Breaking News
light_mode

Ambon City Of Depression: Orang-Orang Gila Dalam Pelukan PJ Walikota.

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 29 Nov 2024
  • visibility 251
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Faisal Marasabessy

Kehadiran orang-orang dengan gangguan jiwa yang semakin banyak di Kota Ambon belakangan ini menciptakan pemandangan sosial yang ironis sekaligus menyayat hati. Mereka berkeliaran tanpa arah, dari jantung kota Ambon hingga pinggiran kota, kehadirian mereka menciptakan citra kota yang tak lagi mampu merawat manusianya.

Selain masuk dalam isu sosial, fenomena ini menjadi sebuah gambaran mendalam tentang kegagalan sistem yang terjadi di bawah kepemimpinan Penjabat (PJ) Wali Kota Ambon. Orang gila, dalam konteks ini, adalah refleksi dari ketidakmampuan birokrasi untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakatnya, sekaligus cermin yang menunjukkan keretakan tatanan kota secara fundamental.

Emile Durkheim menggambarkan fenomena seperti ini sebagai gejala anomie, yakni keadaan di mana norma-norma sosial runtuh, menciptakan kekosongan nilai yang membuat individu terasing dari masyarakat. Orang-orang dengan gangguan jiwa yang berkeliaran di Ambon adalah simbol dari kekosongan itu. Mereka adalah korban langsung dari sistem pelayanan kesehatan mental yang rapuh, sementara keberadaan mereka di jalan-jalan adalah tanda nyata bahwa kota ini telah gagal memberikan jaring pengaman sosial yang layak.

Dimensi Kesehatan Mental yang Terabaikan

Menurut laporan WHO, gangguan mental menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kesehatan global, dengan lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia menderita depresi. Di Indonesia, angka ini terus meningkat, terutama di daerah-daerah yang mengalami tekanan sosial-ekonomi tinggi seperti Ambon. Namun, perhatian terhadap kesehatan mental masih sangat minim. Kondisi ini diperparah oleh lemahnya integrasi lintas sektor antara dinas sosial, kesehatan, dan aparat pemerintah daerah. Akibatnya, mereka yang paling rentan dibiarkan hidup tanpa pendampingan, rehabilitasi, atau bahkan sekadar perlindungan dasar.

Pemerintah Kota Ambon seharusnya belajar dari pendekatan kota-kota maju yang mengintegrasikan layanan kesehatan mental dengan kebijakan sosial. Misalnya, program-program seperti Housing First yang diterapkan di negara-negara Skandinavia berhasil mengurangi tingkat keterlantaran orang dengan gangguan jiwa melalui penyediaan tempat tinggal yang layak sebagai langkah awal rehabilitasi.

Ambon, Dari Harmoni Ke Disonansi

Cara suatu masyarakat memperlakukan masyarakat yang paling lemah adalah cermin dari moralitas kolektifnya. Jika kita memandang orang-orang dengan gangguan jiwa di Ambon, apa yang mereka cerminkan tentang moralitas dan kemanusiaan kita? Lebih jauh lagi, mereka adalah metafora dari kegagalan pemerintahan kota yang seolah-olah beroperasi tanpa visi dan arah yang jelas.

Slogan “Ambon Manise” tampaknya telah kehilangan manisnya. Ketidakhadiran solusi nyata terhadap masalah orang gila mencerminkan disonansi sosial yang semakin parah. Kota yang seharusnya menjadi ruang hidup yang harmonis berubah menjadi ruang yang penuh dengan luka sosial yang menganga.

Sebagai kota yang kaya akan budaya dan memiliki warisan solidaritas yang kuat, Baca; Pela Gandong, Potong Di Kuku Rasa Di Daging. Fenomena ini menunjukkan bahwa solidaritas tersebut perlahan-lahan memudar. Warga yang dulunya saling peduli kini menjadi apatis, sementara pemerintah kota tak mampu menjadi katalisator perubahan.

Dalam The Politics of Humanity, Thomas Pogge menyebutkan bahwa kebijakan yang tidak manusiawi adalah hasil dari pemerintah yang tidak memiliki empati terhadap penderitaan warganya. PJ Wali Kota Ambon harus membaca ini sebagai peringatan keras.

Sebagai penjaga benteng stabilitas sosial, Pj Walikota malah tampak sibuk dengan hal-hal administratif yang tidak menyentuh akar problem masyarakat. Program-program yang bersifat simbolis lebih diutamakan daripada kebijakan substansial yang berdampak langsung pada kehidupan warga, termasuk mereka yang mengalami gangguan jiwa. Apakah ini adalah cerminan dari kota yang kehilangan “akal sehat”-nya?

Apa yang Harus Dilakukan?

Dalam menghadapi persoalan ini, PJ Wali Kota perlu mengambil langkah konkret, tidak hanya untuk menangani orang-orang dengan gangguan jiwa tetapi juga untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah kota. Ada tiga hal utama yang harus dilakukan:

  • Revitalisasi Pelayanan Kesehatan Mental

Pemerintah harus memastikan aksesibilitas layanan kesehatan mental melalui peningkatan fasilitas dan tenaga ahli, serta mengintegrasikan layanan ini dengan program kesejahteraan sosial.

  • Peningkatan Kesadaran Publik

Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya merangkul mereka yang rentan dan mempromosikan stigma-free environment adalah langkah penting untuk membangun solidaritas.

  • Kolaborasi Lintas Sektor

Pemerintah kota harus berkolaborasi dengan organisasi masyarakat sipil, gereja, masjid, dan kelompok adat untuk memastikan pendekatan berbasis komunitas yang lebih humanis.

Ambon City Of Depression

Sebagai penutup, sebuah kota yang gagal merawat manusianya adalah kota yang kehilangan jiwanya. Oleh karena itu, tanggung jawab ada di pundak PJ Wali Kota Ambon untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pejabat sementara, tetapi pemimpin yang mampu mengembalikan martabat kota dan warganya.

Nelson Mandela, “Keagungan sebuah bangsa diukur dari cara ia memperlakukan warganya yang paling lemah.” Kota Ambon, apakah Anda masih memiliki keagungan itu?

Ketika pemerintah kota gagal menyediakan layanan kesehatan mental yang memadai, gagal memastikan pengawasan sosial yang ketat, dan gagal menyediakan mekanisme perlindungan yang layak, hasilnya adalah meningkatnya jumlah individu yang terpinggirkan (Orang gila). Keberadaan mereka di jalan-jalan kota menjadi pengingat pahit bahwa di balik fasad “Ambon Manise,” ada luka yang terus menganga—luka akibat pengabaian sistemik.

1

  1. * ↩︎

Penulis adalah Wakil Ketua KNPI Maluku

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PLN UIW MMU Ajak Pelanggan Manfaatkan Promo Diskon 50% Tambah Daya Hingga 28 April 2026

    PLN UIW MMU Ajak Pelanggan Manfaatkan Promo Diskon 50% Tambah Daya Hingga 28 April 2026

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Maluku dan Maluku Utara (UIW MMU) mengajak masyarakat untuk memanfaatkan program promo diskon 50% tambah daya yang masih berlangsung hingga 28 April 2026 melalui aplikasi PLN Mobile. General Manager PLN UIW Maluku dan Maluku Utara, Noer Soeratmoko, menyampaikan bahwa program ini merupakan bentuk komitmen PLN dalam memberikan kemudahan layanan […]

  • Hadirkan Plt. Sekjen KKP, Mata Garuda LPDP Gelar Webinar Arah Kebijakan Ekonomi Biru Indonesia

    Hadirkan Plt. Sekjen KKP, Mata Garuda LPDP Gelar Webinar Arah Kebijakan Ekonomi Biru Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Mata Garuda LPDP webinar dengan tema Arah Kebijakan Ekonomi Biru Indonesia Untuk Pertumbuhan Berkelanjutan dengan menghadirkan Dr. Andy Artha Donny Oktopura Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebagai Keynote Speaker, Jumat (29/5/2026). Gelaran webinar ini menyusul peluang besar Indonesia untuk menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional melalui penerapan […]

  • Masalah Abrasi hingga Kesehatan di Malra dan Tual Jadi Sorotan Wakil Rakyat saat Reses

    Masalah Abrasi hingga Kesehatan di Malra dan Tual Jadi Sorotan Wakil Rakyat saat Reses

    • calendar_month Senin, 21 Apr 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota DPRD Provinsi Maluku, Dapil VI (Tual, Kepulauan Aru, dan Maluku Tenggara), Mumin Refra mengungkapkan sejumlah persoalan krusial yang dihadapi masyarakat di daerah pemilihannya. Kata dia, kebutuhan pokok masyarakat, seperti air bersih dan sarana penyelamatan kampung dari ancaman abrasi pantai akibat reklamasi, menjadi keluhan utama. “Kita reses dalam kondisi cuaca ekstrim, dan menjangkau beberapa lokasi […]

  • ISPIKANI Dorong Hilirisasi Perkuat Ketahanan Pangan dan Tingkatkan Daya Saing Produk Perikanan

    ISPIKANI Dorong Hilirisasi Perkuat Ketahanan Pangan dan Tingkatkan Daya Saing Produk Perikanan

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) menegaskan pentingnya percepatan hilirisasi di sektor perikanan sebagai strategi utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan daya saing produk perikanan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya kelautan dan perikanan. Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional yang dilaksanakan secara Hybrid oleh Program Magister Ilmu Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan […]

  • Pitoyo, Bos “Kartel B3” Ubah Rute Pasok Sianida Ke Pulau Buru

    Pitoyo, Bos “Kartel B3” Ubah Rute Pasok Sianida Ke Pulau Buru

    • calendar_month Kamis, 26 Jun 2025
    • account_circle Tajuk Maluku.com
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Sebanyak 350 kaleng zat kimia Sianida dengan berat per kaleng 50 kg dikabarkan lolos masuk Pulau Buru untuk diperjualberilakan kepada para pendulang emas. Zat kimia berbahaya itu mudahnya masuk ke Pulau Buru karena distributor mengubah-ubah rute pasok ke Pulau Buru. “Banyak jalan menuju roma, banyak jalan menuju Gunung Botak,” kata salah satu informan yang menjelaskan […]

  • Minta Polisi Usut Kebakaran Alat Berat PT SIM Dewan: Bupati Harus Bertanggung Jawab, Jangan Rakyat Jadi Korban

    Minta Polisi Usut Kebakaran Alat Berat PT SIM Dewan: Bupati Harus Bertanggung Jawab, Jangan Rakyat Jadi Korban

    • calendar_month Rabu, 30 Jul 2025
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    Ambon,Tajukmaluku.com-Anggota DPRD Provinsi Maluku, Zain Syaiful Latukaisupy, menilai langkah Bupati menghentikan sementara operasional PT SIM sebagai bentuk blunder serius yang berdampak luas, khususnya terhadap tenaga kerja. Kebijakan itu dinilai gegabah dan tidak mempertimbangkan konsekuensi sosial yang ditimbulkannya. “Centol, kenapa Pak Bupati ini bisa buat blunder seperti itu? Akhirnya terjadi penghentian sementara, lalu berapa banyak pegawai […]

expand_less