluku, Belanda tidak sepenuhnya menerapkan prinsip cuius regio, eius religio. Sikap mereka lebih pragmatis. Demi stabilitas perdagangan rempah dan relasi dengan kesultanan-kesultanan lokal, Belanda tidak mencampuri urusan agama Islam. Bahkan, zending dilarang menginjili komunitas Muslim. Motif ekonomi kerap lebih dominan daripada misi religius.

Maluku, dengan demikian, menjadi laboratorium politik-agama sebelum lahirnya sistem negara modern.

Ketika Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648) mengoyak Eropa, Maluku telah lebih dahulu mengalami praktik “agama mengikuti kekuasaan”. Barulah melalui Peace of Westphalia tahun 1648, prinsip cuius regio, eius religio mulai ditinggalkan dan digantikan dengan konsep kedaulatan negara serta non-intervensi—fondasi sistem internasional modern yang kelak memengaruhi lahirnya United Nations.

Namun Ambon telah mengalami dua fase: pra-Westphalia dan pasca-Westphalia. Ia menjadi ruang praktik sebelum teori dirumuskan di Eropa.Karena itu, menyebut Ambon sebagai “Gerbang Protestan” di Asia bukanlah klaim kosong. Ibadah 27 Februari 1605 di daratan Ambon memiliki kesinambungan historis yang dapat ditelusuri hingga kini. Dari jemaat awal itu lahir Indische Kerk, yang kemudian berkembang menjadi gereja-gereja mandiri di Indonesia.

Secara genealogis, Gereja Protestan Maluku adalah pewaris langsung sejarah tersebut. Memang, GPM merayakan 6 September sebagai hari kemandirian gereja—itu sah dan tepat. Namun mengingat 27 Februari 1605 berarti menengok akar, menyadari dari mana kita bertumbuh.

Pada 27 Februari 2026, peristiwa itu genap berusia 421 tahun. Sebuah rentang sejarah yang panjang—bahkan lebih tua dari banyak institusi Protestan di Asia.

Maka, ungkapan orang Ambon, “Seng usah ajar beta, beta su baca Alkitab sejak potong tali pusar,” bukan sekadar metafora jenaka. Ia adalah ekspresi kesadaran historis—bahwa Protestanisme telah berakar lebih dari empat abad di tanah ini.

Ambon bukan hanya kota rempah. Ia adalah simpul sejarah global—tempat politik, agama, dan perdagangan dunia bertemu. Dan dalam narasi Reformasi, ia berdiri sebagai salah satu titik nol Protestan di Asia.*

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 75 Tahun IDI, Tualeka: Perlunya Dokter Spesialis di Bumi Ita Wotu Nusa

    75 Tahun IDI, Tualeka: Perlunya Dokter Spesialis di Bumi Ita Wotu Nusa

    • calendar_month Jumat, 31 Okt 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Bula,Tajukmaluku.com-Peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun ini terasa berbeda. IDI Maluku untuk pertama kalinya, organisasi profesi dokter tertua di Indonesia itu memilih Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) sebagai tuan rumah perayaan. Bekerja sama dengan IDI Cabang SBT, rangkaian kegiatan dimulai dengan jalan sehat bersama Bupati SBT, Fachri Alkatiri, anggota DPR RI […]

  • HMPM Maluku Nilai Tuntutan Copot Kepala PLN Manipa Tidak Relevan

    HMPM Maluku Nilai Tuntutan Copot Kepala PLN Manipa Tidak Relevan

    • calendar_month Selasa, 15 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Himpunan Mahasiswa Pulau Manipa (HMPM) Maluku mengecam aksi demonstrasi sekelompok mahasiswa yang menuntut pencopotan Kepala PLN Manipa. Aksi tersebut digelar di kantor PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Maluku Maluku Utara, pada Senin (14/4/2025). Sekretaris Jenderal HMPM Maluku, Arfan Latuconsina menilai tuntutan tersebut tidak sejalan dengan realitas di lapangan. Ia menyebut, pelayanan kelistrikan di Kecamatan […]

  • Framing Yang Diabaikan Media dari Pesan-Pesan yang Menggema

    Framing Yang Diabaikan Media dari Pesan-Pesan yang Menggema

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: Udin Najil (Pegiat Kajian Media dan Budaya) Tajukmaluku.com-Ruang berita merupakan ruang negosiasi dari berbagai kelompok kepentingan. Kelompok-kelompok ini menentukan aturan tidak tersirat mana yang dianggap baik dan mana yang dianggap buruk. Hal ini dapat dilihat dari berbagai perangkat yang dipakai media baik kata, frasa, kalimat, maupun tampilan-tampilan visual yang melegitimasi atau mendiskreditkan. Misalnya, dari […]

  • Tim Dosen Prodi Ilmu Kelautan Unkhair Ternate Berhasil Temukan Ikan Endemik Banggai di Maitara Malut

    Tim Dosen Prodi Ilmu Kelautan Unkhair Ternate Berhasil Temukan Ikan Endemik Banggai di Maitara Malut

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ternate,Tajukmaluku.com-Seorang dosen dari Universitas Khairun Ternate, Ajiz Siolimbona dikejutkan dengan adanya ikan endemik Banggai saat sedang mencari sampel karang donor untuk tranplantasi, Sabtu (25/4/2026) lalu. Dijelaskan, awalnya terlihat dari permukaan air ada ikan yang morfologinya mirip ikan endemik Banggai. Untuk memastikannya Ajiz melakukan penyelaman secara freedive dan benar saja ikan tersebut adalah Ikan langka asal […]

  • KNPI: Gerakan HMI MPO Cabang Jakarta Raya Terkesan Ditunggangi

    KNPI: Gerakan HMI MPO Cabang Jakarta Raya Terkesan Ditunggangi

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Buru,Tajukmaluku.com– Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Buru, Almuhajir Sipiel Miru, mengecam rencana demonstrasi yang akan dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO Jakarta Raya. Menurutnya, aksi tersebut tidak memiliki landasan kajian yang kuat serta cenderung membawa kepentingan tertentu yang bisa mengganggu stabilitas daerah. “Kami melihat bahwa gerakan ini bukanlah aksi yang lahir dari […]

  • Penerapan Sanksi ASN Dinilai Tak Adil, Buntut Istri Ketua KPU SBT Dipromosikan jadi Kepala Puskesmas

    Penerapan Sanksi ASN Dinilai Tak Adil, Buntut Istri Ketua KPU SBT Dipromosikan jadi Kepala Puskesmas

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ketua Lembaga Nanaku Maluku, Usman Bugis menyoroti ketidakadilan yang mencolok dalam kasus istri Ketua KPU SBT, Siti Juleha Sehwaky yang tidak bertugas selama bertahun-tahun namun justru mendapatkan promosi jabatan. Menurutnya, hal itu tentu bertolak belakang dengan penerapan kebijakan sanksi bagi ASN di lingkup Pemkab SBT yang sedang dilakukan beberapa hari terakhir. Dimana sejumlah ASN yang […]

expand_less