Breaking News
light_mode

Marthinus Hukom: Merdeka itu Bebas dari Korupsi dan Ketidakadilan

  • account_circle Admin
  • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
  • visibility 250
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta,Tajukmaluku.com-Makna kemerdekaan Indonesia tidak semestinya berhenti pada pemahaman bahwa bangsa ini telah terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan, dalam makna yang lebih hakiki, harus diwujudkan melalui kehidupan bangsa yang mandiri, adil, bermartabat, sejahtera, dan terbebas dari berbagai bentuk penindasan. Merdeka itu Indonesia harus bebas dari korupsi dan penegakkan keadilan dalam semua level.


Pandangan kritis tersebut disampaikan Komjen Marthinus Hukom, mantan Kepala Densus 88 Antiteror, sebagai Refleksi sekaligus memberi persfektif luas kepada masyarakat. Senin (17/8/2026).


Penerima Satyalencana Kebhaktian Sosial itu mengingatkan, kata merdeka yang setiap tahun digaungkan dalam upacara kenegaraan jangan sampai kehilangan makna substantifnya.


Teman angkatan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo itu mengatakan, selama ini sebagian masyarakat masih memaknai kemerdekaan secara sempit, sebatas terbebas dari belenggu penjajahan atau penindasan oleh bangsa lain. Padahal, Putra Negeri Ameth, Kecamatan Nusalaut, Kabupaten Maluku Tengah yang lahir pada 30 Januari 1969 itu mengatakan kemerdekaan seharusnya menjadi titik awal bagi bangsa untuk membangun kehidupan yang berlandaskan cita-cita luhur dan konsensus moral bersama.


“Merdeka bukan sekedar sebuah seruan, melainkan sebuah kesadaran,” ungkap Lulusan Kajian Strategi Intelijen & Ketahanan Nasional Pascasarjana Universitas Indonesia.


Marthinus Hukom menyoroti perjalanan panjang bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945. Puluhan tahun telah berlalu, generasi demi generasi datang dan pergi, namun cita-cita luhur yang menjadi fondasi berdirinya negara harus terus dipelihara.


Doktor filsafat terorisme di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, itu mengingatkan agar konsensus moral yang menjadi perekat bangsa tidak dibiarkan lapuk oleh perjalanan sejarah.


Merdeka Bukan Bebas Mengeksploitasi


Dalam pemaknaannya, Marthinus Hukom mengaitkan istilah merdeka dengan akar kata Mahardhika dalam bahasa Sanskerta yang berkaitan dengan makna kaya, sejahtera, dan kuat.


Penerima Australian Federal Police Partnership Medal (2022) itu juga menjelaskan, istilah merdika atau merdijk pernah digunakan dalam konteks kolonial untuk menggambarkan orang-orang yang telah dibebaskan dan memiliki hak atas dirinya.


Namun, bagi lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1991, itu memahami kemerdekaan tidak cukup hanya dengan melihat aspek kebebasan dari penguasaan pihak lain. Kemerdekaan harus melahirkan kemandirian individu sekaligus kemandirian kolektif.


Dengan demikian, kemerdekaan tidak boleh dipahami sebagai kesempatan untuk mengeksploitasi kemampuan material maupun mental manusia tanpa batas. Sebaliknya, kebebasan harus berjalan bersama moralitas, kesetaraan, kebersamaan, keadilan serta penghormatan terhadap hak-hak orang lain.


Kemerdekaan Harus Menghasilkan Kebaikan Bersama


Marthinus Hukom juga menekankan, kemerdekaan semestinya menjadi sarana untuk membangun kondisi ideal sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa. Hak dan kesempatan atas sumber daya harus dikelola dengan prinsip keadilan dan dimanfaatkan bagi kepentingan bersama.


“Kemerdekaan adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan harus mampu menciptakan ruang bagi manusia untuk berkembang, tetapi tetap berada dalam koridor moral, hukum, kesetaraan, dan kepentingan bersama,” ungkap Martinus Hukom yang kini masuk dalam radar bursa pencalonan Kapolri RI.


Bagian paling tajam dari refleksi Marthinus adalah ketika ia mengaitkan makna kemerdekaan dengan berbagai persoalan sosial-politik yang sedang dihadapi bangsa.

Ia menyebut kemiskinan, diskriminasi, ketidakadilan, korupsi, ketidakjujuran, kemunafikan, janji-janji palsu serta berbagai perilaku yang menggerogoti kekuatan bangsa dari dalam sebagai bentuk persoalan yang harus dilawan.


“Siapa yang masih mengambil hak orang lain, dia belum merdeka. Siapa yang masih menipu dirinya sendiri, dia belum merdeka. Siapa yang masih terikat pada roh korupsi, dia belum merdeka.” tutup Martinus Hukom.*(01-F)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN Gerak Cepat Pulihkan Gangguan Listrik di Manipa

    PLN Gerak Cepat Pulihkan Gangguan Listrik di Manipa

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Hitu, Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ambon bergerak cepat menangani gangguan kelistrikan yang terjadi di wilayah Kecamatan Manipa, Kabupaten Seram Bagian Barat. Gangguan listrik yang terjadi pada 14 Maret 2026 pukul 20.01 WIT dipicu oleh cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang yang mengakibatkan dua pohon […]

  • IMM Maluku Kritik Pembangunan Bursel Era Tagop dan Safitri Malik Soulisa

    IMM Maluku Kritik Pembangunan Bursel Era Tagop dan Safitri Malik Soulisa

    • calendar_month Kamis, 12 Sep 2024
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon, Tajukmaluku.com– Dewan Pengurus Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Maluku (DPD-IMM) berharap ada perubahan yang signifikan yang akan terjadi pasca terpilih pemimpin baru di Kabupaten Buru Selatan (Bursel) Maluku. Ketua DPD IMM Maluku, Bidang Politik dan Kebijakan Publik, M Saleh Souwakil menilai, Buru Selatan sejak mekar pada belasan tahun lalu hingga kini belum ada perubahan yang […]

  • Kasus Bullying dan Kekerasan di Sekolah Rakyat Malteng: Korban Dipukul hingga Memar

    Kasus Bullying dan Kekerasan di Sekolah Rakyat Malteng: Korban Dipukul hingga Memar

    • calendar_month 16 jam yang lalu
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Kasus perundungan (bullying) disertai kekerasan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (STR) 1 Maluku Tengah (Malteng) kembali terjadi, Senin (5/10/2026). Berdasarkan informasi yang diterima redaksi TajukMaluku.com, insiden itu bermula ketika beberapa siswa terlibat saling adu mulut. Kemudian, seorang siswa berinisial DNW menerima tamparan dan ditonjok oleh dua siswa lainnya. Atas tindakan kekerasan itu, DNW kemudian mengalami memar […]

  • Banding Jaksa Kandas, Vonis Bebas Fahry Rahayaan Kini Berkekuatan Hukum Tetap

    Banding Jaksa Kandas, Vonis Bebas Fahry Rahayaan Kini Berkekuatan Hukum Tetap

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Pengadilan Tinggi Ambon menyatakan banding Jaksa Penuntut Umum atas vonis bebas mantan Kepala Dinas Perkim Kota Tual tidak dapat diterima. Vonis itu kini berkekuatan hukum tetap dan tak bisa lagi digugat lewat banding maupun kasasi. Ambon,Tajukmaluku.com-Upaya Jaksa Penuntut Umum, kasi pidsus Kejaksaan Negeri Tual, Johanes Riky Felubun dalam membatalkan vonis bebas mantan Kepala Dinas Perumahan […]

  • HTI Bangkit dari Kubur? PW GP Ansor Maluku Kecam Gerakan yang Mengancam NKRI

    HTI Bangkit dari Kubur? PW GP Ansor Maluku Kecam Gerakan yang Mengancam NKRI

    • calendar_month Minggu, 2 Feb 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi yang telah resmi dibubarkan pemerintah pada 19 Juli 2017, kembali menampakkan diri di sejumlah daerah. Aksi pengibaran bendera HTI di Yogyakarta, Surabaya, dan Palembang, serta penyebaran buletin bernuansa khilafah, menjadi sinyal bahwa kelompok ini masih beroperasi secara terselubung. Menanggapi fenomena ini, Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Maluku, […]

  • Dari Tangan Perempuan, Peradaban Itu Bertumbuh

    Dari Tangan Perempuan, Peradaban Itu Bertumbuh

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Oleh: Nadia Sarah Rumluan Kadang peradaban tidak dimulai dari gedung yang tinggi, atau ruang rapat yang ramai. Ia justru tumbuh dari percakapan kecil antara dua perempuan yang saling mendengar—dari tangan-tangan yang tiap pagi menata hasil kebun dan laut di pasar: sayur, singkong, ikan, hingga sagu dan embal yang menjadi nadi dapur-dapur Maluku. Di sanalah hidup […]

expand_less